Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung dan Penjara
Pagi itu, langit Malang tertutup awan tipis. Udara terasa basah, seperti baru selesai mandi hujan. Di halaman rumah profesor, daun-daun bambu berbisik, seolah membicarakan rahasia yang belum selesai. Burung-burung gereja mondar-mandir mencari remah roti di tanah. Di teras, meja kayu penuh dengan barang-barang aneh: selendang warna-warni, masker topeng kayu, speaker mini, gulungan kain, dan satu set gamelan kecil yang dipinjam dari tetangga. Aroma kayu dan cat from topeng baru yang baru diambil dari pasar kesenian bercampur dengan bau kopi dan minyak tawon.
Budi berdiri dengan tangan berpinggang, menatap kostum tarian reog yang bergelantungan. “Aku tidak percaya aku akan memakai ini di penjara,” katanya sambil tertawa, mengangkat kepala harimau reog setengah meter tingginya. “Ini berat! Aku bisa terjungkal.” Ia mengenakan kaus oblong dan celana pendek, rambut acak-acakannya terbawa angin.
Perikus duduk di kursi, memegang gendang kecil. “Lebih baik terjungkal karena reog daripada ditembak penjaga penjara,” katanya, mencoba humor, lalu menabuh gendang dua kali untuk meredakan gugup. “Aku belum pernah memainkan alat musik ini, tapi kita bisa meniru ritme dari video YouTube,” katanya. Dia tertawa gugup. Aromanya sudah bercampur bau minyak telon yang ia oleskan karena percaya bisa mengusir roh jahat.
Tento berdiri di samping, mencoba memasang topeng wayang, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Ia terlihat berbeda: mata besar, hidung panjang, bibir lebar. “Aku rasa tidak ada yang akan mengenaliku dengan topeng ini,” katanya, suara sedikit bergetar karena tegang. “Tapi apakah kita benar-benar siap? Ini gila. Kita akan masuk ke pulau penjara dengan alasan pertunjukan seni.” Ia menoleh ke Profesor Dimas yang sedang mengikat kabel ke speaker portable.
Profesor Dimas tersenyum tenang. “Semakin gila rencana, semakin sulit ditebak,” katanya sambil memeriksa kamera kecil yang disembunyikan di dalam topeng wayang. “Kamera ini terhubung ke alat perekam suara yang aku tanam di dalam gong kecil. Kalian cukup mengarahkan wajah ke tempat yang ingin direkam. Jangan menari berputar-putar terlalu cepat atau rekamannya pusing.” Ia menunjukkan cara menekan tombol di kepala topeng untuk memulai perekaman. “Kalian juga punya tombol panik di saku kiri baju. Jika kalian butuh bantuan, tekan tiga kali. Saya akan menerima sinyal ke ponsel. Tapi saya tidak bisa masuk ke sana, jadi saya akan menghubungi jurnalis dan LPSK.”
Budi mengambil sepotong kain batik dan membungkus kepalanya. “Kita lebih seperti pemain lenong kampung daripada reog,” gumamnya. “Tapi tidak apa-apa. Ini akan jadi pertunjukan terbaik yang pernah mereka lihat.” Ia melirik jam dinding. “Kita harus berangkat sekarang ke kantor Dinas Kebudayaan untuk mengambil surat rekomendasi. Temanku sudah siap.”
Surat rekomendasi itu penting. Tanpa surat, mereka tidak akan bisa masuk ke penjara dengan alasan apa pun. Budi menghubungi temannya di Lembaga Kesenian Daerah, seorang lelaki bernama Wahyu. Wahyu adalah seniman teater yang memiliki jaringan ke berbagai lembaga. Ia datang ke rumah profesor membawa amplop coklat. “Ini surat resmi dari Dinas Kebudayaan Provinsi, menyatakan bahwa kalian adalah delegasi seni yang akan tampil di Nusa Kambangan dalam rangka program kemanusiaan,” katanya, menyodorkan amplop. “Aku sudah menghubungi kepala lapas. Dia menyambut, karena jarang ada hiburan. Tapi ingat, kalian hanya punya dua jam pertunjukan. Sisanya, entah bagaimana, itu urusan kalian.”
Mereka berterima kasih kepada Wahyu. “Kami akan hati-hati,” kata Tento. “Kami akan mencatat apa pun yang mencurigakan.”
Perjalanan menuju Cilacap dimulai setelah matahari sepenggalah. Mereka menaiki mobil pick-up yang sama, kini penuh dengan kostum, alat musik, kotak peralatan, dan makanan ringan. Jalanan dari Malang ke selatan dipenuhi kendaraan besar; bus pariwisata, truk pasir, sepeda motor, dan mobil pribadi. Di kanan kiri, sawah menghijau, petani menanam padi baru, kaki mereka tenggelam dalam lumpur. Angin membawa bau tanah dan bau daun pandan dari sawah yang baru dibajak. Pada satu titik, mereka melewati ladang tebu yang luas, aroma manisnya memenuhi udara.
Budi duduk di belakang bak terbuka, menggulung kabel. “Aku merasa seperti rombongan sirkus,” katanya. “Dulu aku hanya menggambar dan menonton film. Sekarang aku akan menari di penjara. Kalau hidupku ini film, genre-nya campur aduk.” Perikus menatapnya. “Ya, ini thriller komedi, bukan? Kita tertawa tapi jantung kita terus deg-degan,” jawabnya. “Bahasanya begitu, iya kan, Ten?” tambahnya, karena ia baru saja membandingkan hidup mereka dengan film. Mereka tertawa, lega karena bisa menggunakan frasa itu pada saat yang tepat.
Setibanya di Cilacap sore hari, langit mulai memerah. Pelabuhan kecil di pinggir kota ramai dengan aktivitas. Nelayan datang dari laut membawa ikan tongkol, udang, dan cumi-cumi. Anak-anak berlarian di dermaga, bermain karet gelang. Di kejauhan, pulau Nusa Kambangan tampak seperti bayangan besar, diselimuti pepohonan hijau. Ada kapal feri kecil yang menyeberangkan penumpang dan kendaraan ke pulau. Di dekat dermaga, gedung administratif lapas berdiri kokoh dengan pagar tinggi dan kawat berduri. Beberapa petugas berseragam loreng memeriksa setiap orang yang hendak menyeberang.
Mereka membawa surat rekomendasi, menunjukkan kepada petugas. Seorang petugas berkumis tebal dengan kumis setengah ke atas memeriksa surat sambil mengernyit. “Delegasi seni?” tanyanya, memandang mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kok agak aneh. Tapi capnya asli. Silakan. Tunjukkan isi tas kalian.”
Mereka membuka tas, memperlihatkan alat musik, kostum, dan topeng. Mereka menahan napas ketika petugas hampir menyentuh topeng dengan kamera tersembunyi. Namun, petugas hanya melirik, lalu menutup kembali tas. “Baik, kalian menyeberang sekarang. Di pulau, kalian akan diantar ke aula utama. Tidak boleh keliling sendiri. Kalau melanggar, kalian saya masukkan sel,” katanya dengan senyum sinis.
Mereka menyeberang menggunakan feri. Feri itu cukup besar, berisi beberapa mobil dan motor, serta puluhan orang. Suara mesin kapal bergetar, membuat seluruh dek bergetar halus. Air laut di bawah berwarna hijau tua, ombak kecil memukul lambung. Angin laut membawa aroma garam dan minyak. Perikus berdiri di tepi, menatap air dengan wajah pucat. “Aku tidak suka laut,” katanya, memegang pagar dengan erat. “Aku takut jatuh. Aku pernah mimpi dikejar hiu,” katanya. Budi menepuk bahunya. “Tenang. Tidak ada hiu di sini. Kalau ada, pun, hiu itu akan tertawa melihat kita menari,” candanya. Mereka tersenyum, meski rasa takut tetap ada.
Perjalanan menyeberang hanya sekitar dua puluh menit. Pulau Nusa Kambangan mendekat, memperlihatkan tebing batu kapur, hutan lebat, dan bangunan besar berwarna abu-abu dengan kawat berduri. Feri merapat di dermaga kecil yang dijaga ketat. Mereka menurunkan barang-barang, menuruni tangga. Petugas lain menunggu mereka, memeriksa surat lagi, lalu mengantar mereka ke sebuah truk kecil yang akan membawa mereka ke aula lapas.
Jalan di dalam pulau berkelok-kelok melewati hutan tropis. Sunyi, hanya suara mesin dan burung hutan. Sesekali, mereka melihat selokan kecil dan jembatan kayu. Setelah sepuluh menit, mereka tiba di halaman lapas. Bangunan itu besar, bercat putih, dikelilingi pagar tinggi. Ada pos penjagaan di setiap sudut. Sejumlah narapidana berjalan di halaman, mengenakan seragam oranye. Mereka menatap rombongan seni dengan penasaran. Di sisi lain, ada beberapa anak muda yang juga membawa alat musik. Ternyata, selain rombongan mereka, ada rombongan band rock yang juga akan tampil.
Di aula, mereka disambut oleh kepala lapas, seorang pria dengan wajah keras dan rambut rapi. “Selamat datang. Terima kasih sudah datang memberikan hiburan. Waktu kalian dua jam. Setelah selesai, kalian langsung pergi. Tidak boleh memotret. Tidak boleh mencatat. Tidak boleh berbicara dengan narapidana secara pribadi,” katanya tegas. Ia menatap setiap wajah satu per satu, seolah ingin memastikan tidak ada yang mencurigakan.
Mereka mengangguk. “Kami mengerti,” kata Tento, menahan jantungnya yang berdegup. Mereka menata alat musik di panggung kecil, memeriksa sound system tua yang mengeluarkan dengungan. Budi memimpin mereka latihan ringan: menabuh gong, menabuh drum kecil, menggerakkan topeng. Rombongan band rock di sebelah memandangi mereka dengan senyum heran. “Baru kali ini lihat reog dan band rock tampil bareng,” kata salah satu dari mereka. Mereka tertawa bersama, melepas ketegangan.
Jam pertunjukan dimulai. Narapidana berkumpul di aula, duduk di bangku panjang, wajah mereka beberapa tersenyum, beberapa kosong. Aura aneh campuran harapan dan ketidakpedulian memenuhi ruang. Kepala lapas duduk di bangku khusus di depan, tangan disilangkan. Beberapa petugas berdiri di sisi, memegang pentungan dan HT. Kamera pengawas terpasang di pojok ruangan.
Mereka memulai pertunjukan dengan lagu tradisional. Perikus menabuh gendang pelan, mencoba mengatur ritme; Budi memainkan kenong; Tento menggerakkan topeng wayang, menceritakan cerita sederhana tentang dua sahabat yang berjuang melawan raksasa. Narapidana tertawa ketika melihat Budi memakai topeng harimau, berputar-putar seolah mengejar seekor tikus imajiner. Suasana sedikit cair. Kepala lapas bahkan tersenyum tipis. Mereka melanjutkan dengan tarian tradisional yang diiringi musik dangdut, menciptakan kombinasi unik. Narapidana ikut menepuk tangan, beberapa ikut bernyanyi.
Sementara itu, mata Tento terus mengamati ruangan. Ia memperhatikan pintu besi di sisi kanan panggung yang terus diawasi dua petugas. Dari pintu itu, ia melihat beberapa orang berseragam laboratorium lewat, membawa kotak logam. Ia menekan tombol rekam di kepala topeng, mengarahkan lensa ke arah pintu. Budi mendekat, membisikkan lirik lagu yang ia ubah: “Kita menari, kita menari, untuk melihat rahasia di balik pintu besi.” Narapidana tertawa, mengira itu bagian dari pertunjukan.
Ketika pertunjukan memasuki lagu ketiga, sebuah kesempatan muncul. Kepala lapas menerima panggilan radio dan pergi sebentar. Petugas yang menjaga pintu sibuk berbicara dengan band rock tentang kabel sound system yang rusak. Ada keributan kecil. Perikus memandang Tento dan Budi, lalu memberi isyarat. Mereka menyelipkan diri di antara alat musik, membawa gong kecil dengan kamera di dalamnya, menuju ke belakang panggung. Mereka melihat koridor sempit yang mengarah ke beberapa ruangan. Bau disinfektan dan obat menyengat. Lampu neon menyala redup, mengeluarkan bunyi dengungan. Mereka melangkah pelan, jantung berdegup seperti gendang.
Di ujung koridor, mereka melihat pintu setengah terbuka. Dari celah, terlihat ruangan dengan mesin, tempat tidur besi, dan beberapa orang terbaring. Mereka mendekat. Di dalam ruangan, seorang dokter berjas putih sedang menyiapkan suntikan ke lengan seorang pria yang terbaring. Di sekitar, beberapa petugas berseragam menonton tanpa emosi. Pria yang akan disuntik tampak kurus, matanya cekung, wajah pucat. Pada tangannya ada nomor identitas napi. Kabel menghubungkan kepala pria itu ke monitor kecil. Dokter berkata, “Batch 17, subjek 34. Dosis 2 ml. Jangan terlalu banyak, kemarin yang 3 ml mati,” katanya dengan tenang. Petugas mencatat. Jarum menembus kulit. Pria itu menggigit bibir, kemudian mengeluarkan teriakan teredam. Mesin berbunyi, menunjukkan grafik. Hidungnya mengeluarkan darah. Petugas diam. Mereka tidak menunjukkan belas kasihan.
Tento menekan tombol rekam, memastikan kamera merekam semua. Ia merasakan perutnya mual. Budi menggenggam lengan Perikus. “Itu bukan hiburan. Itu eksperimen,” bisiknya. Perikus merasa marah, matanya berkaca. Namun, mereka tahu, mereka tidak boleh membuat kegaduhan. Mereka mengingat janjinya kepada Bu Siti dan Rina. Mereka harus mengumpulkan bukti, bukan menjadi pahlawan instan.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah mendekat. “Hei! Kalian sedang apa di sini?!” teriak seseorang. Seorang petugas berdiri di ujung koridor, mata memandang tajam. Ia menyentuh radio di bahunya. “Ada yang masuk ke area terlarang!” suaranya melengking. Alarm berbunyi, sirene kecil terdengar di seluruh gedung. Lampu berubah menjadi merah berkedip. Pintu-pintu besi tertutup otomatis. Para narapidana di aula terkejut, bangkit berdiri. Petugas lain masuk, memegang tongkat listrik. Kekacauan terjadi. Mereka harus cepat.
“Lari!” seru Budi. Mereka berlari kembali ke panggung. Namun, jalan keluar ditutup. Mereka mencari jalur lain. Di sudut panggung, ada pintu kecil menuju ruang penyimpanan alat musik. Mereka masuk, menutup pintu. Ruangan gelap, bau kayu dan kertas. Mereka menahan napas, mendengar petugas berlari melewati pintu. Napas mereka berat, keringat menetes di dahi. Mereka mendengar langkah kaki semakin jauh. Untuk sementara, mereka selamat. Namun, mereka terjebak di ruangan kecil dengan satu pintu.
“Bagaimana sekarang?” bisik Perikus, mencoba menenangkan diri. Budi memeriksa tembok. “Ada ventilasi di atas. Kita bisa keluar lewat sana,” katanya. Ventilasi itu kecil, namun cukup besar untuk mereka merayap. Mereka mendorong kursi, menaiki rak. Dengan susah payah, mereka membuka ventilasi, menggeser besi. Udara dingin dari luar masuk. Mereka meloloskan diri satu per satu, merayap di celah sempit di antara dinding. Debu masuk ke mata, butiran pasir menggores kulit. Mereka merayap seperti tentara tikus.
Ventilasi itu membawa mereka ke bagian belakang bangunan, dekat pagar belakang. Mereka melihat hamparan hutan. Suara alarm terus berbunyi di kejauhan. Mereka terjun dari ventilasi ke tanah yang ditumbuhi rumput liar. Bau tanah basah menyambut mereka. Mereka berlari menuju pepohonan, menembus semak belukar. Cabang-cabang pohon menggaruk lengan, daun-daun basah menampar wajah. Di belakang, terdengar suara teriakan, peluit, dan anjing menggonggong. Mereka mempercepat langkah. Kaki mereka menembus lumpur, sepatu basah, napas tersengal-sengal.
Mereka tidak tahu kemana mereka berlari, hanya mengikuti insting. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, mereka mencapai pantai kecil di belakang pulau. Gelombang laut memukul batu, cahaya bulan memantul di permukaan air. Tidak ada perahu. Mereka terdampar. Mereka mendengar suara langkah di belakang. Dalam keputusasaan, Budi menunjuk ke arah batu karang besar yang menjorok. “Kita sembunyi di sana dulu,” katanya. Mereka berlari ke batu, merapatkan tubuh di celah, menahan napas. Suara anjing semakin dekat, lalu berlalu. Mereka menatap satu sama lain. Mata mereka memantulkan cahaya bulan, wajah mereka penuh lumpur, keringat, dan ketakutan. Mereka berhasil kabur dari ruangan, namun terjebak di pulau.
“Hari ini kita menari di depan narapidana dan nyaris jadi narapidana,” kata Budi pelan, masih berusaha bernapas. Mereka tertawa pahit. “Kita punya bukti rekaman,” kata Tento. Ia meraba topeng, memastikan kamera masih ada. “Dan kita masih hidup,” tambah Perikus. “Kita akan mencari jalan keluar. Tapi sekarang, kita harus bersembunyi.”
Angin laut berhembus kencang, membawa bau garam dan suara ombak. Di kejauhan, lampu-lampu pulau lain berkelip. Mereka menatap langit yang penuh bintang, mencari harapan. Di tengah ketakutan, mereka merasakan kekuatan dalam kebersamaan. Mereka tahu, jalan mereka belum selesai. Mereka harus bertahan malam ini, menemukan jalan keluar, dan membawa kebenaran kepada dunia. Babak baru yang lebih berbahaya siap dimulai.