NovelToon NovelToon
Adikku Sayang Adikku Malang

Adikku Sayang Adikku Malang

Status: tamat
Genre:Fanfic / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:624.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: DN YM

"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."

Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.

Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.

Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.

Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?

Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Epidode 33 ~ Mimpi Buruk

...🍀🍀🍀...

Waktu terus berputar di keheningan malam. Saat waktu menunjukan pukul dini hari, tiba-tiba Ammar terbangun dari tidurnya. Ammar terkejut saat melihat Dhina sudah tidak ada di tempat tidurnya. Tidak hanya Dhina, kedua adik laki-lakinya pun juga tidak ada di dalam kamar itu. Hanya ada Ammar yang baru saja terbangun.

Ammar panik dan cemas, lalu Ammar langsung menghubungi Sadha ataupun Dhana secara bergantian. Namun...

"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan."

Hanya suara operator yang ada di dalam ponsel Ammar saat menghubungi kedua adiknya itu. Ammar mulai panik dan pikirannya kacau. Lalu Ammar mencari ketiga adiknya keluar hingga ke lantai dasar rumah sakit.

"Pergi ke mana mereka semua? Kenapa tidak ada yang meminta izin padaku?"

Ammar pun meracau saat berjalan cepat seraya menelusuri setiap lantai rumah sakit. Sudah semua lantai ia telusuri namun tetap sama, Ammar tidak menemukan ketiga adiknya. Lalu Ammar bergegas menuju lantai dasar dan mencari ke setiap sisi. Saat Ammar hendak mencari mereka di lobi, tiba-tiba Ammar melihat Pak Aidi, Bu Aini, Sadha dan Dhana yang sedang berdiri di depan UGD.

"Ayah, Ibu, Sadha, Dhana... sedang apa mereka di depan UGD? Tapi di mana Adek? Kenapa Adek tidak ada bersama mereka?"

Tanpa berpikir panjang, Ammar pun langsung berjalan untuk menghampiri keluarganya itu dan di sana juga sudah ada Dokter Ronald dan Ibel. Saat Ammar mendekati mereka, ia melihat semua keluarganya sedang menangis. Lalu dengan langkah yang berat, Ammar mendekati Pak Aidi dan Bu Aini.

"Ayah, Ibu... kenapa kalian ada di sini? Ini masih dini hari, bukannya Ayah dan Ibu akan datang nanti pagi?" tanya Ammar yang terduduk di bawah seraya melihat ke orang tuanya.

Pak Aidi dan Bu Aini hanya diam dan menangis saat ditanya oleh Ammar. Merasa tidak puas dengan hal itu, Ammar menghampiri Sadha dan Dhana yang juga sedang menangis.

"Sadha, Dhana... kalian kenapa? Sedang apa kalian di sini? Adek di mana? Adek di mana, Sadha? Adek di mana, Dhana?" tanya Ammar dengan nada desakan pada Sadha dan Dhana.

Sadha dan Dhana juga tidak memberikan jawaban apa pun pada Ammar. Mereka berdua hanya diam dan terus menangis. Ammar mulai kesal dengan semua keluarganya karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Lalu Ammar pun menghampiri Ibel dan berharap Ibel akan menjawab pertanyaannya.

"Bella... Adek di mana? Tolong jawab aku Bel, Adek di mana? Sedang apa kalian semua di sini?" tanya Ammar seraya memegang bahu Ibel dengan keringat yang sudah bercucuran.

"Kamu yang sabar ya, Mas. Kamu harus kuat menerima semua ini." ujar Ibel yang memegang tangan Ammar dan matanya sembap.

Itulah kata-kata yang keluar dari mulut dokter cantik itu dan kata-kata itu membuat Ammar tidak bisa berpikir secara jernih lagi. Lalu Ammar menghampiri Dokter Ronald dengan tangannya yang sudah gemetar.

"Dokter... tolong jawab pertanyaan saya, Adek di mana? Apa Dokter melihat Adek keluar dari kamarnya? Dokter dan semuanya sedang apa di sini? Tolong jawab saya, Dok." tanya Ammar yang ekspresinya sudah tidak bisa dibaca lagi.

"Kamu harus tenang, Am. Kamu harus sabar." jawab Dokter Ronald yang hampir sama dengan jawaban Ibel.

"Tenang? Sabar? Untuk apa Dokter? Kenapa saya harus tenang dan sabar? Kenapa?" teriak Ammar yang sudah mulai emosi seraya memegang kedua bahu Dokter Ronald.

"Ayo ikut saya, Am." ujar Dokter Ronald yang berusaha tenang seraya merangkul Ammar.

Dokter Ronald membawa Ammar masuk ke dalam ruangan UGD. Lalu Dokter Ronald mengajaknya ke salah satu tempat tidur pasien yang sudah di tutupi oleh kain putih.

Ammar tidak bisa lagi mengontrol kesedihannya saat berada di samping jenazah pasien yang ditutupi itu. Lalu dengan suara yang tertahan, Ammar berusaha bertanya lagi pada Dokter Ronald.

"Apa maksud Dokter? Kenapa Dokter membawa saya ke sini? Siapa yang ada dibalik kain putih ini?" tanya Ammar yang terbata-bata karena suaranya tertahan.

"Silakan kamu lihat sendiri, Am." jawab Dokter Ronald dan membuat emosi Ammar menjadi tidak terkendali.

Dengan dada yang terasa sangat sesak, Ammar berusaha membuka perlahan kain putih yang menutupi wajah seseorang itu. Perlahan tapi pasti, Ammar membuka kain putih itu. Setelah Ammar berhasil membuka kain putih yang menutupi wajah pasien itu, betapa terkejutnya Ammar saat melihat wajah pasien yang sangat ia kenali. Tangis Ammar pecah dan suaranya memenuhi seluruh sudut ruangan saat melihat wajah pasien yang ternyata itu adalah adik perempuannya sendiri, yaitu Dhina.

"Tidak..."

Suara Ammar seakan menggema saat melihat wajah sang adik yang sudah terbujur kaku dan pucat di depannya.

"Tidak, tidak, ini bukan Adek. Dokter ini semua bohong bukan? Kalian sedang mempermainkan saya?" tanya Ammar seraya beranjak dari sisi Dhina dan menarik kerah baju Dokter Ronald.

"Saya tidak bohong, Am. Itu benar-benar Dhina, Adek kamu." jawab Dokter Ronald seraya memegang tangan Ammar yang menarik kerah bajunya.

"Tidak, Adek tidak mungkin meninggal. Tadi dia masih bersama saya Dokter. Tidak mungkin..." ujar Ammar yang berteriak sambil mengusap kepalanya.

Dokter Ronald tidak bisa mengatakan apa-apa pada Ammar karena emosinya saat ini sedang tidak stabil. Dokter Ronald pun memilih keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apapun pada Ammar.

Kini hanya Ammar yang ada di dalam ruangan UGD dan tersimpuh disisi jenazah adik perempuannya. Ammar menangis terisak sambil mengusap dan mencium wajah Dhina yang sangat pucat. Ammar merasa seperti mimpi karena tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

"Adek... Adek bangun ya. Jangan bercanda seperti ini, Mas tidak bisa melihat Adek seperti ini. Tolong katakan kalau semua ini hanya mimpi, Dek."

Tangis Ammar pecah saat mengecup kening adik perempuannya.

"Adek bangun, Dek. Adek, bangun... bangun, Dek. Jangan tinggalkan Mas. Adek bangun."

Ammar tidak percaya dengan semua ini. Ia terus berusaha membangunkan sang adik dan menggoyangkan tubuh Dhina yang susah kaku. Rasa sesak pun memenuhi dadanya. Isak tangis seakan menjadi saksi, betapa terpukul hati Ammar saat ini.

"Dhina..." pekik Ammar yang menggema.

***

Ammar pun tersentak dan terbangun dari mimpi buruknya itu dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Saat Ammar terbangun, ia langsung melihat Dhina yang masih tertidur pulas di tempat tidur. Begitu juga dengan Sadha dan Dhana yang masih tertidur pulas di atas kasur lantai. Lalu Ammar melihat ke arah jam yang sudah menunjukan pukul lima pagi, dan artinya waktu subuh sudah masuk sejak tadi.

Sudah subuh. Ya Allah... kenapa aku mimpi seperti tadi? Bahkan mimpi itu terasa sangat nyata. Gumam Ammar dalam hati.

Ammar pun menghela nafas panjang setelah memastikan kalau Dhina ternyata baik-baik saja. Keringat dingin di sekujur tubuh Ammar sudah membasahi seluruh bajunya. Ammar pun memilih pergi dari kamar rawat menuju ruangannya yang ada di lantai dasar untuk mandi dan mengganti baju. Di sepanjang perjalanan menuju ruangannya, Ammar hanya diam dan melamun karena teringat dengan mimpi buruknya tadi.

Apa pertanda dari mimpi itu? Kenapa mimpi itu seperti nyata? Aku benar-benar melihat Adek yang sudah terbujur kaku di hadapanku. Aku mengusap wajahnya yang sudah dingin seperti es. Tenanglah Ammar... Adek baik-baik saja dan dia masih tidur saat ini. Itu hanya mimpi. Mungkin karena aku lupa membaca do'a saat sebelum tidur, jadinya seperti ini. Gumam Ammar dalam hati.

Ammar pun terus berjalan menuju ruangannya dengan ekspresi yang lesu dan tidak bersemangat. Saat Ammar berjalan menuju ruangannya, dari arah lain Ibel yang sedang berjalan pun melihat Ammar. Ibel melihat Ammar yang begitu lesu sehingga muncul niat di hati Ibel untuk menghampiri laki-laki itu.

"Mas Ammar..." panggil Ibel yang berjalan menuju Ammar.

"Ibel... kamu masih di sini? Jam dinas kamu belum selesai?" jawab Ammar yang mengangkat kepalanya saat dipanggil Ibel.

"Iya, aku masih di sini. Jam dinasku sudah selesai, Mas. Ini aku ingin ke ruangan dan bersiap untuk pulang. Lalu aku melihat kamu, makanya aku ke sini." jelas Ibel pada Ammar dengan semangat.

"Oh, begitu." jaaab Ammar dengan wajah lesu dan membuat Ibel heran dengan sikap Ammar.

"Mas kenapa? Semua baik-baik saja 'kan Mas? Baju Mas kenapa basah seperti itu?" tanya Ibel bertubi-tubi pada Ammar dan melihat baju Ammar yang basah.

"Tidak apa-apa, Bel. Semua baik-baik saja. Baju ini basah karena aku berkeringat saat tidur dan sekarang aku ingin mandi dulu. Kamu jangan lupa istirahat, jangan terlalu capek. Aku permisi ya." jawab Ammar pada Ibel lalu langsung pergi ke ruangannya.

Ibel merasa heran dengan sikap Ammar yang lesu, tidak bersemangat, bajunya yang basah karena keringat, dan sikap Ammar yang tiba-tiba perhatian dengannya.

"Mas Ammar kenapa ya? Sikapnya aneh sekali."

Ibel yang heran pun tampak berpikir setelah melihat sikap Ammar.

"Mungkin dia terlalu lelah karena mengurus Dhina."

Melihat Ammar yang sudah masuk ruangan, lalu Ibel pun ikut beranjak dari posisinya dan berjalan menuju ruangannya untuk bersiap-siap pulang. Sementara Ammar langsung memilih mandi agar bisa segera shalat dan hatinya bisa lebih tenang.

***

Di kamar rawat, Dhina pun terbangun saat mendengar alarm ponsel Sadha yang sejak tadi terus berbunyi. Melihat ponsel Sadha yang berbunyi dimeja sofa, membuat Dhina terpaksa membangunkan Sadha yang masih tertidur pulas bersama Dhana.

"Mas Sadha... Mas... bangun!!! Alarm ponsel Mas berbunyi terus tuh. Mas... bangun!" ujar Dhina yang berusaha membangunkan Sadha seraya mencolek Sadha dari atas tempat tidur.

"Iya, Dek. Mas masih mengantuk. Adek kenapa? Apa adek butuh sesuatu?" tanya Sadha yang masih setengah sadar dari tidurnya.

"Tidak, Mas. Alarm ponsel Mas Sadha itu, berbunyi terus sejak tadi." jawab Dhina yang sudah terduduk di atas tempat tidurnya.

"Alarm? Ya ampun, Mas ada meeting pagi ini Dek. Mas lupa, sepertinya Mas harus ke kantor sekarang." ujar Sadha yang terperanjat saat teringat kalau alarm itu sengaja dibuat untuk membangunkan dirinya karena pagi ini ia ada meeting.

"Ya ampun, kenapa Mas Sadha tidak bilang. Lebih baik Mas mandi dulu biar segar dan meetingnya lancar." ucap Dhina yang ikut panik saat melihat Sadha panik.

"Tidak akan sempat, Dek. Jarak kantor dari sini tidak terlalu jauh, kalau Mas pulang dulu jaraknya akan lebih jauh." jawab Sadha yang sedang merapihkan pakaian dan rambutnya yang kusut.

"Lalu Mas mau ke kantor dengan baju batik itu? Mas yakin? Meeting dengan baju batik?" tanya Dhina dan membuat Sadha terdiam dan berpikir.

"Benar juga ya, Dek. Lalu bagaimana? Mas bisa turun jabatan kalau seperti ini, Dek." jawab Sadha yang lanjut merapihkan rambutnya.

Dhina pun ikut kebingungan dengan pernyataan Sadha. Sementara mereka semua tidak ada yang membawa pakaian ganti. Saat Dhina sedang berusaha mencari jalan keluar untuk mas tengahnya itu, tiba-tiba Ammar yang sudah selesai mandi dan salat pun datang. Ammar yang melihat tingkah Sadha yang sedang panik pun menghampiri Sadha.

"Sadha... kamu kenapa panik seperti itu? Adek sudah bangun?" tanya Ammar pada kedua adiknya yang sudah bangun.

"Sudah, Mas. Adek baru saja bangun." jawab Dhina yang melihat Ammar baru masuk dan bertanya padanya.

"Sadha ada jadwal meeting pagi ini, Mas. Jadi Sadha harus pergi ke kantor." jawab Sadha yang masih membereskan rambutnya.

"Kamu tidak mandi dulu? Kamu mau ke kantor pakai baju itu? Pakai batik? Kamu yakin Sadha?" tanya Ammar yang bertubi-tubi pada Sadha.

"Yakin ataupun tidak, Sadha harus yakin Mas. Karena kalau Sadha pulang dulu, waktunya tidak akan sempat. Ya, terpaksa Mas." jawab Sadha yang sudah selesai merapihkan rambutnya.

"Ya ampun, kamu seperti tidak ada keluarga saja di sini. Mas ada ruangan pribadi di rumah sakit ini dan kamu tau itu bukan, di sana sudah lengkap ada kamar mandi dan ada pakaian Mas. Kamu pergi ke ruangan Mas, mandi dan cari baju yang sesuai dengan ukuran kamu. Di sana juga ada jas hitam milik Mas, kamu pakai saja. Masa kamu mau ke kantor pakai batik." ceroteh Ammar pada Sadha yang ceroboh.

"Serius Mas?" tanya Sadha dengan matanya yang terbuka lebar sambil melihat ke arah Ammar.

"Iya, serius. Lebih baik kamu pergi sekarang. Nanti kalau telat kamu bisa turun jabatan." jawab Ammar sambil mendorong Sadha agar segera pergi.

"Kalau begitu habis bersiap, Sadha langsung pergi ya Mas. Adek, Mas pergi dulu ya. Assalamualaikum." ujar Sadha yang sedang mengambil ponselnya lalu pergi.

"Wa'alaikumsalam." jawab Ammar dan Dhina sambil menggelengkan kepalanya.

Ammar dan Dhina hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Sadha yang ceroboh. Setelah Sadha pergi, Ammar pun mencoba memeriksa kondisi Dhina untuk sementara sebelum Dokter Ronald datang memeriksanya.

"Adek... Mas coba periksa dulu ya." ujar Ammar seraya mengarahkan stetoskop ke arah Dhina.

"Iya, Mas." jawab Dhina yang merebahkan kembali tubuhnya di tempat tidur.

"Apa yang Adek rasakan sekarang? Apa Adek merasakan pusing? Atau kepala Adek terasa berat?" tanya Ammar seraya memeriksa Dhina.

"Adek tidak merasakan apa-apa, Mas." jawab Dhina sambil melihat ke arah Ammar.

"Kondisi Adek sudah membaik sebenarnya, tapi itu menurut Mas. Sebaiknya kita tunggu saja Dokter Ronald datang untuk memeriksa kondisi Adek ya." ujar Ammar seraya membantu Dhina duduk lagi.

Saat Ammar membantu Dhina untuk duduk, tanpa sengaja Dhina mencium aroma harum tubuh Ammar. Lalu Dhina juga melihat baju Ammar yang sudah terganti. Lalu...

"Mas... Mas sudah mandi? Tubuh Mas sudah harum dan baju Mas juga sudah diganti. Tidak biasanya Mas mandi pagi seperti ini." tanya Dhina yang melihat Ammar dengan heran.

"Iya, Sayang. Mas sudah mandi. Saat tidur Mas berkeringat, jadinya Mas putuskan untuk mandi biar segar." jawab Ammar seraya mencubit pipi Dhina.

"Mas tidak apa-apa 'kan? Mas sedang memikirkan sesuatu ya? Mas bilang, kalau Mas tidur berkeringat padahal di sini kita pakai AC. Kenapa Mas bisa berkeringat?" tanya Dhina yang menatap Ammar dengan tatapan selidik.

Ammar hanya terdiam saat mendengar pertanyaan adik perempuannya. Melihat Ammar yang terdiam membuat Dhina yakin kalau ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Ammar. Lalu dengan perlahan Dhina berusaha menenangkan Ammar.

"Mas... bukannya Mas pernah bilang sama Adek untuk saling terbuka. Sekarang Adek meminta itu dari Mas. Mas sedang memikirkan apa?" tanya Dhina yang meraih tangan Ammar.

"Mas... Mas mimpi buruk, Dek." jawab Ammar yang mengangkat kepalanya dan menatap Dhina.

"Memang mas mimpi apa?" tanya Dhina yang semakin penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ammar.

"Mas mimpi adek meninggal." jawab Ammar yang menggenggam erat tangan sang adik.

Dhina terperanjat saat mendengar apa yang dikatakan oleh mas sulungnya. Disatu sisi, Dhina terkejut dan takut kalau mimpi Ammar suatu saat akan benar-benar terjadi. Apalagi saat ini ia sedang sakit parah. Namun di sisi lain, Dhina juga harus tenang agar bisa menenangkan Ammar yang saat ini sedang gelisah karena mimpi itu.

"Mas... Adek tidak apa-apa. Adek masih di sini bersama Mas dan Mas Dhana. Itu hanya mimpi Mas, mimpi itu bunga tidur. Jadi Mas tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting ya." ujar Dhina seraya mengelus wajah Ammar.

"Tapi bagaimana kalau itu pertanda Dek? Mas tidak akan sanggup melihat Adek terbujur kaku seperti yang Mas lihat di dalam mimpi. Mas tidak sanggup." tutur Ammar yang beranjak dari duduknya dan pindah duduk ke atas tempat tidur Dhina.

"Mas tidak boleh berpikiran seperti itu. Itu sama saja Mas mendahului Allah. Hidup mati seseorang itu ada ditangan Allah, Mas. Jadi Mas tidak perlu memikirkan itu ya. Adek janji akan baik-baik saja. Adek janji, Mas." ujar Dhina yang menggenggam tangan Ammar untuk meyakinkan Ammar.

"Adek janji sama Mas? Tidak akan terjadi sesuatu? Adek janji akan tetap bertahan apa pun keadaannya? Adek janji?" tanya Ammar bertubi-tubi pada Dhina.

"InsyaAllah, Mas. Adek janji! Tidak hanya sama Mas, Adek janji sama Ayah, Ibu, Mas Sadha dan Mas Dhana. Sekarang Mas jangan sedih lagi ya." jawab Dhina yang berusaha menenangkan Ammar sambil memeluk Ammar.

"Mas pegang kata-kata Adek. Mas sayang sekali sama Adek. Jangan pernah tinggalkan Mas dan keluarga kita ya." ujar Ammar seraya terus mengecup kening adik perempuannya itu.

"Iya, Mas." balas Dhina seraya memeluk erat Ammar.

Dhina berhasil membuat Ammar tenang saat ini. Mimpi buruk yang menghampiri Ammar tadi pagi memang sangat mengganggu pikirannya. Tapi karena Dhina, kini Ammar sudah merasa lebih tenang dan memilih untuk tidak memikirkan mimpi itu lagi.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

1
Fitri03
terharu banget bacanya sampe menguras air mata
Fitri03
pas dhina diagnosa terkena penyakit kanker darah disitu aku nangis banget bacanya sampe Dhana akhirnya menikah dengar orang benar2 mirip sama adeknya,benar2 terharu bacanya dan menguras air mata.makasih yaa Thor udah bikin cerita sebagus ini kalau bisa bikin season 2nya tentang Dhana dan mala.
🌹Dina Yomaliana🌹: Alhamdulillah makasih banyak ya kak udah mau baca novel aku🥹🩷🙏 btw lanjutannya ada kok, di sebelah silakan berkunjung juga ya semoga suka☺️☺️
total 1 replies
Asih Asih
jangan di kasih penyakit terus dong Thor,kasih kebahagian bersama imam pliss
🌹Dina Yomaliana🌹
Sebagai penulis dari novel ini, saya berharap akan ada banyak orang yang menyukai alur ceritanya. Walaupun saya sadar, kalau cerita ini masih sangat banyak kesalahannya.
Dina Ima Tari
aduhh capek banget baca cerita ini tuh, rasanya gak berhenti mengalir, ini novel pertama yang aku ingin banget si tokoh utamanya hidup
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
Nadia Permata
berulang kali baca ini...
ttp aja nangis...
Erma Wahyuni
😭😭😭😭😭
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Erma Wahyuni
gimana ya kabar imam
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Rani Virjani
kenapa jg yg nungguin harus d bawah sih..sedangkan yg sakit berada d lantai atas🤦‍♀️🤦‍♀️
Li Permana
Mampir kak, 3 like untuk karyamu
Mommy Gyo
10;like hadir thor mampir
Ganezt Ganezho
wesss mantap mengandung bawang yg buanyaaakkk pokok e... top dach kk thor bkin certa nya
Yenz_Azzahra
Hadir disini.
tingglkn jejak dulu ya
Μғ⃝🦪тιαяα м͜͡¢͢🦇
Semangat Thor ceritanya sangat bagus😍, mampir juga di novel ku "Hijrahnya Gadis Pembunuh Bayaran" 💙💙
Martina Alfarizqi
semangat untuk karya barunya💪💪
Eva Santi Lubis
keren
Anun
Udah mampir dari my Maria
Yeni Eka
Disitu tulis Plak, eh aku yang meringis ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!