Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Setelah dikalahkan, para pria itu tidak berani bertahan lebih lama. Dengan tubuh yang penuh luka dan langkah tergesa, mereka segera meninggalkan area parkir tersebut.
Suasana kembali sunyi.
Nathan berdiri sejenak, memastikan tidak ada lagi ancaman, lalu berbalik berjalan menuju pintu masuk apartemennya.
Langkahnya tenang, seolah perkelahian barusan hanyalah hal biasa.
Tak lama kemudian, Nathan tiba di unit apartemennya.
Apartemen itu berada di lantai atas, luas dan mewah, dengan lorong yang sunyi dan penerangan redup yang menambah kesan dingin.
Ia mengeluarkan kartu akses, lalu menempelkannya pada sensor di samping pintu.
Bip.
Pintu terbuka.
Nathan mendorongnya perlahan dan melangkah masuk.
Ruangan di dalamnya gelap dan hening.
Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri sejenak tanpa menyalakan lampu.
Bayangan wajah Calista tiba-tiba terlintas di benaknya.
Senyumnya.
Tatapannya.
Dan pertanyaan terakhir yang belum sempat ia jawab.
“Apakah kau pernah mencintaiku?”
Nathan mengepalkan tangannya.
Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan apartemen itu.
Nathan melirik ke arah meja, lalu mengambil ponselnya.
Layar menunjukkan satu nama.
Marcus.
Ia langsung mengangkat panggilan itu. “Hallo.”
Di seberang sana, suara Marcus terdengar tegang. “Tuan, terjadi sesuatu pada Tuan Muda Jims.”
Nathan langsung mengernyit.
“Apa yang terjadi?” tanyanya singkat.
“Pesawat yang dia tumpangi hilang kontak,” jawab Marcus cepat. “Sampai sekarang tidak bisa dilacak sama sekali. Tuan Fung sangat marah dan juga cemas. Ia sudah mengerahkan banyak orang untuk melakukan pencarian, bahkan menggunakan helikopter.”
Tanpa basa basi, Nathan langsung memutuskan panggilan itu.
Di sisi lain, di sebuah rumah mewah milik keluarga Fung—
Suasana di dalamnya tegang.
James Fung berdiri di ruang utama dengan wajah penuh amarah dan kecemasan. Beberapa anak buahnya berdiri berjajar di hadapannya dengan kepala tertunduk.
“Aku beri kalian waktu 24 jam!” bentak James dengan suara bergetar. “Temukan Jims dalam keadaan hidup!”
Ia mengepalkan tangannya kuat.
“Kalau tidak…” lanjutnya dengan tatapan tajam, “kalian yang akan menggantikan nyawanya!”
“Baik, Tuan!” jawab mereka serentak, lalu segera berbalik dan beranjak pergi tanpa berani menatap wajahnya.
Ruangan itu kembali sunyi.
Tak lama kemudian—
Pintu terbuka.
Nathan masuk dengan langkah tenang.
“Tuan,” ucapnya, “aku sudah mendengar kabar ini.”
James langsung menoleh.
“Nathan…” suaranya melemah, berbeda jauh dari sebelumnya. “Apa yang harus aku lakukan kalau sesuatu terjadi pada Jims?” katanya dengan nada penuh penyesalan. “Aku melihat sendiri dia naik ke pesawat itu… bahkan melambaikan tangan padaku.”
Ia menutup wajahnya sejenak.
“Padahal dia tidak ingin pergi… tapi karena saranku, dia tetap berangkat.”
Nathan menatapnya dengan tenang.
“Anda tidak perlu menyalahkan diri sendiri,” katanya datar. “Selama belum ditemukan, kita belum bisa menyimpulkan apa pun.”
James menggeleng.
“Pesawat sebesar itu hilang kontak…” gumamnya. “Mana mungkin dia bisa selamat…”
Nathan tidak langsung menjawab.
Tatapannya dalam.
“Serahkan padaku,” ucapnya akhirnya. “Aku akan mencarinya sampai ditemukan.”
Ia melangkah mundur.
“Anda sebaiknya beristirahat. Kondisi Anda juga penting.”
James hanya terdiam, tidak lagi mampu berkata apa-apa.
Setelah keluar dari rumah itu—
Nathan langsung mengeluarkan ponselnya.
Ia berjalan menuju mobilnya, lalu menelepon seseorang.
Panggilan itu diangkat dengan cepat.
“Tuan.”
Nathan tidak membuang waktu.
“Siapkan tim pencarian sebanyak mungkin,” perintahnya tegas. “Gunakan semua jalur—laut, udara, dan darat.”
Suara di seberang langsung menjawab sigap.
“Baik, Tuan!”
Nathan berhenti sejenak.
“Dan pastikan, kita menemukannya dalam beberapa jam ke depan.”
Panggilan itu ditutup.
Di dalam rumah yang sama—
James masih mondar-mandir dengan gelisah. Wajahnya tampak lelah, tangannya beberapa kali mengusap kasar wajahnya sendiri, seolah mencoba menenangkan pikiran yang kacau.
Ia bahkan tidak bisa duduk dengan tenang.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Seorang pria masuk dan berhenti tidak jauh darinya.
“Tuan,” sapa pria itu dengan sopan.
James menoleh sekilas.
“Joy, ada apa?” tanyanya singkat.
Joy menunduk sedikit sebelum menjawab.
“Saya mendapat informasi tentang Nathan Han,” katanya hati-hati.
James mengerutkan kening.
“Dia menyerahkan jasad tunangannya kepada pihak kepolisian,” lanjut Joy. “Sebelumnya, dia sempat berniat untuk mengkremasinya. Tapi tiba-tiba saja dia mengubah rencananya.”
James terdiam sejenak, lalu mendengus pelan. “Nathan yang aku kenal memang seperti itu,” katanya dingin. “Dingin, angkuh… dan tidak pernah benar-benar peduli pada gadis itu.”
Ia berjalan perlahan ke arah jendela.
“Pertunangan itu hanya untuk ditunjukkan kepada orang lain,” lanjutnya. “Kenyataannya… dia tidak mencintainya.”
Joy mengangguk pelan.
“Sebelumnya kita berharap gadis itu bisa menjadi alat untuk menahannya,” ujarnya. “Tapi siapa sangka rencana kita gagal karena Calista Li justru meninggal.”
James berhenti melangkah.
“Kenapa dia bunuh diri?” tanyanya tiba-tiba. “Apakah Nathan tidak mencari tahu?"
Joy menggeleng.
“Masih dalam penyelidikan,” jawabnya. “Apakah kita tetap perlu memantau gerak-gerik Nathan Han?”
James terdiam beberapa saat.
Pikirannya jelas sedang kacau.
Ia kemudian menghela napas panjang.
“Tidak perlu,” jawabnya akhirnya. “Sampai sekarang nasib Jims belum diketahui.”
Tatapannya menjadi gelap.
“Aku tidak punya waktu untuk mengurus masalah lain.”
Joy langsung menunduk.
“Baik, Tuan.”
***
Pencarian telah dilakukan berhari-hari.
Tim gabungan milik Nathan dan James bekerja tanpa henti—siang dan malam, menyisir setiap kemungkinan, dari laut hingga daratan.
Namun…
Hasilnya tetap nihil.
Tidak ada jejak.
Tidak ada tanda.
Seolah pesawat itu benar-benar menghilang begitu saja.
Di rumahnya, emosi James semakin tidak terkendali. Amarahnya kerap dilampiaskan kepada anak buahnya yang pulang tanpa membawa kabar.
Sementara itu—
Di sebuah tempat yang gelap dan lembap.
Seorang pemuda tergeletak di lantai dalam kondisi mengenaskan.
Wajahnya bengkak, bibirnya pecah, dan darah kering masih terlihat di sekitar hidungnya.
Dia adalah Jims Fung.
Putra tunggal James Fung.
Napasnya berat, tubuhnya lemah, namun ia masih sadar.
Ruangan itu dijaga oleh dua orang pria berbadan besar yang berdiri di dekat pintu.
Tiba-tiba—
Suara langkah kaki terdengar mendekat.
Tok… tok… tok…
Kedua penjaga itu langsung menunduk hormat.
Pintu terbuka.
Seorang pria masuk dengan langkah tenang.
Setelan hitamnya rapi, auranya dingin dan menekan.
Langkahnya berhenti tepat di depan tubuh Jims.
Dalam kondisi setengah sadar, Jims melihat sepasang sepatu di hadapannya.
Perlahan… dengan sisa tenaga yang ada, ia mengangkat pandangannya.
Pandangan itu naik—
Ke kaki.
Ke tubuh.
Dan akhirnya ke wajah pria itu.
Matanya melebar.
“Nathan…?” suaranya serak hampir tak terdengar.
Nathan berdiri di sana dengan wajah dingin.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???