NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Kamalia

“Apa sih, gunanya kamu nyari wanita kayak gitu?”

Hustan membentak kasar. Suaranya menggema di ruang tamu yang luas. Tangannya bergerak kaku saat menuangkan teh ke dalam cangkir, meski wajahnya tetap berusaha terlihat tenang.

Di seberangnya, Arlan duduk santai. Tubuhnya bersandar, satu tangan terbentang di sandaran sofa, kaki disilangkan seolah tak peduli.

“Cewek kayak gitu cuma jadi benalu!”

Ucapan itu membuat Arlan perlahan menurunkan kakinya. Ia meraih botol di meja, lalu menuangkan minuman ke gelas kecil.

Glek!

Sekali tegukkan pun habis. Ia lalu menatap kakeknya lurus—tajam, dingin, dan penuh sindiran.

“Bedanya apa sama cewek-cewek yang kakek kenalin ke aku?” Suaranya rendah, tapi menusuk. “Sama aja, ‘kan? Parasit.”

“Hah?!” Hustan tersentak, wajahnya memerah. “Ngaco kamu!”

Ia menghentakkan cangkir ke meja. “Ingat! Kamu itu udah tunangan sama Kamalia! Dan kakek bakal percepat pernikahan kalian!”

Suasana langsung menegang. Udara terasa berat, seakan setiap kata bisa memicu ledakan. Belum sempat Arlan membalas, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.

“Ya, memang harus dipercepat!”

Semua menoleh. Keluarga Kamalia sudah berdiri di ambang pintu.

“Wah, calon besan datang!” Hustan langsung berubah ramah, berdiri menyambut.

Namun, Jake—ayah Kamalia, tidak menunjukkan keramahan sedikit pun. Rahangnya mengeras, matanya penuh amarah. “Nggak usah basa-basi,” katanya dingin. “Arlan harus nikahin anak saya secepatnya!”

Kalimat itu jatuh seperti palu. Hustan mencoba menenangkan situasi. “Duduk dulu, kita bicarakan baik-baik—”

Tetapi suasana sudah telanjur panas. Di sisi lain, Kamalia berdiri dengan wajah murung. Matanya sembab, bibirnya bergetar seolah menahan tangis. Hustan yang menyadarinya langsung mendekat.

“Ada apa, sayang?”

Kamalia melirik Arlan sekilas, lalu menunduk. Bahunya mulai bergetar. “Maafin aku, Kek, tapi malam pesta itu ... Arlan—” Ucapannya terhenti, tangisnya pecah.

“Jangan nangis dulu. Ceritain pelan-pelan.”

Tangis Kamalia semakin menjadi. Suaranya bergetar, tapi jelas. “A—aku sama Arlan ... kita udah ... ngelakuin itu—”

Deg!

Waktu seolah berhenti. Hustan terduduk lemas. Tatapannya langsung beralih ke Arlan—tajam, penuh tekanan.

“Aku nggak peduli!” Jake membentak. “Pokoknya Arlan harus nikahin Kamalia sekarang juga!”

Arlan berdiri mendadak. Wajahnya gelap. “Kapan aku ngelakuin itu?” Suaranya dingin, tapi penuh tekanan.

“Arlan mungkin kamu nggak ingat—” Kamalia terisak. “Malam itu kamu kayak orang—”

“Cukup!”

Duk!

Tongkat Hustan menghantam lantai keras. “Ucapan macam apa itu?!” bentaknya. “Kamu laki-laki atau bukan?! Tanggung jawab!”

Ruang tamu berubah mencekam. “Pokoknya bulan ini. Nggak ada tawar-menawar. Kalian harus nikah!”

Arlan terdiam. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Tatapannya mengarah ke Kamalia, penuh amarah yang nyaris meledak. Saat itulah pintu terbuka.

“Tuan, ada yang harus saya sampaikan.” Asistennya datang tergesa. Tanpa sepatah kata pun, Arlan langsung berbalik dan pergi. Ia mengabaikan panggilan Hustan yang di belakangnya.

Langkahnya cepat dan tegas menuju ruang kerja. Begitu pintu tertutup, asistennya langsung membuka laptop.

“Dari jaringan plat taksi, sudah ketemu, Tuan. Sopirnya juga terdata.”

Layar menampilkan informasi lengkap.

“Kayaknya dia yang nganter Nona Mika ke daerah sebelah.”

Arlan menatap layar itu lekat. “Lacak lebih dalam.” Suaranya dingin dan tegas.

Di balik pintu, tanpa mereka sadari, Kamalia berdiri menguping. Napasnya tertahan.

“Kenapa sih, Arlan perhatian banget sama cewek itu!” bisiknya kesal.

Tanpa sadar, ia menghentakkan kakinya.

Tok!

Suara high heels memecah keheningan. Arlan langsung menoleh tajam. “Cek. Siapa di luar.”

Asisten bergerak cepat membuka pintu. Namun, tidak ada siapa pun. Mereka kembali ke dalam dan diskusi berlanjut.

“Cari juga siapa yang nabrak Mika,” perintah Arlan.

Di luar, tubuh Kamalia menegang. Panik langsung menyeruak. Ia mundur perlahan, lalu berbalik dan pergi secepat mungkin dari sana.

Di tengah Arlan yang sibuk itu, justru Mika memulai kehidupan yang barunya. Hari itu adalah hari pertama Mika masuk ke sekolah baru. Ia harus memulai semuanya dari awal.

Mika merasa lega. Di tempat ini, tidak ada seorang pun yang mengenalnya. “Syukurlah, hari ini berjalan lancar,” ucapnya sangat pelan.

Seperti siswa lainnya, Mika mulai mengikuti pelajaran dengan tenang. Ia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Siswi yang duduk sebangku dengannya terus memperhatikannya sejak tadi.

Mika menoleh. “Ada apa?”

“Enggak,” jawab gadis itu sambil menggeleng.

Namanya Nurma. Ia berkacamata, dengan rambut yang dikepang dua. “Kamu model, ya?” tanyanya tiba-tiba.

“Hah? Bukan,” jawab Mika, sedikit terkejut. “Aku orang biasa aja.”

Nurma mengangguk ragu. Tatapannya masih meneliti wajah Mika.

“Cantik banget. Perawatan di mana?” tanyanya lagi, penuh rasa penasaran. Mika semakin bingung.

“Aku nggak pernah perawatan.”

Nurma kembali mengangguk, entah untuk yang ke berapa kalinya. “Wah, bagus ya. Cantik dari lahir,” gumamnya. “Sayangnya aku nggak bisa kayak gitu.” Nada suaranya terdengar sedikit tidak percaya diri.

Mika menggaruk kepalanya pelan, merasa canggung. “Jangan gitu dong,” katanya lembut. “Cantik itu bukan cuma dari wajah atau penampilan. Tapi juga dari hati.”

Nurma menatapnya, lalu tersenyum kecil dan mengangguk. “Iya juga, ya—”

Beberapa saat kemudian, Nurma mengulurkan tangannya. “Aku Nurma.”

Mika tersenyum dan menyambut uluran tangan itu. “Mika.”

Hari itu, Mika mendapatkan teman pertamanya di sekolah baru. “Hm, semoga hari-hari ke depan tetap lancar dan baik,” gumam Mika pelan.

Gebruak!

Druk! Druk!

Tiba-tiba suara langkah kaki para siswa terdengar ramai di luar kelas. Banyak yang langsung berdiri, berusaha melihat apa yang terjadi.

“Astaga, dia ngunjungin sekolah kita!” sorak beberapa murid.

Mika yang tidak tahu apa-apa tetap duduk di tempatnya. “Siapa, sih?” tanyanya pada Nurma.

“Entah, paling pejabat atau mungkin CEO gitu,” jawab Nurma, ikut penasaran.

Mika kembali menulis. Namun, keramaian di luar kelas semakin menjadi. Entah kenapa, firasat buruk mulai muncul. Pemandangan ini terasa familiar. Seperti kejadian di sekolah lamanya, saat Arlan datang.

“Ah, nggak mungkin!” batinnya, mencoba menepis pikiran itu.

Tiba-tiba seorang guru BK masuk ke kelas. “Anak-anak, tetap di dalam kelas! Jangan ada yang keluar!”

“Iya, Bu!” jawab mereka serentak.

Dari jendela, sesosok pria berjas hitam terlihat berjalan melewati kelas. Tinggi tegap sangat mirip dengan Arlan. Mika langsung membeku.

Tatapannya terpaku ke arah jendela. “Nggak mungkin itu dia, 'kan? Tapi kok ... mirip banget?” batinnya mulai panik.

“Kalau benar dia, dari mana dia tau aku sekolah di sini?” Pikirannya kacau.

Dengan cepat, Mika memasukkan bukunya ke dalam tas. Ia memutar tubuhnya, membelakangi arah jendela.

“Mika, kamu kenapa?” tanya Nurma heran.

Mika tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, wajahnya pucat. Beberapa saat kemudian, Nurma tiba-tiba terdiam. Tatapannya terpaku pada satu titik di belakang Mika. Ia perlahan berdiri. Mika menyadari perubahan itu.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak berani menoleh. Aura mencekam merayap di tengkuknya.

Puk!

Sebuah tangan besar menepuk pundaknya. Mika tersentak. Perlahan, ia memutar tubuhnya. Matanya masih terpejam rapat. Dengan ragu, ia membuka matanya sedikit demi sedikit.

Dari sepatu naik ke celana mahal, jas hitam elegan, hingga akhirnya—wajah pria itu terlihat jelas. Ekspresi Mika berubah. Dari takut menjadi bingung.

Keningnya mengerut. “Ngapain kamu di sini?” tanya Mika spontan.

Belum sempat pria itu menjawab, bisik-bisik para siswi mulai terdengar.

“Eh, itu bukannya Tristan? Modelnya desainer Kamalia Thore?”

“Iya! Bener, itu dia!”

Gruk! Gruk!

Langkah kaki mendekat dengan cepat. Dalam sekejap, kerumunan siswi mengelilingi pria itu. Mika terdorong mundur beberapa langkah. Sorak-sorai memenuhi ruangan.

“Bang, boleh minta tanda tangan?”

“Foto, dong!”

Semakin banyak yang mendekat, jarak antara Mika dan Tristan semakin jauh. Mika hanya bisa berdiri diam di belakang kerumunan. “Jadi, dia model?” batin Mika, masih mencoba mencerna keadaan.

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!