NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH SANG CEO DINGIN

MENGANDUNG BENIH SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."

Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.

Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.

Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta yang Diuji di Balik Luka dan Harga Diri

Di tengah suasana yang semakin mencekam, di mana Nevan hampir saja meledak untuk menyerang ayahnya sendiri, bunyi pintu ruang operasi yang terbuka mengalihkan perhatian semua orang. Lampu merah di atas pintu padam.

Dokter Firdaus keluar dengan langkah gontai. Masker bedahnya sudah tergantung di leher, menampakkan raut wajah yang sangat sulit ditebak. Ia melihat keberadaan Adhitama dan Clarissa, lalu membungkuk sedikit sebelum menatap Nevan.

"Bagaimana, Dok? Bagaimana istri saya?" Nevan menerjang maju, mencengkeram lengan Dokter Firdaus.

Dokter Firdaus menarik napas panjang, ia melirik ke arah Adhitama seolah meminta izin untuk bicara jujur. Adhitama hanya mengangguk singkat.

"Kondisinya stabil, Pak Nevan. Nyawanya berhasil kami selamatkan," ucap Dokter Firdaus.

Nevan hampir saja jatuh berlutut karena lega, namun kalimat selanjutnya dari sang dokter menghentikan detak jantungnya.

"Tapi... kerusakan jaringan di sisi kanan wajahnya sangat dalam. Asam tersebut menghancurkan lapisan dermis hingga hampir menyentuh tulang pipi. Meskipun kami sudah melakukan prosedur rekonstruksi darurat, luka tersebut akan meninggalkan skar yang permanen. Dan saraf motorik di area bibir kanannya mengalami trauma hebat. Untuk sementara, Ibu Naira tidak akan bisa menggerakkan sebagian otot wajahnya."

Nevan mematung. Kata 'permanen' dan 'hancur' berdenging di telinganya seperti suara lebah yang menyakitkan.

"Apa maksudmu permanen?" Clarissa menyela, suaranya naik. "Anda dokter terbaik di rumah sakit ini, carikan solusi! Operasi plastik, skin graft, apa pun! Uang bukan masalah bagi kami!"

"Kami akan melakukan yang terbaik di tahap rehabilitasi, Nyonya," jawab Dokter Firdaus tenang. "Tapi kita harus realistis. Ibu Naira butuh waktu lama untuk pulih, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara psikis. Trauma ini sangat besar."

Nevan tidak lagi mendengarkan perdebatan ibunya dan dokter. Ia melangkah menuju jendela kaca, melihat brankar Naira yang mulai didorong keluar menuju ruang ICU. Tubuh kecil istrinya tertutup kain putih hingga ke leher, dan kepalanya terbungkus perban tebal yang menyisakan hanya sebagian kecil wajahnya yang masih utuh.

Di belakangnya, Adhitama berbisik kepada Dimas dengan suara yang cukup keras untuk didengar Nevan. "Siapkan jet pribadi. Jika rumah sakit ini tidak bisa mengembalikan wajahnya dalam tiga bulan, kita bawa dia ke klinik spesialis di Zurich. Aku tidak mau ada cacat di garis keturunan Wiratama."

Nevan mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia bersumpah, bukan hanya pada Nadia dan Tuan Tommy ia akan membalas dendam, tapi ia juga akan melindungi Naira dari ambisi dan tuntutan kesempurnaan keluarganya sendiri. Bagi Nevan, Naira adalah segalanya, dengan atau tanpa wajah yang sempurna.

"Nai..." bisik Nevan pelan, suaranya hancur saat ia menempelkan tangannya di kaca ruang ICU. "Maafin Mas, Sayang. Mas janji, dunia nggak akan pernah bisa menyakiti kamu lagi."

Sinar matahari siang menembus celah gorden tipis di ruang VVIP yang luas itu, namun kehangatannya tidak mampu mencairkan atmosfer yang membeku di dalam. Bau karbol yang tajam bercampur dengan aroma obat-obatan yang menyesakkan. Di tengah ruangan, Naira terbaring kaku. Separuh wajah, leher, hingga sebagian pundaknya terbungkus perban putih yang tebal, membuatnya tampak seperti raga yang rapuh di bawah selimut rumah sakit.

Monitor jantung berbunyi teratur, beep... beep... beep...—menjadi satu-satunya bukti bahwa kehidupan masih berdenyut di sana. Kelopak mata Naira bergerak sedikit. Ia sebenarnya sudah sadar sejak sepuluh menit yang lalu, namun rasa sakit yang luar biasa di wajahnya dan beban berat di hatinya membuatnya memilih untuk tetap memejamkan mata.

Kesadarannya disambut oleh suara yang sangat ia kenal—suara yang selalu membuatnya merasa kecil dan tidak berharga. Suara ibu mertuanya, Clarissa Devina.

"Lihat ini, Nevan. Mau sampai kapan kamu mempertahankan harga diri untuk wanita yang sudah hancur begini?" Clarissa berdiri di ujung tempat tidur, melipat tangannya di dada dengan pose angkuh. Matanya yang tajam memindai tubuh Naira seolah-olah sedang melihat barang retak yang sudah tidak layak pakai.

"Kamu itu wajah dari Wiratama Group, Nevan. Bayangkan bulan depan saat ulang tahun perusahaan, apa kamu mau membawa wanita bertopeng ke atas panggung? Kamu akan jadi bahan tertawaan relasi bisnis kita! Media akan menggoreng berita ini habis-habisan!"

Nevan, yang duduk setia di samping ranjang Naira sambil menggenggam jemari istrinya yang dingin, mendongak. Matanya yang merah menunjukkan bahwa ia tidak tidur selama berhari-hari.

"Cukup, Mah! Naira seperti ini karena dia mencintaiku! Dia menjadi sasaran karena kegilaan masa laluku dengan Nadia. Wajahnya bisa diperbaiki dengan operasi plastik berulang kali, aku punya uang untuk itu! Aku akan memberikan dia dokter terbaik di dunia!" suara Nevan tertahan, mencoba menahan amarah agar tidak meledak di depan istrinya yang ia kira masih pingsan.

Clarissa tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Naira yang tersembunyi di balik perban.

"Uang bisa membeli kulit baru, tapi tidak bisa membeli kelas, Nevan! Mama sudah bilang sejak awal, bibit, bobot, dan bebet itu nyata. Kamu tidak bisa mencampur minyak dengan air. Dia itu cuma anak petani miskin! Mantan cleaning service yang kebetulan beruntung kamu lirik. Sekarang dia cacat. Alam seolah menunjukkan kalau dia memang tidak pantas berada di level kita. Dia itu kutukan bagi citra keluarga Wiratama!"

Setiap kata yang keluar dari mulut Clarissa seperti silet yang mengiris sisa-sisa keberanian di hati Naira. Di balik kelopak matanya yang terpejam, air mata mulai merembes, membasahi kain kasa yang membungkus luka bakarnya. Rasa perih dari zat kimia itu tidak sebanding dengan rasa perih yang ditimbulkan oleh penghinaan ibu mertuanya.

"Naira bukan sampah yang bisa Mama buang saat dia rusak!" Nevan berdiri, suaranya meninggi dan bergetar hebat. "Dia istriku! Aku mencintainya bukan karena dia cantik atau kaya, tapi karena dia satu-satunya orang yang tulus sama aku saat semua orang mendekatiku hanya karena nama Wiratama!"

Clarissa melangkah mendekat, memperpendek jarak dengan putranya. Wajahnya mengeras, suaranya menekan dengan otoritas seorang sosialita kelas atas.

"Cinta tidak akan menaikkan saham perusahaan, Nevan. Cinta tidak akan mengamankan kontrak dengan investor global. Begitu dia sembuh, Mama mau kamu ceraikan dia secara baik-baik. Berikan dia uang, beli satu desa di Jogja kalau perlu agar dia pergi. Mama sudah bicara dengan Jeng Sari. Anaknya, Tiffany, baru pulang dari London. Cantik, pintar, dan yang paling penting, dia sederajat dengan kita. Dia yang akan menemanimu di pesta perusahaan, bukan... ini." Clarissa menunjuk tubuh Naira dengan dagunya, seolah Naira adalah benda mati yang menjijikkan.

Nevan terdiam sejenak, dadanya naik turun karena amarah yang memuncak. Ia menoleh ke arah ayahnya, Adhitama Wiratama, yang sejak tadi hanya berdiri mematung di dekat jendela besar, menatap jalanan Jakarta tanpa ekspresi.

"Pah? Papa cuma diam? Papa setuju dengan pikiran gila Mama?" tanya Nevan dengan suara yang parau.

Adhitama membalikkan badannya perlahan. Matanya sedingin es, setajam elang. Ia menatap putranya tanpa sedikit pun rasa iba.

"Nevan, dalam bisnis, kita harus tahu kapan harus memotong kerugian. Cut your losses. Mamamu ada benarnya. Fokuslah pada masa depan perusahaan. Jangan biarkan perasaan sentimental menghancurkan apa yang sudah kubangun puluhan tahun. Seorang pemimpin tidak boleh disetir oleh emosi sesaat."

Mendengar dukungan sang ayah terhadap rencana perceraian itu, hati Naira hancur berkeping-keping. Ia merasa seperti sampah yang sedang ditawar-tawar di pasar loak. Ia mendengar suaminya, pria yang paling ia cintai, ditekan dari segala arah.

Nevan tertawa getir. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian dengan pandangan muak.

"Kalau begitu, dengerin Nevan baik-baik," Nevan berbicara dengan nada rendah yang justru lebih menakutkan daripada teriakan. "Kalau Papa dan Mama mau membuang Naira, berarti kalian juga harus membuangku. Aku tidak akan pernah menceraikan dia. Sampai mati pun, istriku cuma Naira Ayu Lestari."

"Nevan! Jangan kurang ajar!" Adhitama membentak.

"Aku serius, Pah! Ambil semua sahamku, ambil jabatan CEO-ku, ambil nama Wiratama dariku jika itu harganya untuk tetap bersama Naira! Aku lebih baik menjadi rakyat jelata bersama dia daripada menjadi Kaisar di keluarga yang tidak punya hati seperti ini!" Nevan menunjuk pintu keluar dengan tangan gemetar. "Sekarang, tolong keluar. Istriku butuh ketenangan, bukan racun dari kalian!"

Clarissa membelalakkan matanya, wajahnya merah padam karena terhina. "Nevan! Kamu berani mengusir orang tuamu sendiri demi pemulung ini?! Demi wanita cacat ini?!"

"KELUAR!" raung Nevan hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Adhitama menarik lengan Clarissa. "Ayo, Clarissa. Biarkan dia dengan kegilaannya. Kita lihat berapa lama dia bisa bertahan tanpa dukungan Wiratama Group."

Dengan hentakan kaki yang keras, Clarissa keluar dari ruangan, diikuti oleh Adhitama yang menatap putranya dengan kekecewaan mendalam. Pintu VVIP itu tertutup dengan bantingan keras, meninggalkan kesunyian yang mencekam.

Begitu orang tuanya pergi, pertahanan Nevan runtuh. Ia luruh di samping ranjang, berlutut dan menyembunyikan wajahnya di tangan Naira yang terpasang selang infus. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat.

"Maafin aku, Sayang... maafin aku," bisik Nevan lirih di antara isakannya. "Aku nggak akan biarkan mereka menyentuhmu. Aku nggak akan biarkan mereka memisahkan kita. Bangunlah, Nai... aku mohon. Jangan tinggalkan aku sendiri menghadapi mereka."

Nevan menciumi jemari Naira dengan penuh kasih, tidak menyadari bahwa di balik perban yang menutupi wajahnya, air mata Naira terus mengalir deras.

Naira mendengar semuanya. Ia mendengar betapa rendahnya ia di mata keluarga Wiratama. Ia merasa menjadi beban bagi masa depan Nevan. Pikirannya melayang pada Arkana, putra mereka. Apakah Arkana juga akan malu memiliki ibu dengan wajah hancur seperti ini? Apakah Nevan benar-benar bisa bertahan tanpa hartanya demi wanita seperti diriku?

Naira tetap bergeming, pura-pura belum sadar. Ia belum siap membuka mata dan melihat pantulan dirinya di mata Nevan. Ia takut melihat rasa iba, meskipun Nevan menjanjikan cinta. Ia menelan jeritan hatinya dalam-dalam, membiarkan kegelapan di dalam dirinya menjadi semakin pekat seiring dengan hilangnya rasa percaya diri yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

1
Ani Basiati
lanjut thor
yuningsih titin: makasih sudah mau mampir kak
total 1 replies
Ani Basiati
lanjut thor semangat
yuningsih titin: makasih kak sudah mampir🙏🙏
total 1 replies
Ani Basiati
bikin mewek thor😍😍
yuningsih titin: jangan mewek kak, happy dong🤭🤭🤭
total 1 replies
yuningsih titin
makasih kak
Quinncy Lin
jangan lupa mampir juga ya thorrrr
yuningsih titin: siap kak👍
total 1 replies
Quinncy Lin
hadir thorrrr
샤롷툴 밯디얗
perasaan dulu pas pertama ketemu arkan 4thn terus dia pa's waktu ketemu kakeknya juga sudah bisa baca hitung, dan lalu menikah kenapa jadi 2thn dan kecelakaan terjadi dan d sabotase keluarga nevan dan nevan lumpuh dan telah berlalu 3thn harusnya nevan kurang lebih umur 7thnn menjelang 8thn paling tidak arkan dah sd y thor.... maaf mungkin q yg salah
yuningsih titin: makasih semangat nya kak... makasih juga sudah mau mampir... sukses selalu buat kita semua.... 👍💪💪
total 3 replies
Ani Basiati
lanjut thor
yuningsih titin: makasih sudah mampir
total 1 replies
yuningsih titin
naira mau dipaksa kawin jadi istri ke empat tuan Tommy...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!