"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETAK JANTUNG YANG BERHENTI
Sore itu, Aethelgard terasa tenang. Riezky baru saja menyeka keringatnya setelah sesi latihan fisik yang melelahkan bersama para pemuda kota. Ia sedang duduk di atas tembok pembatas, menatap matahari yang perlahan turun, merasa puas melihat perkembangan anak-anak muda yang ia latih untuk menjaga gerbang.
Tiba-tiba, dari arah jalanan di bawah menara, suara teriakan yang melengking memecah kesunyian.
"Riezky!"
Riezky menoleh malas, menyeka wajahnya dengan handuk kecil. "Oit!" sahutnya santai. Ia mengira itu hanya laporan rutin soal stok senjata atau mungkin undangan makan malam dari warga yang bersyukur.
Namun, raut wajah pria yang berlari terengah-engah di bawah sana membuat jantung Riezky mencelos. Pria itu tampak pucat, matanya membelalak ketakutan, dan napasnya tersengal-sengal hebat.
"Ibumu!" ucap pria itu dengan suara serak.
Seketika, dunia di sekitar Riezky seolah kehilangan suaranya. Pendengarannya senyap, berganti dengan suara berdenging yang sangat kencang di telinga.
Langkah kakinya menghantam jalanan batu Aethelgard dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Angin berdesis di telinganya, dan setiap detak jantungnya hanya meneriakkan satu nama: Ibu. Perasaan putus asa yang sempat hilang beberapa hari lalu kini kembali menyergap, jauh lebih tajam dan lebih nyata dari sebelumnya.
Namun, pemandangan di depannya menghancurkan segala sisa ketenangannya. Rumah kayu yang hangat itu kini hanya menyisakan kerangka hitam yang membara, seolah habis dilalap api neraka dalam hitungan detik.
"Riezky! Seseorang membawa ibumu dan Sabrina!" teriak salah satu warga yang berdiri gemetar di depan reruntuhan.
"Siapa?! Siapa yang membawa mereka?!" bentak Riezky. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan geraman rendah yang sarat dengan daya ledak statis.
"Dia berkata... datanglah ke Malakor," ucap warga itu terbata-bata.
Nama itu menghantam Riezky seperti petir yang nyata. Ingatannya berputar cepat pada percakapannya dengan An si ninja. Kata yang selama ini ia cari, yang ia kira hanya gumaman tak bermakna dari makhluk bayangan, akhirnya terdengar jelas. Itu bukan sekadar kata; itu adalah sebuah nama. Sebuah tempat. Sebuah takdir.
Valerius datang terengah-engah, matanya membelalak melihat kehancuran di depannya. Ia lekas meletakkan kedua tangan di atas kepalanya, meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Ya Tuhan..." ucapnya lirih.
Riezky menyambar bahu pamannya, mengguncangnya dengan kekuatan yang hampir mematahkan tulang. "Paman! Patung besi itu... wilayah patung besi itu, di mana?!"
"Riezky, tenanglah! Ini mungkin hanya rampok, mereka tidak akan jauh-jauh ke sa—" ucapan Valerius terputus saat ia melihat kilatan di mata Riezky.
"Aku akan berangkat sendiri! Aku mohon, Paman!" teriak Riezky, suaranya menggetarkan udara di sekitar mereka.
Valerius menyadari bahwa tidak ada lagi kata-kata yang bisa menahan badai yang sudah terbentuk di dalam diri Riezky. Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku jubahnya dan menyerahkan selembar kertas peta tua yang sudah menguning.
"Ini... ke Barat," ucap Valerius lemah.
Detik itu juga, gravitasi seolah kehilangan kuasanya atas Riezky. Pasir di bawah kakinya mulai memerah dan meleleh akibat panas yang luar biasa. Rambutnya berdiri tegak, terbang ke atas seolah ada angin dahsyat yang meniup dari bawah kakinya. Listrik biru dan api merah meledak dari tubuhnya secara bersamaan, membentuk aura yang membutakan mata.
Tanpa sadar, Riezky melesat terbang. Ia menembus awan dengan kecepatan yang membelah suara, meninggalkan jejak cahaya di langit sore Aethelgard yang mulai menggelap.
"RIEZKY!" teriak Valerius sia-sia, suaranya tenggelam oleh dentuman sonik yang dihasilkan dari keberangkatan muridnya yang kini telah menjadi badai hidup.
Riezky melesat bagaikan meteor yang membelah cakrawala. Jarak ribuan mil yang seharusnya ditempuh selama satu bulan penuh dengan kapal dan kuda, ia libas hanya dalam waktu satu jam. Tubuhnya bukan lagi sekadar raga, melainkan gumpalan energi murni yang membara, membelah awan dan meninggalkan jejak petir yang memanjang di langit.
Begitu koordinat di peta Valerius tercapai, Riezky tidak mendarat dengan perlahan. Ia menghantam tanah dengan kekuatan dahsyat—sebuah ledakan sonik yang membuat bumi bergetar hebat.
BOOM!
Debu dan tanah kering beterbangan. Saat asap mulai menipis, terlihat kawah besar yang cembung ke dalam, bekas pendaratan sang Pelindung Aethelgard yang sedang murka. Riezky berdiri di tengah kawah itu, napasnya memburu, uap panas keluar dari pori-pori kulitnya.
Ia melangkah keluar dari kawah, menuju pusat reruntuhan di mana "Patung Besi" itu seharusnya berada. Namun, setiap langkah yang ia ambil terasa berat. Bukan karena gravitasi, melainkan karena memori yang tiba-tiba menyerang batinnya secara paksa.
Seketika, pandangannya kabur. Di antara puing-puing kastil yang menghitam, sebuah penglihatan masa lalu muncul di depan matanya:
Di sana, di tengah badai api yang sama, ia melihat seorang pria gagah berambut gelap—Thomas Ixevon—dan seorang wanita cantik dengan mata yang sama dengannya—Rebecca. Mereka berdua berdiri bersisian, saling menopang satu sama lain dengan tubuh yang penuh luka. Di hadapan mereka, berdiri sosok tinggi berjubah gelap yang memancarkan aura kehampaan yang mencekam.
"Malakor..." bisik Thomas dalam penglihatan itu, suaranya penuh amarah dan luka.
Riezky menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bayangan itu menghilang, namun rasa sakitnya tertinggal. Jalannya mulai sempoyongan. Penerbangan satu jam dengan kecepatan cahaya tadi benar-benar menguras seluruh cadangan energinya. Otot-ototnya mulai berdenyut protes, dan pandangannya sedikit berputar.
"Ibu... Sabrina..." gumam Riezky parau, berusaha menyeret kakinya di atas tanah tandus yang kini terasa sangat panas di bawah telapak kakinya.
Ia kini berada di gerbang istana yang sudah runtuh. Di depannya, di balik kabut debu yang pekat, siluet raksasa dari Patung Besi mulai terlihat—dingin, kaku, namun memancarkan aura kehidupan yang sangat ganjil.
Beberapa meter dari patung besi itu, Riezky hanya menatap, sebelum akhirnya sebuah tepuk tangan yang bergema di ruang bawah tanah mengisi keheningan ruangan itu.
"Bertahun-tahun aku mencarimu, ternyata kau, yang akan mengakhiri hidup keluargaku?" ucap seseorang yang menggunakan jubah coklat, melangkah keluar dari kegelapan pilar.
"Dimana ibuku dan Sabrina?" tanya Riezky, nadanya gemetar disertai segukan yang menyesakkan dada.
"Ah, mereka aman, saangat aman..." ucap pria itu sembari mengeluarkan dua buah batu yang berwarna oranye bercahaya.
Riezky yang pikirannya sempat kosong seketika menyadari kenyataan pahit itu. Kedua orang yang ia cintai telah berubah menjadi batu; entah jiwa, raga, atau keduanya telah terperangkap dalam benda mati tersebut.
"KAU!" teriak Riezky sembari berlari menerjang.
Namun, sebelum langkah kelimanya dilakukan, sebuah tekanan sihir yang tak terlihat menghantam dadanya. Riezky terpental ke belakang dengan sangat keras, menghantam Patung Besi raksasa itu.
KRIEEET—TRANG!
Suara gesekan besi yang memilukan telinga keluar dari patung itu. Sentuhan Riezky—sang pewaris darah Ixevon—menjadi kunci yang mematikan. Besi-besi yang selama ini menjadi penjara itu retak seketika, dan PRAK!, semuanya hancur berkeping-keping.
Dari balik reruntuhan logam itu, muncullah sosok yang menjadi mimpi buruk sejarah dunia: Malakor. Pria yang telah membunuh Thomas dan Rebecca, serta menghancurkan seluruh Kerajaan Ixevon.
"Ayah..." ucap pria berjubah coklat tadi, berlutut dengan khidmat.
"Sudah berapa lama..." ucap Malakor, suaranya berat dan dingin, seolah datang dari dasar jurang terdalam.
"Cukup lama sampai kau harus melihatku sedewasa ini," jawab anaknya yang berjubah itu.
Malakor tidak langsung membalas. Matanya yang tajam melihat ke bawah, di mana Riezky terkapar kesakitan karena hantaman dan benturan keras tadi.
"Kau kah..." gumam Malakor pelan.
Dengan satu gerakan tangan yang malas, Malakor mengangkat tubuh Riezky ke udara menggunakan kekuatan telekinetik. Ia mengobservasi wajah pemuda itu, mencari kemiripan dengan musuh lamanya, Thomas Ixevon.
Tiba-tiba, dengan satu sentikan jari yang santai, sebuah ledakan aura sihir berwarna merah pekat menghantam Riezky.
BOOM!
Riezky terlempar ke atas, menembus langit-langit ruangan bawah tanah yang tebal. Tubuhnya melesat keluar ke permukaan tanah yang tandus sebelum akhirnya berhenti setelah menghantam sebuah pilar batu yang sudah setengah rubuh.
Riezky tergeletak di antara debu dan reruntuhan, darah menetes dari pelipisnya. Ia bisa merasakan tanah di bawahnya bergetar hebat saat Malakor dan putranya mulai melangkah naik ke permukaan untuk menyelesaikan apa yang dimulai belasan tahun lalu.