NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Alasan yang Tidak Logis

“Kau kembali lagi.”

Wanita itu bahkan tidak menutup buku catatannya saat Leon masuk ke dalam klinik. Ia hanya mengangkat pandangannya sekilas, seolah kedatangan Leon sudah menjadi bagian dari rutinitas malamnya yang menjemukan. Suara gesekan pena di atas kertas terdengar berirama di tengah keheningan ruangan.

Leon menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, memastikan tidak ada suara gaduh yang keluar ke gang. “Jahitannya terasa kencang.”

Wanita itu berhenti menulis. Ia menatap perban di sisi perut Leon dengan pandangan yang sulit diartikan. “Kencang itu normal, itu tandanya jaringan kulitmu sedang menyatu kembali dengan paksa.”

Leon berdiri membisu selama beberapa detik di tengah ruangan. Ia tidak memiliki alasan medis lain, namun ia tetap berdiri di sana, menatap deretan botol obat di rak kaca.

Wanita itu akhirnya menutup bukunya dengan bunyi plak yang pelan dan berdiri dari kursinya. “Duduklah. Jangan membuatku merasa seperti sedang diawasi oleh patung penjaga.”

Leon duduk di kursi pemeriksaan yang sama untuk ketiga kalinya. Wanita itu mengambil sarung tangan medis baru, gerakannya terlihat sangat efisien dan terlatih.

“Jika kau terus datang setiap dua hari sekali hanya untuk memastikan jahitan ini masih menempel di dagingmu, aku akan mulai menagih biaya konsultasi tambahan yang sangat mahal,” kata wanita itu sambil mendekat.

“Tidak masalah,” jawab Leon datar.

Wanita itu mendengus kecil sambil membuka sedikit perban Leon. Ia memeriksa luka itu dengan sangat teliti. Kulit di sekitarnya sudah tidak lagi merah menyala, menunjukkan proses penyembuhan yang sangat cepat. “Tidak ada tanda infeksi. Tubuhmu memiliki kemampuan regenerasi yang tidak masuk akal.”

Leon tetap tidak bereaksi, matanya menatap lurus ke depan.

Wanita itu menekan sedikit area di sekitar luka, memastikan tidak ada cairan yang tertahan di bawah kulit. “Tidak robek. Kau bisa berhenti mengkhawatirkannya sekarang.”

“Bagus,” kata Leon.

Wanita itu menempelkan kembali perban baru dengan gerakan yang hampir terlihat malas namun sangat presisi. “Secara medis, kau sudah tidak punya alasan logis untuk kembali ke sini dalam waktu dekat.”

Leon berdiri dari kursi pemeriksaan. “Baik.”

Meskipun sudah mendapatkan kepastian medis, ia tidak langsung melangkah menuju pintu. Wanita itu menyadari keraguan kecil dalam gerakan Leon. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja kerja, menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap Leon dengan penuh selidik.

“Kau masih berdiri di situ,” observasi wanita itu. “Apa ada peluru lain yang bersarang di suatu tempat?”

Leon menatap rak obat di belakang meja, mencoba mencari topik pembicaraan yang masuk akal. “Klinik ini selalu sepi seperti ini?”

“Tidak selalu,” jawab wanita itu tenang. “Distrik 6 tidak pernah benar-benar sepi dari masalah.”

“Pasien lain?” tanya Leon.

“Mereka biasanya datang siang hari, atau saat mereka sudah benar-benar tidak bisa berjalan lagi,” wanita itu menjelaskan.

Leon mengangguk sedikit. “Itu lebih aman.”

Wanita itu mengangkat alis, senyum sinis tersungging di bibirnya. “Aman dari apa?”

“Aman dari orang-orang seperti aku,” jawab Leon tanpa ekspresi.

Wanita itu menatap Leon selama beberapa detik, seolah sedang mencari jejak emosi di balik wajahnya yang kaku. “Jika aku harus menolak setiap pasien yang terlihat seperti membawa masalah besar di punggungnya, aku sudah menutup klinik ini sejak hari pertama aku membukanya.”

Leon memandang sekeliling ruangan sekali lagi. Lampu putih yang terlalu terang, dinding-dinding yang dicat bersih meskipun bangunannya sudah tua, dan rak obat yang tersusun sangat rapi. Tempat ini terasa seperti anomali di tengah kekacauan Distrik 6 yang ada di luar sana.

“Kau bekerja sendirian?” Leon bertanya.

“Ya,” jawab wanita itu pendek.

“Tidak ada perawat atau asisten?”

“Tidak ada yang mau bekerja di distrik yang tidak punya masa depan seperti ini,” wanita itu mengangkat bahu.

Leon menatap wanita itu langsung ke matanya. “Tapi kau tetap tinggal di sini.”

Wanita itu terdiam sejenak, tatapannya melembut untuk sesaat sebelum kembali mengeras. “Seseorang harus tetap tinggal untuk mengobati mereka yang ditinggalkan.”

Leon tidak menjawab. Kebisuan menyelimuti mereka selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

“Sekarang aku yang penasaran,” wanita itu memecah keheningan.

Leon menunggu.

“Kau datang ke sini karena luka tembak,” wanita itu menunjuk ke arah perut Leon. “Luka itu sudah hampir sembuh total secara eksternal.” Ia menyilangkan tangannya kembali. “Jadi, kenapa kau masih terus kembali ke gang buntu ini?”

Leon tidak langsung menjawab. Ia memikirkan Gray, memikirkan Helix, dan memikirkan perburuan yang sedang berlangsung di luar sana. Akhirnya ia hanya berkata pendek, “Aku kebetulan lewat.”

Wanita itu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar jujur namun mengandung ejekan. “Klinik ini berada di ujung gang buntu yang paling tersembunyi di Distrik 6, Leon. Tidak ada orang yang kebetulan lewat di depan pintuku.”

Leon tidak membantah, ia hanya membuang muka.

Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. “Kau sangat buruk dalam membuat alasan, Kurir.”

Leon berjalan menuju pintu, tangannya sudah memegang gagang kayu yang dingin. Sebelum ia menarik pintu itu terbuka, ia berhenti sejenak. “Dokter.”

Wanita itu menatap punggungnya. “Ya?”

“Terima kasih,” ucap Leon.

Wanita itu terlihat sedikit terkejut, matanya berkedip sekali. “Untuk apa? Aku hanya melakukan pekerjaanku.”

“Untuk jahitannya,” Leon menjawab singkat, lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar ke udara malam Distrik 6 yang terasa lembap dan berbau asap.

Motor hitamnya masih terparkir dengan aman di bawah lampu jalan yang berkedip. Leon mengenakan helmnya, merasakan dinginnya interior busa helm menyentuh pipinya. Saat mesin motor menderu rendah, suara Gray kembali memenuhi telinganya.

“Kau menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya di sana, Leon.”

Leon mulai menjalankan motornya menuju jalan utama. “Ada beberapa hal yang harus kupastikan.”

Gray terdengar seperti sedang memindai dokumen baru di sisi lain sambungan. “Ngomong-ngomong soal memastikan sesuatu, aku baru saja mendapatkan kontrak baru yang sangat besar.”

Leon menambah kecepatan motornya, membelah kegelapan malam. “Jenis kontraknya?”

“Kurir kelas satu, protokol eliminasi diaktifkan jika diperlukan,” Gray menjelaskan dengan nada yang lebih berat.

Leon mengangguk sedikit di balik helmnya. “Seperti kontrak biasa.”

“Tidak sepenuhnya biasa, Leon,” Gray mengoreksi. “Klien kali ini meminta dua hal yang sangat spesifik.”

“Apa?” tanya Leon datar.

“Ambil sebuah paket biologis yang sangat rahasia dari sebuah penyimpanan sementara,” Gray mulai membacakan rincian kontraknya.

Leon memacu motornya lebih kencang. “Dan?”

“Jika perlu, klien memperbolehkanmu untuk mengeliminasi siapapun yang menyimpan atau menjaga paket tersebut,” Gray berkata dengan nada yang semakin serius.

Leon tidak bereaksi secara emosional, profesionalismenya segera mengambil alih. “Lokasi penjemputannya?”

Gray terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab, sebuah keheningan yang membuat Leon merasa ada sesuatu yang salah. “Distrik 6.”

Leon melambatkan laju motornya secara bertahap. Cahaya redup dari klinik kecil itu masih tertinggal dalam ingatan visualnya di ujung gang yang baru saja ia tinggalkan. “Di mana tepatnya di Distrik 6?”

Gray membaca koordinat GPS yang baru saja masuk ke sistem enkripsinya. “Koordinatnya menunjuk tepat ke sebuah bangunan tua di sektor utara.”

“Nama tempatnya?” Leon bertanya, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Gray menjawab dengan suara yang terdengar sangat dingin di earpiece. “Sebuah tempat bernama Klinik Arden.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!