Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang Layak Diperjuangkan
Sudut Pandang Dante
Aku tak ingat kapan terakhir kali sesuatu menghantamku seperti itu.
Ciuman itu.
Bukan sekadar ciuman.
Itu… berbeda.
Tanpa perhitungan. Tanpa strategi. Tanpa kendali.
Dan itu langka. Sangat langka.
Saat aku menjauh darinya, aku masih bisa merasakannya. Kehangatan itu. Napasnya yang membaur dengan napasku. Cara ia menahanku… seolah tak ingin melepaskan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama… aku tak ingin menjauh.
Tapi kubiarkan begitu.
Kuamati dia. Matanya masih sedikit hilang arah. Bibirnya sedikit bengkak. Dan senyum itu. Kecil. Tapi ada.
"Ini bikin semuanya rumit," katanya.
Aku nyaris tertawa. Karena rumit… praktis sudah jadi nama belakangku.
"Aku suka yang rumit," jawabku.
Dan itu benar. Terutama kalau menyangkut dia.
Ia naik setelah itu. Tanpa tergesa. Tapi juga tanpa menoleh ke belakang.
Aku tetap di sana. Diam. Mengamati. Sampai ia lenyap di lantai atas.
Kuusap wajahku. Kuembuskan napas pelan. Dan kemudian… sebuah senyum muncul. Miring. Nyaris otomatis.
"Jadi berhasil."
Suara itu datang dari belakangku. Aku memutar bola mata.
"Kau tidak capek?" tanyaku.
Victor muncul. Bersandar di dinding. Dengan tatapan puas itu.
"Tidak pernah. Apalagi kalau aku benar."
Kuabaikan. Atau setidaknya kucoba.
"Itu idemu," kataku.
"Aku tahu," jawabnya. Tanpa kerendahan hati sedikit pun.
"Dan kau tak mau melakukannya."
"Sampai sekarang pun kau tak mau mengakuinya."
"Tapi kau tetap melakukannya."
Kulipat tangan. "Demi anak-anak," gumamku.
Ia tertawa. "Tentu. Demi anak-anak."
Kugelengkan kepala. Tapi tak kubantah. Karena jauh di dalam… itu bukan cuma demi mereka.
Kualihkan pandang ke arah tangga. Lagi. Memikirkan dia. Ciuman itu. Cara ia tak lari kali ini.
Dan itu… berarti lebih dari yang ingin kuakui.
"Mereka akan menerima," ujar Victor. Seolah membaca pikiranku. "Sudah menerima," ralatnya. "Kau tidak lihat Heitor?"
Kuembuskan napas pelan. "Lihat. Dia praktis mendorong kami ke arah ini."
Victor tertawa. "Sekutu terbaik yang bisa kau punya."
Aku mengangguk. "Dan Henrique?" tanyaku.
"Bakal mengeluh. Memancing. Bikin drama. Tapi jauh di dalam?" Ia mengangkat bahu. "Bakal suka."
Aku terdiam. Mencerna. Karena bagian itu… penting. Lebih dari apa pun.
"Aku takkan merusak ini," kataku. Lebih untuk diriku sendiri ketimbang untuknya.
Victor menatapku. Serius sekarang. "Kalau begitu jangan dirusak."
Sederhana. Lugas. Sebagaimana seharusnya.
Rumah masih sunyi. Tapi berbeda dari sebelumnya. Bukan kosong. Melainkan… penuh. Entah bagaimana.
Kunaiki tangga pelan-pelan. Kususuri lorong. Berhenti sejenak. Di depan pintu kamarnya.
Aku sempat berpikir untuk mengetuk. Tapi tidak kuketuk. Belum.
Kutersenyum miring. "Sabar," gumamku. Untuk diriku sendiri.
Karena kali ini… aku tak mau merusaknya. Tak mau terburu-buru. Tak mau kehilangan.
Aku berbalik. Dan pergi ke kamarku.
Tapi satu hal sudah jelas. Ini… bukan sekadar ketertarikan. Belum cinta. Tapi juga… bukan hal sembarangan.
Ini sesuatu di tengah-tengah. Sesuatu yang berbahaya.
Dan untuk pertama kalinya… ini sesuatu yang benar-benar ingin kupertahankan.