Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan kedua
“Ini buat lo.”
Xavero menatap makanan yang diberikan Radit. Semalam, ia menginap di apartemen rekan kerjanya itu—satu-satunya tempat yang bisa ia tuju saat ini.
“Makasih ya, Dit. Maaf gue ngerepotin lo,” ucap Xavero.
“Apaan sih, lo. Lo juga selalu ada buat gue. Makan gih, setelah itu kita ngobrol,” balas Radit santai, lalu meninggalkan Xavero di meja makan itu.
Xavero menatap punggung Radit yang masuk ke dalam kamar. Senyum tipis terukir di wajahnya, lalu ia mulai menyantap sarapan yang diberikan.
Beberapa saat kemudian, ia telah menghabiskan makanannya. Ia pun menghampiri Radit yang sedang berdiri di balkon.
“Duduk sini,” ucap Radit sambil menunjuk kursi di sampingnya.
Xavero mengangguk, lalu duduk di sampingnya.
Hening sejenak. Angin sejuk menyapu wajah mereka berdua, membawa suasana yang sedikit menenangkan.
“Masalah apa lagi yang mereka buat sampai lo bisa lari dari rumah itu?” ucap Radit, memulai percakapan.
Xavero tidak langsung menjawab.
“Gue udah cerai, Dit.”
Radit menoleh cepat. “Serius?”
Xavero mengangguk. “Gue udah nggak bisa berdiri di tempat yang nggak nerima keadaan gue lagi.”
Radit mengangguk pelan, seakan membenarkan keputusan itu. “Itu sudah seharusnya.”
“Direndahkan, dihina, dikucilkan… itu sudah gue anggap makanan sehari-hari,” lirih Xavero. “Tapi soal perselingkuhan, gue nggak bisa toleransi.”
“Liora selingkuh?”
Xavero mengangguk. “Apa yang seharusnya untuk suaminya, dia berikan ke orang lain.”
Radit menggelengkan kepala, tak habis pikir. “Benar-benar nggak bisa ditoleransi.” Ia menepuk bahu Xavero. “Keputusan lo sudah benar, Bro.”
Xavero mengangguk pelan. Ingatannya kembali pada semua perlakuan mereka—terutama mertuanya yang sama sekali tidak menghargai pemberian yang ia beli dengan susah payah.
“Terus, emas yang lo beli waktu itu buat mertua lo gimana?” tanya Radit hati-hati.
Xavero tersenyum miring. “Dia melemparkannya tepat di depan gue.”
“Apa?! Sampai segitunya?”
Xavero mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia memperlihatkan rekaman CCTV dari kediaman Mahendra yang diam-diam ia ambil. Dalam rekaman itu, bukan hanya terlihat Yuliana melempar emas pemberiannya, serta berbagai adegan penghinaan dari Liora, Layla, Ardian, hingga Bima. Semua terekam jelas di layar ponselnya.
“Mereka benar-benar kejam,” geram Radit, masih tak percaya. Ia kemudian mengembalikan ponsel itu kepada Xavero.
“Tunggu… lo tahu Liora selingkuh dari mana?”
Xavero tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, matanya sedikit menyempit.
“Gue lihat sendiri… di hotel waktu gue ambil berkas Pak Adrian.”
Angin kembali berembus pelan, membawa keheningan sesaat.
Xavero mulai menceritakan semuanya, kejadian di hotel, hingga apa yang terjadi di acara ulang tahun Yuliana.
Radit terdiam lama setelah mendengar semua cerita itu.
Angin balkon berhembus pelan, tapi suasana di antara mereka justru terasa semakin berat.
“Gila…” gumam Radit akhirnya. “Lo ngalamin semua itu sendirian?”
Xavero tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana.
“Udah biasa, Dit.”
Radit langsung menoleh tajam.
“Jangan biasain hal kayak gitu.”
Hening.
Xavero tidak membalas.
Radit menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Sekarang lo mau gimana?” tanyanya serius. “Lo udah keluar dari sana. Hidup lo mau lo bawa ke mana?”
Pertanyaan itu menggantung.
Xavero menatap jauh ke depan, ke gedung-gedung yang berdiri megah di kejauhan.
“Gue capek jadi orang yang selalu diremehkan,” ucapnya pelan. “Capek dianggap gak punya nilai.”
Radit mengangguk pelan, mendengarkan.
“Selama ini gue tahan, gue diam… karena gue pikir, selama gue usaha, mereka bakal lihat.” Xavero tersenyum pahit. “Ternyata enggak.”
Ia mengepalkan tangannya.
“Mereka cuma lihat hasil. Bukan proses.”
Radit menyipitkan mata sedikit, seperti mulai menangkap arah pikiran sahabatnya.
“Lo mau buktiin sesuatu ke mereka?” tanyanya.
Xavero menggeleng pelan.
“Bukan untuk mereka.”
Ia menoleh ke Radit.
“Tapi buat gue sendiri.”
Hening sejenak.
Lalu—
“Tapi, gue perlu waktu,” lanjut Xavero pelan.
“Itu sudah pasti. Nggak semua hal harus instan,” jawab Radit santai.
Xavero mengangguk setuju.
Hening kembali menyelimuti mereka. Hanya suara angin yang berembus pelan di balkon.
“Lo tahu Arga Wijaya?” ucap Xavero akhirnya, suaranya rendah.
Radit mengangguk. “Iya, pewaris Wijaya Group, kan?”
Xavero mengangguk.
“Jangan bilang dia yang sama Liora,” tebak Radit.
Xavero kembali mengangguk. “Dia sepadan dengan mereka. Wajar kalau Liora berani memberikan dirinya begitu saja,” ucapnya sambil tersenyum pahit.
Radit menggelengkan kepala, masih tak habis pikir. Ternyata keluarga Mahendra tidak seperti citra yang mereka bangun di depan publik.
“Benar-benar murahan istri lo.”
Xavero tidak menanggapi, tapi juga tidak membantah.
“Radit?”
“Hm?”
“Gue boleh tinggal di sini semalam lagi, sebelum gue dapat kontrakan?”
“Tentu saja boleh, Bro. Gue sendiri di sini. Lo mau tinggal selamanya juga nggak masalah,” ucap Radit santai.
“Makasih, Radit. Maaf, gue repotin lo lagi,” ucap Xavero, sedikit merasa sungkan.
“Santai aja, Bro,” balas Radit. “Gue mau tanya satu hal lagi ke lo?”
“Apa emang?”
“Rumah lo gimana? Bukannya sebelumnya lo punya rumah peninggalan orang tua lo?” tanya Radit pelan.
Xavero terdiam sejenak.
“Gue sudah jual… buat biaya pernikahan gue waktu itu, Dit." jawabnya lirih.
Ingatannya kembali pada malam itu—malam ketika ia tidak punya apa-apa untuk menikahi Liora secara mendadak. Ia sempat meminta waktu pada warga, namun tak ada yang mau mendengar. Malam itu juga, mereka harus menikah.
Xavero tidak punya pilihan.
Satu-satunya jalan yang ia ambil… adalah menjual rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Radit terdiam.
Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Matanya menatap Xavero, tapi tidak ada lagi ekspresi santai seperti tadi. Rahangnya mengeras.
“Demi pernikahan itu?” suaranya mulai naik, tertahan emosi.
Xavero tersenyum tipis.
“Demi ‘paksaan’ itu.”
Hening.
Angin yang tadi terasa sejuk, sekarang seperti tidak ada artinya.
Radit menggeleng pelan, tidak habis pikir.
“Gue kira lo cuma berkorban perasaan…” gumamnya. “Ternyata sampai sejauh itu.”
Xavero tidak menjawab.
Tatapannya kosong, tapi justru di situlah terlihat—betapa banyak yang sudah ia lepaskan.
“Itu satu-satunya yang gue punya dari mereka, Dit,” ucapnya pelan. “Rumah itu… tempat gue besar.”
Radit menatapnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar melihat—
bukan cuma Xavero yang disakiti,
tapi Xavero yang kehilangan segalanya.
“Dan semua itu… berakhir kayak gini?” suara Radit terdengar berat.
Xavero tersenyum pahit.
“Iya.”
Radit mengepalkan tangannya.
“Anjir… ini bukan cuma gak adil, Ver. Ini keterlaluan.”
Xavero hanya menghela napas panjang.
“Udah lewat.”
“Belum,” potong Radit cepat.
Xavero menoleh.
Radit menatapnya tajam.
“Selama lo masih hidup, itu belum lewat.”
Kalimat itu membuat Xavero terdiam.
Radit berdiri dari kursinya, berjalan beberapa langkah, lalu kembali lagi dengan ekspresi berbeda.
Lebih serius.
Lebih fokus.
“Denger gue baik-baik,” ucapnya. “Lo kehilangan rumah, kehilangan harga diri di mata mereka… bahkan hampir kehilangan diri lo sendiri.”
Ia berhenti tepat di depan Xavero.
“Tapi lo masih punya satu hal.”
Xavero mengernyit sedikit.
“Apa?”
Radit menyeringai tipis.
“Kesempatan buat balik.”