dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
reaksi Budi melihat karya Laras semakin berkembang
Suatu sore, saat aku sedang memeriksa barang-barang yang siap dikirim di bengkel kerja, aku mendengar suara langkah kaki yang berat dan suara gumaman yang tidak asing. Aku menoleh dan melihat Budenya—adik laki-laki Ayah yang selalu memandang rendahku—berjalan masuk dengan wajah yang sulit digambarkan. Dia melihat sekeliling bengkel yang kini penuh dengan bahan baku, karyawan yang sibuk bekerja, dan tumpukan kerajinan yang siap dikirim ke berbagai tempat. Matanya terbelalak sedikit, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Aku hanya diam, menunggu apa yang akan dia katakan. Dulu, setiap kali dia datang ke rumah, yang keluar dari mulutnya hanyalah hinaan dan cacian. "Dasar gadis tidak berguna," begitu katanya dulu. "Cuma bisa main-main dengan rotan dan daun. Nggak bakal ada masa depanmu. Mending kamu cari kerjaan yang jelas, jadi pembantu atau buruh tani saja, daripada buang-buang waktu." Dia sering berkata begitu di depan tetangga, membuatku merasa kecil dan tidak berharga.
Sekarang, dia berdiri di sana, memegang topi di tangannya, dan terlihat agak canggung. Dia berjalan mendekatiku, lalu menatap sebuah keranjang anyaman motif bunga melati yang sedang aku kemas. Keranjang itu adalah pesanan khusus dari seorang kolektor seni di luar negeri.
"Ehm... Laras," suaranya terdengar ragu, berbeda dengan nada keras dan meremehkan yang biasa dia gunakan. "Ini... ini semua karyamu?" tanyanya, sambil menunjuk sekeliling ruangan.
Aku mengangguk pelan, tidak menjawab lebih dulu. Aku ingin melihat apa tujuannya datang ke sini.
Budenya menghela napas panjang, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Wah... ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang di desa. Kamu sekarang sudah sukses ya. Banyak orang yang cari karyamu, bahkan sampai ke luar kota dan luar negeri. Aku... aku tidak menyangka."
Dia berhenti sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran rasa malu, rasa hormat, dan mungkin juga ada sedikit rasa iri yang terselip. "Dulu... dulu aku sering berkata kasar padamu. Aku menghinamu, mencaci maki usahamu yang aku anggap tidak berguna. Aku minta maaf, Laras. Aku salah menilaimu. Aku tidak tahu bahwa bakatmu sebesar ini, bahwa kerajinan tanganmu bisa membawamu sejauh ini."
Aku menatapnya diam-diam. Mendengar kata maaf dari mulutnya yang dulu selalu mengeluarkan kata-kata pedas rasanya aneh. Hatiku terasa campur aduk. Ada rasa lega, tapi juga rasa sakit yang masih tersisa dari kenangan masa lalu.
"Aku iri melihatmu sekarang, Laras," lanjut Budenya lagi, suaranya lebih pelan. "Kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri, punya usaha sendiri, dan bisa membantu orang lain. Sementara aku... aku masih saja bekerja serabutan, sering kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Kadang aku menyesal, kenapa dulu aku tidak mendukungmu, malah menghalangimu."
Aku menarik napas panjang, lalu menghembusnya perlahan. "Sudah tidak apa-apa, Bude. Masa lalu sudah berlalu," ucapku pelan, meski suaranya masih terdengar kaku. "Aku tidak menyimpan dendam. Tapi aku harap, Bude bisa belajar untuk tidak meremehkan orang lain begitu mudahnya. Setiap orang punya jalan dan bakatnya masing-masing, dan kita tidak tahu apa yang bisa mereka capai di masa depan."
Budenya mengangguk cepat, wajahnya terlihat lega mendengar ucapanku. "Iya, iya, kamu benar, Laras. Aku akan ingat itu. Kamu benar-benar hebat. Aku bangga padamu, meskipun aku dulu jahat padamu."
Dia kemudian pamit undur diri, tapi sebelum pergi, dia sempat menoleh lagi dan berkata, "Kalau-kalau ada pekerjaan yang bisa aku lakukan di sini, Laras... aku mau kok. Aku bisa bantu angkat-angkat barang atau apa saja. Aku butuh pekerjaan yang tetap."
Aku terdiam sejenak. Menawarkan pekerjaan padanya? Itu adalah hal yang sulit bagiku, mengingat semua perlakuan buruknya dulu. Tapi aku juga ingat betapa sulitnya hidup tanpa pekerjaan yang tetap. Aku berpikir, mungkin ini saatnya untuk menunjukkan bahwa kebaikan bisa mengalahkan kebencian.
"Baiklah, Bude. Kalau Bude mau, Bude bisa bantu di bagian pengemasan dan pengiriman. Tapi ingat, di sini kita bekerja dengan disiplin dan tanggung jawab. Tidak ada yang boleh main-main," jawabku akhirnya.
Wajah Budenya langsung bersinar penuh sukacita. "Terima kasih, Laras! Terima kasih banyak! Aku janji akan bekerja keras dan tidak akan mengecewakanmu!"
Setelah Budenya pergi, aku duduk sejenak di kursi kerjaku. Aku merenung tentang apa yang baru saja terjadi. Dulu, dia adalah orang yang selalu membuatku merasa tidak berharga, tapi sekarang, dia datang meminta maaf dan bahkan meminta pekerjaan padaku. Ini membuktikan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang uang atau popularitas, tapi juga tentang kemampuan untuk memaafkan dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk berubah.
Aku tersenyum kecil. Perjalanan hidupku memang penuh dengan liku-liku, tapi setiap langkah yang aku ambil membuatku semakin kuat dan bijaksana. Dan aku tahu, dengan semangat dan hati yang baik, aku bisa menghadapi apa pun yang akan datang di masa depan.