Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Motor Ninja 2-tak hijau itu menderu halus, membelah kepadatan jalanan Jakarta yang mulai merayap padat. Di jok belakang, Saskia seolah tidak peduli dengan debu jalanan atau tatapan pengendara lain; ia melingkarkan lengannya di pinggang Sandi dengan begitu erat, seakan takut jika pegangannya mengendur sedikit saja, pemuda di depannya akan menguap ditiup angin. Sesekali, ia membenamkan wajahnya ke punggung bidang Sandi, menghirup aroma sabun batangan bercampur keringat tipis yang entah mengapa terasa begitu familiar dan menenangkan baginya.
Saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah di sebuah persimpangan besar, Sandi mengerem motornya perlahan. Ia melirik kaca spion, melihat helm Saskia yang bersandar di bahunya. "Sas?" panggil Sandi pelan, suaranya sedikit parau tertutup bising knalpot kendaraan lain.
Saskia sedikit memajukan kepalanya, dagunya kini bertumpu tepat di pundak Sandi, membuat jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. "Iya, sayang?" jawabnya dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan.
Sandi berdeham, mencoba mengusir kecanggungan yang tiba-tiba menyerang. "Lo... lo nggak merasa risih apa meluk gue terus begini? Badan gue kan bau matahari, Sas. Belum lagi asap knalpot dari tadi. Lo kan biasanya wangi parfum mahal," tanya Sandi, mencoba mencari logika di tengah situasi yang menurutnya tidak masuk akal ini.
Saskia tersenyum manis, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Nggak tahu kenapa, San, tapi aroma kamu itu bikin hatiku tenang. Mungkin karena memori otakku sudah merekamnya dari dulu. Sejak SD, saat kamu selalu perhatian, saat kamu pasangin tali sepatuku yang lepas, atau saat kamu pasang badan waktu aku diganggu anak-anak nakal... aku selalu merasa aman kalau ada kamu. Atau mungkin," Saskia menjeda kalimatnya, menatap lurus ke arah profil samping wajah Sandi, "aku memang sudah jatuh cinta sama kamu dari dulu banget, San."
Sandi tersentak. Kepalanya refleks menoleh ke samping, membuat ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan kaca helm Saskia. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Lo serius, Sas? Lo nggak punya kelainan kan? Maksud gue, lo masih bocah pas SD... masa iya lo sudah ngerasain yang namanya cinta?"
Saskia terkekeh kecil, namun sorot matanya menunjukkan kesungguhan yang dalam. "Serius, San. Dulu aku memang nggak tahu apa itu definisi cinta yang ada di novel-novel. Aku cuma tahu rasanya takut kehilangan kamu. Aku cuma tahu rasanya sesak kalau kamu nggak masuk sekolah. Ada ketakutan yang luar biasa setiap kali kamu nggak ada di sampingku. Kalau itu bukan cinta, lalu apa namanya?"
Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Sandi segera menarik tuas kopling dan memasukkan gigi satu. Motor melaju santai, membelah aspal dengan kecepatan stabil. "Berarti selama ini, alasan lo selalu ngintilin gue kemana-mana saat SD itu dan selalu manja minta dijagain, itu semua karena lo... suka sama gue?" tanya Sandi, suaranya kini terdengar lebih serius.
"Iya, San," jawab Saskia tanpa ragu, suaranya terbawa angin ke telinga Sandi. "Makanya hatiku rasanya mau copot saat kita ketemu lagi di Velodrome kemarin. Waktu aku digodain anak SMA itu dan tiba-tiba kamu muncul kayak pahlawan, aku langsung tahu itu kamu. Terus waktu aku hilang di Ancol... aku takut setengah mati. Di tengah kerumunan orang, aku cuma bisa manggil-manggil nama kamu dalam hati. Aku nangis, San, karena aku takut kita bakal kehilangan jejak lagi."
Saskia mempererat pelukannya, seolah mempertegas kata-katanya. "Makanya, waktu tadi malam Kakek cerita soal Kakek Sofian yang menolongnya dulu, aku seolah melihat kamu dalam cerita itu. Kakek bilang kamu mirip sekali dengan kakekmu. Aku bahagia banget, San, waktu Kakek menjodohkan kita. Apalagi saat kamu akhirnya mengiyakan, rasanya semua doaku dari kecil terkabul malam itu."
Sandi terdiam. Kata-kata Saskia menghantam benteng pertahanannya yang selama ini ia bangun dengan alasan perbedaan kasta dan ekonomi. "Gue nggak bilang setuju secara gamblang, Sas. Gue cuma bilang kalau gue belum siap karena tanggung jawab gue masih besar. Gue harus bahagiain Ibu dulu, gue harus punya penghasilan tetap supaya nggak dipandang sebelah mata."
"Tapi itu justru bukti kalau kamu laki-laki yang hebat, San," sela Saskia dewasa. "Kalimat kamu itu adalah bentuk tanggung jawab dalam mengiyakan permintaan Kakek. Kamu nggak mau cuma sekadar 'iya' tapi nggak punya persiapan. Itu yang bikin aku makin yakin sama kamu."
Sandi terpaku. Ia tidak menyangka gadis yang sering ia panggil "Oneng" karena keteledorannya bisa mengeluarkan pemikiran sedalam itu. "Makasih ya, sayang," lanjut Saskia pelan. "Makasih sudah mau muncul lagi di hidupku. Makasih sudah mau jagain aku yang teledor, pelupa, dan oneng ini."
Sandi hanya bisa mengangguk pelan tanpa sanggup menoleh ataupun berucap sepatah kata pun. Lidahnya terasa kelu. Di balik wajah tenangnya yang fokus menatap jalan, badai batin sedang mengamuk di dalam dadanya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan gejolak emosi yang mulai memanaskan matanya. Ada rasa haru yang menyesakkan; rasa tidak percaya bahwa ada seorang gadis sesempurna Saskia yang bisa mencintainya dengan begitu tulus meski ia hanya seorang anak tukang cuci.
Sebenarnya, apa yang lo liat dari gue, Sas? batin Sandi getir. Gue nggak punya harta, rumah gue sempit, masa depan gue masih abu-abu... kenapa harus gue?
Seolah bisa membaca peperangan batin yang sedang dialami Sandi, Saskia kembali membenamkan wajahnya ke punggung Sandi. Ia memberikan dukungan melalui kehangatan dekapannya, membiarkan Sandi berdamai dengan perasaannya sendiri sementara motor terus melaju menuju kediaman Andra.
Sinar matahari sore yang mulai meredup memberikan nuansa emas di sepanjang pagar tanaman rumah Andra. Motor Ninja 2-tak hijau milik Sandi mendarat dengan suara mesin yang menderu halus sebelum akhirnya mati sempurna tepat di depan gerbang. Sandi turun, masih dengan sisa-sisa kemelut batin di dadanya, namun ia segera menekan perasaan itu dalam-dalam. Dengan gerakan yang kini terasa lebih alami, ia mendekat ke arah Saskia, jemarinya dengan telaten melepaskan pengait helm di bawah dagu gadis itu, memastikan rambut Saskia tidak terjepit saat helm diangkat.
Tepat saat helm Saskia terlepas, raungan motor Vino menyusul dari arah belakang. Vino memarkirkan motornya dengan gaya sedikit pamer di samping motor Sandi. Anggita langsung melompat turun dari boncengan, menenteng kantong plastik berisi buah-buahan dan cemilan yang tadi mereka beli.
"Baru sampai, San? Atau lo sengaja lama-lamain di jalan biar bisa touring romantis dulu?" goda Anggita sambil menyeka keringat di dahinya.
Sandi menoleh, berusaha memasang wajah datar andalannya. "Belum lama sih, baru juga mau lepas helm. Jalanan tadi agak padat di persimpangan."
Anggita mengangguk-angguk paham, lalu memberikan isyarat dengan kepalanya. "Ayo kita masuk kalau begitu. Tadi gue sudah telepon si Andra pas di toko buah, katanya dia sudah nunggu di kamarnya. Dia bilang pintunya nggak dikunci."
Sandi mengernyitkan dahi sambil menaruh helm di spion. "Loh, kita jenguknya nggak di ruang tamu saja? Kenapa harus ke kamar?"
"Mana bisa dia beranjak dari kasur, San," sahut Anggita sambil berjalan menuju teras. "Katanya demamnya tinggi banget, badannya menggigil. Kalau dia maksa jalan ke ruang tamu, yang ada nanti dia terhuyung terus pingsan di depan kita. Kan repot kalau harus gotong-gotong dia."
Sandi terkekeh kecil membayangkan Andra yang biasanya paling berisik kini terkulai lemas. "Ya sudah, ayo kita masuk. Gue pengen liat muka pucatnya, pasti kocak."
Anggita mengetuk pintu kayu jati rumah Andra yang nampak asri. Tak butuh waktu lama, seorang wanita paruh baya dengan daster batik yang rapi membukakan pintu. Wajahnya yang semula nampak cemas langsung berubah cerah saat melihat rombongan teman-teman anaknya.
"Eh, Anggita! Wah, ramai ya hari ini. Eh, sebentar... ada wajah baru nih di kelompok kalian?" tanya Mamanya Andra, tatapannya langsung tertuju pada Saskia yang berdiri malu-malu di belakang bahu Sandi.
Anggita tersenyum sopan. "Iya, Tante. Kenalin, ini Saskia. Dia murid pindahan dari SMP Bhayangkara, sebenarnya dia teman lama Sandi pas zaman SD."
Mamanya Andra tampak sedikit terkejut namun terkesan. "Loh, kok bisa pindah ke sini? Padahal SMP Bhayangkara itu sekolah bagus dan elit loh, fasilitasnya lengkap banget."
Sandi menyenggol pelan bahu Saskia, memberinya kode agar tidak diam saja. "Kenalin diri lo dulu, Sas. Jangan jadi patung di situ."
Saskia mengangguk mantap, mencoba memberanikan diri. "Selamat sore, Tante. Nama aku Saskia. Aku pindah dari SMP Bhayangkara karena... karena aku ingin dekat sama Sandi lagi," jawabnya dengan kejujuran yang terlalu polos, hingga membuat suasana mendadak hening sesaat.
Mamanya Andra tertawa renyah, sebuah tawa khas ibu-ibu yang seolah menangkap sinyal asmara di udara. "Aduh, jujur banget kamu ya, Cantik. San, hati-hati loh, kalau ada perempuan sejujur ini, bisa-bisa kalian itu jodoh benaran."
Anggita dan Vino langsung tertawa terbahak-bahak mendengar komentar spontan itu. Vino bahkan menepuk-nepuk pundak Sandi dengan keras. "Tuh kan! Bukan gue sama Anggita doang yang bilang begitu, San! Mamanya Andra yang jarang ketemu kalian saja langsung bisa baca situasinya. Sah kan, San?"
Sandi hanya bisa terkekeh kecil, menyembunyikan rasa kikuknya dengan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Ah, Tante bisa saja. Siapa yang tahu masa depan. Hehe."
"Ya sudah, ayo masuk dulu semuanya. Jangan berdiri saja di depan pintu, nggak enak sama tetangga. Anggap saja rumah sendiri ya, Tante mau ke dapur sebentar buat buatin kalian minum dan ambil camilan," ujar Mamanya Andra dengan ramah, mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah yang terasa sejuk dan nyaman tersebut.
Mereka berempat pun melangkah masuk, melewati ruang tamu menuju lorong kamar Andra. Sandi melirik ke arah Saskia yang nampak sangat senang karena tidak diprotes saat menyebutkan alasannya pindah sekolah. Namun di sisi lain, Sandi tahu bahwa masuk ke kamar Andra berarti ia harus siap menghadapi rentetan pertanyaan tajam dari sahabatnya yang sedang sakit itu.
Suasana kamar Andra yang awalnya sunyi dan berbau minyak kayu putih seketika pecah saat keempat sahabat itu melangkah masuk. Bukannya memberikan kata-kata puitis atau wajah prihatin, Sandi justru melangkah cepat ke samping tempat tidur Andra. Dengan wajah yang dibuat seserius mungkin, ia merapatkan telapak tangannya di depan dada, lalu memulai gerakan takbir seolah-olah sedang melakukan sholat jenazah tepat di samping sahabatnya yang terbaring lemas.
Bugh!
Sebuah bantal bulu angsa mendarat telak di wajah Sandi, menghancurkan khusyuk "sholat" gadungannya itu. Gelak tawa Anggita, Vino, dan Saskia meledak, memenuhi setiap sudut kamar yang didominasi warna biru navy tersebut.
"Setan lo, San! Emang lo pikir gue udah mokat apa pake disholatin segala!" seru Andra dengan suara serak namun penuh tenaga untuk memaki.
Sandi terkekeh-kekeh sembari menangkap bantal yang jatuh ke lantai. "Lagian, orang datang itu disambut kek dengan senyuman, ini malah sengaja banget dilemes-lemesin gitu mukanya biar dikasihani. Akting lo kurang oke, Ndra!"
Anggita ikut duduk di kursi belajar dekat kasur sambil tertawa. "Gimana kabar lo, Ndra? Masih ngerasa melayang atau udah napak?"
Vino menimpali sambil menaruh kantong buah di atas meja. "Yoi, kelas sepi nggak ada lo yang tukang kompor. Udah mendingan atau suhu badan lo masih bisa buat goreng telur?"
Andra menghela napas, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Tadi malem parah banget, panas gue tinggi sampai pagi nggak turun-turun. Tapi barusan abis minum parasetamol udah mulai mendingan, keringat dingin udah keluar. Makasih ya, udah mau repot-repot khawatirin gue sampai ke sini."
Sandi menepuk kaki Andra yang tertutup selimut. "Woles, Ndra. Kita ini udah kayak keluarga, jadi kalau satu sakit, kita semua pasti ikut ngerasain... minimal ngerasain nggak ada yang bisa dibully di kelas. Jadi, dengan kondisi lo yang membaik begini, lo udah bisa makan-makan enak dong?"
Andra menggelengkan kepalanya lesu, lidahnya terasa kelu. "Belum bisa, San. Mulut gue pahit banget, minum air putih aja rasanya kayak minum jamu brotowali."
Mendengar itu, mata Sandi langsung berbinar jenaka. "Alhamdulillah! Kebetulan gue bawa ice cream banyak tadi. Karena lo belum bisa makan enak dan mulut lo pahit, berarti jatah ice cream lo buat gue aja ya? Biar gue yang menanggung beban manisnya."
Andra yang merasa dikerjai langsung meraih bantal cadangan di sampingnya dan melemparkannya kembali ke arah Sandi. "Kalo ice cream mah lidah gue masih bisa ngerasain, Tai! Itu mah vitamin buat gue!"
Tawa mereka kembali pecah bersama-sama. Di tengah keriuhan itu, Saskia hanya tersenyum manis memperhatikan keakraban mereka, sementara Sandi diam-diam merasa lega melihat sahabatnya itu masih punya tenaga untuk memaki.
Di tengah gelak tawa yang masih menyisakan sisa-sesak di dada, pintu kamar Andra terbuka perlahan. Mama Andra muncul membawa nampan kayu berisi gelas-gelas tinggi berisi sirup melon dingin yang warnanya hijau cerah, lengkap dengan beberapa piring kecil berisi biskuit kaleng dan kacang goreng yang aromanya menggugah selera.
"Ayo, ayo, diminum dulu sirupnya. Segar ini buat sore-sore begini," ucap Mama Andra dengan nada keibuan yang hangat. "Sekalian dimakan ya cemilannya, jangan malu-malu. Anggap saja sedang di rumah sendiri."
Sandi, yang memang paling pandai mengambil hati orang tua, segera bangkit untuk membantu meletakkan nampan itu di atas meja belajar. "Aduh, repot-repot banget, Tante. Padahal Sandi juga sudah bawa amunisi cemilan sendiri dari luar, niatnya sih buat pamer ke Andra yang lagi menderita. Tapi... Andra memang benar-benar belum boleh makan ice cream kan, Tante?" tanya Sandi dengan nada menyelidik yang dibuat-buat.
Mama Andra tertawa renyah, melirik putra semata wayangnya yang wajahnya langsung ditekuk. "Iya, Sandi. Andra belum boleh sentuh yang dingin-dingin dulu sampai demamnya benar-benar hilang dan dia sembuh total. Harus disiplin kalau mau cepat sekolah lagi."
Sandi seketika menoleh ke arah Andra dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan. Ia mengangkat cup ice cream cokelat yang tadi dibelikan Anggita, membukanya perlahan di depan mata Andra seolah sedang melakukan ritual suci. "Dengar sendiri kan, Ndra? Titah Kanjeng Ratu sudah turun. Jadi, jatah ice cream premium ini resmi jatuh ke tangan gue. Makasih ya, Sahabatku yang sedang sakit."
Andra mendengus keras, tangannya mengepal di balik selimut. "Awas lo ya, San! Tunggu gue sembuh. Begitu gue masuk sekolah, lo harus traktir gue ice cream sebagai ganti kerugian moril gue hari ini!"
Sandi menyesap sirup melonnya dengan santai, lalu mengangguk mantap. "Woles, Bosku. Lo mau ice cream kan?"
"Iya! Pokoknya ice cream apa saja, yang penting lo yang traktir sebagai tanda permintaan maaf karena sudah pamer di depan orang sakit!" seru Andra penuh harap.
"Oke, deal! Besok kalau lo sudah sembuh, ice cream Dung-Dung yang abang-abangnya suka lewat depan sekolah pakai gerobak kayu, gue beliin seporsi paling besar. Pakai roti tawar kalau perlu!" jawab Sandi dengan wajah tanpa dosa.
Wajah Andra yang tadinya penuh harap langsung berubah datar. "Itu mah bukan ice cream kelas premium, Pe’a! Itu es puter tradisi! Gue maunya yang bermerek!"
Seketika, suasana kamar itu kembali pecah oleh tawa mereka berempat. Mama Andra yang melihat keakraban itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan rasa syukur. "Ya sudah, kalian lanjut ya mengobrolnya. Tante tinggal sebentar ke belakang mau menyiram tanaman, mumpung matahari sudah turun dan tidak terlalu panas. Tante titip Andra ya, tolong dijaga."
Anggita mengangguk dengan sopan. "Iya, Tante. Tenang saja, Andra aman kok sama kita. Paling cuma jadi bulan-bulanan Sandi saja biar dia cepat berkeringat dan sembuh."
Mama Andra tertawa geli mendengar ucapan ketua kelas itu, lalu melangkah keluar meninggalkan kamar. Begitu pintu tertutup rapat dan langkah kaki Mama Andra menjauh, suasana tiba-tiba berubah. Sandi yang tadinya cengengesan mendadak memperbaiki posisi duduknya menjadi sangat tegak. Wajahnya yang jenaka kini berubah menjadi kaku, matanya menatap tajam ke arah Andra.
"Ndra... gue pengen ngomong serius sama lo nih. Penting banget," ucap Sandi dengan nada suara yang dalam dan rendah.
Mendengar perubahan nada bicara Sandi yang sangat drastis, suasana di kamar itu mendadak hening total. Tekanan udara seolah meningkat. Anggita yang tadi asyik mengunyah biskuit langsung berhenti, Vino meletakkan gelas sirupnya dengan hati-hati, dan Saskia nampak memegang erat ujung bajunya sendiri karena merasa tegang. Bahkan Andra, yang tadinya terkulai lemas, mendadak memasang wajah waspada seolah sedang menunggu kabar buruk.
"Ngomong... ngomong apa, San? Jangan bikin gue jantungan deh," bisik Andra dengan raut wajah yang sangat serius.
Sandi menoleh perlahan ke arah Anggita, lalu ke Vino, kemudian memberikan tatapan penuh arti ke Saskia yang sudah mulai pucat karena takut rahasia mereka dibongkar. Sandi kembali menatap Andra dengan mata yang seolah-olah menyimpan beban berat.
"Ndra... sebenarnya..." Sandi menjeda kalimatnya, menarik napas panjang. "Toilet lo sebelah mana? Gila, perut gue mules banget dari tadi nahan gara-gara kebanyakan ketawa!"
Hening sesaat.
Sedetik kemudian, "ledakan" terjadi di dalam kamar itu.
"SIAAALAN LO, SAN!" teriak Andra sembari mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melemparkan bantal terakhir yang ia punya tepat ke arah kepala Sandi.
Saskia yang tadi sempat menahan napas karena takut, kini langsung mencubit lengan Sandi dengan gemas. "Ihh, Sandi! Aku beneran takut tahu! Aku pikir kamu mau bilang apa!" seru Saskia sembari terus melancarkan cubitan-cubitan kecilnya.
Anggita tidak mau ketinggalan, ia ikut menjewer telinga Sandi dari belakang. "Lo bener-bener ya! Gue udah mau nangis mikir ada masalah apa, ternyata cuma mau ke WC!"
Vino, yang merasa paling tertipu karena sudah memasang wajah paling bijak, langsung menyambar tas punggungnya yang tergeletak di lantai dan melemparkannya ke arah Sandi. "Bener-bener setan lo, San! Akting lo juara satu sedunia, mending lo pindah sekolah ke sekolah seni peran saja sana!"
Sandi hanya bisa tertawa terbahak-bahak sambil berlari kecil menghindari serangan bertubi-tubi dari sahabat-sahabatnya. Meskipun mereka merasa tertipu dan kesal, namun keriuhan itu justru menjadi obat paling manjur bagi Andra. Di tengah riuh rendah teriakan dan tawa mereka, beban pikiran tentang ujian dan penyakit seolah sirna begitu saja, digantikan oleh kehangatan persahabatan yang tak ternilai harganya.