Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 22
KEPUTUSAN KILLIAN
Killian berdiri tegak di ruangan yang hening, kedua tangannya tergenggam erat di belakang punggung. Vincenzo masih membelakanginya, menatap ke jendela yang tertutup tirai tebal, seakan menyimpan kemarahan yang tak terlihat namun terasa berat di udara.
"Kau tidak seharusnya membunuh Kieran McManaman," ucap Vincenzo pelan, namun suaranya berat dan penuh teguran. "Itu bukan keputusan yang kuinginkan."
Killian tak bergeming. "Pengkhianatan tak pantas diberi ampun."
Vincenzo berbalik perlahan, menatapnya tajam, mata tuanya menyiratkan kekecewaan yang dalam. "Baiklah. Maka sekarang selesaikan sisa urusan ini. Bunuh gadis itu. Dia sudah mengetahui terlalu banyak tentang keluarga Marcano."
"Tidak akan kulakukan."
Penolakan itu diucapkan begitu tenang, namun tegas, seakan tak ada ruang untuk diperdebatkan. Vincenzo melangkah maju sedikit, wajahnya mulai memerah menahan amarah.
"Kenapa kau melindunginya? Apakah sampai jatuh hati pada wanita yang dikirim untuk menipu kita?"
"Aku tidak jatuh hati," jawab Killian lurus, tanpa menghindari tatapan itu. "Namun semuanya sudah terjadi. Dia adalah istriku, dan dia bukan bagian dari McManaman, bukan pula darah musuh. Aku ingin mempertahankannya."
"Pertama kalinya kau membantah perkataanku, Killian." desis Vincenzo, murka yang lama tertahan mulai meluap. "Selama ini kau patuh, tak pernah menyanggah. Dan sekarang, demi wanita asing, kau menentangku?"
"Aku tidak bermaksud menentangmu sebagai ayah angkatku," ucap Killian tenang namun tegas. "Selama ini aku mengabdi padamu, berhutang nyawa padamu, melakukan segala yang kau perintahkan. Namun untuk kali ini saja... aku menginginkan keputusanku sendiri."
Vincenzo terdiam sejenak, menatapnya lekat, seakan mencari sesuatu di balik wajah itu. "Kenapa? Apa yang istimewa dari gadis itu?"
Killian menarik napas panjang, lalu menjawab singkat dan jujur.
"Tidak ada."
Keheningan menyelimuti ruangan itu seketika. Vincenzo menatapnya tajam, tak percaya sekaligus menyadari bahwa kata-kata itu tulus tersembunyi.
"Kalau begitu," ucap Vincenzo dingin, suaranya kembali tegas dan tak terbantahkan, "menikahlah dengan putri asli McManaman yang masih hidup. Itu akan memperkuat posisi kita, menyatukan wilayah, dan meluaskan kekuasaan Marcano selagi Kieran sudah tewas."
"Aku tidak akan melakukannya."
“KILLIAN!“ sentak Vincenzo namun pria itu masih menatap santai ke lurus dengan tatapan tajam.
"Kau menolak peluang sebesar ini?" Ucap pria tua itu.
"Aku menolak," jawab Killian mantap. "Aku sudah memiliki istri."
Vincenzo mengerutkan kening, amarah kembali meluap. "Hari ini, dengan penolakanmu itu, kau membuktikan satu hal— kau bukan lagi bagian dari keluarga Marcano."
Killian menatapnya lurus, kedua tangannya di belakang punggung terkepal kuat, namun tatapannya tak goyah sedikit pun.
"Baik," ucap Vincenzo dingin, menekan setiap kata. "Jika kau tidak sanggup membunuh saksi itu sendiri, maka orang lain yang akan melakukannya. Pihak lain yang lebih setia kepadaku."
Killian melangkah maju selangkah, suaranya berubah tegas dan mengancam.
"Jangan lakukan itu."
Vincenzo menatapnya menantang. "Kenapa?"
Killian menarik napas panjang, menenangkan diri sejenak sebelum berbicara dengan nada yang lebih rendah namun penuh makna.
"Karena pada mulanya, hanya ada kita berdua. Seorang pria dewasa yang memungut seorang bocah ingusan yang malang... dan ketika bocah itu tumbuh, dia mengabdikan dirinya sepenuhnya pada pria itu, berhutang budi pada nyawa yang telah dia berikan. Lalu ketika dia cukup dewasa, pria itu pun mulai menua. Kita menjadi dua orang yang saling melengkapi — mitra yang saling menguntungkan. Jika salah satu pergi, maka yang satunya akan goyah."
Kata-kata itu tergantung di udara. Vincenzo terdiam, tatapannya melemah perlahan, seakan kembali ke masa-masa yang telah lama berlalu — masa saat ia menemukan anak kecil itu, membesarkannya, dan membangun kekaisaran ini bersama-sama. Amarah di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran yang mendalam. Meski masih penuh emosi dan rasa kecewa yang besar.
"Aku tidak mengkhianatimu," lanjut Killian pelan namun tegas. "Dan takkan pernah melakukannya."
Cukup lama Killian menatap ayahnya, ia lalu berbalik perlahan meninggalkan ruangan itu, menyisakan Vincenzo sendirian dalam keheningan yang penuh kenangan.
.
.
.
Di ruangan lain, Muchus mondar-mandir dengan wajah merah padam menahan amarah. Ia meremas kedua tangannya, napasnya memburu, tak sanggup menerima apa yang baru saja dilihatnya.
"FUCK!!! Berlagak seperti penguasa yang harus selalu ditakuti..." umpatnya kasar, suaranya bergetar.
"Bodohnya aku. Dia... dia tak lebih dari anak yang diangkat, yang tak berdaya tanpa perlindungan ayahnya. Berani-beraninya ia melangkah di antara ku seakan semua ini miliknya sendiri."
Amarah itu tak menemukan jalan keluar, hingga ia melihat salah satu anak buah yang berdiri menunduk di sudut ruangan, tak bersalah sama sekali. Tanpa sebab lain, tanpa peringatan, Muchus melangkah mendekat dan melampiaskan segala kemarahannya kepada pria itu — pukulan demi pukulan dihantamkan dengan kekuatan penuh, seakan wajah anak buah itu adalah wajah Killian yang ia benci. Pria itu jatuh terjerembap, tak berdaya melawan, namun Muchus tak berhenti.
Ia terus menghantamnya, melampiaskan rasa sakit hati, iri, dan kebencian yang telah lama tersimpan. Hingga akhirnya ia berhenti, napasnya tersengal, berdiri di atas tubuh yang tak lagi bergerak itu.
"Semua ini salahmu..." bisiknya pelan, meski tak ada siapa-siapa di sana. "Kau akan melihat siapa yang sebenarnya berkuasa di sini, Killian."