Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama untuk seorang puteri
Bulan kedelapan kehamilan ternyata menjadi fase yang cukup menegangkan.
Bukan karena aku merasa sakit.
Bukan juga karena tubuhku terlalu lelah.
Melainkan karena satu hal yang cukup sederhana namun membuat Ashar kembali berubah menjadi versi dirinya yang paling serius.
Posisi bayi masih sungsang.
Sejak dokter mengatakan itu pada pemeriksaan terakhir, Ashar terlihat seperti seseorang yang mendapat misi penting.
Ia membaca lebih banyak artikel.
Ia mencari berbagai latihan yang bisa membantu bayi berputar.
Ia bahkan menonton beberapa video tentang terapi posisi ibu hamil.
Aku kadang merasa seperti sedang mengikuti program penelitian ilmiah.
Suatu pagi aku sedang duduk di karpet ruang keluarga.
Ashar berdiri di depanku dengan ekspresi sangat fokus.
“Ashar,” kataku sambil menatapnya.
“Iya?”
“Kenapa kamu terlihat seperti instruktur olahraga?”
Ia mengangkat ponselnya.
“Aku membaca bahwa posisi ini bisa membantu bayi berputar.”
“Posisi apa?”
Ia menunjuk lantai.
“Kamu harus bersandar seperti ini.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Ashar.”
“Iya?”
“Aku hamil delapan bulan.”
“Justru itu penting.”
Aku akhirnya tertawa kecil.
Namun tetap mengikuti arahannya.
Ia membantu menopang punggungku dengan bantal.
Ekspresinya benar-benar serius.
Seolah sedang menangani eksperimen yang sangat penting.
“Nyaman?” tanyanya.
“Lumayan.”
Ia mengangguk puas.
“Bagus.”
Aku menggeleng kecil sambil tersenyum.
Kadang kepedulian Ashar terasa berlebihan.
Namun di saat yang sama… juga sangat manis.
Latihan kecil seperti itu menjadi rutinitas baru kami.
Setiap pagi.
Setiap sore.
Ashar selalu memastikan aku melakukan beberapa gerakan yang disarankan dokter.
Kadang ia bahkan ikut duduk di lantai bersamaku hanya untuk memastikan aku tidak kesulitan.
Namun ada satu bagian dari saran dokter yang membuatnya masih terlihat agak… canggung.
Hubungan suami istri.
Dokter mengatakan bahwa kedekatan suami istri yang sehat juga bisa membantu tubuh ibu lebih rileks dan mempersiapkan proses persalinan.
Ashar mendengar penjelasan itu dengan wajah sangat serius.
Seperti sedang menerima instruksi militer.
Suatu malam kami duduk di sofa setelah makan malam.
Aku bersandar di bahunya.
Ashar terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu terlihat seperti sedang menghitung sesuatu.”
Ia menghela napas kecil.
“Aku hanya memikirkan saran dokter.”
Aku menahan tawa.
“Saran yang mana?”
Ia menatapku dengan ekspresi canggung.
“Kamu tahu.”
Aku pura-pura tidak mengerti.
“Aku tidak tahu.”
Ia menggaruk belakang lehernya.
“Yang itu.”
Aku akhirnya tertawa.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu masih terlalu kaku.”
Ia menatapku beberapa detik.
“Aku hanya ingin memastikan semuanya aman.”
Aku menggenggam tangannya.
“Semua akan baik-baik saja.”
Ia akhirnya tersenyum kecil.
Namun selain latihan dan terapi kecil, ada satu hal lain yang mulai sering kami bicarakan.
Nama bayi.
Sejak dokter memastikan bahwa bayi kami perempuan, topik itu sering muncul di setiap obrolan.
Awalnya terasa sederhana.
Namun ternyata…
memilih nama bayi bisa menjadi perdebatan kecil yang cukup serius.
Suatu malam Ashar membawa buku kecil.
“Apa itu?” tanyaku.
“Daftar nama.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu benar-benar membuat daftar?”
Ia membuka halaman pertama.
“Tentu.”
Aku melihat beberapa nama tertulis dengan rapi.
“Alya.”
“Aruna.”
“Naura.”
Aku tersenyum.
“Nama-nama itu bagus.”
Ia terlihat puas.
“Bagus kan?”
Aku mengangguk.
“Namun aku juga punya beberapa ide.”
Ia langsung terlihat tertarik.
“Seperti apa?”
Aku menyebutkan beberapa nama yang pernah kupikirkan.
“Rania.”
“Kayla.”
“Aluna.”
Ashar terlihat berpikir keras.
“Hmm…”
Aku menatapnya.
“Kamu tidak suka?”
Ia menggeleng.
“Bukan tidak suka.”
“Lalu?”
“Aku hanya mencoba membayangkan memanggilnya nanti.”
Aku tertawa.
“Kamu benar-benar memikirkan semuanya.”
Ia mengangguk serius.
“Nama akan ia bawa seumur hidup.”
Perdebatan kecil tentang nama itu berlangsung beberapa hari.
Tidak pernah menjadi pertengkaran.
Namun selalu muncul kembali.
Kadang di meja makan.
Kadang sebelum tidur.
Kadang bahkan saat kami berjalan santai di halaman rumah.
Suatu malam kami kembali membahasnya.
Aku menyebut satu nama lagi.
“Bagaimana kalau Livia?”
Ashar terlihat berpikir.
“Tidak buruk.”
Aku tersenyum.
“Tidak buruk?”
“Artinya cukup bagus.”
Aku menggeleng sambil tertawa.
“Kamu selalu terdengar seperti juri kompetisi.”
Ia ikut tersenyum.
Namun kemudian ia berkata sesuatu yang membuatku terdiam sejenak.
“Mala.”
“Iya?”
“Aku ingin dia memiliki nama yang berarti sesuatu.”
“Seperti apa?”
Ia menatapku dengan lembut.
“Nama yang mengingatkan bahwa dia lahir dari sesuatu yang baik.”
Aku memandangnya beberapa detik.
Dan tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah ia katakan dulu.
Tentang pernikahan.
Tentang bagaimana ia memandang hubungan kami.
Aku tersenyum kecil.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu ingat sesuatu?”
“Apa?”
Aku menatapnya.
“Kamu pernah mengatakan sesuatu yang aneh waktu kita pertama menikah.”
Ia terlihat bingung.
“Apa?”
Aku mengulang kalimat itu perlahan.
“Teman hidup, bukan pasangan hidup?”
Ashar terdiam.
Benar-benar terdiam.
Kemudian ia tertawa pelan.
“Aku ingat.”
Aku mengangguk.
“Waktu itu aku sempat bingung.”
Ia menatapku.
“Aku juga.”
Aku tertawa.
“Kamu mengatakan hal itu seolah pernikahan adalah eksperimen.”
Ia menggaruk lehernya sedikit malu.
“Mungkin memang begitu.”
Aku tersenyum lembut.
“Namun sekarang aku mengerti maksudmu.”
Ia menatapku dengan penuh perhatian.
“Apa maksudku?”
“Kamu tidak hanya ingin pasangan.”
Aku memegang tangannya.
“Kamu ingin seseorang yang berjalan bersamamu.”
Ia tersenyum.
Dan suasana di antara kami terasa hangat.
Beberapa hari kemudian kami kembali ke klinik untuk pemeriksaan.
Aku sedikit gugup.
Karena dokter akan memeriksa apakah posisi bayi sudah berubah.
Ashar duduk di sampingku di ruang tunggu.
Tangannya menggenggam tanganku cukup erat.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu terlihat lebih gugup daripada aku.”
Ia mengangguk.
“Itu mungkin benar.”
Aku menahan senyum.
Ketika pemeriksaan dimulai, layar ultrasonografi kembali menampilkan bayangan kecil yang sudah sangat familiar.
Dokter memperhatikan beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Sepertinya usaha kalian berhasil.”
Ashar langsung mencondongkan badan.
“Berhasil?”
Dokter mengangguk.
“Posisi kepala bayi sudah di bawah.”
Aku menghela napas panjang.
Perasaan lega langsung memenuhi dadaku.
Ashar bahkan terlihat lebih lega dariku.
“Benarkah, Dok?”
“Ya. Ini posisi yang baik untuk persalinan normal.”
Ashar hampir terlihat seperti ingin berdiri dan bersorak.
Namun ia berhasil menahan diri.
Aku menatapnya sambil tersenyum.
Ekspresinya benar-benar seperti anak kecil yang baru saja memenangkan lomba.
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil terasa sangat ringan.
Ashar bahkan terlihat lebih santai dari biasanya.
“Mala.”
“Hm?”
“Sepertinya kita melakukan semuanya dengan benar.”
Aku tertawa kecil.
“Sebagian besar kamu yang melakukan semuanya.”
Ia menggeleng.
“Kita.”
Aku menatapnya.
Dan untuk beberapa detik kami hanya saling tersenyum.
Malam itu sebelum tidur, Ashar kembali membuka buku kecil berisi daftar nama.
“Apa sekarang kita bisa memutuskan?” tanyanya.
Aku tersenyum.
“Mungkin.”
Ia menatapku.
“Nama apa yang kamu sukai?”
Aku memikirkan beberapa detik.
Lalu menyebut satu nama.
Ia terdiam sejenak.
Kemudian tersenyum.
“Itu indah.”
Aku mengangguk.
“Ya.”
Ia menutup buku itu.
“Baiklah.”
Aku menatapnya.
“Baiklah?”
“Baiklah.”
Aku tertawa.
“Sesederhana itu?”
Ia mengangguk.
“Karena sekarang yang penting bukan hanya nama.”
“Apa yang penting?”
Ia menatap perutku dengan lembut.
“Bahwa dia akan lahir dengan sehat.”
Aku menggenggam tangannya.
Dan malam itu terasa sangat tenang.
Perjalanan panjang kami hampir sampai di ujungnya.
Sebentar lagi…
rumah ini tidak akan lagi hanya diisi oleh dua orang.
Akan ada suara kecil.
Tawa kecil.
Dan seorang putri kecil yang akan mengubah segalanya.
Namun satu hal tetap sama.
Kami masih berjalan bersama.
Sebagai suami dan istri.
Sebagai teman hidup.
Dan sebentar lagi…
Sebagai Keluarga.
Sebagai ayah dan ibu.