NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Sebuah Peringatan

Sinar senter Kades Darman menyorot tajam bilah golok di tangan Sukma.

Logam karatan itu memantulkan cahaya redup. Mengancam.

Siap menebas apa saja yang berani mendekati batas pekarangan rumah bata.

"Sukma." Suara Kades Darman berat. Mencoba menekan otoritas yang nyaris runtuh.

"Turunkan golok itu. Ningsih memang salah, tapi main senjata tajam begini malah bikin masalah tambah runyam. Kamu ini istri tentara, jangan main hakim sendiri."

Ningsih beringsut mundur. Berlindung di balik punggung suaminya, Prapto.

Lengan perempuan gempal itu masih meneteskan darah segar bekas gigitan Sigit.

Napasnya memburu menahan perih dan ketakutan setengah mati.

Nyalinya ciut melihat kilat membunuh di mata Sukma.

Sukma mendengus. Tangannya masih mencengkeram erat gagang kayu golok itu.

"Pak Kades mau jadi saksi?" Sukma menatap lurus, tak berkedip.

"Keluarga ini sudah dipisah mutlak sama Mas Trisno. Tapi perempuan ini berani menerobos masuk, mencuri makanan, dan bikin Wati pendarahan. Wati lagi hamil tua! Kalau dia keguguran, apa Pak Kades mau tanggung jawab?"

Kades Darman mati kutu. Keringat sebesar biji jagung meluncur di pelipisnya.

Di sudut teras, Joko menelan ludah. Otaknya berputar kilat menganalisis bencana ini.

Mas Trisno memang sudah pulang sebentar beberapa waktu lalu dan memutus hubungan rumah tangga ini secara sepihak.

Tapi masalah utamanya... surat rekomendasi untuk jabatan Carik di balai desa masih menggantung di tangan kakak sulungnya itu!

Kalau Sukma sampai mengadu yang tidak-tidak ke Koramil, tamat sudah ambisi Joko berseragam safari.

Joko menerjang maju. Menarik paksa bahu Ningsih dari belakang Prapto.

"Minta maaf sekarang!" bentak Joko beringas.

Ningsih melotot horor. "Lho? Mas Joko kok malah belain dia?! Tanganku digigit anak pungut ini!"

"Minta maaf atau kamu berurusan sama aku!" Joko tak peduli.

Prapto hanya diam menunduk. Laki-laki itu terlalu pengecut untuk ikut campur membela istrinya sendiri.

Dengan bibir gemetar dan air mata buaya, Ningsih bergumam tak jelas. Meminta maaf pada Sigit, Gito, dan Sinta sambil menahan isak.

Sukma mengayunkan lengannya ke udara.

Jleb!

Bilah golok itu menancap dalam di batang pohon mangga tua. Bergetar pelan tertiup angin malam.

Warga yang menonton bergerombol di balik pagar bambu serempak menahan napas.

"Ini peringatan terakhir." Sukma membersihkan kedua telapak tangannya seolah baru saja memegang kotoran.

"Besok-besok, bukan pohon mangga yang ku tebas."

Membalikkan badan, Sukma menggiring anak-anaknya masuk. Pintu depan ditutup rapat, mengunci sisa tontonan warga di luar sana.

Di ruang tengah, Wati terbaring lemah di atas dipan. Wajahnya pucat pasi menahan kram perut.

Baru saja Sukma mengambilkan air hangat, Lasmi menerobos masuk dari pintu belakang yang lupa dikunci. Nenek tua itu mengomel panjang pendek sambil menuding-nuding.

"Dasar pemalas! Hamil saja sok manja. Dulu aku hamil masih sanggup nyangkul di sawah seharian!" Lasmi melotot ke arah Wati.

"Gara-gara kamu, keluargaku jadi tontonan warga! Bikin malu saja bisanya!"

Sukma menyela cepat. Tangannya merapikan selimut Wati dengan gestur melindungi.

"Ibu jangan salah alamat. Yang bikin ulah itu Ningsih, mantu kesayangan Ibu. Wati ini butuh ke dokter kandungan besok pagi. Siapa yang mau bayar?"

Lasmi membuang muka. "Minta saja sama suamimu!"

"Oh, jadi urusan Ningsih yang mencelakai menantu ditekankan ke Mas Trisno?" Sukma menyeringai sinis.

"Biar ku tulis surat ke Koramil malam ini juga. Biar Mas Trisno tahu kelakuan Ibu membiarkan cucunya mati keguguran."

Lasmi gelagapan. Joko yang berdiri menempel di ambang pintu langsung memberi isyarat mata panik pada ibunya. Rekomendasi! Ingat masa depan cerah di balai desa!

Tangan keriput Lasmi merogoh kutang pudar miliknya. Menarik selembar uang sepuluh ribu rupiah yang lecek. Dilemparnya uang itu ke lantai plesteran semen dengan penuh amarah.

"Ambil! Jangan sebut-sebut nama Trisno lagi ke urusan ini!" Lasmi berbalik, menyeret Joko keluar dari rumah bata.

Di halaman luar, Lasmi menangis bombay sambil memukul dadanya sendiri.

"Joko... Ibu rela kehilangan uang demi masa depanmu. Kamu harus jadi Carik, Le! Biar wedokan sombong itu tahu rasa nanti!"

Joko mengangguk mantap. Matanya berbinar licik membayangkan seragam kebesarannya.

Di dalam kamar, Sukma memungut lembaran sepuluh ribu itu. Menggulungnya dan menjejalkannya ke telapak tangan Wati yang berkeringat dingin.

"Simpan. Jangan sampai suamimu tahu." Bisik Sukma tegas.

"Ini buat jaga-jaga biaya persalinanmu nanti. Uang dari keringatmu sendiri yang selama ini diperas mertuamu."

Wati menangis terisak. Memeluk punggung tangan Sukma erat-erat. Tak menyangka kakak ipar yang dulu sangat ia benci kini menjadi satu-satunya pelindung nyawanya.

Sinar matahari menerobos celah jendela nako.

Sukma membuka mata perlahan. Berat. Ada benda kenyal menindih pipinya.

Telapak kaki Syaiful.

Balita itu tidur melintang, mulutnya menganga membiarkan air liur menetes membasahi sarung bantal. Di sebelah kirinya, Sinta meringkuk memeluk lengan ibunya erat. Gito mendengkur halus di ujung kaki.

Dan Sigit... anak sulung itu tidur miring, menghadap punggung Sukma. Tangannya bertumpu pelan di pinggiran selimut ibunya. Sigit tidak lagi menjaga jarak apalagi memasang banteng kewaspadaan.

Sukma tersenyum. Dikecupnya telapak kaki Syaiful dengan gemas, membuat balita itu menggeliat pelan.

Aroma masakan menguar dari dapur setengah jam kemudian.

Tumis sawi putih dan telur dadar bumbu iris. Sederhana tapi aromanya bikin cacing di perut meronta kegirangan. Anak-anak itu berhamburan ke dapur dengan mata masih setengah tertutup.

"Ibu masak apa? Wangi banget!" Gito melongok ke atas wajan, berjinjit saking tak sabarnya.

"Mandi dulu. Terus sarapan," perintah Sukma sambil mematikan tungku.

"Habis ini kita mau ke kota kecamatan. Ibu mau sewa angkot. Kita ajak Bulik Wati ke Puskesmas, sekalian... Ibu mau ajak kalian foto di studio."

Semua pergerakan terhenti. Waktu seakan membeku di dapur berasap itu.

Sigit menatap ibunya curiga. "Foto? Buat apa buang-buang uang?"

"Bapakmu pasti kangen." Sukma menyendok nasi panas ke piring seng.

"Ibu mau kirim foto kalian ke asrama. Biar Bapak lihat kalian udah besar-besar. Biar Bapak tahu kalian sehat dan bersih, nggak seperti yang Nenek selalu tulis di surat."

Syaiful menarik ujung daster Sukma. Matanya yang bulat berkaca-kaca menatap sang ibu.

"Ibu... Bapak beneran sayang Syaiful? Bapak kan ndak pernah ajak main Syaiful."

Dada Sukma mencelos. Remuk redam. Anak sekecil ini sudah punya rasa tidak aman yang begitu besar akibat absennya figur ayah dan racun verbal dari keluarga mertua.

"Bapak sangat sayang kamu." Sukma berlutut. Menyamakan pandangan dengan balita tiga tahun itu.

"Bapak itu pahlawan. Dia tugas jauh buat jagain negara, jagain kita semua. Nanti kalau difoto, Syaiful senyum yang lebar ya? Biar Bapak lihat gigi susumu."

Syaiful mengangguk kuat-kuat. Senyumnya merekah cerah memamerkan deretan giginya yang rapi.

Sigit memalingkan wajah. Sibuk mengambil piring seng di rak piring. Ia berpura-pura tidak peduli, tapi telinganya memerah. Rona bahagia tak bisa disembunyikan dari anak sembilan tahun itu.

1
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
SENJA
pinter sukma 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!