NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 25 — Saksi Kecil Bersembunyi

Lemari itu berbau kayu tua dan kapur barus. Gelap. Sempit. Aluna menahan napas sejak pintu didorong perlahan dan celah cahaya terakhir menghilang. Usianya sepuluh tahun—cukup besar untuk memahami ketakutan, terlalu kecil untuk mengerti kejahatan.

Di luar, rumah berderak pelan. Jam dinding berdetak terlalu keras, seperti menghitung detik menuju sesuatu yang tak ingin datang. Aluna memeluk lututnya, menekan bros perak berbentuk kupu-kupu ke dada. Sayapnya dingin di kulit, hadiah ayah yang selalu membuatnya merasa aman. Malam ini, rasa aman itu runtuh.

Langkah kaki terdengar. Berat. Lebih dari satu. Suara orang dewasa yang berbisik—bukan bisikan lembut, melainkan nada tergesa yang mengandung perintah. Aluna mengenali satu suara. Marco. Pamannya. Suara yang biasa membawakannya permen kini terdengar asing, tajam, seolah dibungkus logam.

“Cepat,” kata Marco. “Jangan ribut.”

Aluna menutup telinga, tapi suara menembus sela jari. Ia melihat lewat celah lemari—sepotong ruang tamu, bayangan orang-orang, kilat pisau yang memantulkan lampu. Ayah berdiri di dekat meja, wajahnya pucat, kedua tangan terangkat. Ibu di belakangnya, menangis tertahan, seperti takut suara akan memicu sesuatu yang lebih buruk.

“Marco,” suara ayah bergetar. “Kita bisa bicara.”

“Sudah terlambat,” jawab Marco dingin.

Aluna menggigit lengan bajunya untuk menahan jerit. Dunia bergetar ketika benda berat jatuh. Lalu teriakan—satu, lalu terputus. Darah mengalir di lantai, merayap seperti bayangan hidup. Aluna menatap tanpa berkedip. Otaknya mencoba memutuskan hubungan antara apa yang dilihat dan apa yang seharusnya ada. Ini mimpi, pikirnya. Ini mimpi.

Tapi bau besi memenuhi udara. Nyata.

Ibu berteriak memanggil nama anak-anaknya. Nama Dimas. Nama Digo. Nama Aluna. Panggilan itu menusuk dada Aluna seperti paku. Ia ingin menjawab. Ingin keluar. Ingin berlari. Tubuhnya tidak bergerak.

Satu suara tembakan memecah malam—tok… tok… Dua dentum berurutan, cepat, kejam. Aluna menghitung tanpa sadar. Satu. Dua. Tangannya gemetar. Bros kupu-kupu jatuh dari genggaman, membentur lantai lemari dengan bunyi kecil—terlalu kecil untuk didengar orang dewasa, terlalu besar bagi hati seorang anak.

Aluna menahan napas. Air mata mengalir tanpa suara. Ia memeluk kepala, menekan diri ke dinding lemari. Kata-kata menumpuk di kepalanya, tak terurai: jangan lihat, jangan dengar, jangan mati.

Marco tertawa singkat. Bukan tawa gembira—tawa lega. “Selesai,” katanya. “Anak-anak?”

“Sudah,” jawab seseorang. “Dua dibawa.”

Aluna tidak mengerti. Dua apa? Dua siapa? Dimas dan Digo terlintas seperti kilat. Kakinya ingin bergerak, tapi ketakutan mengikat sendi-sendinya.

Langkah kaki mendekat ke lorong. Pintu kamar dibuka. Senter menyapu ruangan. Cahaya mendekat ke lemari. Aluna memejamkan mata. Jantungnya berdegup keras—ia yakin mereka bisa mendengarnya.

Pintu lemari berderit sedikit—tidak terbuka, hanya tersentuh. Seseorang mengumpat pelan. “Kosong,” kata suara itu. Pintu ditutup lagi. Langkah menjauh.

Waktu menjadi cair. Detik memanjang. Menit runtuh. Aluna tetap di sana bahkan setelah rumah kembali sunyi. Bahkan setelah hujan mulai turun. Bahkan ketika tubuhnya mati rasa.

Ia keluar saat fajar mengintip. Lantai dingin dan lengket. Ia menatap tubuh ayah dan ibu—diam, tak bergerak. Aluna berlutut, menyentuh tangan ibu yang dingin. Tidak ada jawaban. Tidak ada pelukan. Dunia berhenti.

Sesuatu di dalam kepala Aluna retak. Ia mulai menyanyi pelan, nyaris tak terdengar—lagu yang ibu nyanyikan dulu. “Kupu-kupu terbang, sayapnya tiga…” Suaranya pecah. Lirik berulang tanpa akhir. Setiap pengulangan menghapus sedikit lagi makna.

Ketika orang-orang datang—tetangga, polisi—Aluna tidak bereaksi. Ia hanya bernyanyi dan menepuk lantai, tok… tok…, meniru suara yang tak bisa ia lupakan. Bros kupu-kupu ditemukan di saku bajunya, sayapnya ternodai.

Hari-hari berikutnya terfragmentasi. Pertanyaan tanpa jawaban. Wajah-wajah asing. Kata-kata besar yang tidak ia pahami. Ia dibawa pergi, jauh dari rumah. Seseorang berkata “panti.” Seseorang berkata “aman.” Tidak ada yang bertanya pada Aluna apa yang ia lihat—atau mungkin mereka bertanya, tapi jawabannya terpecah menjadi lagu dan ketukan.

Nama-nama mulai muncul di dinding kamarnya. Dimas. Digo. Liana. Daniel. Marco. Ditulis berulang, seolah menahan mereka agar tidak menghilang. Dan satu kata besar yang memenuhi sudut-sudut: PEMBUNUH. Bukan sebagai tuduhan—sebagai jangkar. Jika kata itu ada, dunia masih punya bentuk.

Tahun-tahun berlalu, dan Aluna tumbuh tanpa benar-benar tumbuh. Ingatan tetap hidup seperti luka terbuka. Ia tidak gila—ia terluka terlalu dalam. Otaknya memilih jalan sendiri untuk bertahan: memecah, mengulang, menyembunyikan.

Di lemari gelap itu, seorang anak belajar bahwa bersembunyi bisa menyelamatkan hidup—namun juga mencuri kewarasan. Dan dari sana, kisah ini berdenyut: bukan dari darah yang tumpah, melainkan dari seorang saksi kecil yang membawa kebenaran dalam nyanyian yang patah.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!