Menikah dengan orang yang aku cintai, hidup bahagia bersama, sampai akhirnya kami dikaruniai seorang putra tampan. Nyatanya setelah itu justru badai perceraian yang tiba-tiba datang menghantam. Bagaikan sambaran petir di siang hari.
Kehidupanku seketika berubah 180 derajat. Tapi aku harus tetap kuat demi putra kecilku dan juga ibu serta adikku.
Akankah cinta itu kembali datang? Sementara hatiku rasanya sudah mati rasa dan tidak percaya lagi pada yang namanya cinta. Benarkah cinta sejati itu masih ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Memantapkan Hati
✉️: Assalamu'alaikum, Mas. Sore ini ada waktu kah? Ada yang ingin saya bicarakan dengan Mas.
✉️: Wa'alaikumsalam, Mbak. Ada, Mbak. Oke, sore nanti aku tunggu di depan perusahaan seperti dulu itu, ya.
✉️: Iya, Mas.
Senyum Awan terkembang membaca chat dari Shofi. Besar harapan Awan bahwa dia akan mendapatkan kabar baik sore nanti. Setelah dirinya menunggu dengan sabar selama lebih dari seminggu ini.
☘️☘️☘️
Sesuai janjinya tadi, sore ini Awan sudah stand by di dekat pos satpam perusahaan tempat Shofi bekerja. Tidak lama kemudian Shofi pun sudah keluar dari area parkir perusahaan dan langsung menghampiri Awan.
"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Shofi setelah menghentikan sepeda motornya di dekat sepeda motor Awan.
"Wa'alaikumsalam, Mbak," balas Awan.
"Kita langsung ke taman yang kemarin aja ya, Mas," ajak Shofi kemudian.
"Oke. Mbak Shofi duluan, aku ngikutin dari belakang."
Shofi menganggukkan kepalanya. Dia kemudian melajukan kembali sepeda motornya. Awan lalu mengikuti di belakang Shofi. Keduanya menuju ke taman kota dekat perusahaan. Tempat yang sama ketika kemarin Awan mengutarakan niatnya untuk menikahi Shofi.
Sesampainya di taman kota, lagi-lagi mereka memilih untuk duduk di kursi taman di dekat air mancur.
"Jadi, apa yang mau Mbak Shofi bicarakan?" tanya Awan setelah mereka berdua duduk bersisian.
"Maaf, Mas, sebelumnya saya mau bertanya sama Mas Awan. Apa Mas Awan masih serius dengan perkataan Mas kemarin itu?" tanya Shofi hati-hati.
"Tentu. Sudah kubilang dari awal kan, aku udah yakin dan mantap untuk menikah dengan Mbak Shofi," jawab Awan tanpa ragu.
"Apa Mas benar tidak mempermasalahkan tentang perbedaan status dan umur kita?"
"Tidak sama sekali."
"Lalu bagaimana dengan keluarga Mas Awan? Apakah mereka semua juga sudah menyetujui niat Mas Awan itu?"
"Jujur saja, Mbak, aku memang baru memberitahu tentang masalah ini sama Papa. Dan ya, alhamdulillaah Papa sangat mendukung niatku tersebut. Kalau untuk Mama dan yang lainnya, rencananya setelah Mbak Shofi menerima lamaranku baru aku dan Papa akan memberitahu mereka."
"Dan apa Mas yakin kalau mama Mas Awan dan yang lainnya akan setuju juga?" tanya Shofi lagi.
Awan tersenyum kecil. Awan sangat memahami kekhawatiran Shofi tersebut. Saat ini keduanya sudah merubah posisi duduk mereka menjadi saling berhadapan.
"Mbak, aku memang belum bisa menjamin bahwa mama dan yang lainnya juga akan langsung menyetujui niatanku ini. Tetapi, asalkan Mbak Shofi menjawab 'iya' dan bersedia untuk menikah denganku, aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan mereka semua. Apalagi dengan adanya dukungan dari Mbak Shofi, aku yakin aku pasti bisa meyakinkan mereka semua, Mbak," jawab Awan penuh keyakinan.
Awan bisa melihat Shofi yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Jadi, bisakah aku mendengar jawaban dari Mbak Shofi sekarang? Bersediakah Mbak Shofi menikah denganku?" tanya Awan kemudian.
Shofi menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian dia kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut.
"Iya, Mas. Aku bersedia," jawab Shofi pelan.
Dan senyuman seketika terkembang menghiasi wajah Awan.
"Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin," ucap syukur Awan seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Awan dan Shofi sama-sama tersenyum bahagia saat ini.
"Boleh aku pegang tangan Mbak Shofi?" tanya Awan, meminta ijin.
Sempat terdiam untuk beberapa saat, akhirnya Shofi pun kemudian menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum.
Awan mendekatkan posisi duduknya dengan Shofi. Dengan sedikit bergetar, diangkatnya tangan kanannya kemudian menyentuh tangan kiri Shofi. Dapat Awan rasakan bahwa saat ini tangan Shofi sangat dingin, mungkin karena dia sangat gugup tadi.
Awan kemudian menggenggam lembut tangan kiri Shofi tersebut kemudian tersenyum dengan lembut pula.
"Terima kasih, Mbak, karena sudah bersedia untuk menerima pinanganku. Terima kasih karena sudah bersedia untuk menikah denganku. Aku janji sama Mbak Shofi, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa membahagiakan Mbak dan juga Keinan kedepannya nanti," kata Awan.
"Sama-sama, Mas. Aku juga berterima kasih sama Mas karena Mas Awan masih mau menerima keadaanku yang seperti ini."
"Jangan berkata seperti itu, Mbak," potong Awan cepat. "Jangan pernah mengulangi kata-kata itu lagi.
"Maaf," lirih Shofi.
Lagi-lagi Awan tersenyum. Awan kemudian kembali merubah posisi duduknya dan menghadap ke depan, masih dengan menggenggam tangan Shofi bersamanya. Shofi pun juga ikut merubah posisi duduknya kembali menghadap ke depan.
Awan membawa tangan kiri Shofi yang sedang dia genggam ke pangkuannya kemudian mengusapnya dengan ibu jarinya perlahan. Sekilas Awan bisa melihat wajah Shofi yang memerah.
"Hmm, kalau aku manggilnya nggak pakai 'Mbak' lagi dan langsung nama aja, boleh nggak?" tanya Awan kemudian.
"Boleh, Mas. Terserah Mas Awan aja, gimana nyamannya," jawab Shofi.
"Oke kalau gitu, Shofi," kata Awan yang mulai manggil Shofi dengan namanya saja tanpa embel-embel 'Mbak' lagi.
Lagi-lagi Awan dan Shofi saling menatap. Keduanya kemudian sama-sama melemparkan senyum.
"Iya, Mas," balas Shofi.
Ah, suasananya jadi terlalu serius. Dan jujur saja, ini sangat tidak sesuai dengan tipikal Awan yang humoris. Awan kemudian mulai memutar otaknya.
"Gimana kalau kita makan dulu, Shofi?" tanya Awan, mencoba mencairkan suasana. "Kita makan di restoran Papa aku. Sekalian aku mau kenalin kamu sama Papa. Gimana menurut kamu?"
"I-iya, Mas. Boleh. Tapi saya perlu mengabari orang rumah dulu. Biar mereka nggak khawatir karena saya pulang terlambat," jawab Shofi.
"Ck, jangan terlalu formal gitu dong, Shofi," kata Awan setelah berdecak pelan. "Kedengarannya kaku banget. Santai aja kita ngomongnya. Oke?"
"Mmm, i-iya, Mas."
"Ya udah, buruan kabarin ibu dulu. Bilang aja Mas ngajak kamu makan dulu. Nanti pulangnya Mas anterin."
"Iya, Mas."
Shofi kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Shofi lalu menghubungi Aminah.
"Assalamu'alaikum," sapa Aminah di seberang panggilan.
"Wa'alaikumsalam, Bu. Bu, kakak mau ijin makan diluar sama Mas Awan dulu, ya. Jadi kakak pulangnya agak terlambat nanti. Tapi nanti dianterin sama Mas Awan juga kok."
"Eh? Kakak udah kasih jawaban ke nak Awan, ya?"
"Iya, Bu. Alhamdulillaah sudah."
"Dan jawaban kakak?"
"Kakak bersedia, Bu."
"Syukur alhamdulillah."
Samar-samar Awan bisa mendengar pekik bahagia Aminah. Senyum Awan pun kembali terkembang.
"Ya udah, kakak tutup dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya kalian berdua. Sampaikan salam ibu buat nak Awan."
"Iya, Bu."
Tut.
Sambungan telepon pun terputus.
"Udah?" tanya Awan.
"Udah, Mas. Mas juga dapat salam dari ibu," jawab Shofi.
"Wa'alaikumsalam," kata Awan membalas titipan salam dari Aminah tadi. "Yuk, kita pergi sekarang!"
"Iya, Mas."
Awan dan Shofi kemudian berdiri dari duduknya. Keduanya kemudian meninggalkan taman kota tersebut. Dengan mengendarai sepeda motor masing-masing, keduanya kemudian menuju ke restoran milik Surya yang terletak tidak jauh dari sana.