Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Lu Feng Berkuda
Setelah tawa mengejek Jian Yi memudar di kejauhan dan bayangan gerbang Sekte Daun Perak menghilang di balik kabut, keberuntungan aneh seolah kembali memihak mereka.
Di tengah jalan setapak yang rimbun, mereka melihat sesuatu yang sangat familiar sedang asyik mengunyah rumput liar.
"Lihat itu! Bukankah itu si bodoh yang kabur kemarin?" Lu Feng menunjuk ke arah seekor kuda cokelat yang tampak sangat santai.
Benar saja, kuda hasil jarahan mereka yang kemarin kabur karena Lu Feng terpeleset kerikil, kini berdiri dengan tenang.
Hebatnya, tas-tas berisi harta dan perbekalan mereka masih terikat kuat di pelananya, seolah-olah hewan itu hanya pergi untuk jalan-jalan sore dan menunggu tuannya kembali.
"Syukurlah, setidaknya kita tidak perlu berjalan kaki sampai ke kota berikutnya," gumam Jian Yi sambil menepuk leher kuda tersebut.
Mereka berdua segera melompat naik ke atas punggung kuda yang sama—sebuah pemandangan yang cukup sesak bagi si kuda, namun efektif untuk bergerak cepat.
Dengan semangat baru dan kantong emas yang berat, mereka memacu kuda itu menyusuri jalan setapak yang menurun tajam.
Jalanan menjadi semakin curam dan licin karena lumut hutan. Lu Feng, yang memegang kendali kuda, justru memacunya lebih kencang karena ingin segera menjauh dari jangkauan "Bibi" Yue Chan.
"Pelankan sedikit, Lu Feng! Tikungan di depan sangat tajam!" seru Jian Yi.
"Tenang saja, aku ini ahli berkuda di kehidupan sebel—"
SRUTTT!
Tepat di tikungan tajam yang di bawahnya terdapat tebing pendek menuju sungai, kaki kuda itu kembali menginjak kerikil licin. Keseimbangan mereka hilang seketika.
"AAARGHHH!"
Kuda, Jian Yi, dan Lu Feng terjun bebas dari ketinggian tiga meter, langsung menuju aliran sungai yang jernih dan tenang di bawah sana.
BYURRRRRRR!
Suara ceburan yang dahsyat itu memecah ketenangan sungai.
Namun, masalah sebenarnya bukan pada airnya, melainkan pada siapa yang ada di dalam air tersebut.
Sekitar sepuluh meter dari tempat mereka jatuh, sekelompok wanita cantik—yang tampaknya adalah murid dari sekte medis sekitar atau warga desa kelas atas—sedang asyik mandi dan bersenda gurau.
Keheningan sesaat terjadi. Para wanita itu membeku, menatap dua pemuda yang tiba-tiba jatuh dari langit ke tengah sungai mereka.
"KYAAAAA! CABUL!!!"
"ADA PERAMPOK KELAMIN!!!"
Teriakan histeris pecah. Sabun, gayung kayu, dan bahkan batu kali mulai beterbangan ke arah mereka berdua.
Jian Yi, yang memiliki insting bertahan hidup jauh lebih tajam dalam situasi memalukan seperti ini, langsung mengambil keputusan kilat.
Begitu kepalanya muncul di permukaan dan melihat tatapan membunuh dari para wanita itu, ia langsung menarik napas dalam-dalam.
BLUP!
Tanpa sepatah kata pun, Jian Yi menyelam kembali ke dasar sungai yang dalam. Dengan gerakan yang sangat lincah seperti belut naga, ia berenang menjauh di bawah air, meninggalkan Lu Feng sendirian untuk menghadapi badai amarah para wanita tersebut.
"Hei! Yi! Jangan tinggalkan aku!" teriak Lu Feng panik sambil berusaha menghalau lemparan gayung yang mengenai keningnya.
"Dasar kau bocah mesum! Rasakan ini!" Seorang wanita melemparkan sekeranjang pakaian basah tepat ke wajah Lu Feng.
Lu Feng terbatuk-batuk, berusaha berdiri di tengah arus sungai yang setinggi pinggang. "Tunggu! Ini kecelakaan! Kuda kami terpeleset! Aku tidak bermaksud mengintip!"
Sementara itu, sekitar lima puluh meter di hilir sungai, kepala Jian Yi muncul perlahan dari permukaan air di balik semak-semak yang rimbun.
Ia melihat Lu Feng yang sedang dikeroyok oleh massa wanita bersenjatakan kain basah dan gayung dengan ekspresi datar.
"Maaf, Sobat. Di dunia persilatan, ada saatnya kita bertarung bersama, dan ada saatnya kita menyelamatkan reputasi masing-masing," gumam Jian Yi sambil memeras ujung jubahnya yang basah kuyup.
Ia kemudian duduk santai di tepi sungai, menunggu sahabatnya selesai "dihakimi" sambil berharap emas di tas kuda mereka tidak hanyut terbawa arus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗨𝗕𝗖𝗥𝗜𝗕𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁