Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Benih yang Terpilih
Empat hari telah berlalu sejak Rapat Sepuluh Kaisar berakhir.
Di dalam ruang kerja pribadi yang luas dan megah di Markas Besar Dinasti Tianjian, Kaisar Guan Yan berdiri di depan jendela besar sambil memandangi kesibukan ibu kota dari kejauhan. Dari tempat itu, ia bisa melihat jalan-jalan utama yang dipenuhi kereta bangsawan, para prajurit yang berpatroli, serta rakyat yang berlalu-lalang seperti biasa.
Sekilas, semuanya tampak damai.
Namun Guan Yan tahu, ketenangan seperti ini sering kali hanya menjadi lapisan tipis sebelum badai yang lebih besar datang.
Di belakangnya, berdiri seorang pria berjubah putih keabu-abuan dengan sikap tenang dan wajah yang hampir tak pernah menunjukkan emosi. Tatapan matanya tajam, tetapi gerak-geriknya selalu tertata rapi.
Dialah Bai Ze, wakil kaisar Dinasti Tianjian sekaligus orang kepercayaan paling setia yang selama ini selalu berdiri di sisi Guan Yan.
“Bai Ze,” panggil Guan Yan tanpa menoleh.
“Ya, Baginda,” jawab Bai Ze sambil membungkuk hormat.
Guan Yan menatap jauh ke luar jendela sebelum akhirnya berbicara lagi, suaranya terdengar rendah namun berat.
“Bagaimana perkembangan penyelidikan kasus pembakaran Sword Academy?”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Nama itu selalu membawa hawa dingin yang sulit dijelaskan.
Sudah tiga tahun berlalu, tetapi luka yang ditinggalkan tragedi itu belum benar-benar sembuh.
“Aku masih bisa membayangkan api yang melahap tempat itu,” lanjut Guan Yan pelan. “Dan setiap kali aku mengingatnya, seolah aku masih bisa mencium bau asapnya.”
Bai Ze mengangkat kepala sedikit. Wajahnya tetap tenang, tetapi nada suaranya terdengar jauh lebih serius dari biasanya.
“Mohon ampun, Baginda. Sampai saat ini, jejak kelompok berjubah merah itu masih belum berhasil kami temukan.”
Guan Yan perlahan menyipitkan matanya.
“Mereka seperti menghilang begitu saja setelah kejadian itu,” lanjut Bai Ze. “Namun menurut pengamatanku, mereka bukan sekadar kelompok kriminal biasa.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Mereka bergerak terlalu rapi. Jalur pelarian mereka bersih. Saksi-saksi menghilang. Informasi yang hampir kami dapatkan selalu terputus tepat sebelum mencapai inti.”
Tatapan Guan Yan berubah tajam.
“Artinya?”
Bai Ze menarik napas pelan.
“Artinya... sangat mungkin ada seseorang dengan kekuasaan besar di balik mereka. Seseorang yang cukup kuat untuk menghapus jejak mereka di benua ini.”
Ucapan itu membuat tangan Guan Yan mengepal perlahan di balik punggungnya.
“Aku tidak akan membiarkan kekejaman itu berlalu begitu saja,” ucapnya dengan suara yang mulai mengeras. “Murid-murid muda dibakar hidup-hidup di dalam tempat mereka belajar. Itu bukan sekadar kejahatan. Itu penghinaan terhadap seluruh Dinasti Tianjian.”
Bai Ze menunduk hormat.
“Kami akan terus menyelidikinya, Baginda.”
Setelah beberapa saat terdiam, Guan Yan akhirnya memalingkan wajahnya sedikit.
“Lalu bagaimana dengan persiapan Turnamen Kultivator Muda Antar Sepuluh Dinasti?”
Bai Ze segera menjawab.
“Kami telah menyelesaikan tahap awal seleksi. Sepuluh kultivator muda terbaik untuk mewakili Dinasti Tianjian sudah ditentukan.”
Guan Yan menoleh kali ini, menatapnya dengan penuh perhatian.
“Siapa saja?”
“Tujuh berasal dari wilayah inti, keluarga bangsawan, dan akademi elit,” jawab Bai Ze. “Namun tiga nama terakhir berasal dari tempat yang cukup tidak terduga.”
“Dari mana?”
“Desa Jianxin.”
Guan Yan sedikit mengangkat alis.
Bai Ze melanjutkan,
“Mereka adalah para penyintas dari tragedi Sword Academy. Tiga anak muda yang berhasil selamat dari kebakaran itu.”
Tatapan Guan Yan berubah lebih dalam.
“Siapa nama mereka?”
Bai Ze menjawab dengan jelas.
“Cang Li. Dao Yan. Dan Zuo Cangtian.”
Untuk sesaat, Guan Yan tidak langsung menjawab.
Ia tahu nama-nama itu.
Bukan karena mereka terkenal.
Melainkan karena mereka adalah sedikit dari anak-anak yang berhasil hidup setelah tragedi yang seharusnya merenggut semua nyawa di sana.
“Aku ingin mereka diberi surat penugasan resmi secepat mungkin,” ucap Guan Yan akhirnya. “Anak-anak yang mampu bertahan dari neraka biasanya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.”
Bai Ze sedikit menunduk.
“Perintah akan segera dilaksanakan, Baginda.”
Pagi itu, udara di Desa Jianxin terasa sejuk.
Matahari baru saja naik, dan embun masih menempel di ujung dedaunan serta pagar-pagar kayu rumah warga. Suasana desa tampak damai seperti biasa, seolah dunia luar yang penuh intrik dan bahaya tidak pernah benar-benar menyentuh tempat ini.
Di depan rumahnya, Cang Li duduk diam di anak tangga kayu sambil menatap telapak tangannya sendiri.
Jari-jarinya perlahan mengepal, lalu terbuka lagi.
Meski tubuhnya telah pulih dari pertarungan beberapa hari lalu, ada sesuatu yang masih tertinggal di dalam dirinya.
Rasa kebas.
Bukan hanya di tangan.
Tetapi juga di hati.
Sejak pria berjubah hitam itu merebut kalungnya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Ia terus memikirkan satu hal yang sama berulang kali.
Kenapa aku masih terlalu lemah?
Ia sudah berlatih selama bertahun-tahun.
Sudah berkali-kali jatuh dan bangkit.
Sudah kehilangan banyak hal.
Namun setiap kali merasa sedikit lebih kuat, dunia selalu menunjukkan bahwa dirinya masih belum cukup.
Belum cukup untuk melindungi.
Belum cukup untuk menang.
Belum cukup untuk menjaga sesuatu yang penting.
“CANG LIIIII!”
Sebuah suara teriakan nyaring tiba-tiba memecah kesunyian pagi itu.
Cang Li langsung menoleh.
Dari arah gerbang desa, Dao Yan berlari secepat kilat sambil melambaikan selembar kertas besar di tangannya. Napasnya terengah-engah, rambutnya berantakan, dan wajahnya merah seperti baru saja dikejar sekawanan serigala.
“Apa yang terjadi?” tanya Cang Li heran. “Kau terlihat seperti habis dikejar monster.”
Dao Yan berhenti tepat di depannya sambil membungkuk dan menopang lututnya sendiri.
“Aku... bukan... dikejar monster...” katanya dengan napas putus-putus.
Lalu ia langsung berdiri tegak dan mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.
“Kita dipilih, Cang Li!”
Cang Li mengernyit.
“Dipilih?”
Dao Yan mengangguk sangat keras sampai hampir membuat lehernya patah sendiri.
“Kita dipilih mewakili Dinasti Tianjian untuk ikut Turnamen Antar Sepuluh Dinasti!”
Mata Cang Li sedikit membesar.
Dao Yan langsung menyodorkan kertas itu ke depan wajahnya.
“Baca sendiri kalau tidak percaya!”
Cang Li menerima lembar pengumuman itu dan membacanya perlahan.
Di bagian atasnya tertera stempel resmi kekaisaran.
Lalu di bawahnya, tertulis daftar peserta terpilih.
Ketika matanya sampai pada tiga nama terakhir, jantungnya berdegup lebih cepat.
Cang Li
Dao Yan
Zuo Cangtian
Untuk beberapa saat, ia hanya diam menatap nama-nama itu.
Dua bulan lagi.
Dua bulan.
Waktu yang sangat singkat.
Tetapi juga cukup untuk mengubah segalanya.
Dao Yan menatapnya dengan penuh semangat.
“Bagaimana? Bukankah ini luar biasa?!”
Namun Cang Li tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada namanya sendiri.
Lalu perlahan, jemarinya menggenggam surat itu sedikit lebih erat.
“Dua bulan lagi...” gumamnya pelan.
Tatapannya berubah.
Tidak lagi kosong seperti tadi.
Tidak lagi ragu.
“Ini adalah kesempatanku,” lanjutnya dengan suara yang lebih tegas, “untuk membuktikan bahwa aku bukan beban.”
Dao Yan terdiam sejenak.
Lalu senyum di wajahnya berubah menjadi lebih tulus.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia bisa melihat cahaya tekad itu kembali di mata Cang Li.
End Chapter 17