Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMPLOP DI LACI
"Laci mana yang kamu maksud, Sinta?"
Suara Bu Retno rendah dan berbahaya. Seisi ruang tengah menahan napas. Damar sudah berdiri, wajahnya pucat, tangannya terkepal di samping paha.
"Laci meja kerja Mas Damar, Bu," jawab Sinta tenang. "Yang paling bawah. Ada amplop cokelat dari klinik, atas nama Mas Damar. Saya tidak pernah membukanya, tapi saya tahu dia menyimpannya sudah dua tahun."
"Fitnah!" Damar membentak. "Itu cuma medical check-up kantor, Bu. Isinya biasa saja!"
"Kalau biasa saja, kenapa dikunci?" balas Sinta.
"Kamu mengacak-acak barangku?!"
"Aku mencari kunci mobil yang kamu hilangkan, Mas. Laci itu terbuka sendiri."
Bu Retno menatap anaknya lama, lalu menoleh ke Sinta dengan sorot jijik. Dalam sekejap, wajah perempuan tua itu sudah memutuskan siapa yang bersalah.
"Cukup," katanya dingin. "Sudah mandul, sekarang pandai memutar balik cerita. Kamu pikir dengan menuduh anak saya, kamu bisa lolos dari kenyataan?"
"Saya tidak menuduh, Bu. Saya cuma ingin..."
"Plak!"
Tamparan itu datang tanpa peringatan. Kepala Sinta tertoleh ke samping, pipinya terbakar. Beberapa ipar tersentak, tapi tak seorang pun bergerak.
"Ibu!" seru Damar, tapi langkahnya berhenti di tengah jalan, seperti ada tali yang menahannya.
"Bawa barang-barangnya ke paviliun sekarang," perintah Bu Retno pada Rini. "Dan kamu, Sinta, jangan keluar kamar sebelum saya panggil."
Sinta memegang pipinya yang panas. Matanya mencari Damar. Lelaki itu menunduk, bahunya turun, seperti anak kecil yang tertangkap basah. Tapi bukan karena malu pada istrinya. Karena takut pada apa yang tersimpan di dalam laci itu.
Saat itulah Sinta mengerti. Amplop itu bukan sekadar kertas. Itu adalah rahasia yang bahkan lebih penting bagi Damar daripada tujuh tahun pernikahan mereka.
---
Paviliun belakang itu pengap. Kasurnya tipis, lemarinya berbau lembap, jendelanya menghadap tembok. Sinta duduk di tepi ranjang, menatap dua koper yang dilempar Rini ke lantai.
Malam datang. Rumah utama terdengar riuh, ada makan malam bersama calon besan, tawa Pak Hendra, suara piring bersentuhan. Tak ada yang mengantarkan makanan ke paviliun. Sinta memeluk lututnya, tapi tidak menangis lagi. Air matanya seperti sudah habis jatah.
Pukul sebelas, ia keluar diam-diam hendak mengambil air ke dapur. Rumah sudah sepi, hanya lampu teras yang menyala remang. Saat melewati taman samping, ia mendengar suara perempuan dari balik semak, berbisik cepat.
Sinta berhenti. Itu suara Melia.
"Sudah kubilang jangan telepon malam-malam!" bisiknya kesal. "Iya, aman. Mereka semua percaya... Bu Retno bahkan sudah memesan baju pengantin."
Jantung Sinta berdegup. Ia bersembunyi di balik tiang, menahan napas.
"Tenang saja. Istrinya itu cuma perempuan lemah, nggak akan berani macam-macam." Jeda. Lalu Melia terkekeh, pelan dan dingin. "Soal amplop? Dia memang menyebut-nyebut, tapi dia tidak tahu apa isinya. Kalau sampai dia tahu..."
Suara lawan bicara di telepon terdengar samar, laki-laki, berat, terdengar marah.
"Jangan khawatir," potong Melia. "Pokoknya anak ini harus lahir sebagai cucu keluarga Wiryawan. Dan kamu, Mas, tutup mulut sampai semuanya beres."
Sinta menutup mulutnya dengan tangan. Kakinya lemas.
*Anak ini?*
Melia belum menikah dengan Damar. Belum ada akad, belum ada malam pertama. Tapi perempuan itu sedang bicara tentang *anak ini* seperti sesuatu yang sudah ada di dalam tubuhnya.
Langkah kaki mendekat. Sinta buru-buru mundur, tapi ranting di bawah sandalnya patah dengan bunyi nyaring.
"Siapa di situ?!"
Lampu senter dari ponsel menyorot ke arah tiang. Sinta tak sempat lari. Cahaya itu jatuh tepat di wajahnya.
Melia berdiri di sana, ponsel masih menempel di telinga, mata melebar. Beberapa detik ia terdiam. Lalu bibirnya melengkung tipis, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan di depan keluarga Damar.
"Kak Sinta," ucapnya manis. "Kakak dengar berapa banyak?"