Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Tumbuh Dalam Kekurangan, Kuat Dalam Doa
Pagi di kampung kecil pinggiran kota selalu datang bersama debu dan suara ayam berkokok.
Rumah Alisha Pratiwi berdiri miring di antara rumah-rumah semi permanen lainnya. Dinding papan sudah lapuk, atap seng bocor di beberapa bagian. Jika hujan turun, ember-ember tua akan berjajar di lantai menampung tetesan air yang jatuh tanpa ampun.
Namun di sanalah Alisha tumbuh.
Seorang anak perempuan kecil dengan mata bening dan senyum lembut. Ia tak pernah tahu bahwa seharusnya ia hidup di rumah megah dengan pelayan dan mobil mewah.
Yang ia tahu hanya satu: hidup harus dijalani dengan sabar.
Sejak usia lima tahun, Alisha sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit.
“Ibu, Alisha bantu masak ya,” ucapnya sambil mengucek mata kecilnya.
Sari menoleh dengan mata yang masih berat oleh kurang tidur.
“Kamu tidur saja, Nak…”
“Tidak apa-apa, Bu. Alisha mau bantu.”
Dengan tubuh mungilnya, Alisha meniup tungku kayu agar api menyala. Asap tipis memenuhi dapur sempit itu. Tangannya hitam oleh arang, pipinya kotor oleh jelaga, tapi ia tak pernah mengeluh.
Ia mengaduk nasi sisa semalam untuk digoreng sederhana, kadang hanya dengan garam dan sedikit minyak.
Itulah sarapan mereka.
Bagas biasanya sudah berangkat ke pelabuhan sebelum matahari naik. Ia bekerja sebagai buruh angkut karung. Kadang dapat upah, kadang pulang dengan tangan kosong.
Namun setiap pulang, ia selalu membawa senyum untuk putrinya.
“Anak Ayah sudah bangun?”
“Sudah, Yah! Ini nasi goreng buatan Alisha.”
Bagas tertawa kecil meski matanya menyimpan lelah yang tak terucap.
“Wah, kok wangi begini.”
Padahal rasanya sangat sederhana.
Namun bagi mereka, itu adalah nikmat terbesar.
Saat Alisha mulai sekolah dasar, kehidupannya tak menjadi lebih mudah.
Seragamnya adalah bekas sepupunya. Sedikit kebesaran dan warnanya tak lagi cerah. Sepatunya sudah sobek di ujung. Tasnya kain lusuh yang warnanya memudar oleh waktu.
Hari pertama sekolah, Alisha menggenggam tangan ibunya erat.
“Ibu… teman-teman nanti mau berteman sama Alisha nggak?”
Sari tersenyum, menahan air mata yang nyaris jatuh.
“Anak baik pasti punya teman, Nak.”
Namun kenyataan sering tak seindah doa.
Di kelas, beberapa anak mulai berbisik.
“Sepatunya jelek.”
“Bajunya kayak bekas.”
“Itu anak miskin ya?”
Alisha mendengarnya.
Setiap kata terasa seperti jarum kecil yang menusuk hati. Tapi ia menunduk dan diam.
Ia belajar menelan sakit sejak kecil.
Saat istirahat, anak-anak jajan permen, roti, dan minuman manis. Tawa mereka riuh memenuhi halaman sekolah.
Alisha hanya duduk di bangku kayu, membuka bekal nasi dengan garam yang dibungkus kertas tipis.
Seorang anak perempuan mendekat sambil tersenyum mengejek.
“Alisha makannya cuma itu?”
Alisha tersenyum kecil.
“Iya… enak kok.”
Padahal tenggorokannya terasa perih menahan tangis.
Meski hidup sulit, Alisha adalah anak yang sangat rajin.
Ia selalu datang paling pagi.
Pulang paling akhir.
Ia membantu guru membersihkan papan tulis. Menyapu kelas tanpa diminta. Merapikan bangku sebelum pulang.
Dan ia selalu mendapat nilai terbaik.
“Alisha ini pintar sekali,” puji gurunya suatu hari.
Beberapa teman hanya melirik sinis.
Pintar tapi miskin.
Itulah cap yang melekat padanya.
Namun Alisha tak peduli.
Ia belajar dengan satu tujuan sederhana.
“Aku mau bikin Ayah dan Ibu hidup enak suatu hari nanti.”
Masalah semakin berat saat Alisha berusia sembilan tahun.
Bagas jatuh sakit karena kelelahan kerja. Tubuhnya panas tinggi selama berhari-hari. Nafasnya berat. Tubuhnya menggigil di atas kasur tipis.
Tak ada uang untuk rumah sakit.
Sari hanya bisa mengompres dengan air hangat dan berdoa dalam diam.
Alisha duduk di samping ayahnya sepanjang malam.
“Ayah jangan pergi ya… Alisha takut…”
Bagas menggenggam tangan kecil itu dengan lemah.
“Ayah kuat… demi kamu…”
Sejak saat itu, Alisha mulai berjualan kecil-kecilan sepulang sekolah.
Kadang gorengan titipan tetangga.
Kadang tisu di lampu merah.
Tubuh kecilnya berdiri berjam-jam di bawah panas matahari yang menyengat.
“Beli tisu, Om… Tante…”
Sering diabaikan.
Kadang diusir.
Tapi ia tetap tersenyum.
Uang receh yang ia kumpulkan disimpan rapi dalam kaleng bekas biskuit untuk membeli obat ayahnya.
Suatu hari hujan turun deras.
Langit gelap lebih cepat dari biasanya.
Alisha masih berdiri di perempatan. Bajunya basah kuyup. Rambutnya menempel di wajah. Tangannya gemetar kedinginan.
Sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya.
Kacanya turun sedikit.
Seorang wanita berpakaian rapi menatapnya dengan tatapan iba.
“Kamu jualan sendirian?”
“Iya, Tante…”
“Orang tuamu ke mana?”
“Di rumah, Tante. Ayah sakit.”
Wanita itu terdiam beberapa detik, lalu menyelipkan selembar uang besar ke tangan kecil Alisha.
“Pulanglah. Hujan begini bisa sakit.”
Alisha membelalak kaget.
“Banyak sekali…”
“Untuk ayahmu.”
Air mata Alisha langsung jatuh bercampur air hujan.
“Terima kasih… terima kasih banyak…”
Mobil itu pergi perlahan, meninggalkan jejak genangan di aspal basah.
Alisha memeluk uang itu seperti harta karun.
Hari itu ia pulang berlari meski hujan mengguyur tanpa ampun.
Malamnya, Sari menangis saat Alisha menyerahkan uang itu.
“Kamu kerja sekeras ini demi Ayah?”
“Alisha nggak apa-apa, Bu. Asal Ayah sembuh.”
Bagas yang masih demam ikut menangis.
“Ayah gagal jadi orang tua…”
Alisha menggeleng cepat.
“Ayah hebat. Alisha bangga.”
Kalimat polos itu membuat Sari dan Bagas terisak lebih keras.
Tahun demi tahun berlalu.
Alisha tumbuh menjadi gadis kecil yang kuat.
Ia terbiasa lapar.
Terbiasa dihina.
Terbiasa bekerja.
Ia tidak pernah terbiasa membenci hidup,ia justru makin rajin berdoa.
“Ya Allah, buat Ayah Ibu sehat… Alisha mau sekolah tinggi… mau bantu mereka…”
Di tengah kemiskinan, hatinya tetap penuh cahaya.
Tak pernah iri pada anak-anak kaya.
Tak pernah mengeluh pada Tuhan.
Ia percaya setiap orang punya jalan masing-masing.
Ia hanya belum tahu…
bahwa jalan hidupnya telah dicuri sejak lahir.
Di suatu malam sepi, Alisha duduk di depan rumah memandangi langit penuh bintang.
“Ibu…”
“Iya, Nak?”
“Kalau Alisha besar nanti, Alisha mau punya rumah yang nggak bocor. Biar Ibu nggak kehujanan lagi.”
Sari tersenyum sambil menahan tangis.
“Doa anak salehah pasti dikabulkan.”
Alisha tersenyum cerah.
“Ayah juga nanti nggak usah kerja berat lagi.”
Bagas mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih.
“Ayah bangga punya anak seperti kamu.”
Tak ada yang tahu…
Gadis kecil penuh luka ini sebenarnya putri seorang konglomerat.
#bersambung