kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 anak yang tidak di inginkan
Sore harinya, Marsha akhirnya dibawa ke rumah sakit, tubuh kecil itu terbaring di atas ranjang putih, dengan selang infus yang terasa terlalu besar untuk tangannya yang mungil, Pipi yang biasanya pucat kini memerah karena demam, bibirnya kering dan matanya terbuka sesekali namun tidak benar-benar fokus. “Bibi…” Suaranya hampir tak terdengar.
Pengasuh itu segera mendekat, menggenggam tangannya.
“Iya, Non… Bibi di sini.”
Marsha terdiam beberapa detik seolah mengumpulkan sisa tenaga yang ia miliki.
“…Mama… tahu?” Pertanyaan itu begitu pelan, begitu sederhana.
Namun cukup untuk membuat dada pengasuh itu terasa sesak Ia tidak langsung menjawab.
Jemarinya mengusap lembut punggung tangan kecil itu. “Tahu, Sayang… Mama tahu.” sebuah kebohongan kecil yang terpaksa diucapkan, demi menjaga hati seorang anak.
Marsha tidak bertanya lagi Ia hanya mengangguk lemah. “…oh…” satu respon singkat, tanpa tuntutan dan tanpa kekecewaan yang ditunjukkan, Seolah ia sudah tahu bahkan sebelum bertanya.
—
Malam mulai turun lampu kamar rawat redup, suara mesin monitor berdetak pelan, menjadi satu-satunya suara yang menemani keheningan, Marsha terbangun sesaat matanya bergerak pelan, mencari sesuatu. “Mama…?” hanya satu kata.
Namun kali ini tidak ada yang menjawab, pengasuhnya menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. “Iya, Non… Bibi di sini.”
Marsha menatapnya sebentar lalu perlahan mengangguk. “…iya.” seolah ia menerima kenyataan itu begitu saja, tanpa protes ataupun menangis dan justru itulah yang terasa paling menyakitkan. Anak seusianya seharusnya menangis dan merengek, seharusnya mencari ibunya tanpa henti, namun Marsha tidak, seolah ia sudah belajar, bahwa memanggil pun tidak akan mengubah apa-apa.
—
Pintu kamar terbuka pelan menjelang larut malam, langkah kaki terdengar terburu namun tertahan. Andreas Halvard. ia berdiri di ambang pintu, nafasnya sedikit tidak teratur, matanya langsung tertuju pada ranjang kecil itu, Dan untuk sesaat raut wajahnya berubah.
Ada sesuatu di sana penyesalan, karena memang dirinya sedang ada proyek yang membuatnya sering pergi keluar kota, ada kemarahan pada keadaan dan rasa bersalah yang terlambat.
Ia mendekat perlahan.
Duduk di samping ranjang, tangannya yang besar menggenggam tangan kecil itu dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya. “Marsha…” suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.
Marsha membuka matanya perlahan, butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar fokus.
“…Papa?” mata Marsha berkaca-kaca melihat kehadiran ayahnya.
Andreas tersenyum tipis.
“Iya… Papa di sini.”
Untuk pertama kalinya malam itu ada sesuatu yang berubah di wajah kecil itu, bukan senyum penuh, Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia merasa sedikit tidak sendiri, Andreas mengangkat tubuh kecilnya dan memeluknya. “Papah telat ya… papah minta maaf ya sayang” bisik Andreas pelan.
Marsha menggeleng lemah. “…nggak apa-apa, papah harus bekerja.” jawaban yang terlalu dewasa untuk anak berusia lima tahun, itu membuat hati Andreas terluka.
Andreas menunduk tangannya mengusap lembut rambut anak itu. “Ayah di sini temani kamu, pekerjaan papah sudah selesai dengan sangat cepat”
Marsha tidak menjawab namun jemarinya sedikit menggenggam balik tangan Andreas kecil dan lemah, namun nyata. Dan di balik itu ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan, bahwa di usia sekecil itu, Marsha sudah belajar untuk tidak berharap terlalu banyak.
—
Di luar ruangan, pengasuh itu berdiri diam.
Matanya memerah hatinya terasa sesak, bukan karena ia lelah, melainkan karena ia tahu anak sekecil itu, seharusnya tidak berjuang sendirian seperti ini.
Pagi datang perlahan, membawa cahaya yang menyusup lembut melalui celah tirai. Di atas ranjang kecil itu, Marsha masih terbaring dengan wajah pucat, nafasnya mulai teratur meski tubuhnya masih lemah, tangannya tetap berada dalam genggaman Andreas, seolah sepanjang malam pria itu tidak pernah benar-benar melepaskannya.
Andreas tertidur dalam posisi duduk di kursi samping ranjang, kepalanya sedikit tertunduk, namun jemarinya masih menggenggam tangan kecil itu dengan erat seakan takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia sadari begitu berharga.
Pintu kamar terbuka pelan, Selena masuk dengan langkah tenang, rapi seperti biasanya, tidak ada jejak kepanikan di wajahnya, tidak pula terlihat kelelahan karena malam yang panjang, tatapannya jatuh pada sosok kecil di atas ranjang, berhenti sejenak, cukup untuk melihat namun tidak cukup untuk merasakan.
Pergerakan kecil itu membuat Andreas terbangun. Ia mengangkat kepalanya, pandangannya langsung menemukan Selena. “Kamu datang,” ucapnya pelan.
Selena hanya mengangguk singkat. “Bagaimana keadaannya?”
“Semalam tinggi. Sekarang mulai turun,” jawab Andreas, matanya masih menatap wanita itu, seolah menunggu sesuatu yang tidak kunjung muncul.
Selena mengangguk. “Bagus.” satu kata sederhana, namun terasa begitu ringan terlalu ringan untuk situasi seperti ini.
Marsha bergerak pelan, matanya terbuka perlahan, masih dipenuhi sisa lelah, pandangannya berkeliling sebelum akhirnya berhenti pada satu sosok yang jarang ia lihat berada sedekat ini.
“…Mama?” suara itu lirih, hampir seperti hembusan nafas.
Selena menoleh tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat ada sesuatu yang samar di mata Marsha sebuah harapan kecil yang rapuh. Selena melangkah mendekat, namun berhenti sebelum benar-benar sampai di sisi ranjang. “Kamu sakit?” tanyanya datar.
Marsha mengangguk pelan. “…iya.”
Tidak ada tangan yang menyentuh keningnya. Tidak ada pelukan. Tidak ada nada lembut yang menenangkan. “Istirahat saja. Jangan banyak bergerak,” lanjut Selena singkat, kalimat yang benar, namun terasa begitu jauh.
Marsha tidak menjawab lagi pandangannya perlahan turun, dan harapan kecil itu pun menghilang tanpa sempat bertahan lebih lama. Andreas yang sejak tadi memperhatikan akhirnya berdiri. Gerakannya tenang, tapi rahangnya mengeras.
“Apa hanya itu?” suaranya rendah.
Selena menoleh. “Maksudmu?”
“Anakmu sakit,” lanjut Andreas, menatapnya lekat.
“Aku tahu.
”
“Dia semalaman di sini.” Selena tidak menjawab. “Aku yang menemaninya,” tambah Andreas.
“Lalu? Kamu pikir aku peduli.” balas Selena singkat, satu kata itu cukup membuat udara di ruangan terasa berubah.
Andreas menarik nafas panjang, berusaha tetap tenang. “Dia memanggilmu semalam.”
Selena diam. “Dia bertanya apakah kamu tahu,” lanjutnya, suaranya lebih pelan, namun jelas.
Selena mengalihkan pandangannya sejenak. “Aku datang sekarang.”
Andreas tersenyum tipis, tanpa kehangatan. “Sekarang… setelah semuanya terlewat?”
“Aku punya pekerjaan,” jawab Selena datar dan kalimat itu akhirnya meruntuhkan sisa kesabaran yang ada.
“Dia anakmu, Selena,” suara Andreas sedikit naik, meski masih tertahan.
“Aku tidak mengabaikannya.”
“Tidak?” Andreas menatapnya tajam. “Lalu apa yang kamu lakukan selama ini?”
Hening sejenak.
Selena tetap berdiri tegak. “Aku memastikan semuanya tetap berjalan.”
“Termasuk hidupnya?” tanya Andreas pelan.
Selena menatap lurus. “Dia baik-baik saja.”
Andreas menggeleng, suaranya kini lebih dalam, lebih berat. “Tidak. Dia tidak baik-baik saja.”
Tidak ada jawaban. “Andaikan kamu melihatnya semalam… kamu tidak akan berkata seperti itu.”
Kali ini Selena terdiam lebih lama, namun bukan karena tersentuh melainkan karena ia tidak merasa perlu membantah. Di atas ranjang, Marsha terbaring diam. Matanya terpejam, namun ia belum benar-benar tertidur. Suara-suara itu masih sampai ke telinganya, samar namun cukup untuk ia mengerti.
Seperti biasa, ia tidak bergerak, tidak memanggil, tidak mencoba menghentikan, ia hanya diam, seolah keberadaannya memang tidak seharusnya menjadi pusat dari apapun. Di ruangan itu, bukan hanya udara yang terasa dingin. Namun sesuatu yang lebih dalam perlahan retak, tanpa suara dan tanpa peringatan. Dan mungkin tanpa kesempatan untuk kembali utuh.
Hari-hari setelah itu berlalu tanpa perubahan yang berarti, tidak ada kehangatan yang tumbuh, tidak ada penyesalan yang datang terlambat yang ada justru sebaliknya sesuatu di dalam diri Selena perlahan mengeras ia kembali pada dunianya.
Runway, pertemuan, kontrak, perjalanan semuanya kembali berjalan seperti semula, seolah tidak pernah ada celah yang sempat mengganggu, namun dibalik keteraturan itu, ada satu hal yang berubah. Andreas pria itu tidak lagi sama.
Jika dulu ia masih menyempatkan diri duduk bersamanya, berbagi percakapan meski singkat kini semuanya terasa lebih jauh, lebih singkat dan lebih dingin. “Besok aku pulang malam,” ucap Andreas suatu sore, tanpa benar-benar menatap.
Selena hanya mengangguk ringan. “Seperti biasa.” tidak ada yang menahan dan tidak ada yang bertanya. Percakapan itu berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai.