Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan yang tidak terkendali
Ibas akhirnya sampai di rumah. Dengan langkah tergesa-gesa dia masuk ke dalam rumah dengan penampilan yang sudah tidak serapi saat dia pergi tadi.
Di ruang tamu, kedua orangtuanya sedang bercengkrama. Mereka asyik membicarakan banyak hal tentang kenangan masa muda mereka.
"Loh, Bas? Sudah pulang?" tegur sang Ibu. "Aliya... mana?"
Mata Ibas reflek membulat. Perasaan takut yang tidak ia mengerti tiba-tiba tumbuh didalam hatinya.
"Aliya belum pulang?" Ibas balik bertanya.
"Bukannya, Aliya pergi sama kamu? Jadi, mana mungkin dia pulang sendiri," timpal sang Ibu sambil memikirkan sesuatu.
"Atau, jangan-jangan... kamu biarin Aliya pulang sendiri, Bas?" tebak sang Ibu.
Ibas mengusap wajahnya dengan kasar. Dia akui, dia memang brengsek. Dia pria yang tidak memiliki pendirian sedikit pun.
Mengaku mencintai Nadia. Namun, saat Aliya menghilang seperti ini, hatinya justru merasa tidak tenang. Ibas seolah kehilangan salah satu kepingan yang bisa melengkapi hatinya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa kamu dan Aliya bisa nggak pulang bersama?" tanya Ikhsan dengan nada tegas. Wajahnya terlihat serius sekali. Pria paruh baya itu tahu jika putranya pasti sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal.
"Yah, nanti aku jelasin. Sekarang juga, aku harus cari Aliya dulu. Aku takut dia kenapa-kenapa," ucap Ibas yang langsung berlari keluar dari rumah lagi.
Sementara itu, Saraswati yang tiba-tiba mendapatkan sedikit guncangan langsung merasakan dadanya sakit lagi. Hal tersebut membuat Ikhsan cemas bukan main.
"Bun, kamu kenapa? Dadanya sakit lagi? Kita kerumah sakit, ya!"
"Nggak usah, Yah," tolak Saraswati. "Bunda nggak apa-apa. Hanya sesak sedikit."
Saraswati mencoba untuk mengatur pernapasannya. Tidak. Dia tak boleh lemah. Dia tak boleh tumbang.
Firasat buruk yang akhir-akhir ini terus membelenggu dirinya mungkin akan terbukti sebentar lagi.
Sementara itu, Ibas berkendara tak tentu arah untuk mencari Aliya. Ponsel ditangan terus melakukan panggilan ke nomor Aliya. Namun, tak satu pun dari panggilan itu yang diangkat oleh Aliya.
"Sial! Please, angkat, Al!" gumam Ibas dengan perasaan kalut.
Jika sesuatu yang buruk menimpa Aliya, maka semua adalah salahnya.
"Kamu brengsek, Bas! Kamu g0blok! Bisa-bisanya, kamu biarin mereka ngehina Aliya kayak gitu," ujarnya menyalahkan diri sendiri.
Tak seharusnya dia diam saja saat Aliya dihina. Tak seharusnya dia membenarkan semua yang dikatakan oleh Nadia begitu saja.
Kini, Ibas mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Sepertinya, dia adalah yang terburuk diantara Raka, Evan, maupun Nadia. Ya, dia penjahat yang sebenarnya.
"Aku harus telfon siapa supaya tahu dimana keberadaan kamu, Al?" lanjut Ibas bergumam.
Dia mulai putus asa. Dua jam berputar-putar di jalanan kota, namun sosok Aliya tak juga nampak.
Ia menggulir setiap nomor kontak yang ada di ponselnya. Detik itu ia sadar akan satu hal. Tak satupun dari kenalan Aliya yang dia tahu.
Dia bahkan tak tahu siapa saja sahabat-sahabat Aliya. Dia juga tidak tahu dimana alamat Aliya sebelum pindah ke rumahnya.
Segala hal tentang Aliya, Ibas benar-benar tidak tahu sedikit pun.
"Ternyata, aku segitu cueknya, ya?" Ibas tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri yang terlalu tidak peduli terhadap Aliya. Padahal, apa kesalahan perempuan itu pada Ibas?
Aliya sama sepertinya. Mereka terjebak di pernikahan yang diatur oleh orangtua mereka.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Itu panggilan dari sang Ayah.
"Ya, Yah?" tanya Ibas begitu panggilan tersambung.
"Pulang sekarang! Aliya sudah di sini," jawab sang Ayah dari seberang sana.
Klik!
Panggilan terputus begitu saja. Nada suara sang Ayah jelas menyiratkan jika pria paruh baya itu sedang marah. Namun, kalimat yang ingin disampaikan oleh sang Ayah, sangat membuat hati Ibas merasa lega.
Syukurnya, Aliya sudah tiba di rumah.
Menyetir dengan kecepatan tinggi, Ibas menerobos jalan raya yang masih cukup ramai. Dalam otaknya, dia hanya ingin sampai di rumah secepat mungkin.
"Aliya!" seru Ibas penuh kelegaan.
Perempuan yang dia cari sedang duduk di ruang tamu bersama kedua orangtuanya. Duduk bercengkrama sambil tertawa lepas.
"Mas, udah pulang?" sambut Aliya dengan senyuman. Seolah-olah, tak terjadi apa-apa.
"Kamu darimana aja?"
"Bukannya, aku udah bilang kalau aku mau pulang duluan karena nyeri haid? Mas Ibas lupa, ya?"
Ibas mematung sejenak. Sementara, Aliya tersenyum, benar-benar tidak menunjukkan emosi sekuat sebelumnya.
Sebenarnya, hati Aliya masih porak-poranda. Namun, akal sehatnya memaksa dia untuk tidak memperbesar masalah. Setidaknya, didepan kedua orangtua Ibas.
"Ikut aku sebentar!"
Tanpa menunggu persetujuan Aliya, Ibas menarik tangan Aliya menuju ke halaman belakang. Ibas ingin bicara berdua saja.
"Kamu darimana aja?" tanya Ibas. "Apa kamu tahu gimana gilanya aku nyariin kamu?"
"Aku cuma mau nenangin diri sebentar. Habis itu, balik lagi," jawab Aliya dengan sorot mata yang begitu dingin.
"Al, soal yang tadi, aku minta maaf!" ucap Ibas lirih. Dia berusaha menyentuh tangan Aliya namun perempuan itu justru malah menghindar.
"Aku rasa... sudah waktunya untuk kita jujur ke Ayah dan Bunda soal perceraian kita. Kalau ditunda semakin lama, urusan ini malah akan semakin rumit, Mas."
"Al, Bunda masih belum pulih."
"Aku tahu. Tapi, semakin lama kita berbohong, maka semakin sakit pula Ayah dan Bunda saat tahu kebenarannya." Aliya menjeda sesaat. "Lebih baik, kita sampaikan ini sama Ayah dan Bunda dengan hati-hati! Aku yakin, mereka pasti ngerti, kok."
Ibas tertegun cukup lama. Entah kenapa, dia merasa tak rela jika Aliya harus pergi meninggalkannya.
Telapak tangan Ibas pun perlahan mengepal erat. Dia menghela napas dalam-dalam.
"Tapi, kalau kamu pergi dari sini, kamu akan kemana?"
"Mas Ibas nggak perlu peduliin soal itu. Aku sudah dewasa. Insyaallah, aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Tapi, Al..."
"Aku nggak kuat berbohong lebih lama lagi, Mas," potong Aliya dengan mata berkaca-kaca. "Aku ngerasa sangat bersalah sama Ayah dan Bunda. Mereka berdua orang yang sangat baik. Aku nggak tega nyakitin mereka terlalu lama."
Tampak, Aliya menahan tangisnya. "Lagipula... berada disamping kamu benar-benar bikin aku menderita. Aku nggak bisa bahagia seperti yang aku janjikan ke Bapak sebelum beliau meninggal. Aku cuma bisa ngerasain sakit. Didalam sini..." Aliya menunjuk dada kirinya. "... rasanya kayak diiris-iris setiap hari. Perih. Pengen teriak kalau aku sakit tapi nggak bisa."
Grep!
Ibas tiba-tiba memeluk Aliya erat. Matanya ikut memerah. Mendengar nada suara Aliya yang seolah benar-benar tak berdaya, membuat dia semakin merasa bersalah.
"Maafin aku, Al! Aku yang bodoh! Aku yang goblok! Aku nggak seharusnya nyakitin kamu."
Hening sejenak. Aliya akhirnya menangis tanpa suara dalam pelukan Ibas.
Didalam rumah, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut yang membuat keduanya tersentak kaget. Saat mereka berusaha memfokuskan indra pendengaran mereka, didetik itu pula mereka sadar jika tamu tak diundang sudah datang mengacau.
"Nadia..." geram Ibas sambil melangkah terburu-buru masuk ke dalam rumah.
Dibelakangnya, Aliya turut mengikuti dengan langkah yang tak kalah buru-buru.
"Suka nggak suka, kalian harus mengakui kalau perempuan yang dicintai sama anak kalian itu cuma aku! Tanpa aku, Ibas bisa mati. Sementara, sama Aliya... apa kalian pikir, Ibas bisa jatuh cinta sama cewek kampung itu? Heh, nggak akan pernah!"
"Tahu darimana kalau Ibas nggak akan jatuh cinta sama Aliya? Belakangan ini, hubungan mereka sudah mulai membaik."
Nadia tertawa kencang.
"Dasar orangtua bodoh! Asal kalian tahu, Ibas itu cuma akting aja didepan kalian. Selama ini, Ibas masih jadi pacar aku. Kami masih suka jalan bareng. Bahkan, tadi aja... kami masih sama-sama ke ulang tahun teman kami. Aliya itu cuma tameng buat nipu kalian berdua!"
Wajah Nadia terlihat jumawa. Dia merasa sudah berada diatas angin.
"Nadia, kamu ngapain di sini?" tegur Ibas dengan dada yang tampak naik-turun karena amarah.
"Ibas..." Ekspresi Nadia langsung berubah sendu. "Aku ke sini cuma buat cari keadilan. Kamu bilang, kamu mau ceraiin Aliya, kan? Jadi, kapan kamu usir dia dari sini?"
"Bas, apa benar yang dikatakan sama perempuan ini?" tanya Saraswati dengan mata berkaca-kaca. "Dia bilang, kamu mau menceraikan Aliya dan menikahi dia?"
"Bunda, aku..."
"Bas, kamu sudah janji sama aku. Kamu bilang, kamu nikahin Aliya cuma karena terpaksa. Kamu bilang, kalau sampai detik ini kamu bertahan sama dia hanya demi orangtua kamu, kan? Kamu sudah berkorban begitu banyak demi mereka. Dan, sekarang... sudah waktunya mereka yang mengalah demi kebahagiaan kamu."
"Ibas!!!" seru sang Ibu dengan wajah yang diliputi rasa kecewa.
"Kalian jangan jadi orangtua yang egois, dong! Kalau Ibas nggak bahagia sama Aliya, kenapa harus dipaksa nikah? Apa kalian senang, kalau anak kalian menderita? Dasar orang tua jahat, kalian!"
Akhh!
Dada Saraswati terasa sakit lagi. Dia menunjuk-nunjuk ke arah Nadia dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa? Mau marah?" tantang Nadia. "Yang aku bilang, semuanya benar, kok. Kalau memang mau balas budi, seharusnya jangan korbankan anak kalian! Yang harusnya nikahin Aliya bukan Ibas, tapi Om Ikhsan. Kan, yang punya hutang Budi sama Bapaknya Aliya , Om Ikhsan bukan Ibas."
"Jaga mulut kamu, Al!" hardik Ibas.
Bruk!
Saraswati langsung jatuh tak sadarkan diri. Beruntung, sang suami menangkap tubuhnya tepat waktu.
"Wah, si nenek lampir kenapa? Udah mau mati, ya?"
Plak!
Ibas reflek menampar Nadia dengan keras. Dia sudah benar-benar muak. Selama ini, Ibas selalu berusaha mengabaikan mulut dan sikap Nadia yang terkadang memang keterlaluan.
Tapi, kali ini... Dia tak bisa menoleransi lagi.
"Dengar baik-baik, Nadia! Kalau sampai Bunda kenapa-kenapa, kamu harus bertanggungjawab!" desis Ibas penuh amarah.
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺