Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7
"Kau menunggu apa? Cepat keluar. Aku tahu kau didalam."
Ucapku santai kepada orang yang bersembunyi sedari tadi di toilet sebelah. Dengan canggung dia keluar dari toilet itu.
"A-anu... A-aku minta maaf karena..."
"Sudah diam. Tidak masalah jika kamu tidak membantuku."
Aku menoleh dan menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki."
"Aku mengerti."
Lanjutku.
Gadis berkacamata. Tidak begitu cantik. Sedikit berisi. Dan culun. Aku mengerti. Sepertinya dia juga salah satu orang yang sering di rundung di sekolah ini. Aku melihat bayangan Ara dan Karin dari dirinya. Hanya saja yang satu ini... benar-benar tidak ada keberanian sedikitpun yang terlihat di dalam dirinya.
"Aku ingin kau menjelaskan mengenai pangeran-pangeran yang mereka maksudkan itu padaku. Mari kita berteman."
Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan.
Aku berpikir bahwa aku lebih cocok berteman dengan orang seperti dirinya di sekolah ini. Aku pikir sifatnya tidak akan jauh seperti Ara dan Karin kan? Mungkin? Entahlah. Mari bertaruh saja!! Aku akan berteman dengannya untuk memastikan hal itu.
"Tidak usah takut denganku. Jika perlu, kita bisa merahasiakan pertemanan ini. Aku akan melindungimu."
"Bu-bukan itu. Aku bukannya tidak mau berteman. A-aku... Hanya..."
"Tidak ada yang mau berteman denganmu jadi kamu sedikit terkejut akan tawaran pertemanan ini. Bukankah begitu?"
Wanita itu terdiam. Seperti yang ku duga bahwa ucapanku itu sepertinya memang benar.
"Kau sangat cantik. Aku... apa aku pantas berteman denganmu?"
"Haish! Apa di negara P ini selalu seperti ini dalam berteman?"
"Ti-tidak! Bukan itu... aku... Hanya saja aku..."
"Aku tau, kamu takut jika kamu berteman denganku kamu akan makin dirundung oleh mereka kan? Tapi untuk kali ini cobalah percaya padaku. Aku akan melindungimu. Berikan ponselmu."
Dengan ragu wanita itu memberikan ponselnya padaku. Lalu aku memasukan nomorku dan mengirim nomornya keponselku.
"Aku sudah menaruh nomor ku diponselmu. Dan aku juga sudah mempunyai nomormu. Aku akan menghubungimu lagi untuk meminta penjelasan mengenai pangeran-pangeran itu."
Aku melangkah pergi meninggalkan toilet itu dengan pakaian dan rambut yang basah.
"Ka-kau mau kemana dengan pakaian basah itu?"
"Ke kelas. Mengambil tasku. Entah bagaimana nasib tasku disana sekarang."
Aku keluar dengan santainya.
"Wanita itu... berkilau..."
Ucap gadis itu saat aku meninggalkannya.
Dalam perjalanan menuju kelas, semua mata tertuju padaku.
"Kenapa dia?"
"Di bully kah?"
"Astaga."
"Tetap cantik ya dia dengan pakaian basah begitu."
"Kenapa?"
"Cantik"
"Wah-wah! Berita besar!"
Kalimat-kalimat itu terus terdengar ketika aku melewati koridor menuju ke kelasku. Sesampainya dikelas. Benar dugaanku, tasku sudah menggantung di pintu kelas. Untung saja mereka tidak mengeluarkan isi tasku. Lalu tiba-tiba seseorang menjambak rambutku.
"Aw!"
Jeritku kesakitan.
"Sakit? Aku akan mengampunimu hari ini. Tapi tidak untuk hari-hari berikutnya."
Dengan sigap aku menepis tangannya dari kepalaku. Lalu mengunci pergerakan tangannya dan menempatan tangannya kebelakang tubuhnya.
"Aaaa!"
Teriak Jina kesakitan.
Semua orang menatapku terkejut. Keramaian itu berubah menjadi keheningan seketika.
"Kau dengarkan aku! Tidak ada yang boleh menyentuhku tanpa seizinku. Aku memaafkanmu hari ini karena aku pikir itu adalah pesta penyambutanku. Aku membiarkanmu bebas melakukan apapun padaku karena aku bermurah hati. Sebenernya, aku tidak perduli dengan pangeran-pangeranmu itu. Aku bahkan tidak tahu omong kosong apa yang kau sebutkan mengenai pangeranmu itu. Aku sungguh tidak perduli! Aku sudah bilang padamu bahwa aku hanya kebetulan bertemu dengannya! Jika kamu tidak suka, itu bukan urusanku!"
Ucapku lalu mendorongnya kearah teman-temannya yang ternyata sudah menunggu kedatanganku di dalam kelas.
"Jina! Kau tidak apa-apa?"
Yuka menoleh kearahku dengan penuh amarah sambil mengarahkan telunjuknya kearahku.
"Kau! Berani kamu menyakiti Jina?!"
Seorang pria tiba-tiba menghampiri kami. Dan meraih tanganku. Saat aku tahu siapa laki-laki itu, sontak aku menghempaskan genggaman tangan itu dari tanganku.
"Kau tidak apa-apa?"
Aku benar-benar kesal sekarang.
"Tidak usah kau campuri keadaanku. Urus saja fans sialanmu itu!"
Dengan mudahnya aku melompat dan mengambil tasku. Kemudian aku pergi. Perhatian itu terus tertuju padaku mungkin tubuhku bisa bolong jika mereka terus menatapku dengan tatapan begitu. Samar-samar aku mendengar pembicaraan mereka.
"Senior Mark!"
Rengek Jina mencoba mencari perhatian. Namun Mark tidak perduli dengan mereka. Dia kemudian mengejarku. Temannya yang mengikuti Mark mengikutinya dari dibelakangnya.
...----------------...
Point of view Gerald
Melihat kejadian epic seorang wanita yang menjatuhkan harga diri Jina. Anak tunggal kaya di tingkat kelasnya, membuat jantungku berdetak aneh untuk pertama kalinya.
"Menarik."
...----------------...
Point of view Tuan Josep
Menjadi seorang guru diusia muda adalah hal yang tidak mudah. Tidak jarang siswa dan siswiku hanya mengabaikan nasihat dariku. Kebanyakan siswaku menyukai pelajaranku karena menyukai wajahku. Hal yang bagus juga terlahir dengan wajah ini.
Namaku Josep. Aku seorang guru matematika. Aku adalah guru baru. Sekolah ini adalah milik ayahku. Namun aku merahasiakan identitasku. Masih banyak yang belum kuketahui tentang sekolah ini. Termasuk karakter-karakter muridku. Aku pikir waktu satu tahun belum cukup untuk mengenal sekolah dan seisinya. Muridku bilang aku adalah guru tertampan disekolah ini. Tapi mereka bilang juga ketampananku masih kalah dengan kedua pangeran sekolah ini. Pangeran? Haha. Ya, itu hal lucu bukan?
Usiaku baru 24 tahun, aku belum pernah berpacaran sampai saat ini. Bukan karena aku tidak laku atau karena aku seorang gay. Hanya saja aku merasa tidak ada satupun wanita yang mampu menggetarkan hatiku. Namun, suatu ketika saat aku melihat salah satu tingkah siswiku. Aku merasakan hal yang mungkin akan membuatku berubah kedepannya. Dia begitu berani, penuh percaya diri, dan tanpa rasa takut.
"Sela, panggil Jina dan Teman-temannya serta gadis yang pakaiannya basah itu keruang guru sekarang juga untuk menemuiku"."
Perintahku pada salah satu muridku setelah aku menyaksikan kejadian perundungan didepan pintu kelas itu.
Aku seorang guru dan juga wali kelas mereka. Aku tidak bisa berdiam diri saat aku menyaksikan ketidakadilan didepan mataku. Aku memanggil mereka secara pribadi. Tentu saja aku telah meminta izin kepada guru pelajaran selanjutnya yang akan mengajar mereka setelah istirahat.
Aku mulai mengintrogasi mereka dengan pertanyaan-pertanyaanku. Namun gadis itu hanya terdiam dan terus membiarkan Jina dan teman-temannya yang lain membela diri mereka sendiri. Tatapan mata gadis itu yang sebelumnya ceria kini terlihat dingin dan penuh dengan ke tidak sukaan. Aku pun mulai memberikan kesempatan padanya untuk membela diri.
"Aku tidak ingin menjelaskan apapun. Aku menerima semua kesalahanku."
Ucapnya dengan tegas. Tidak ada kegoyahan disetiap kata yang keluar dari bibir mungilnya itu.
"Benarkan pak?! Itu salah dia sendiri."
Ucap Jina.
"Ya sudah. Saya ingin kalian berbaikan mulai sekarang."
Hanya keputusan itu yang bisa aku lakukan sekarang. Melihat perundungan didepan mataku sebelumnya dan melihat reaksi gadis itu yang tidak peduli sama sekali untuk memberi penjelasan, cukup sulit untuk menghukum Jina dan teman-temannya dengan adil. Mereka pun berjabat tangan dengan perasaan terpaksa yang jelas tergambar di wajah mereka masing-masing. Di kepalaku penuh dengan pertanyaan mengenai tingkah gadis itu. Mengapa? Mengapa dia tidak bilang dan mengadu padaku? Padahal jika dia menjelaskannya padaku, aku akan menghukum Jina dan teman-temannya dengan bukti CCTV yang sengaja kupasang secara tersembunyi. Saat mereka hendak keluar aku memanggil gadis itu.
"Mila."
"Ya, pak Josep?"
"Setelah pelajaran hari ini selesai, saya ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Baik, pak."
......................
'Tok tok'
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Diruangan ini aku hanya sendiri karena sebagian guru sudah pulang dan sisanya sedang mengurus kegiatan ekstrakulikuler. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Jam keluar sekolah adalah jam 3. Entah apa yang membuat gadis itu terlambat. Namun aku tetap menunggunya.
"Pak Josep, maaf. Saya terlambat. Hachi!"
Gadis itu bersin. Sepertinya dia flu karena memakai pakaian basah tadi.
"Mau teh hangat?"
Tawarku padanya.
"Tidak. Terimakasih. Pak Josep, apa yang ingin bapak bicarakan?"
"Jika kau kesulitan disini, aku harap kau bisa menceritakannya padaku."
"Aku tidak kesulitan."
Jawabnya Tegas seperti sebelumnya.
"Tapi tadi..."
"Lupakan soal tadi, pak. Bapak terlalu terfokus dengan apa yang bapak lihat saja. Apa bapak pernah mencari tahu bahwa perundungan ini tidak hanya terjadi didepan mata pak Josep saja? Maafkan saya atas ketidak sopanan dalam berbicara ini. Saya pikir, bapak tidak tahu apapun. Saya sudah tahu apa yang akan bapak bicarakan ketika meminta saya untuk menemui bapak dijam pulang sekolah ini. Maka dari itu, saya mengatakan ini pada bapak."
Seketika bibirku kelu. Dan aku tak mampu mengatakan apapun. Setiap perkataannya menusuk tajam bagai panah yang menembus dadaku. Begitu arogan. Tapi memang benar adanya. Aku memang tidak mengetahui apapun.
"Maaf, pak. Saya harus pergi. Ayah saya akan pulang. Dan saya harus memasak juga untuknya. Permisi."
Gadis itu lalu membalikan badan. Dan sebelum kepergiannya dia mengatakan hal terakhirnya sebelum pergi.
"Murid-murid bapak begitu pandai menyembunyikan bangkai. Saya harap, Pak Josep lebih membuka mata. Bukan saya yang pantas untuk ditolong oleh bapak. Tidak semua orang dapat mengadu pada seorang guru. Mereka memiliki alasan mengapa mereka tidak bisa melakukannya."
Diapun pergi sebelum aku menyuruhnya pergi. Tidak sopan. Tapi entah mengapa setiap kata yang keluar dari bibirnya membuat hatiku bergetar untuk pertama kalinya. Begitu tegas dan berani. Dia menyampaikan keluhannya padaku dihari pertamanya sekolah. Untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan ini. Dan itu pun dibuat oleh gadis berusia 17 Tahun. Carmila. Si murid baru. Dari negara S.