NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

“Itu ada Olive. Dia saja yang gantikan.”

Suara Oma terdengar santai, rendah, nyaris tanpa beban. Kalimat itu meluncur begitu saja—seolah yang dibicarakan hanyalah mengganti dekorasi pesta, bukan… manusia.

Olivia yang biasa dipanggil Olive baru saja melangkah masuk ke ruang tengah ketika semua pasang mata beralih kepadanya.

“Apa?” tanyanya bingung.

Hening.

Lalu, dengan enteng Oma menjawab, “Nikah.”

Olivia terdiam. Otaknya butuh beberapa detik untuk memproses satu kata itu. Nikah? Begitu sadar ucapan Oma, Olivia terbelalak. Mulutnya sedikit terbuka.

“Nikah? Siapa?” tanyanya lagi, memastikan ia tidak salah dengar, sambil melangkah mendekat.

Ia baru pulang sekolah. Hari ini hari terakhir ujian akhir. Ia bahkan masih membawa tas ransel dan aroma kebebasan bersama teman-temannya. Tadi mereka tertawa, merayakan berakhirnya tekanan selama berminggu-minggu.

Namun begitu pintu rumah dibuka, suasananya berbeda. Tegang. Sunyi yang tidak nyaman. Seolah ada sesuatu yang menunggu. Dan sekarang ia tahu apa itu.

Ruang tengah dipenuhi keluarga besar. Ia melihat Tante-tante, Om-om, bahkan sepupu jauh yang jarang muncul. Di sisi lain ruangan, duduk keluarga dari calon suami kakaknya—keluarga Juna.

“Ya kamu. Nikah sama Juna.”

Kali ini tak ada jeda.

“WHAT THE FUCK!?” teriak Olivia setengah berteriak, refleks, menoleh ke arah Juna yang duduk tegap dengan wajah maskulin dan ekspresi dingin yang sulit ditebak.

“Olivia!” tegur Ratna, mamanya, cepat dan tajam.

Olivia menatap Juna. Pria itu duduk tegap dengan kemeja hitam sederhana. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya terlihat menegang. Tatapan mereka bertemu—dan untuk pertama kalinya, Olivia tidak menemukan kehangatan yang biasa ia lihat di sana.

Padahal selama ini Juna bukan orang asing baginya. Sejak awal berpacaran dengan Oliana, Juna sering datang ke rumah. Ia yang mengantar Olivia beli buku ketika mamanya sibuk. Ia yang membantu mengerjakan soal matematika yang tak ia pahami. Ia yang pernah memarahinya seperti kakak ketika Olivia hampir ikut balapan liar bersama teman sekolahnya. Juna bukan sekadar calon kakak ipar. Ia sudah seperti kakak sendiri.

Olivia menggeleng tak percaya. “Maksudnya apa, Mam? Yang pacaran, tunangan, dan mau nikah itu Kak Olin sama Kak Juna, kan? Kenapa jadi aku yang nikah?!”

Ruangan semakin tegang.

“Kakak kamu kabur, jadi—”

“Jadi apa?!” potong Olivia. Jantungnya berdegup kencang. Ia mulai paham arah pembicaraan ini. Mengganti posisi kakaknya. Menggantikan Oliana, sebagai pengantin.

“Aku menolak!” ucapnya tegas.

Tanpa menunggu reaksi siapa pun, ia berbalik dan meninggalkan ruangan. Langkahnya cepat menaiki tangga. Tasnya hampir terlepas dari bahu.

“Gila… semua orang gila…” gerutunya cukup keras hingga terdengar sampai bawah.

Pintu kamar dibanting. Olivia bersandar di balik pintu, napasnya memburu. Ia menatap kamarnya—ruangan dengan poster band favorit, meja belajar yang penuh coretan rumus, dan boneka kecil di atas kasur.

Semua ini miliknya, dunianya dan mereka ingin merenggutnya begitu saja? Nikah? Dengan Juna? Terlalu dewasa, terlalu jauh dari dunianya.

Tok.

Tok.

Ketukan di pintu.

“Olive, buka pintunya.” Suara mamanya terdengar lelah.

“Aku nggak mau nikah!” teriaknya dari dalam.

“Ini bukan cuma soal kamu!”

“Lalu soal apa? Harga diri keluarga? Malu karena Kak Olin kabur?” suaranya bergetar, campuran marah dan terluka.

Tak ada jawaban langsung. Beberapa detik kemudian, terdengar langkah menjauh. Olivia menghembuskan napas panjang, lalu duduk di tepi kasur. Kepalanya terasa berat. Ia mengambil ponselnya dan membuka chat dengan Oliana.

Kak Olin 💛

Tangannya gemetar saat mengetik.

Kak, lu di mana? Semua orang bilang lu kabur. Ini apa sih maksudnya?

Nomornya tidak aktif, Olive mencoba menelponnya.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

Olivia menatap layar ponselnya lama. Ia mencoba lagi. Sama.

Dadanya terasa makin sesak. Olin bukan tipe orang yang mematikan ponsel begitu saja—apalagi menjelang hari pernikahan. Kakaknya memang keras kepala, tapi bukan pengecut.

“Kak… lu sebenarnya di mana…” bisiknya pelan.

Ia membuka media sosial Olin. Tidak ada aktivitas baru. Tidak ada story. Tidak ada pesan terakhir yang aneh.

Sunyi. Terlalu sunyi.

Olivia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar. Kepalanya penuh. Antara marah, takut, dan bingung. Semua bercampur jadi satu.

Tiba-tiba—ponselnya bergetar. Bukan pesan, telepon masuk. Nomor tidak dikenal. Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia ragu beberapa detik… lalu menggeser tombol hijau.

“Halo?” suaranya pelan, waspada.

Hening. Lalu terdengar suara pria. Rendah. Terdengar seperti ditahan, seolah tidak ingin dikenali.

“Olivia?”

“Ini siapa?”

“Jangan nikah sama Juna.”

Tubuh Olivia menegang. “Apa maksudnya?”

“Kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kakakmu.”

Napasnya tercekat. “Kak Olin di mana? Kamu tahu dia di mana?”

“Aku nggak bisa jelasin lewat telepon.”

“Kalau ini bercanda, ini nggak lucu!”

“Ini bukan bercanda.” Suara itu terdengar lebih tegas. “Kalau kamu tetap nikah, kamu bakal masuk ke masalah yang sama.”

Darahnya terasa dingin. “Maksud kamu apa?”

“Aku bisa bantu kamu. Tapi kamu harus ketemu aku besok.”

“Di mana?”

Ada jeda beberapa detik.

“Datang sendiri. Jangan bilang siapa pun. Kalau kamu masih mau kakakmu selamat.”

Klik.

Telepon terputus. Olivia menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Tangannya gemetar.

Di bawah, ia masih bisa mendengar suara keluarga yang berdiskusi. Nama “Juna” beberapa kali terdengar samar.

Besok. Seseorang ingin menemuinya. Seseorang yang tahu tentang Olin. Dan seseorang yang melarangnya menikah dengan pria yang selama ini ia anggap seperti kakak sendiri.

Olivia perlahan mengangkat wajahnya, rasa takutnya bukan lagi tentang pernikahan. Tapi tentang—apa sebenarnya yang disembunyikan semua orang di rumah ini?

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!