Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Turnamen Kota Linyi
Langkah kaki Yan Bingchen yang mantap tiba-tiba terhenti di depan sebuah papan pengumuman besar yang terbuat dari kayu jati tua di pusat alun-alun kota.
Kerumunan orang tampak berdesakan, namun entah mengapa, aura dingin yang tak sengaja terpancar dari tubuh Yan Bingchen membuat orang-orang di sekitarnya menyingkir secara alami, memberi ruang baginya dan Mo Ran.
Di sana, sebuah poster dengan tinta emas yang mencolok memampang pengumuman besar:
TURNAMEN PENDEKAR CAKRAWALA - KOTA LINYI
Mencari Bakat Terpendam di Benua Tiandi
Hadiah Utama: > 100 Tael Emas dan Artefak Tingkat Emas: Pedang Langit Penembus Awan.
Mata Mo Ran hampir keluar dari rongganya saat membaca angka tersebut. Ia menarik-narik ujung jubah Yan Bingchen dengan sangat antusias.
"Seratus tael emas! Kak Bingchen, kau lihat itu?! Dengan uang sebanyak itu, kita bisa membeli satu penginapan ini, makan ayam betutu setiap jam, dan mungkin aku bisa pensiun dari dunia tipu-menipu!" seru Mo Ran dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang melihat tumpukan permen.
Yan Bingchen hanya menatap poster itu dengan datar. Satu matanya yang merah dan satunya yang biru tampak berkilat tertimpa cahaya matahari.
Ia merasakan getaran energi yang samar dari gambar artefak di poster itu.
Namun, keraguan segera menyelimuti hatinya. Baginya, turnamen berarti sorotan. Sorotan berarti identitasnya terancam terungkap ke Benua Binghuo.
"Aku tidak tertarik," ujar Yan Bingchen singkat sambil berbalik arah, melanjutkan langkahnya seolah-olah emas itu hanyalah kerikil jalanan.
"Apa?! Tunggu, Kak Bingchen! Jangan ragu-ragu begitu!" Mo Ran berlari menyalip dan merentangkan tangannya, menghalangi jalan Yan Bingchen. "Pikirkan masa depan kita! Maksudku ... pikirkan perutmu yang keroncongan itu! Kau pendekar hebat, kau bisa merobohkan orang-orang di sini hanya dengan menjentikkan jari!"
"Aku tidak ingin mencari perhatian, Mo Ran. Perhatian adalah racun bagi orang sepertiku," balas Yan Bingchen dengan suara rendah yang penuh penekanan.
Mo Ran tidak menyerah. Ia mulai mengeluarkan jurus andalannya: akting.
Ia duduk di tanah, memeluk kaki Yan Bingchen sambil merengek. "Kak Bingchen yang tampan, Kak Bingchen yang perkasa ... Tolonglah adikmu yang yatim piatu ini. Lihatlah tubuhku yang kurus kering ini, sudah berhari-hari aku hanya makan sisa roti hasil pemberian darimu. Jika kau ikut, aku bisa makan banyak ... Eh, maksudku, kau bisa makan banyak! Kita bisa hidup seperti raja!"
Yan Bingchen menghela napas panjang, merasa kepalanya mulai pening mendengar celotehan pemuda itu. "Aku malas. Turnamen itu hanya membuang-buang energi."
"Malas?! Ini bukan tentang malas, ini tentang takdir!" Mo Ran berdiri kembali, wajahnya tiba-tiba berubah sangat serius—setidaknya ia mencoba terlihat serius. "Dengar, Kak Bingchen. Kau datang ke Benua Tiandi untuk membuktikan sesuatu, bukan? Bagaimana kau bisa membuktikan kalau kau hebat jika kau bersembunyi di gang-gang gelap seperti tikus? Artefak tingkat emas itu bisa membantumu mengendalikan kekuatan es dan apimu yang tidak stabil itu. Kau mau meledak di tengah jalan karena emosi?"
Mendengar kata 'mengendalikan kekuatan', langkah Yan Bingchen kembali melambat. Itu adalah titik lemahnya.
Kekuatannya yang bertolak belakang memang masih sering bergejolak di dalam tubuhnya, dan artefak tingkat tinggi di benua ini dikenal memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan Qi.
Melihat ada celah, Mo Ran langsung menyerang lagi dengan argumen pamungkas. "Lagi pula, pendaftarannya gratis hari ini! Dan turnamennya baru diadakan tiga bulan lagi. Itu waktu yang cukup untukmu berlatih sambil aku ... mencari info tentang lawan-lawanmu. Ayo, Kak! Satu kali saja!"
Mo Ran mulai menggoyang-goyangkan lengan Yan Bingchen layaknya seorang adik kecil yang merayu kakaknya. Tatapannya dibuat seiba mungkin.
Yan Bingchen menatap langit, lalu menatap Mo Ran yang masih memasang wajah memelas. Ada sesuatu dalam kegigihan pemuda tanpa kekuatan ini yang membuatnya luluh.
Mungkin karena selama ini tidak ada yang pernah mendorongnya untuk maju; orang tuanya hanya memintanya bersembunyi.
"Tiga bulan?" tanya Yan Bingchen memastikan.
"Iya! Tiga bulan! Cukup untuk membuat seluruh kota ini gemetar saat mendengar namamu!" seru Mo Ran dengan semangat api yang membara.
"Kau terlalu berlebihan Mo Ran. Aku tidak sekuat itu. Tapi ... baiklah. Aku akan mendaftar," ucap Yan Bingchen akhirnya.
"YESSS!" Mo Ran melompat kegirangan, melakukan tarian kecil yang aneh di tengah jalan. "Kau tidak akan menyesal, Kak Bingchen! Ayo, tempat pendaftarannya di sana, sebelum antreannya semakin panjang!"
Mo Ran menarik tangan Yan Bingchen menuju meja pendaftaran. Di sana, seorang petugas dengan wajah bosan memberikan selembar perkamen.
"Nama?" tanya petugas itu tanpa mendongak.
Yan Bingchen sempat ragu sejenak, namun kemudian ia menjawab dengan tegas. "Bingchen. Hanya Bingchen."
"Asal?"
"Pengembara."
Setelah urusan administrasi selesai, Yan Bingchen memegang kartu peserta kayu yang bertuliskan angka urutannya.
Ia menatap kartu itu dengan perasaan campur aduk. Tiga bulan dari sekarang, perjalanannya di Benua Tiandi akan benar-benar dimulai secara resmi.
"Nah, sekarang karena pendaftaran sudah beres ..." Mo Ran menyeringai lebar, merangkul pundak Yan Bingchen yang jauh lebih tinggi darinya. "Bagaimana kalau kita merayakan ini dengan mencari makanan yang bisa kita bayar dengan 'janji' emas masa depanmu?"
Yan Bingchen hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah teman barunya itu. "Kau benar-benar tidak tahu malu, Mo Ran."
"Itu adalah bakat alamiku, Kak!"