NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: MARKAS IBLIS

Kabut pagi menyelimuti lembah Geumseong dengan selimut tebal berwarna putih susu. Dari kejauhan, bangunan-bangunan batu hitam itu tampak seperti monster raksasa yang sedang beristirahat, menunggu saatnya bangun dan menerkam.

Putri Sohwa menelan ludah. Tangannya yang memegang tali kekang bergetar.

"Ini... ini markas Magyo?"

"Ya." Nyonya Hwa Ryun tersenyum melihat ekspresinya. "Menyeramkan, ya?"

"Sangat."

"Tapi di dalam, tidak seburuk yang kau bayangkan."

Mereka memacu kuda perlahan menuju gerbang utama. Para penjaga yang berjaga langsung mengenali Namgung Jin dan memberi hormat. Salah satu dari mereka berlari masuk untuk melaporkan kedatangan mereka.

Putri Sohwa mengamati para penjaga itu—mereka berpakaian serba hitam, wajah dingin, tapi saat melihat Namgung Jin, ekspresi mereka berubah hormat. Bahkan takut.

"Guru benar-benar disegani di sini."

"Dia penasihat utama Cheon Wu-gun," bisik Miho. "Kedudukannya tinggi."

---

Di dalam, mereka disambut oleh Cheon Wu-gun sendiri.

Pemimpin Magyo itu berdiri di tengah ruang utama, dikelilingi para pengawal pribadinya. Wajahnya lelah—mungkin kurang tidur—tapi matanya bersinar saat melihat Namgung Jin.

"Akhirnya kau datang."

"Maaf, ada masalah di istana."

"Aku dengar. Tentang Majin." Cheon Wu-gun menghela napas. "Kita punya banyak hal untuk dibahas."

Matanya beralih ke rombongan Namgung Jin. Melihat Nyonya Hwa Ryun, ia mengangguk—mereka sudah lama kenal. Tapi saat melihat Putri Sohwa dan Miho, ia mengerutkan kening.

"Siapa mereka?"

"Murid-muridku."

"Murid?" Cheon Wu-gun terkejut. "Kau... kau punya murid sekarang?"

"Panjang ceritanya."

Cheon Wu-gun mengamati kedua gadis itu. Putri Sohwa—meskipun berpakaian sederhana—masih memancarkan aura bangsawan. Miho, dengan postur waspada, jelas seorang mata-mata.

"Baiklah. Kita bicara nanti. Aku akan suruh seseorang mengantar mereka beristirahat."

---

Seorang pelayan membawa Putri Sohwa dan Miho ke paviliun tamu. Bangunan itu sederhana tapi bersih, dengan dua kamar tidur dan ruang duduk kecil.

Setelah pelayan pergi, Putri Sohwa duduk di kursi, menghela napas panjang.

"Aku tidak percaya. Aku, putri kerajaan, sekarang tinggal di markas iblis."

Miho tertawa. "Hidup memang penuh kejutan."

"Kau tidak takut?"

"Aku sudah lama tidak takut pada tempat. Yang kutakutkan adalah orang-orang di dalamnya." Ia duduk di samping Putri Sohwa. "Tapi di sini, kita aman. Guru akan melindungi kita."

"Kau sangat percaya padanya."

"Dia menyelamatkan hidupku. Memberiku tujuan. Tentu aku percaya."

Putri Sohwa diam. Ia juga merasa begitu, tapi mengakuinya masih sulit.

---

Di ruang utama, Namgung Jin duduk berhadapan dengan Cheon Wu-gun. Hanya mereka berdua—para pengawal sudah disuruh keluar.

"Ceritakan semuanya."

Namgung Jin menceritakan apa yang terjadi di istana. Tentang Janda Permaisuri dan ritualnya. Tentang kebangkitan Majin. Tentang pertarungan singkatnya dengan Iblis Purba itu.

Cheon Wu-gun mendengarkan dengan saksama, wajahnya semakin gelap seiring cerita.

"Majin... aku kira itu hanya legenda."

"Legenda menjadi nyata."

"Dan kau bilang kau melukainya?"

"Hanya goresan kecil. Tapi racunku bekerja. Untuk sementara, ia lemah."

"Untuk sementara." Cheon Wu-gun menghela napas. "Kita butuh informasi tentang kelemahannya. Dan aku punya sesuatu."

Ia berdiri, berjalan ke rak buku di sudut ruangan. Setelah menekan sebuah ukiran tersembunyi, rak itu bergeser, memperlihatkan ruangan kecil di baliknya.

"Ikut aku."

---

Ruangan rahasia itu kecil, hanya cukup untuk dua orang. Dindingnya dipenuhi gulungan kuno, beberapa di antaranya sudah menguning termakan usia. Cheon Wu-gun mengambil salah satu gulungan yang paling tua, membukanya dengan hati-hati.

"Ini adalah catatan dari pendiri Magyo—Cheon Ma-ryong sendiri."

Namgung Jin berusaha tidak bereaksi. Ia tahu gulungan itu—ia sendiri yang menulisnya, ribuan tahun lalu.

"Di sini, ia menulis tentang Iblis Purba. Katanya, Majin bukan satu-satunya. Ada tujuh Iblis Purba, masing-masing menguasai elemen berbeda. Majin adalah Iblis Api."

"Tujuh?"

"Tapi enam lainnya sudah mati—atau terkubur sangat dalam. Hanya Majin yang berhasil selamat."

"Dan kelemahannya?"

Cheon Wu-gun membuka bagian lain gulungan itu. "Di sini... tertulis bahwa Majin punya satu kelemahan: batu di dadanya. Bukan pusat kekuatan seperti yang kita kira, tapi justru sumber kelemahannya."

"Maksudmu?"

"Batu itu adalah penjara mini. Di dalamnya, tersegel separuh jiwanya. Dulu, para dewa tidak bisa membunuhnya, jadi mereka memisahkan jiwanya menjadi dua. Separuh di tubuh, separuh di batu. Selama batu itu utuh, ia tidak bisa mati. Tapi jika batu itu hancur..."

"...ia akan kehilangan separuh kekuatannya."

"Tepat."

Namgung Jin mengerutkan kening. "Tapi batu itu sangat keras. Pedangku tidak bisa menembusnya."

"Karena kau menyerang dari luar. Batu itu hanya bisa dihancurkan dari dalam."

"Dari dalam?"

"Dengan memasukkan energi yang berlawanan dengan elemennya. Api dilawan dengan es."

"Aku tidak punya kekuatan es."

"Tapi kau punya Mawanggeom. Pedang itu bisa menyerap energi. Jika kau bisa menyerap cukup energi api dari Majin, lalu melepaskannya sekaligus ke dalam batu..."

Namgung Jin diam, memikirkan kemungkinan itu. Teorinya masuk akal. Tapi praktiknya? Hampir mustahil.

"Aku butuh waktu."

"Kita semua butuh waktu." Cheon Wu-gun menggulung kitab itu. "Tapi waktu adalah barang mewah yang tidak kita miliki."

---

Malam harinya, Namgung Jin berkumpul dengan para muridnya di paviliun tamu.

Ia menjelaskan apa yang ia dapat dari Cheon Wu-gun. Tentang kelemahan Majin. Tentang rencananya.

"Jadi kita harus menyerap energi apinya?" tanya Nyonya Hwa Ryun.

"Aku. Bukan kita."

*"Tapi—"

"Kalian belum cukup kuat. Kalian hanya akan jadi beban."

Kata-kata itu keras, tapi benar. Putri Sohwa menunduk, Miho menggigit bibir. Hanya Nyonya Hwa Ryun yang berani membantah.

"Kalau begitu, ajari kami. Cepat."

"Tidak bisa. Kultivasi butuh waktu."

"Ada cara cepat, kan?" Mata Nyonya Hwa Ryun tajam. "Kau tahu cara cepat."

Namgung Jin diam.

Putri Sohwa angkat bicara. "Guru, apa benar ada cara cepat?"

"Ada. Tapi berbahaya."

"Seberapa berbahaya?"

"Bisa merusak meridian permanen. Bisa membuat kalian lumpuh. Bisa... membunuh."

Keheningan.

Miho berkata lirih, "Tapi bisa juga berhasil, kan?"

*"Mungkin. Tapi risikonya—"

"Guru." Putri Sohwa memotong. "Kami tidak ingin hanya duduk dan menonton. Kami ingin membantu. Jika kami mati dalam proses, setidaknya kami mati berusaha."

Namgung Jin menatap mereka satu per satu. Di mata mereka, ia melihat tekad yang sama—tekad yang dulu ia lihat pada dirinya sendiri, saat masih muda dan bodoh.

"Kau benar-benar ingin?"

"Ya."

"Baik. Tapi aku peringatkan, ini akan sangat menyakitkan."

---

Malam itu juga, latihan dimulai.

Namgung Jin membawa mereka ke halaman belakang, jauh dari pengawasan. Di bawah sinar bulan, ia menjelaskan teknik yang akan mereka gunakan.

"Ini adalah Mageuksimma—Metode Hati Iblis. Teknik ini memaksa meridian terbuka lebih cepat dengan menyerap energi dari luar. Tapi energi itu harus sangat besar, dan tubuh harus kuat menahannya."

"Energi dari mana?"

"Dari Mawanggeom." Ia mengeluarkan pedang hitam itu. "Pedang ini menyimpan ribuan nyawa yang telah direnggutnya. Energi kematian. Jika kalian bisa menyerapnya, kalian akan kuat dalam waktu singkat."

"Tapi jika gagal?"

"Energi itu akan membunuh kalian."

Ketiga wanita itu saling pandang. Lalu, tanpa ragu, mereka mengangguk.

"Aku mulai."

---

Satu per satu, mereka menjalani ritual.

Pertama Nyonya Hwa Ryun. Sebagai yang paling berpengalaman, ia dipercaya bisa menahan lebih banyak. Namgung Jin menusuk Mawanggeom ke tanah di depannya, lalu menyuruhnya meletakkan kedua tangan di atas bilah.

"Tutup mata. Rasakan energinya. Biarkan mengalir ke tubuhmu, tapi jangan biarkan menguasaimu."

Nyonya Hwa Ryun memejamkan mata. Mawanggeom mulai bersinar merah. Tangannya gemetar, keringat mengucur deras. Wajahnya berubah pucat, lalu merah, lalu pucat lagi.

"Tahan..."

"Aaaaagh!" Ia berteriak, tapi tidak melepaskan.

Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.

Akhirnya, Mawanggeom meredup. Nyonya Hwa Ryun jatuh pingsan.

Namgung Jin memeriksa meridiannya—tiga belas terbuka. Dari sebelumnya tujuh, jadi dua puluh. Kemajuan luar biasa.

"Berhasil."

---

Berikutnya Miho.

Gadis itu lebih kecil, lebih lemah. Tapi matanya penuh tekad. Ia meletakkan tangan di Mawanggeom, memejamkan mata.

Energi mengalir. Miho langsung berteriak—lebih keras dari Nyonya Hwa Ryun. Tubuhnya kejang, matanya memutih.

"Tahan!"

*"AKU... AKU TIDAK BISA—"

"KAU BISA!"

Miho menggigit bibir hingga berdarah. Ia bertahan. Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Lalu ia jatuh.

Namgung Jin memeriksa—delapan meridian terbuka. Dari dua, jadi sepuluh. Tidak sebanyak Nyonya Hwa Ryun, tapi cukup.

"Berhasil."

---

Terakhir Putri Sohwa.

Gadis itu paling lemah di antara mereka. Tanpa latihan sebelumnya, tanpa pengalaman bertarung. Tapi ia melangkah maju tanpa ragu.

"Kau yakin?"

"Aku yakin."

Ia meletakkan tangan di Mawanggeom.

Energi mengalir—dan Putri Sohwa langsung menjerit. Jeritan yang memilukan, membuat bulu kuduk berdiri. Tubuhnya kejang hebat, matanya terbalik, mulutnya berbusa.

"SOHWA!"

Namgung Jin mencabut Mawanggeom, menghentikan ritual. Tapi terlambat. Putri Sohwa sudah pingsan, tubuhnya dingin.

Ia memeriksa denyut nadinya—masih ada. Tapi lemah. Sangat lemah.

"Bodoh... kau terlalu memaksakan diri."

---

Malam itu, Putri Sohwa terbaring di kamarnya, demam tinggi. Miho dan Nyonya Hwa Ryun—yang sudah sadar—bergantian menjaganya.

Namgung Jin duduk di sudut, merenung.

"Apa yang kulakukan? Mengajari mereka teknik terlarang, mempertaruhkan nyawa mereka..."

Simma di dadanya berdenyut—bukan marah, tapi sedih. Sedih melihatnya menyalahkan diri sendiri.

"Diamlah. Aku tahu aku bodoh."

Pintu terbuka. Cheon Wu-gun masuk, melihat Putri Sohwa yang terbaring.

"Gadis itu?"

"Muridku."

"Dia terluka parah."

"Aku tahu."

Cheon Wu-gun duduk di sampingnya. "Kau berubah, Namgung Jin."

"Apa maksudmu?"

"Dulu, kau hanya peduli pada diri sendiri. Sekarang, kau punya murid. Kau peduli pada mereka."

*"Aku tidak peduli. Aku hanya—"

"Kau peduli. Dan itu tidak salah."

Namgung Jin diam.

Cheon Wu-gun menepuk pundaknya. "Jaga mereka baik-baik. Mereka akan menjadi kekuatanmu di masa depan."

Ia pergi, meninggalkan Namgung Jin dengan pikirannya sendiri.

---

Pagi harinya, Putri Sohwa sadar.

Ia membuka mata, melihat langit-langit kayu. Tubuhnya sakit semua, tapi ia masih hidup.

"Kau bangun."

Miho duduk di sampingnya, wajah lega. "Syukurlah. Kau pingsan semalaman. Demammu tinggi."

"Aku... berhasil?"

"Kau berhasil bertahan. Tapi kau terlalu memaksakan diri."

Putri Sohwa tersenyum lemah. "Tapi aku berhasil, kan?"

"Ya. Kau berhasil."

Namgung Jin masuk, membawa semangkuk bubur. Wajahnya datar, tapi matanya sedikit lega.

"Makan."

"Guru..."

"Makan dulu. Nanti bicara."

Putri Sohwa makan dengan susah payah. Tangannya masih gemetar, tapi ia berusaha.

Setelah selesai, Namgung Jin berkata,

"Kau bodoh."

"Maaf."

"Tapi kau berani. Itu penting."

Putri Sohwa tersenyum—senyum pertama sejak ritual.

"Jadi, aku lulus?"

"Kau lulus. Tapi lain kali, jangan nekat."

"Janji."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!