⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTUSNYA SEBUAH PERSAHABATAN
BAB 203:
"Terus, gimana soal hotel?" Salah satu aktor dari tim lawan yang sudah dikasih hati malah minta jantung, masih saja ngotot tidak mau mengalah.
Awalnya Raka belum ngeh. Namun beberapa saat kemudian dia tersenyum dan membalas, "Maksud lu, tim lu udah terlanjur booking hotel di sekitar sini? Berapa biayanya? Sini gua balikin dua kali lipat."
"Tiga puluh juta per kamar!" Mendengar si aktor menyebut angka segitu, Satria pelan-pelan menarik ujung baju Raka, memberi isyarat kalau harga hotel di daerah situ tidak mungkin semahal itu.
Namun Raka masih bersantai sambil tersenyum. "Gini aja deh, matematika gua agak jelek. Coba lu tolong hitungin, total biaya menginap buat satu tim lu kira-kira habis berapa."
"Lima miliar!" Orang itu nyerocos tanpa berpikir dua kali.
Orang-orang di pihak Raka langsung emosi. "Bacot lu! Ngibul aja, tim lu emangnya ada berapa orang hah?!" Raka langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat agar anak buahnya tidak perlu meladeni mereka adu mulut.
"Oke, lima miliar ya lima miliar. Gua lunasin sekarang juga, cash. Tapi habis itu tolong pada cabut dan kasih gua ketenangan."
"Deal."
Di perjalanan pulang, Satria masih tidak terima. "Bos, kita rugi bandar ini mah."
Raka menjawab dengan nada dingin, "Lu tahu apa? Ini namanya modal buat jaga koneksi biar rezeki lancar!"
"Itu mah rezeki mereka yang lancar, Bos! Kita tetep aja buntung!" bantah Satria.
"Cuma lima miliar doang," sahut Raka enteng, seolah uangnya memang memetik dari pohon di halaman rumah.
Satria cuma bisa speechless. Begini ya kelakuan orang kaya membakar uangnya? Pekerjaan macam ini benar-benar jauh dari ekspektasi awal tentang manajemen operasional perusahaan yang profesional. Tapi mau bagaimana lagi, gajinya terlampau besar. Ya sudahlah, telan saja.
Sementara itu, di sebuah bar kecil yang tersembunyi di salah satu lantai Gedung Grup Adiyaksa... Wahyu tampak duduk sendirian di sudut ruangan, menenggak minuman keras dengan wajah muram.
Fasilitas gedung ini memang tidak main-main lengkapnya. Sengaja dibuat senyaman rumah agar pegawainya betah tinggal dan gampang disuruh lembur terus-terusan, kan? Wahyu tersenyum sinis sambil menenggak liquor-nya dengan kasar.
Seorang bartender menghampirinya dan mencoba mengingatkan, "Bang Wahyu, ini masih siang lho, masih banyak kerjaan masa udah minum seberat ini? Nggak enak dilihat yang lain."
"Nggak pantes apanya?!" Wahyu mendongak menatapnya dengan pandangan nanar khas orang mabuk. Pekerjaannya yang menumpuk membuatnya harus bolak-balik ke seluruh penjuru gedung. Makanya, dari level manajer penanggung jawab lantai sampai staf cleaning service, tidak ada yang tidak kenal siapa Wahyu.
"Ntar kalau Pak Raka tahu, dia pasti ngamuk," bisik bartender itu pelan. Anak-anak lantai bawah memang jarang berinteraksi langsung dengan Raka, tapi rumor tentang temperamennya sudah jadi rahasia umum.
"Cih," Wahyu mendengus dingin. "Biarin aja anjing itu marah-marah sendiri. Gua mau minum ya urusan gua, nggak usah ikut campur!"
Wajah si bartender langsung pucat mendengarnya. Wah, ini dua pentolan sedang ribut kah? "Minum begini ngerusak badan, Bang. Kalau lu masih bandel, besok-besok gua nggak mau lagi ngelayanin lu," ancam sang bartender dengan gaya sok bossy sambil merampas botol alkohol dari tangan Wahyu.
Wahyu malah tertawa ngakak. "Nikmatin aja mabuk hari ini buat ngelepas penat hari ini!"
"Ngomong apaan sih lu, Bang? Pusing gua denger kata-kata orang pinter..." sahut si bartender dengan tatapan aneh.
Tepat saat itu, ponsel Wahyu berdering. Tanpa melihat layarnya, Wahyu langsung me-reject panggilan tersebut.
"Kok dimatiin? Siapa tau ada urusan penting, Bang?"
"Kalau penting ya suruh aja orang lain bantuin dia! Gua capek-capek kerja banting tulang tiap hari juga kagak pernah dihargai, buat apaan?!"
"Wah, beneran lagi berantem ni ye?" ledek si bartender dengan tampang kepo maksimal.
Ponselnya berdering lagi. Bukannya diangkat, Wahyu malah langsung mematikan daya ponselnya sekalian.
Di sisi lain, di ruang kantor super mewah lantai paling atas.
"Bangsat bener, udah berani lu ya nolak telepon gua?" Raka menggertakkan gigi menahan emosi sambil menatap layar iPhone-nya. Dia mencoba menelepon berulang kali, tapi sialnya nomor Wahyu malah sudah tidak aktif.
Kejadian ini bermula setengah jam yang lalu. Saat Raka kembali ke ruangan, dia mendapati Wahyu tidak ada di mejanya. Setelah beberapa kali ditelepon tak diangkat, terjadilah situasi seperti sekarang.Kelihatannya saja Raka sedang emosi jiwa, tapi sebenarnya dalam hatinya dia khawatir sekali. Dia mondar-mandir tak karuan di dalam ruangan, memutar otak memikirkan cara menyeret Wahyu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Eh, Bos Raka? Tumben?" Satria terkejut bukan main. Biasanya kan dia yang selalu dipanggil ke ruangan bosnya, kok ini malah Raka yang turun gunung menghampiri ruangannya?
"Ada masalah, Bos?" tanya Satria prihatin melihat raut wajah Raka yang tidak beres.
Raka sempat ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya melontarkan permintaan yang agak canggung. "Sat, gua tau lu lulusan kampus teknik, mestinya lu punya bakat hacker soal beginian dong?"
Satria makin bingung. "Loh, waktu awal ngelamar kan di CV gua udah tertulis jelas kalau gua master di semua bahasa pemrograman. Lu kagak baca ya, Bos?"
"Ya baca lah!" sangkal Raka buru-buru. "Gua cuma agak lupa aja dikit."
"Btw, lu bisa nggak ngelacak lokasi hape seseorang?" tanya Raka penuh selidik.
"Kecil itu mah," jawab Satria santai sambil mengangkat kedua tangannya.
"Mantap bener!" Wajah Raka langsung semringah gembira. "Bisa tolongin gua nggak?"
"Kalau masih jobdesc kantor sih gratis, Bos. Tapi kalau kerjaan sampingan di luar kontrak, ada charge tambahannya. Ingat ya, gua nggak nerima kerjaan ilegal~" jawab Satria ceplas-ceplos.
Melihat gelagat itu, Raka langsung berakting memasang muka paling menderita sedunia. "Lu tau sendiri kan, Wahyu itu sohib karib gua. Statusnya emang asisten pribadi, tapi ikatan batin kita tuh udah kayak saudara kandung... Nah, masalahnya sekarang dia ngilang entah ke mana. Bisa tolong lacakin hape-nya nggak biar kita bisa nyusul dia?"
Di akhir kalimatnya, ekspresi Raka tiba-tiba berubah sangat serius.
Satria jadi gagal paham. "Lah, kalau ngilang ya lapor polisi dong, Bos! Ini urusan gawat darurat loh!"
"Kalau belum 1x24 jam itu polisi nggak bakal mau nerima laporan orang hilang, lu lupa?"
"Oh iya juga ya." Satria baru ngeh. "Yaudah, mana sini nomor hape-nya, gua cek dulu."
Lima menit kemudian.
"Ketemu nih, Bos! Tuh, posisinya di sini!"
Raka menatap layar laptop itu dengan kening berkerut. "Loh, ini mah masih di dalem gedung kita sendiri?!"
"Ya emang. Artinya dia nggak pergi keluar gedung dan posisinya aman, Bos. Lu nggak usah panik berlebihan."
Raka jadi pusing sendiri. Gedung ini tingginya nyaris tiga puluh lantai, per lantainya ada belasan ruangan yang luas, belum termasuk toilet. Wahyu bisa saja bersembunyi di pojokan mana pun, kalau dicari satu-satu manual terlalu merepotkan.
Mau di- announce ke grup WhatsApp kantor juga tidak enak. Menghebohkan hal sepele malah bikin orang berpikir yang aneh-aneh.
"Sat... bulan ini bonus lu gua tambahin lima ratus juta deh. Bisa tolong estimasi titik spesifik lantai dan jarak pastinya nggak?" bujuk Raka dengan senyum liciknya.
Satria melebarkan tangannya. Ada uang melimpah kenapa tidak diambil?
"Sip, posisinya ada di lantai enam nih. Perlu gua panggilin security buat bantu nyeret dia ke mari nggak?"
"Wah, jangan, jangan! Nggak usah lebay sampai kerahin banyak orang," tolak Raka buru-buru.
Baru saja Raka mau memikirkan alasan elegan untuk turun ke lantai enam, tiba-tiba ponselnya berdering. Si penelepon mengaku sebagai Manajer Operasional lantai enam Gedung Grup Adiyaksa.
"Halo, Pak Raka. Di sini ada orang mabuk parah sampai teler. Waktu kami cek ID Card-nya, sepertinya dia Asisten Bapak. Apa Bapak mau turun ke sini buat ambil orangnya?"
"Gua ogah ngurusin orang teler. Suruh orang gotong dia naik ke ruangan gua sekarang," jawab Raka ketus. Berani-beraninya anak ini menolak telepon bosnya cuma demi mabuk-mabukan?! Benar-benar tidak masuk akal!
"Pak Raka, orangnya sudah kami bawa!"
Raka melambaikan tangannya, menyuruh staf-staf itu pergi. Wahyu dibiarkan tergeletak begitu saja di atas karpet mahal ruangannya dengan kondisi lemas tak berdaya. Bau alkohol seketika menyebar ke seluruh penjuru ruangan.
Raka menutup hidungnya sambil melangkah mendekat. "Bagus lu ya, makin jago sekarang. Siang bolong bolos kerja cuma buat mabok?!"
"Alkohol tuh... nggak bikin mabuk... orangnya sendiri yang... pengen mabuk..." racau Wahyu setengah sadar, benar-benar melantur dan tidak menjawab pertanyaan Raka dengan benar.