NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 26

Pagi setelah hujan besar itu, udara terasa begitu padat oleh aroma ozon dan tanah yang basah. Seperti yang diperkirakan Mahesa, beberapa dahan tua di sekitar jalan setapak menuju lembah patah, namun hutan memiliki cara unik untuk merapikan dirinya sendiri; celah cahaya baru terbuka di kanopi, memberi kesempatan bagi bibit-bibit kecil di lantai hutan untuk berebut asupan surya.

Andi sudah berada di luar sejak subuh, bukan dengan gergaji mesin, melainkan dengan kapak tangan dan tali ijuk. Ia tidak membuang dahan yang jatuh, melainkan menyusunnya kembali menjadi pembatas alami agar aliran air hujan tidak menggerus humus di kemiringan bukit.

"Ndi, lihat ini," panggil Siska yang sedang membantu Siti mengumpulkan jamur hutan di batang pohon yang mulai melapuk.

Siska menunjuk ke arah akar Si Mbah Jagat. Di sana, di antara celah akar yang membentuk gua kecil, terdapat sisa-sisa bulu burung hutan dan bekas cakaran halus. Bukan cakaran predator besar, melainkan sesuatu yang lebih kecil dan lincah.

"Kucing kuwuk," gumam Mahesa yang baru bergabung dengan membawa catatan cuaca hariannya. "Mereka mulai berani mendekat ke pemukiman kita. Itu tandanya batas antara 'milik manusia' dan 'milik hutan' sudah mulai pudar. Mereka merasa aman di sini."

Siti tertawa kecil, tangannya yang mungil membelai kulit pohon ulin yang dingin. "Si Mbah sedang menjaga mereka, Pak Mahesa. Kemarin Siti lihat ada tupai yang tidur tepat di atas dahan rendahnya, padahal biasanya mereka takut kalau ada orang lewat."

Di tengah kesibukan pagi itu, Dedi berlari dari arah dermaga dengan wajah kemerahan. Di tangannya, ia memegang sebuah botol kaca kosong yang tampaknya hanyut dari hilir.

"Ada tulisan di dalamnya, Bu Siska!" seru Dedi terengah-engah.

Siska menerima botol itu, membukanya, dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak lembap. Alih-alih laporan korporat atau ancaman penggusuran, kertas itu berisi tulisan tangan yang kasar namun terbaca jelas:

> "Terima kasih sudah menjaga air tetap jernih. Kami di hilir sudah bisa memasang jala lagi tanpa takut kena limbah. Salam dari desa seberang bukit."

>

Siska terdiam sejenak, memberikan kertas itu kepada Andi dan Mahesa. Tidak ada stempel resmi, tidak ada tanda tangan pejabat. Hanya sebuah pengakuan dari sesama penghuni sungai.

"Ini jauh lebih baik daripada penghargaan 'CEO of the Year'," bisik Siska dengan senyum yang mencapai matanya.

Mahesa bersandar pada salah satu batang pohon, menatap ke arah aliran sungai yang mengalir tenang. "Dulu kita menghabiskan energi untuk meyakinkan dunia melalui presentasi dan data. Ternyata, kita hanya perlu menunjukkan hasilnya lewat air yang jernih dan hutan yang tenang."

Sore harinya, mereka tidak melanjutkan pekerjaan berat. Andi memutuskan untuk membawa mereka semua ke bagian sungai yang lebih dalam, tempat airnya membentuk pusaran kecil yang jernih seperti cermin. Mereka berenang bersama anak-anak desa, tertawa lepas tanpa beban protokol atau citra diri.

Di atas mereka, Ratu Kanopi melambai pelan tertiup angin sore, seolah-olah sedang ikut menari merayakan kehidupan yang baru.

Malam pun turun kembali dengan pelan. Di Arlan, kegelapan tidak pernah terasa menakutkan. Kegelapan adalah selimut yang memberikan istirahat bagi segala yang bernapas. Siska, Andi, dan Mahesa kini mengerti satu hal: mereka tidak pernah benar-benar memiliki Arlan. Arlan-lah yang memiliki mereka, dan dalam kepemilikan itu, mereka justru menemukan kemerdekaan yang paling hakiki.

Malam itu, Borneo tidak memberikan cahaya bintang; langit tertutup awan mendung yang menggantung rendah, menciptakan suasana yang begitu intim dan kedap. Hanya ada suara kayu bakar yang meletup di perapian depan pondok dan desis sisa hujan di atas dedaunan.

Mahesa sudah pamit tidur lebih awal, sementara Dedi dan Siti telah pulang ke rumah orang tua mereka di desa. Di teras kayu yang dibangun dengan tangannya sendiri, Andi duduk bersandar pada tiang, menatap Siska yang sedang asyik merapikan catatan pengamatan bibit ulin di bawah temaram lampu minyak.

"Sis," panggil Andi pelan. Suaranya berat, menyatu dengan desau angin.

Siska menoleh, merapikan anak rambut yang tertiup angin. "Ya, Ndi? Belum mengantuk?"

Andi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri, masuk ke dalam pondok sebentar, lalu kembali dengan sebuah benda kecil di tangannya. Bukan kotak beludru merah seperti yang biasa terlihat di restoran mewah Jakarta, melainkan sebuah lingkaran kecil yang terbungkus sehelai daun pakis segar.

Ia duduk di depan Siska, tepat di atas lantai kayu ulin yang dingin namun kokoh.

"Dulu, di Jakarta, aku pernah membayangkan momen ini," Andi memulai, matanya menatap dalam ke netra Siska. "Aku membayangkan restoran di lantai lima puluh, lampu kota di bawah kita, dan sebuah cincin berlian yang harganya setara dengan biaya operasional yayasan selama setahun."

Siska terpaku, pena di tangannya perlahan diletakkan di atas meja.

"Tapi di sini," Andi melanjutkan sambil membuka bungkusan daun pakis itu, "aku sadar bahwa semua itu hanya kebisingan. Berlian tidak ada artinya di hadapan akar ulin. Jadi, aku membuatkanmu ini."

Di telapak tangan Andi, tergeletak sebuah cincin yang sangat indah namun bersahaja. Cincin itu diukir dari teras kayu gaharu yang sudah mati secara alami, berwarna gelap mengkilap dengan aroma wangi yang sangat samar namun menenangkan. Di bagian tengahnya, terdapat sebuah batu sungai kecil berwarna bening yang telah dihaluskan hingga menyerupai permata fajar.

"Kayu ini melambangkan ketahanan, dan batu ini adalah kejernihan sungai yang kita jaga bersama," bisik Andi. "Siska, aku tidak punya saham untuk dibagikan, tidak ada jabatan untuk ditawarkan. Aku hanya punya tangan yang siap membangun rumah untukmu, dan kaki yang akan selalu berjalan di sampingmu, menembus hutan ini sampai kita sama-sama menjadi tanah."

Siska merasakan tenggorokannya tercekat. Segala kata-kata diplomasi dan retorika hebat yang dulu ia kuasai di ruang rapat menguap begitu saja.

"Ndi..."

"Aku ingin kita menua seperti Si Mbah Jagat," potong Andi lembut. "Tetap berdiri tegak meski badai datang, dan menjadi tempat bernaung bagi siapa pun yang tersesat. Apakah kamu mau menjadi bagian dari 'Rumah Pulang' ini selamanya?"

Air mata Siska jatuh, tapi itu adalah air mata kelegaan yang luar biasa. Ia mengulurkan jari manisnya. Saat Andi menyematkan cincin gaharu itu, rasanya lebih pas dan lebih berat maknanya daripada logam mulia mana pun di dunia.

"Jawabanmu?" Andi bertanya, ada nada cemas yang manusiawi di balik suaranya yang tenang.

Siska menarik napas dalam, aroma hutan dan kayu gaharu menyatu di indranya. Ia menarik tangan Andi, mencium punggung tangan yang kasar karena kerja keras itu, lalu menyandarkan keningnya di sana.

"Ya, Andi. Di sini, di hadapan hutan yang menyelamatkan kita... aku mau."

Malam itu, tidak ada kembang api atau musik orkestra. Hanya ada suara sungai yang mengalir di bawah jembatan, dan dua detak jantung yang kini memiliki satu tujuan yang sama. Mereka tidak lagi hanya berbagi visi tentang hutan, tapi berbagi hidup yang akan terus berakar, tumbuh, dan abadi di jantung Borneo.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!