Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.34
Matahari pagi menyinari hutan di luar Kota Air Hitam, namun cahayanya tidak membawa kehangatan bagi Shen Yu.
Ia berdiri telanjang dada di tengah lapangan rumput terbuka. Keringat membasahi tubuhnya yang penuh bekas luka jahit. Di sisi kirinya, lengan hitam legam yang terbuat dari tulang dan logam memantulkan cahaya matahari dengan kilauan yang menyakitkan mata.
Lengan Tulang Roh.
Shen Yu mencoba mengepalkan tangan barunya.
Klik. Klak.
Suara segmen tulang yang saling mengunci terdengar renyah. Gerakannya masih terasa sedikit lambat, ada jeda sepersekian detik antara perintah otaknya dan respons mekanisme lengan itu.
"Masih kaku," gumam Shen Yu.
Tiba-tiba, Giok Retak di dadanya bergetar panas.
Aura hijau bercampur hitam merambat keluar dari Giok, mengalir melalui meridian dada, melewati bahu kiri, dan masuk ke dalam lengan tulang itu.
Shen Yu tersentak.
Di dalam benaknya, halaman Buku Harian Raja Iblis terbuka dengan sendirinya. Tulisan darah baru muncul di halaman kosong, seolah bereaksi terhadap esensi Laba-laba Besi yang kini menjadi bagian tubuh Shen Yu.
"Hoh? Kau menjahit tulang binatang ke tubuhmu sendiri? Selera yang bagus, Pewarisku. Manusia terlalu terikat pada bentuk asli mereka yang lemah. Jika kau ingin menjadi predator, kau harus membuang kemanusiaanmu sepotong demi sepotong.
Karena kau sekarang punya cakar, lupakan tinju manusia. Tinju itu tumpul. Cakar itu untuk merobek.
Teknik Bela Diri: Cakar Tulang Hantu (Ghost Bone Claw) Tingkat: Fana - Puncak (Bisa berevolusi).
Informasi teknik itu membanjiri otak Shen Yu. Bukan berupa gambar jurus yang indah, melainkan diagram aliran Qi yang brutal. Teknik ini mengajarkan cara memadatkan Qi menjadi "bilah tipis" di ujung jari, dan cara memutar persendian tangan ke sudut yang mustahil bagi manusia normal.
"Cakar Tulang Hantu..." Shen Yu menyeringai tipis. "Mari kita coba."
Ia memasang kuda-kuda.
Alih-alih mengepal seperti petinju, Shen Yu membuka jari-jari tangan kirinya, menekuknya sedikit menyerupai kaki laba-laba. Ia mengalirkan Qi-nya.
Tulang lengan itu mendesing pelan. Saluran Qi alami dari Laba-laba Besi di dalam lengan itu menyala samar berwarna ungu.
Di depan Shen Yu, berdiri sebuah batu setinggi manusia.
Sreett!
Shen Yu mengayunkan tangan kirinya.
Tidak ada suara ledakan seperti Tinju Penghancur Batu. Yang ada hanya suara desisan angin yang sangat tajam.
Lima garis cakar melintas di permukaan batu.
Hening.
Detik berikutnya, batu itu terbelah menjadi enam bagian potongan rapi, lalu runtuh ke tanah. Permukaan potongannya halus seperti dipotong rapi, namun berasap dan mendesis karena korosi.
"Qi Logam Korosif," analisis Shen Yu. "Sisa racun laba-laba itu menyatu dengan elemen logam di tulang ini. Tidak hanya memotong, tapi juga membusukkan pertahanan lawan."
Shen Yu menatap tangannya. Ia memutar pergelangan tangannya 360 derajat—sesuatu yang mustahil dilakukan tangan daging.
"Ini bukan lagi tangan," bisiknya.
Sore Hari.
Shen Yu terus berlatih tanpa henti.
Tebas. Tusuk. Cengkeram.
Ia melatih gerakan "Jarum Hantu", di mana ia menyatukan kelima jari tulangnya menjadi satu titik tusuk seperti tombak, lalu melontarkannya dengan kecepatan penuh.
Pohon-pohon di sekitarnya menjadi korban. Batang pohon setebal pelukan orang dewasa berlubang tembus dalam satu serangan.
Su Ling duduk di kejauhan di atas akar pohon, mendengarkan setiap suara kehancuran itu.
"Kau terdengar berbeda," komentar Su Ling saat Shen Yu beristirahat minum air.
"Berbeda bagaimana?" tanya Shen Yu, mengelap keringat dengan tangan kanannya.
"Dulu, langkah dan pukulanmu berat. Seperti batu yang jatuh," jelas Su Ling. "Sekarang... gerakanmu lebih tajam. Lebih sunyi. Dan ada suara 'klik' kecil setiap kali kau bergerak yang membuat bulu kudukku berdiri. Kau terdengar seperti... mesin pembunuh."
Shen Yu menatap tangan kirinya. "Apakah itu membuatmu takut?"
Su Ling menggeleng. Ia tersenyum, meski matanya tertutup kain. "Tidak. Karena mesin itu milikku."
Shen Yu tersenyum tipis. "Benar. Milikmu."
Tiba-tiba, telinga Su Ling berkedut. Ia menoleh ke arah jalan setapak di bawah bukit.
"Ada orang datang," bisik Su Ling. "Langkah kaki berat. Membawa beban logam yang sangat banyak. Dan... suara napasnya aneh. Seperti orang yang menahan kegembiraan gila."
Shen Yu segera waspada. Ia menarik jubahnya untuk menutupi lengan tulangnya, kembali terlihat seperti pengembara biasa.
Dari balik tikungan jalan, muncul seorang pemuda.
Penampilannya sangat mencolok. Ia mengenakan jubah hitam lusuh yang penuh tambalan. Rambutnya diikat asal-asalan. Yang paling aneh adalah apa yang ia bawa.
Di punggungnya, terikat sebuah Peti Mati Kayu seukuran manusia.
Namun, Shen Yu (melalui Giok Retak) bisa merasakan bahwa peti mati itu bukan berisi mayat. Peti itu memancarkan aura tajam yang menusuk kulit dari jarak sepuluh meter.
Itu berisi senjata. Banyak senjata.
Pemuda itu berhenti saat melihat Shen Yu dan Su Ling. Matanya yang tajam dan liar menyapu mereka, lalu berhenti di bahu kiri Shen Yu.
Hidung pemuda itu kembang kempis, mengendus udara.
"Bau darah..." gumam pemuda itu sambil menyeringai lebar. "Dan bau besi yang sangat, sangat nikmat."
Ia menurunkan peti matinya ke tanah dengan suara BUM yang berat.
"Hei, Saudara Buntung!" panggilnya lantang. "Kau terlihat kuat. Namaku Ye Qing. Aku sedang mencari jalan ke Makam Pedang Ribuan Isak. Apa kau tahu arahnya?"
Shen Yu menyipitkan mata. Ye Qing? Makam Pedang?
Ia pernah mendengar rumor itu di kota. Makam Pedang adalah reruntuhan kuno yang baru saja terbuka segelnya akibat gempa. Konon, di sana terdapat ribuan pedang peninggalan perang zaman dulu.
"Kami tidak tahu," jawab Shen Yu dingin. "Kami hanya lewat."
"Bohong," Ye Qing tertawa, menepuk peti matinya. "Pedang-pedangku bergetar. Mereka bilang ada 'saudara' mereka yang bersembunyi di balik jubahmu. Lenganmu itu... itu senjata, kan?"
Mata Shen Yu berkilat berbahaya. Orang ini terlalu peka.
"Kalau iya, kenapa?" tantang Shen Yu.
Ye Qing menjilat bibirnya. Tangannya menyentuh tutup peti mati.
"Kalau begitu... mari kita tes tajam mana: Tangan tulangmu, atau Pedang Gila-ku!"