Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hendi melangkah maju perlahan, posturnya yang tinggi mendominasi ruangan yang sempit itu. Tatapan tajam pria paruh baya itu menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya terpaku pada sosok Erlyn yang berdiri hanya berjarak satu langkah dari meja kerjanya. Alis Hendi berkerut dalam, menyimpan rasa curiga yang pekat.
"Erlyn... apa yang sedang kau lakukan di dekat meja kerjaku?" suara Hendi terdengar rendah, dingin, dan penuh selidik.
Erlyn merasakan darah di sekujur tubuhnya berdesir. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suara gemuruhnya terdengar oleh Hendi.
Namun, berbekal tekad dan bayangan wajah suaminya yang menunggunya di luar sana, Erlyn berhasil menahan seluruh kepanikannya di balik topeng wajah yang dipaksa setenang mungkin.
Ia baru saja menarik tangan kanannya dari dekat port USB laptop hitam milik Hendi beberapa detik sebelum pria itu muncul di ambang pintu.
Erlyn menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan badan menghadap Hendi tanpa menunjukkan gestur tubuh yang ketakutan. Ia menatap lurus ke mata pria tua itu, memasang ekspresi agak kesal yang dibuat-buat, sebuah bentuk pertahanan diri untuk mengalihkan kecurigaan.
"Ponselku tertinggal di atas meja ini tadi, Om," jawab Erlyn dengan nada suara yang diatur sedatar mungkin, berusaha menyembunyikan getaran di tenggorokannya. Ia mengangkat tangan kirinya yang memang kosong. "Aku hanya mau mengambilnya karena bergetar terus, takutnya dari sekolah Rara."
Hendi berhenti berjalan. Ia menatap ponsel Erlyn yang memang tergeletak di ujung meja kerja, sebuah kebetulan yang menyelamatkan nyawa Erlyn detik itu juga.
Pandangan Hendi beralih dari ponsel ke wajah Erlyn, memindai setiap inci ekspresi wanita itu untuk mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, ketenangan yang ditunjukkan Erlyn membuat Hendi sedikit bimbang.
Biasanya, Erlyn akan langsung gemetar ketakutan atau tergagap-gagap jika kedapatan melanggar batas aturan di apartemen ini.
"Begitu?" gerutu Hendi sinis, sudut bibirnya terangkat sebelah. Ia melangkah lebih dekat, hingga aroma tembakau dan parfum mahalnya kembali menguar di sekitar Erlyn.
Hendi mengulurkan tangan, mengambil ponsel Erlyn dari atas meja, lalu melemparkannya begitu saja ke sofa terdekat. "Lain kali, jangan pernah masuk ke ruangan ini tanpa izinku, Erlyn. Kau tahu sendiri apa akibatnya kalau kau mencoba bermain-main di belakangku."
"Aku mengerti," jawab Erlyn singkat, menundukkan pandangannya sedikit untuk menghindari tatapan mengintimidasi itu, sekaligus menyembunyikan kilatan kelegaan di matanya.
"Bagus," kata Hendi dingin. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja, memberi isyarat dengan tangan agar Erlyn mengikutinya kembali ke ruang tengah.
Udara di dalam ruang pribadi unit 402 Grand Tower itu kembali terasa menyesakkan. Pria paruh baya itu berdiri hanya berjarak satu langkah dari hadapan Erlyn. Tatapannya menyapu tubuh wanita itu dengan sorot penuh kepemilikan dan nafsu dingin yang selalu membuat darah Erlyn berdesir ngeri.
Tanpa menunggu lama, Hendi mengulurkan tangannya. Jari-jarinya yang kokoh mencengkeram rahang Erlyn, memaksa wanita itu mendongak dan menatap langsung ke dalam mata hitamnya yang tajam.
"Kau tahu mengapa hari Rabu selalu menjadi hari yang kusukai, Erlyn?" bisik Hendi rendah, suaranya terdengar seperti desisan ular yang merayap pelan di kulit. "Karena di tempat ini, kau sepenuhnya milikku. Tanpa suamimu yang sok suci, tanpa anak perempuanmu. Hanya kau dan aku."
Erlyn menahan napasnya rapat-rapat. Jantungnya bergemuruh hebat, bukan lagi karena rasa takut yang melumpuhkan seperti minggu-minggu sebelumnya, melainkan karena ia tahu persis apa yang harus ia hadapi detik ini juga.
Sesuai rutinitas kelam yang selalu terjadi setiap minggunya, Hendi tidak akan langsung membiarkannya duduk tenang. Pria itu selalu menuntut bayaran atas ancamannya, memulai ritual penaklukan sebelum menyeretnya ke atas ranjang hitam sutra di kamar dalam.
Hendi mulai mendekatkan wajahnya, menurunkan bibirnya untuk mencumbu leher Erlyn yang terbuka.
Sentuhan kasar dan basah itu membuat sekujur tubuh Erlyn meremang hebat. Rasa jijik yang teramat pekat membakar rongga dadanya, membuat perutnya mual seketika.
Namun, dengan sisa kewarasan dan tekad yang ia miliki demi melindungi keluarganya, Erlyn mengepalkan kedua tangannya di dalam saku mantel, menggigit bagian dalam bibirnya hingga terasa asin oleh darah, dan memaksa dirinya untuk tetap berdiri diam di tempat.
Tahan, Erlyn... tahan sebentar lagi... batinnya menjerit lirih, memohon pada kekuatan apa pun untuk memberinya ketahanan.
Hendi terus menciumi leher dan rahang Erlyn, tangannya mulai meraba pinggang wanita itu dan menariknya lebih dekat, merengkuh tubuh Erlyn ke dalam pelukan eratnya yang menyesakkan.
"Kau semakin kurus, Erlyn," gumam Hendi di tengah ciumannya, napasnya mulai memburu tersengat hasrat. "Tapi tubuhmu tetap nggak pernah kehilangan rasa takutnya padaku. Ayo... kita pindah ke kamar dalam. Ranjangku sudah menunggumu."
Hendi menarik tangan Erlyn, hendak menyeret wanita itu melangkah menuju kamar tidur utama.
Belum... pengunduhannya belum selesai! batin Erlyn panik.
Jika Hendi menyeretnya ke kamar sekarang, ia akan kehilangan kendali penuh atas situasi, dan perangkat Doni di ruang kerja bisa saja ketahuan jika Hendi mendadak kembali ke mejanya. Ia harus menghentikan langkah pria itu detik ini juga dengan cara apa pun.
Tepat saat langkah kaki mereka baru bergeser dua jengkal dari sofa ruang tengah, Erlyn dengan sengaja pura-pura tersandung ujung karpet tebal, lalu menjatuhkan vas bunga kecil berisi air di atas meja hias terdekat.
Prang!
Pecahan kaca berhamburan ke lantai, airnya membasahi sepatu kulit Hendi.
Hendi terkesiap, cengkeramannya di tangan Erlyn terlepas secara refleks. Pria itu mengumpat kesal sambil melompat mundur untuk menghindari pecahan kaca yang mengenai kakinya. "Sialan! Apa yang kau lakukan, bodoh?! " bentak Hendi dengan suara menggelegar, urat-urat di lehernya menonjol karena amarahnya terganggu di tengah hasrat.
Erlyn langsung jatuh berlutut di lantai, pura-pura panik sambil memegang kepalanya dengan tangan yang gemetar hebat. "Maaf, Om... maaf! Kakiku tadi terpeleset karpet, aku nggak sengaja..." rintih Erlyn dengan suara bergetar yang terdengar sangat meyakinkan, menyembunyikan keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya.
Hendi mendongak kasar, wajahnya memerah menahan jengkel. Ia melihat pecahan kaca berserakan di dekat sepatu mahalnya. "Berdiri! Jangan diam saja, ambilkan sapu di dekat dapur!" perintah Hendi dengan nada penuh ketidaksabaran, melambaikan tangan mengusir kekesalannya.
"Baik, Om... sebentar..." jawab Erlyn patuh. Ia bangkit berdiri dengan gerakan lambat, lalu berjalan cepat menuju arah dapur, yang posisinya berdampingan langsung dengan ruang kerja pribadi Hendi.
Sementara itu, di dalam kabin mobil sedan hitam yang terparkir di seberang jalan di luar gedung Grand Tower, Iqbal dan Doni sedang menatap layar laptop dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Bar persentase pengunduhan data di layar monitor melesat naik dengan cepat: 75%... 85%... 95%...
"Sialan, hampir saja..." gumam Iqbal dengan suara bergetar, kedua tangannya mencengkeram kuat lingkar kemudi mobil hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Matanya merah, menatap tajam ke arah gedung tinggi di seberang sana. Ia bisa membayangkan betapa mengerikannya situasi yang sedang dihadapi istrinya di dalam sana saat ini.
Doni tidak kalah tegang, jari-jarinya menari cepat di atas papan tik laptop untuk mempertahankan stabilitas sinyal. "Tahan sebentar lagi, Iqbal! Sedikit lagi proses dekripsinya selesai. Kalau Hendi tidak masuk ke ruang kerja sekarang, kita aman!"
Tiba-tiba, di sudut layar monitor, bar indikator berubah menjadi warna hijau terang benderang.
Sebuah teks tebal muncul di tengah layar: DOWNLOAD COMPLETE. 100% SUCCESSFUL.
Doni spontan memukul dashboard mobil dengan kepalan tangannya, tersenyum lebar penuh kemenangan. "Yes! Selesai! Semua arsip pemerasan, dokumen ilegal, dan database foto masa lalu sudah kita amankan sepenuhnya di server kita!"
Iqbal menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, air mata kelegaan tumpah begitu saja menetes di pipinya. "Terima kasih, Tuhan... terima kasih..."
Di dalam unit 402, Erlyn yang sedang berdiri di dekat dapur mendengar suara getaran pendek dua kali dari ponsel darurat di dalam saku mantelnya, tanda sandi dari sistem Doni bahwa misi di dalam telah berhasil 100%.
Seluruh beban berat yang selama belasan tahun menindih pundaknya mendadak musnah seketika. Rantai besi itu telah putus.
Hendi yang masih berdiri di ruang tengah, sibuk membersihkan sisa cipratan air di celananya, berteriak dengan nada tidak sabar. "Erlyn! Mana sapunya?! Cepat bereskan kekacauan ini, lalu kita lanjutkan ke kamar!"
Erlyn menarik napas dalam-dalam. Ia tidak lagi menunduk ketakutan. Ia membalikkan badan, berjalan keluar dari area dapur dengan langkah yang tegap dan pandangan mata yang dingin menusuk.
Ia berjalan melewati pecahan kaca tanpa ragu, lalu berhenti tepat di hadapan Hendi yang menatapnya dengan kening berkerut heran melihat perubahan drastis pada gestur tubuh wanita di depannya.
"Aku tidak mau, Om," ucap Erlyn dengan suara yang sangat tenang, begitu dingin, dan mengandung otoritas baru yang belum pernah didengar Hendi seumur hidupnya.
Hendi tertegun, matanya menyipit tajam. "Apa katamu? Berani sekali kau membantahku?"
"Permainan ini sudah berakhir," jawab Erlyn tajam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang membuat Hendi mendadak merasakan hawa dingin merayap di punggungnya.
Sebelum Hendi sempat meraih tangannya lagi, Erlyn memutar balik badan, menyambar tas kecilnya di atas sofa, dan melangkah cepat menuju pintu keluar apartemen.
"Erlyn! Berhenti di situ! Mau ke mana kau?! Jangan berani melangkah ke luar pintu itu!" bentak Hendi panik, merasakan ada sesuatu yang sangat salah sedang terjadi. Pria itu bergegas melangkah mengejar.
Namun terlambat.
Erlyn sudah membuka kunci pintu besi unit 402, membantingnya terbuka lebar, dan melangkah keluar menuju lorong lift dengan kepala tegak, meninggalkan sang predator dalam kebingungan dan kemarahan besar yang membara di dalam sangkar emasnya sendiri.
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn
jangan bilang habis ini ketemu terus CLBK/Blush//Blush/
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi