NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Bau kematian yang amis dan tajam mulai secara perlahan mengalahkan aroma bahan kimia yang biasanya selalu memenuhi ruangan laboratorium bawah tanah itu. Bau itu menusuk hidung dengan sangat tajam, membuat setiap napas yang dihirup terasa berat dan membuat perut bergoyang tidak nyaman.

Jam digital yang terpasang di dinding menunjukkan pukul empat pagi tepat pada titik kedua, namun tak satu pun dari ketiga pria yang ada di dalam ruangan itu yang merasakan kantuk sedikit pun. Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, sebuah kandang kaca kecil yang terletak di tengah meja menjadi pusat perhatian yang sangat mengerikan—tempat di mana mereka akan melakukan eksperimen terbaru yang mungkin menjadi harapan atau malah menjadi bukti bahwa semua usaha mereka sia-sia belaka.

"Subjek A-14."

Suara Axel terdengar sangat datar, namun jika diperhatikan dengan saksama, bisa terasa ada getaran halus yang tidak bisa ia sembunyikan dengan sempurna saat ia memegang sebuah spuit besar berisi cairan kuning keemasan yang tampak sangat cantik namun penuh dengan bahaya. Setiap tetesan cairan yang ada di dalam spuit itu seolah menjadi pengingat yang menyakitkan tentang kesalahan yang telah ia buat dan yang kini harus ia perbaiki dengan segala cara mungkin.

Samuel berdiri dengan tubuh sedikit kaku di sisi kanan Axel, kedua tangannya memegang sebuah berkas catatan medis dengan erat hingga ujung kertasnya mulai sedikit kusut. Wajahnya hanya menunjukkan ekspresi yang sangat kaku dan penuh dengan ketegangan.

Di sudut ruangan yang lebih gelap, Doni berdiri dengan posisi sedikit membungkuk, memperhatikan setiap langkah yang dilakukan oleh kedua muda itu dengan napas yang tertahan. Tangannya mencengkeram pinggiran meja lab dengan sangat kuat hingga buku-bukunya menjadi memutih, seolah dengan cara itu ia bisa memberikan kekuatan dan keberanian pada anaknya yang sedang berjuang untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang sangat besar ini.

Axel dengan hati-hati menyuntikkan zat itu ke dalam tubuh seekor tikus putih besar yang sedang berada di dalam kandang kaca itu. Hanya butuh waktu sepuluh detik saja sebelum pemandangan horor yang mereka takuti mulai terjadi dengan sangat jelas.

Tikus yang tadinya tenang dan hanya bergerak perlahan di sekitar dasar kandang itu mendadak mengalami konvulsi yang sangat hebat, tubuhnya melenting ke segala arah dengan gerakan yang tidak terkontrol sama sekali. Suara derak tulang-tulang kecil yang patah dan kemudian tumbuh kembali dengan bentuk yang berbeda terdengar jelas di tengah keheningan ruangan yang sangat menyakitkan itu. Bulu putih yang biasanya menutupi seluruh tubuhnya mulai rontok dengan sangat cepat, menampakkan kulit kemerahan yang sangat sensitif dan dipenuhi dengan urat-urat menonjol berwarna biru gelap yang terus berdenyut dengan cepat.

𝘊𝘪𝘵! 𝘊𝘪𝘵! 𝘊𝘪𝘵!

Suara tikus itu mulai berubah menjadi pekikan yang dalam dan parau, suara yang tidak lagi seperti suara tikus pada umumnya namun lebih mirip suara makhluk yang sedang mengalami penderitaan yang luar biasa besar dan juga mulai menunjukkan sifat yang sangat ganas.

Dengan kecepatan yang sangat cepat dan sulit untuk ditangkap oleh mata telanjang, subjek A-14 tersebut menerjang dengan sangat keras tikus lain yang ada di dalam kandang yang sama—seekor tikus putih lain yang sehat dan tidak diberi zat apapun sebagai kontrol dalam eksperimen ini.

Tidak ada sedikit pun rasa keraguan atau insting sosial yang biasanya dimiliki oleh tikus sebagai hewan sosial; yang ada hanya keganasan yang membuatnya langsung menyerang tanpa ampun.

Tikus mutan itu mencabik dengan sangat kasar tubuh rekannya yang tidak bersalah itu, mengoyak dagingnya yang masih segar dan menelan darahnya dengan cara yang sangat rakus dan tidak terkendali. Setiap gerakan yang dilakukan olehnya menunjukkan bahwa tubuhnya sedang dalam kebutuhan yang sangat mendesak akan energi yang bisa ia dapatkan dari bahan organik apapun yang ada di sekitarnya.

"Ya Tuhan..." Gumam Doni dengan suara kengerian, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menahan rasa mual yang mulai menyerang perutnya.

"Metabolismenya meledak dengan sangat cepat, jauh melampaui batas yang bisa kita bayangkan." Samuel berbisik penuh dengan kekaguman dan juga ketakutan yang mendalam, matanya terpaku pada layar monitor yang menunjukkan lonjakan denyut jantung tikus itu hingga batas yang mustahil untuk sebuah hewan seukuran tikus. Setiap garis yang ada di layar monitor itu menjadi bukti betapa besarnya bahaya yang mereka hadapi dan betapa sulitnya untuk menemukan cara untuk mengatasinya.

"Dia tidak hanya merasa lapar seperti halnya makhluk hidup pada umumnya, Axel. Sel-selnya benar-benar terbakar dari dalam karena proses mutasi yang terlalu cepat. Dia membutuhkan asupan energi organik secara instan untuk bisa mengimbangi laju mutasi yang terjadi di dalam tubuhnya. Jika dia tidak bisa makan dengan segera, dia akan meledak dari dalam karena tidak ada cukup energi untuk menopang proses pembelahan sel yang terus berlangsung tanpa henti itu."

"Aku sudah menyiapkan formulanya dengan sangat cermat." Axel memotong kalimat Samuel dengan napas memburu akibat kegembiraan yang muncul saat ia menyadari bahwa mereka telah menemukan sedikit informasi penting tentang zat yang mereka hadapi.

Ia dengan cepat mengambil sebuah spuit lain yang berisi cairan berwarna biru pucat yang tampak sangat lembut dan menenangkan—penawar yang ia racik sendiri selama dua jam terakhir dengan menggabungkan berbagai jenis bahan kimia yang ia kira bisa bekerja dengan baik untuk menekan proses mutasi itu.

"Ini adalah Formula X-1. Dirancang khusus untuk menurunkan laju pembelahan sel secara paksa tanpa memberikan efek samping yang terlalu besar pada organisme yang menerima dosisnya."

Axel dengan gerakan penuh dengan presisi namun juga sedikit gemetar menyuntikkan penawar itu ke dalam leher tikus mutan yang sedang sibuk memangsa tubuh rekannya yang sudah tidak berdaya. Selama beberapa detik saja, gerakan tikus itu mulai melambat dengan sangat jelas.

Axel menahan napas, matanya yang penuh dengan harapan terpaku pada setiap gerakan yang dilakukan oleh tikus itu, berharap bisa melihat sebuah mukjizat yang akan menjadi bukti bahwa formula yang ia buat bisa bekerja dengan baik dan kemudian bisa diberikan pada Lusy untuk menyembuhkannya.

Namun sayangnya, harapan yang sudah mulai tumbuh di dalam hati Axel itu hancur berkeping-keping dalam sekejap mata saja.

Tikus yang tadinya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan itu mendadak mematung di tempatnya, tubuhnya tidak bergerak sama sekali seolah sedang merenung atau merasakan sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang ada di luar kandang.

Namun kemudian, tubuhnya mulai bergetar dengan sangat hebat, jauh lebih hebat daripada saat ia mengalami konvulsi pertama kali. Setelah itu, cairan hitam yang sangat tidak sedap baunya mulai keluar perlahan dari mata dan mulutnya, mengalir ke bawah dagunya dan jatuh ke dasar kandang yang sudah penuh dengan darah dan daging yang sudah dihancurkan.

Dalam hitungan detik saja, seluruh jaringan tubuh tikus itu mulai melunak dengan sangat cepat, seolah-olah semua organ-organ dalamnya telah mencair akibat reaksi kimia yang terlalu keras dan tidak sesuai dengan kondisi tubuhnya. Akhirnya, tikus itu mati dalam kondisi yang sangat mengenaskan dan menyakitkan untuk dilihat, menyisakan sebuah gumpalan daging tak berbentuk yang tidak bisa dikenali lagi sebagai makhluk hidup di dasar kandang kaca yang kini sudah penuh dengan kotoran dan cairan berbahaya itu.

"Gagal lagi..." Desis Axel dengan rasa sakit dan keputusasaan yang mendalam, ia dengan cepat melempar spuit yang masih ada di tangannya ke arah lantai beton hingga pecah berantakan dan cairan yang masih tersisa di dalamnya menyebar ke segala arah.

"Gagal lagi dan lagi! Kenapa tidak pernah ada yang berhasil seperti yang kuharapkan?!"

"Axel, tenanglah! Kita tidak bisa memaksakan dosis sebesar itu pada organisme yang masih sangat kecil dan lemah seperti tikus! Kita perlu waktu untuk menyesuaikan dosis dan juga komposisi bahan kimia yang kita gunakan!" Samuel dengan cepat mencoba menahan lengan Axel yang sudah mulai bergerak dengan tidak terkontrol dan hendak meraih sebuah botol kimia lain yang terletak di rak di belakang mereka.

"Tenang?! Bagaimana mungkin aku bisa tenang dalam kondisi seperti ini, Sam?!" Axel dengan cepat berbalik menghadap sahabatnya itu, wajahnya yang tadinya hanya menunjukkan keputusasaan kini mulai memerah karena frustrasi yang telah memuncak dan tidak bisa lagi ditahan.

Ia menunjuk dengan jari gemetar ke arah ruang isolasi yang terletak di sudut ruangan tempat Lusy masih terbaring dalam kondisi yang tidak stabil. "Tikus-tikus ini hanya butuh hitungan detik saja untuk mati setelah aku menyuntikkan penawar yang kubuat! Jika aku salah menghitung bahkan hanya satu mikrogram saja saat memberikannya pada Lusy, dia akan berakhir seperti gumpalan daging yang tidak bisa dikenali itu! Dan aku tidak bisa membiarkan hal seperti itu terjadi padanya—tidak peduli apa yang harus kulakukan!"

"Kita benar-benar membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk melakukan riset dan eksperimen lebih lanjut, Axel. Kita tidak bisa mengharapkan untuk menemukan penawar secara instan untuk sebuah zat yang bahkan belum kita pahami sepenuhnya bagaimana cara kerjanya di dalam tubuh makhluk hidup!" Sahut Samuel meninggi dan menunjukkan bahwa ia juga mulai merasa sedikit kesal dengan sikap Axel yang terlalu tergesa-gesa dan tidak mau mendengarkan nasihat dari orang lain.

Ia tahu bahwa Axel sedang sangat tertekan dan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Lusy, namun ia juga tahu bahwa mereka harus bekerja dengan hati-hati dan sistematis jika benar-benar ingin menemukan solusi yang tepat untuk masalah yang mereka hadapi ini.

Axel akhirnya jatuh terduduk dengan keras di atas kursi putar yang terletak di belakang meja kerjanya, kedua tangan yang lelah itu menangkup wajahnya dengan sangat erat hingga ia tidak bisa melihat apa-apa lagi di sekitarnya.

𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘬𝘦𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘭-𝘴𝘦𝘭 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘓𝘶𝘴𝘺 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘭𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵—𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘬𝘴𝘦𝘬𝘶𝘵𝘰𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢 𝘵𝘶𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘳𝘰𝘣𝘰𝘩 𝘪𝘵𝘶.

"Coba lagi kita lakukan eksperimen ini. Ubah saja basis polimernya menjadi yang lebih stabil dan cocok dengan sistem biologis hewan. Kita akan mencoba lagi dengan subjek A-15 yang sudah aku siapkan di dalam kotak isolasi itu. Kita tidak boleh berhenti mencari cara untuk menyelamatkannya. Tidak sampai matahari terbit dan memberikan kita harapan baru atau bahkan malah membuat kita harus menghadapi kenyataan yang lebih menyakitkan."

Di dalam ruang isolasi yang lebih gelap dan jauh dari pandangan mereka yang sedang sibuk dengan eksperimen mereka itu, Lusy perlahan membuka matanya yang kini sudah berwarna merah pekat dengan sangat jelas. Matanya menatap ke arah kaca yang memisahkan dia dengan dunia luar dengan tatapan yang sangat lapar dan penuh dengan rasa tidak puas. Setiap denyut jantung yang terjadi di dalam tubuhnya membuat urat-urat yang menonjol di leher dan lengannya berdenyut dengan sangat jelas, seolah menjadi pengingat bahwa waktu yang mereka miliki sudah semakin terbatas dan bahwa suatu hari nanti, mereka harus membuat keputusan yang sangat sulit dan mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!