NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 maya selamat

Wajah Sora di layar ponsel milik Reza tersenyum begitu dingin, memancarkan kepuasan yang teramat sangat atas kekacauan yang diciptakannya.

​"Apa lagi yang mau kamu lakukan, Sora?!" bentak Reza dengan suara rendah mematikan, mempererat dekapan tangannya di pinggang Maya.

​Di seberang panggilan, Sora terkekeh pelan.

"Coba kamu tebak, Reza. Kamu pikir dengan menyelamatkan cewek pelayanmu itu, kamu sudah menang? Kamu baru saja meninggalkan markas pusat kekuasaanmu tanpa penjagaan sama sekali. Saat ini, para tetua dewan sedang mengambil alih seluruh rekening dan jalur distribusimu secara mutlak."

​Sora memiringkan kepalanya sedikit, menatap tajam ke arah Maya yang ada di balik dada Reza.

"Nikmatilah waktu-waktu terakhirmu bersama perempuan itu, Reza. Karena mulai besok, kamu bukan lagi siapa-siapa di kota ini."

​TUT... TUT... TUT...

​Sambungan video diputus secara sepihak oleh Sora.

​Suasana di dalam gudang tua yang berbau karat itu mendadak hening mencekam. Angin malam dari laut bertiup kencang menembus sela-sela atap kaca yang pecah.

​Reza meremas ponselnya hingga layarnya makin retak, lalu mengabaikan gawai tersebut. Ia menoleh cepat pada Rian.

"Siapkan kendaraan. Kita kembali ke safehouse sekarang."

​"Siap, Tuan Besar!" sahut Rian cepat, menginstruksikan sisa pasukan elitnya untuk mengamankan jalur luar.

​Reza menggendong tubuh Maya yang masih lemas dan gemetaran menuju mobil jip lapis baja yang terparkir di luar gudang.

Maya menyandarkan kepalanya di dada bidang Reza. Ia merasakan detak jantung pria itu yang memburu, gabungan antara sisa adrenalin bertarung dan emosi yang meluap.

​Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah rumah aman rahasia di pinggiran kota yang terlindung rapat oleh pepohonan rimbun.

​Di dalam kamar mandi master yang hangat, Maya duduk di tepi bak mandi. Reza berlutut di hadapannya, dengan lembut membasuh luka goresan kecil di leher Maya bekas pisau Bram menggunakan kain kasa dan alkohol antiseptik.

​"Sakit?" bisik Reza pelan, matanya menatap cemas wajah pucat Maya.

​Maya menggelengkan kepala lambat. Rasa perih di lehernya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang menggerogoti hatinya saat ini.

​Ia menatap jemari Reza yang tangkas namun gemetaran saat mengobatinya. Pria yang dulunya berdiri paling atas di dunia bawah, pria yang ditakuti oleh semua pembunuh dan mafia, kini bersimbah darah, kotor, dan kehilangan kekuasaannya... hanya demi menyelamatkan seorang cewek biasa seperti dirinya.

​"Reza..." panggil Maya lirih.

​"Iya, Maya?" Reza mendongak, menatap lurus ke dalam mata Maya.

​"Kenapa kamu berlutut di depan pria itu tadi?" suara Maya bergetar parah, air matanya menetes membasahi jemari Reza.

"Kamu itu Reza... Kamu bos besar. Kamu tidak boleh berlutut di hadapan orang jahat seperti dia cuma gara-gara aku..."

​Reza menghentikan gerakannya. Pria itu menghela napas panjang, lalu memegang kedua pipi Maya dengan tangannya yang hangat.

​"Harga diri saya tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan nyawa kamu, Maya," jawab Reza jujur tanpa keraguan sedikit pun.

"Kalau saya harus berlutut seribu kali hanya untuk memastikan kamu tetap bernapas, akan saya lakukan."

​Kata-kata itu seharusnya membuat hati Maya meleleh bahagia. Tapi di dalam benak Maya, ucapan itu justru menjadi hantaman kenyataan yang sangat menyakitkan.

​Aku ini kelemahannya, batin Maya menangis dalam hati. Keberadaanku di sisinya cuma jadi celah buat musuh-musuhnya untuk menghancurkan dia.

​Maya teringat bagaimana Reza diserang dari belakang, bagaimana markasnya dihancurkan, dan bagaimana Sora dengan mudah mengendalikan situasi hanya dengan memanfaatkan dirinya sebagai umpan.

Maya menyadari satu hal yang sangat pahit: semakin lama ia berada di samping Reza, semakin cepat pria yang dicintainya itu menuju kehancuran total.

​"Kamu harus istirahat," kata Reza lembut sambil merapikan helai rambut Maya yang basah. "Saya mau keluar sebentar untuk rapat dengan Rian."

​Maya mengangguk pelan, berpura-pura tenang. "Iya, kamu juga jangan terlalu lelah..."

​Reza mencium dahi Maya dengan lama dan hangat sebelum akhirnya berdiri dan melangkah keluar kamar, membiarkan Maya sendirian.

​Begitu pintu kamar tertutup rapat, pertahanan mental Maya runtuh sepenuhnya. Ia merosot ke lantai dingin kamar mandi, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara isak tangisnya tidak terdengar keluar.

​Rasa bersalah yang teramat sangat merayapi seluruh jiwanya. Maya sadar, ia tidak boleh egois.

Cinta yang dirasakannya pada Reza bukanlah cinta yang menyelamatkan, melainkan racun yang perlahan-lahan membunuh pria itu.

​"Aku harus mengakhiri semua ini..." bisik Maya pada dirinya sendiri di tengah keputusasaan.

"Aku harus pergi, bukan karena aku tidak mencintaimu, Reza... tapi karena aku terlalu mencintaimu sampai aku tidak sanggup melihatmu mati gara-gara aku."

​Maya membulatkan tekadnya. Ia menyeka air matanya, lalu perlahan berdiri. Malam ini, saat semua orang sibuk mengurus sisa-sisa perang, ia akan benar-benar menghilang tanpa jejak.

​Namun, ketika Maya menyelinap membuka pintu kamar menuju lorong belakang yang sepi, ia tersentak kaget.

​Di ujung lorong yang gelap, berdiri sosok pria jangkung bersetelan jas rapi yang tidak asing baginya. Pria itu adalah Rian—pengawal kepercayaan yang selama ini paling setia di samping Reza.

​Rian tidak memegang senjata. Ia hanya berdiri kaku di sana, menatap Maya dengan raut wajah yang sangat dingin dan sulit diartikan.

​"Mba Maya mau pergi, kan?" tanya Rian pelan, suaranya terdengar datar tanpa nada terkejut.

​Maya membeku di tempat, jantungnya berdebar kencang karena tertangkap basah.

"Rian... tolong... jangan beri tahu Reza. Biarkan aku pergi... Ini demi kebaikan Tuanmu."

​Rian melangkah mendekati Maya secara perlahan. Tatapan matanya yang biasanya penuh hormat kini berubah menjadi sangat dalam dan misterius.

​"Saya tahu Mba Maya akan mengambil keputusan ini," ucap Rian rendah saat jarak mereka tinggal sejengkal.

"Tapi Mba Maya salah kalau berpikir bisa keluar dari kota ini sendirian."

​Maya berkerut keningnya bingung. "Maksudmu apa, Rian?"

​Rian merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kunci mobil dan sebuah paspor baru atas nama Maya.

​"Mobil sudah saya siapkan di pintu belakang," bisik Rian dengan nada yang sangat serius.

"Saya yang akan bantu Mba Maya kabur malam ini... sebelum Tuan Besar menyadari bahwa selama ini, sayalah yang membocorkan lokasi panti asuhan dan gudang pelabuhan kepada Sora."

​Maya membelalakkan matanya sempurna, napasnya terhenti seketika karena syok yang luar biasa!

​Bersambung......

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!