Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 5.
Di rumah, malam selepas perjamuan itu, Simon duduk di ruang tamu dengan jas yang belum sempat ia ganti. Lampu masih menyala terang, seolah ia sengaja menantang waktu. Ia menunggu Arunika pulang, untuk menginterogasi wanita itu dan menuntut penjelasan.
Namun jarum jam terus bergerak melewati pukul dua belas malam, Arunika tak juga pulang.
“Kemana dia?!” geramnya, dengan kesal ia menekan nomor istrinya. Alih-alih suara yang ia tunggu, operator lah yang menjawab—ponsel itu tidak aktif.
“Wanita itu! Beraninya mematikan ponsel!” umpatnya, rahangnya mengeras.
Pagi harinya, sebuah amplop cokelat tiba. Tanpa firasat buruk sedikit pun, Simon membukanya dengan tergesa. Beberapa lembar kertas resmi terjatuh ke lantai.
Gugatan perceraian.
Wajahnya memucat sebelum berubah merah padam. “Arunika… !!!”
Sementara itu, di apartemen miliknya yang baru saja kembali ia tempati, Arunika duduk tenang di depan laptop. Semua barang pribadinya telah ia pindahkan dari rumah Simon—tanpa suara, tanpa drama.
Di layar, deretan data dan dokumen terpampang rapi. Ia meneliti laporan keuangan, alur proyek medis, serta beberapa transaksi janggal yang selama ini luput dari perhatian publik.
Sorot matanya tajam, tak lagi menyisakan ragu.
“Kalau kau pikir aku pergi hanya karena harga diriku... kau salah, Simon.”
Jarinya berhenti pada satu nama dan satu angka yang mencurigakan. Sebuah transfer besar ke rekening yang terhubung dengan yayasan medis—yayasan yang selama ini menjadi kebanggaan Simon.
Arunika menyandarkan tubuhnya, permainan ini belum selesai.
Perceraian hanyalah langkah pertama.
___
Di ruang kerjanya yang sunyi dan beraroma kayu mahal, Angkasa menerima berkas tipis dari tangan orang kepercayaannya. Sorot matanya menyipit ketika membaca hasil penyelidikan itu.
“Jadi… Dokter Arunika, sang Dokter Jenius adalah istri sah Simon Wijaya?” gumamnya pelan, sudut bibirnya terangkat samar. “Menarik, selama ini yang berdiri di sisi Simon justru wanita lain. Apa ini sekadar profesionalitas… atau perselingkuhan?”
Orang suruhannya menunduk hormat sebelum menjawab, suaranya tenang dan terukur.
“Untuk saat ini belum ditemukan bukti bahwa Tuan Simon berselingkuh, Tuan. Namun memang benar, dalam setiap jamuan dan pertemuan bisnis, beliau selalu didampingi Dokter Riana. Ia dokter yang dipercaya dalam proyek perusahaan.”
Angkasa menyandarkan punggungnya pada kursi, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja. Tatapannya berubah tajam, seolah tengah menyusun langkah berikutnya.
“Teruskan penyelidikan,” ucapnya tegas. “Aku ingin fakta, bukan asumsi. Jika ada celah, sekecil apa pun, temukan.”
“Baik, Tuan. Akan segera saya tindak lanjuti.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Namun di balik sunyi tersebut, sesuatu tengah digerakkan.
Malam itu di rumahnya, Simon membanting gelas kristal ke dinding.
“Dia menggugatku lebih dulu?!” suaranya parau oleh amarah dan harga diri yang terkoyak.
Nyonya Mirna berdiri kaku di dekat jendela. “Itu tidak boleh terjadi, nama baik keluarga kita akan tercoreng.”
“Dia pikir bisa menjatuhkanku?” Simon tertawa dingin. “Dia hanya wanita tanpa pekerjaan.”
Namun justru kata-kata itu terasa kosong bahkan di telinganya sendiri. Sebab sejak malam Gala tadi, bisik-bisik mulai beredar.
Istrinya yang menyelamatkan komisaris. Kenapa bukan Dokter Riana yang selalu Simon banggakan? Bahkan, sebentar lagi pasti akan ada berita mengapa mereka bercerai tepat setelah insiden itu?
Harga dirinya tergores, dan Simon tidak pernah tahu cara memperbaiki sesuatu selain dengan menyerang.
___
Keesokan harinya, konferensi pers mendadak digelar setelah berita perceraiannya menyebar.
Simon berdiri di depan wartawan.
“Istri saya selama ini mengalami tekanan emosional dan memilih meninggalkan rumah tanpa diskusi matang. Saya menghormati keputusannya, meski itu bukan keputusan yang bijak.”
Kalimatnya halus, tapi maknanya jelas. Ia membentuk sebuah narasi, jika Arunika tidak stabil secara emosional.
Dan tentu saja, media tak pernah melewatkan apa pun yang bisa dijadikan bahan pemberitaan—mereka segera membesar-besarkan kabar itu, mengolahnya seolah drama yang layak disajikan di halaman utama.
Di apartemennya, Arunika menonton siaran ulang itu tanpa ekspresi. Karena perang psikologis bukan tentang siapa yang berbicara paling keras, melainkan siapa yang memegang bukti paling kuat.
Sementara itu, Riana juga mulai bergerak. Ia menghubungi salah satu perawat senior Rumah Sakit Cakrawala—orang yang pernah tidak lolos seleksi kenaikan jabatan.
“Aku hanya butuh akses jadwal operasi dan laporan komplikasi tiga bulan terakhir,” ucap Riana pelan. “Khususnya operasi yang ditandatangani oleh kepala tim anonim itu.”
“Untuk apa, Dok?”
“Untuk memastikan tidak ada yang dilebih-lebihkan.”
Namun yang ia cari bukan kebenaran, ia mencari celah menjatuhkan Arunika. Dan jika ia menemukannya, hanya butuh satu kasus agar bisa ia manipulasi.
Beberapa waktu kemudian, Riana mendapatkannya. Ada Pasien bypass koroner yang mengalami komplikasi pascaoperasi dan meninggal dua hari kemudian. Kasus itu sebenarnya kompleks, faktor komorbid berat dan risiko sudah tinggi sejak awal. Namun di tangan yang salah… data bisa berubah makna.
Riana tersenyum tipis.
“Dokter jenius pun bisa melakukan kesalahan, kan?” gumamnya seraya tersenyum dingin.
*****
Seminggu kemudian.
Media kesehatan mendadak memuat artikel anonim.
“Apakah Kepala Tim Bedah Proyek Pusat Jantung Menyembunyikan Kematian Pasien?”
Isinya spekulatif, mereka tidak menyebutkan nama tapi menyudutkan.
Investor mulai gelisah, Angkasa menerima laporan itu dengan wajah datar. “Siapa sumbernya?”
“Jejak digital mengarah pada akun yang terhubung dengan perangkat internal perusahaan Wijaya.”
Angkasa tidak langsung bereaksi.
“Jangan hapus artikel itu.”
“Tuan?”
“Biarkan menyebar.”
Asistennya terdiam.
Angkasa tersenyum tipis. “Kadang, orang yang merasa pintar akan memperlihatkan seluruh kartunya lebih cepat dari yang seharusnya.”
Dan, tekanan mulai terasa di rumah sakit. Beberapa anggota tim mempertanyakan keputusan klinis dalam kasus tersebut, namun Arunika tetap tenang.
“Kumpulkan seluruh rekam medis asli,” ucap Arunika singkat.
Ia duduk menelaah ulang prosedur itu, frame demi frame rekaman operasi.
Tidak ada kesalahan teknis.
Yang ada… adalah sesuatu yang janggal pada pemberian obat pascaoperasi. Dosis antikoagulan tercatat berbeda antara instruksi dan eksekusi.
Arunika menyipitkan mata. “Ini bukan komplikasi spontan, ini manipulasi.“
Dan... di sisi lain kota, Simon semakin agresif. Ia menghadiri jamuan lain—kali ini terang-terangan dia menggandeng Riana.
“Istri saya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri,” katanya di depan beberapa kolega. “Dia lupa bagaimana mendukung suami.”
Seseorang bertanya hati-hati, “Bukankah beliau yang menyelamatkan Pak Suryadi malam itu?”
Simon tersenyum tipis. “Itu hanya tindakan refleks dalam pertolongan pertama, tidak perlu dibesar-besarkan. Dokter Riana jauh lebih kompeten. Hanya saja saat itu… Arunika yang tiba-tiba mengambil alih tanpa tahu diri.”
Riana merasa Simon berpihak padanya, ia pun bisa melangkah lebih jauh. Ia mengirim laporan resmi ke dewan etik medis, menuntut investigasi terhadap Dokter Anonim atas dugaan malpraktik yang ditutup-tutupi demi reputasi proyek. Ia meyakini satu hal, jika reputasi dokter itu runtuh... proyek pun akan goyah. Dan Simon akan kembali dominan.
Namun Riana tidak sadar, investigasi resmi berarti audit menyeluruh. Termasuk akses ke rekaman internal, dan juga akses ke log sistem farmasi digital. Dan di sanalah… nama pengguna yang mengubah dosis obat pascaoperasi tercatat jelas.
Bukan tim inti, melainkan akses cadangan yang pernah digunakan oleh dokter tamu dengan izin sementara—Dokter Riana.
____
Malam itu, Angkasa memanggil Arunika secara langsung untuk pertama kalinya di luar konteks profesional.
“Skandal ini disengaja,” ujarnya lugas.
“Saya tahu.”
“Kamu tidak marah?”
Arunika menatap layar laptopnya yang menampilkan bukti digital. “Saya lebih tertarik pada orang itu, dia terlalu percaya diri.”
Angkasa terdiam sejenak. “Jika ini dipublikasikan, identitasmu bisa ikut terseret.”
“Saya belum ingin terbuka.”
“Lalu?”
Arunika menutup laptopnya perlahan. “Kita naikkan ini ke perang terbuka.”
“Tanpa membuka namamu?”
“Tanpa membuka nama saya.” Tatapan Arunika berubah dingin. “Biarkan mereka merasa hampir menang, lalu cabut pijakan mereka sekaligus.”
Keesokan harinya, Dewan Kode Etik mengumumkan hasil awal. “Ditemukan indikasi manipulasi data farmasi dalam kasus yang dituduhkan sebagai malpraktik.”
Nama pelaku belum diumumkan, namun investigasi mengarah pada dokter eksternal yang memiliki akses sementara. Itu mengarah pada... Riana.
Riana membaca pengumuman itu dengan tangan gemetar. “Tidak mungkin…” bisiknya.
Ia yakin jejaknya bersih, namun sistem digital tidak pernah benar-benar lupa.
Sementara itu, Simon menerima panggilan dari salah satu investor. “Kami menunda pembahasan kerja sama sampai situasi internal Anda stabil.”
Kata-kata itu menusuk.
Perceraian, skandal. Rumor perselingkuhan, dan tuduhan manipulasi medis. Simon merasa kendali benar-benar lepas darinya. Dan semua itu terjadi… setelah Arunika pergi. Ia berdiri sendirian di ruang tamu besar yang kini terasa kosong, saat itu muncul pertanyaan yang tidak ingin ia akui.
Sebenarnya apa alasan yang membuatnya terus meremehkan dan mengabaikan Arunika selama ini? Hanya karena wanita itu adalah istri pilihan kakeknya? Bahkan dalam kesombongannya, ia merasa Arunika tidak layak menerima cintanya.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️