NovelToon NovelToon
Goblin Emperor

Goblin Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.

Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.

Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.

menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Lorong Pembantaian dan Iblis Bermata Satu

Formasi kura-kura dari infanteri perisai lapis baja bergerak perlahan menelan kegelapan gua. Obor-obor magis yang dipegang oleh para petualang di barisan kedua melemparkan bayangan-bayangan panjang dan menakutkan ke dinding batu yang kasar. Bau belerang dan daging busuk semakin pekat, menguji perut para prajurit yang baru pertama kali memasuki sarang monster.

Khaelar berjalan di sisi kanan barisan depan, pedangnya terhunus, matanya menyapu setiap celah gelap di langit-langit dan dinding gua. Instingnya berteriak keras.

"Tetap rapatkan perisai!" teriak komandan infanteri di depan. "Jangan ada ruang terbu—"

KRAK!

Sebuah pijakan batu di bawah kaki sang komandan mendadak amblas.

Sebelum ada yang sempat bereaksi, mekanisme kayu dan katrol tulang yang disembunyikan di langit-langit gua terlepas. Batang-batang pohon raksasa yang ujungnya telah diruncingkan berayun turun dari kegelapan layaknya pendulum raksasa.

BAM! CRASH!

Batang-batang tajam itu menghantam formasi kura-kura dengan kekuatan brutal. Perisai baja penyok, tulang-tulang patah, dan tubuh para prajurit terlempar ke udara dengan jeritan histeris. Darah segar seketika memercik ke dinding gua.

"Jebakan! Formasi bubar!" pekik seorang petualang.

Kepanikan sesaat itu adalah aba-aba yang telah ditunggu.

Dari lubang-lubang ventilasi dan lorong sempit di atas mereka, hujan batu mana yang telah dimodifikasi menjadi peledak rakitan dijatuhkan ke tengah barisan prajurit. Ledakan demi ledakan mengguncang gua, menciptakan asap tebal dan kobaran api yang membutakan.

Di tengah kekacauan dan asap yang menyesakkan, bayangan-bayangan hijau melompat turun dari langit-langit layaknya laba-laba kelaparan. Itu adalah lima puluh goblin tua dan cacat yang sengaja ditinggalkan Altair. Namun, alih-alih bertarung seperti monster lemah yang ketakutan, mereka menerjang dengan kefanatikan bunuh diri.

Mereka mengabaikan tusukan pedang yang menembus perut mereka. Mereka menerjang para ksatria yang terjatuh, menggigit leher yang tak terlindungi zirah, merobek mata dengan kuku yang kotor, dan terus mengoyak daging manusia hingga kepala mereka sendiri dipenggal.

"Hama sialan! Mereka tidak takut mati!" umpat Khaelar, menebas leher seekor goblin tua yang mencoba menggigit kakinya.

Saat barisan manusia mulai menyesuaikan diri dengan serangan bunuh diri tersebut, suara derap langkah kaki berat terdengar dari ujung lorong, menggetarkan tanah.

Dari balik asap tebal, dua puluh Hobgoblin elit yang dipimpin oleh Grush menerjang layaknya kereta kencana dari neraka.

Formasi infanteri manusia yang baru saja dirapatkan kembali seketika hancur berantakan. Dua puluh Hobgoblin itu mengayunkan tombak dan gada besi mereka dengan kekuatan yang mampu menghancurkan zirah pelat. Namun, teror sesungguhnya adalah raksasa putih bermata satu yang berada di garis depan.

Grush, sang White Goblin, mengayunkan kapak besarnya secara horizontal.

Satu ayunan itu membelah tiga prajurit berisai besi menjadi dua bagian, melemparkan potongan tubuh mereka ke dinding gua. Raksasa itu menggeram buas, matanya yang tunggal menyala oleh euforia kematian. Ia tidak mencoba bertahan atau menghindar; ia murni menyerang. Setiap kali pedang ksatria manusia menggores atau menembus kulit pucatnya, Grush justru tertawa histeris, membalasnya dengan hantaman kapak yang menghancurkan tengkorak musuhnya.

"Monster mutan!" teriak salah satu penyihir dari barisan belakang. "Tembakkan sihir api! Fokus pada raksasa putih itu!"

Bola-bola api melesat menembus lorong, menghantam tubuh Grush bertubi-tubi. Zirah tengkorak beruangnya hangus, dan sebagian kulit lengannya melepuh hingga memperlihatkan daging yang terbakar.

Namun, Grush sama sekali tidak memperlambat langkahnya. Instingnya untuk membuktikan diri kepada Kaisar membuat rasa sakit itu terasa seperti kehormatan. Ia melompat melewati barisan mayat, mendarat tepat di tengah unit penyihir, dan mulai memutar kapaknya layaknya gasing berdarah. Jeritan para penyihir menggema saat tubuh-tubuh berjubah abu-abu mereka terkoyak.

Baron Cass, yang berada di barisan tengah, matanya menyipit penuh amarah melihat tentaranya dibantai di ruang sempit.

"Minggir dari jalanku!" raung Baron Cass, mendorong prajurit-prajuritnya sendiri untuk maju ke garis depan.

Aura perak yang menyilaukan meledak dari pedang besar (greatsword) milik sang Baron. Ia adalah ksatria tingkat atas, dan kekuatannya terbukti saat ia melesat ke arah Grush.

Grush melihat ksatria berzirah perak itu mendekat. Instingnya menyadari bahwa ini adalah komandan musuh. Dengan raungan yang memekakkan telinga, Grush mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk membelah sang Baron.

CLANG!

Bentrokan antara pedang perak yang dilapisi aura mana dan kapak besi kasar itu menciptakan gelombang kejut yang mementalkan batu-batu kerikil di sekitar mereka. Mata tunggal Grush membelalak saat menyadari kapak besarnya retak.

Kekuatan manusia ini jauh melampaui raksasa beruang di hutan.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Baron Cass memutar pedangnya dengan kelincahan mematikan, menyelinap di bawah penjagaan Grush, dan menebas lutut kiri raksasa itu hingga putus.

Grush meraung kesakitan, tubuh besarnya kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut. Namun, alih-alih menyerah, Grush melepaskan kapaknya yang hancur, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan mencoba menggigit wajah Baron Cass dengan rahang buasnya.

TRASH!

Sebuah pedang emas menembus dada Grush dari belakang, tembus hingga ke jantungnya. Viscount Rejerson berdiri di punggung raksasa itu dengan mata menyala penuh amarah dan duka.

"Mati kau, monster keparat," desis sang Viscount, memutar pedangnya di dalam dada Grush.

Darah hitam menyembur dari mulut Grush. Matanya yang tunggal perlahan meredup. Tubuhnya yang sekeras baja akhirnya mulai menyerah. Namun, dalam sisa napas terakhirnya, raksasa putih itu tidak menjerit atau memohon ampun.

Grush menatap para manusia yang mengepungnya, dan sebuah senyuman buas—senyuman kebanggaan seorang komandan yang telah menunaikan tugasnya dengan sempurna—tercetak di wajahnya yang bersimbah darah. Ia mati dengan menelan rahasia Kekaisaran, membiarkan manusia percaya bahwa perlawanan putus asa ini adalah akhir dari segalanya.

Tubuh raksasa Grush ambruk menghantam lantai batu dengan bunyi debuk yang keras.

Menyaksikan pemimpin mereka tewas, dua puluh Hobgoblin yang tersisa tidak mundur. Mereka justru semakin liar, menyerang membabi buta hingga setiap dari mereka ditebas, ditombak, dan dibakar oleh pasukan manusia yang jumlahnya terlalu mustahil untuk dilawan.

Tiga puluh menit kemudian, keheningan akhirnya kembali menguasai lorong gua, hanya disela oleh erangan prajurit manusia yang terluka dan suara api obor yang menjilat udara.

Hampir seratus prajurit manusia tewas atau terluka parah hanya untuk menembus lorong pertama.

Khaelar bersandar pada dinding gua, napasnya memburu, pedangnya meneteskan darah hijau pekat. Ia menatap tumpukan mayat goblin dan Hobgoblin yang berserakan di lantai. Perlawanan ini sangat mengerikan, seolah-olah monster-monster itu mempertahankan nyawa terakhir ras mereka.

"Kita berhasil menembus barisan pertahanan mereka," ucap Baron Cass, menyeka darah monster dari pelindung wajahnya. Matanya menatap ke arah lorong utama yang kini terbuka lebar.

"Maju," perintah Viscount Rejerson, menyingkirkan mayat Grush dengan kakinya. Suaranya bergetar menahan emosi. "Aula utama ada di depan. Kita cari putriku dan Cassvia."

Pasukan manusia yang tersisa kembali merapatkan formasi, melangkah melewati genangan darah dan sisa jebakan menuju jantung gua. Mereka siap untuk menyelamatkan keluarga mereka, sama sekali tidak siap untuk menghadapi panggung keputusasaan yang telah menanti mereka di dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!