💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Ponsel berteknologi tinggi pemberian Elvano tergeletak membisu di atas meja kayu yang kusam, layaknya bom waktu yang siap meledak kapan saja. Alana menatap benda pipih berdesain elegan itu dengan rahang mengeras.
Pria itu bukan sekadar bos mafia yang arogan; ia adalah predator licik yang sedang menikmati permainan kucing-kucingan ini.
"Kemas barang-barang kita, Sayang," bisik Alana lembut namun penuh penekanan.
Kael yang berada di atas kasur langsung mengangguk paham. Tanpa bersuara, bocah enam tahun itu bergerak sigap mengarahkan adiknya, Kai, untuk melipat piyama dan memasukkan botol obat ke dalam tas ransel kecil mereka masing-masing.
Alana menatap ponsel di atas meja dengan otak yang berputar kilat. Menggunakan ponsel itu sama saja dengan menyerahkan titik koordinat mereka secara sukarela ke dalam genggaman klan Adhitama. Namun, membuangnya begitu saja tanpa jejak juga akan memicu kecurigaan Elvano bahwa identitas aslinya telah terbongkar.
Seringai tipis yang dingin terukir di sudut bibir Alana. Kau ingin bermain-main denganku, Elvano Adhitama? Mari kita lihat siapa yang akan terjebak.
Dengan gerakan lincah, Alana menyambar flashdisk enkripsi data yang disertakan di dalam paket kardus tadi. Ia menancapkannya ke port khusus pada laptop militer miliknya.
Jemari lentiknya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa, memecah barisan protokol keamanan di dalam flashdisk tersebut untuk menyusup ke sistem transmisi internal Adhitama.
Dalam hitungan menit, Alana berhasil menciptakan sebuah ghost proxy—sebuah peladen bayangan yang memantulkan sinyal radio secara acak. Ia memprogram ponsel baru itu agar memancarkan titik koordinat palsu ke pusat pelacakan Elvano, mengarahkan radar klan mafia itu ke sebuah gudang kargo terbengkalai di ujung utara kota—berlawanan arah dari rute pelarian mereka yang sebenarnya.
"Selesai," gumam Alana pelan saat indikator di layarnya berkedip hijau.
Ia menyalakan ponsel pintar itu selama sepuluh detik tepat untuk meluncurkan sinyal umpan, lalu mencabut baterainya. Dengan ketenangan yang mengerikan, Alana mematahkan kartu SIM edisi khusus itu menjadi dua bagian menggunakan tangannya sendiri, lalu membuang serpihannya ke dalam lubang pembuangan air.
"Bunda, kita sudah siap," panggil Kael dengan suara tenang. Tangannya menggenggam erat jemari Kai yang masih sedikit lemas.
Alana mengangguk penuh tekad. Ia mengenakan jaket kebesarannya, menyelipkan pisau taktis di balik pinggang, dan menyapu pandangan ke sekeliling kamar kontrakan untuk memastikan tidak ada satu pun jejak digital maupun fisik yang tertinggal.
Mereka bertiga menyelinap keluar melalui pintu belakang saat lorong kontrakan masih sepi. Membaur di antara kepulan asap warung makan dan hiruk-pikuk warga pasar pagi, mereka naik ke dalam bus kota tua yang melaju menuju arah selatan—menjauh dari perangkap yang baru saja ia pasang.
_____________
Sementara itu, di dalam ruang kendali utama klan Adhitama yang dipenuhi layar monitor raksasa, sebuah indikator hijau mendadak berkedip terang di tengah peta digital kota.
"Tuan Muda!" seru salah satu peretas terbaik Adhitama, suaranya dipenuhi ketegangan bercampur antusiasme. "Ponsel yang dikirimkan pagi ini baru saja aktif! Sinyalnya memancar stabil dari sebuah area gudang kargo tua di ujung utara kota!"
Elvano yang sedang berdiri di depan meja kerjanya seketika mendongak. Matanya menyipit tajam. Lembaran laporan penyelidikan identitas Alana yang kosong di atas mejanya kini berbenturan dengan pergerakan nyata wanita itu.
"Dia menyalakannya, lalu bergerak," gumam Elvano penuh perhitungan. Ia menatap titik hijau di layar yang mulai memancarkan pergerakan stasioner. "Gadis yang sangat berani."
"Apakah kita perlu mengerahkan dua tim taktis untuk mengepung gudang itu sekarang, Tuan?" tanya Jace, tangannya sudah bersiap meraba alat komunikasi di pinggangnya.
Elvano mengangkat tangan kanannya, menghentikan gerakan Jace. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis senyum sinis yang menguarkan aura dominasi.
"Tidak perlu pasukan besar. Cukup kau dan aku yang pergi ke sana, Jace," perintah Elvano mutlak. Ia menyambar jas panjangnya dari sandaran kursi dan melangkah lebar keluar ruangan.
"Aku ingin melihat secara langsung raut wajah gadis yang berani melempar tantangan ke hadapanku."
Dalam waktu singkat, sebuah sedan hitam antipeluru melesat membelah jalanan kota menuju kawasan industri utara. Suasana di dalam kabin begitu hening dan penuh tekanan. Elvano menyandarkan punggungnya, menyilangkan kaki seraya mengetuk-ngetuk lututnya dengan irama lambat.
Insting militernya yang terasah tajam sebenarnya membisikkan satu keraguan—koordinat ini terlalu mudah ditemukan untuk ukuran seorang wanita yang sangat rapi menyembunyikan identitasnya.
Namun, rasa penasaran dan kepuasan menaklukkan mangsa yang pembangkang justru memantik dorongan asing di dalam dada sang bos mafia.
Begitu mobil mereka berhenti di pelataran gudang tua yang sepi dan ditumbuhi semak belukar, Elvano dan Jace turun. Dengan senjata terisi penuh di balik jas, keduanya melangkah senyap mendekati pintu besi yang renggang.
Kriiiet!
Pintu berderit nyaring saat didorong oleh ujung sepatu bot Elvano. Ruangan luas itu berdebu, lembap, dan diselimuti keheningan yang mati. Tidak ada seorang pun di sana.
Tepat di tengah ruangan, di atas sebuah peti kayu tua yang berdebu tebal, tergeletak satu-satunya benda di tempat itu: ponsel pintar mahal yang baru saja dikirimkan Elvano tadi pagi, dalam kondisi mati total tanpa kartu SIM.
Jace mengedarkan senter taktisnya ke setiap sudut, lalu mendesah kasar bercampur kekecewaan.
"Kita dikerjai, Tuan Muda. Ponsel ini sengaja ditinggalkan sebagai umpan untuk memutarbalikkan radar kita. Wanita itu sudah melarikan diri."
Jace bersiap menerima luapan amarah dari tuannya. Namun, alih-alih murka, Elvano justru melangkah perlahan mendekati peti kayu tersebut. Ia memungut ponsel mahal yang telah dilumpuhkan itu.
Seulas senyum tipis, sebuah seringai kagum yang sangat jarang terlihat—perlahan terukir di wajah tampan sang bos mafia.
Gadis jalanan bernama Alana itu bukan sekadar pintar. Ia baru saja meretas sistem pelacakan canggih milik klan Adhitama dan memainkannya tepat di depan hidung sang penguasa.
"Permainan yang sangat cantik, Nona Alana," bisik Elvano pelan, suaranya berat dan sarat akan ancaman ketertarikan yang baru.
"Kau pikir kau bisa lari selamanya dariku?"
Bersambung...