NovelToon NovelToon
Datanglah Padaku

Datanglah Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: vennyrosmalia

Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.

Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.

Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

Vania memasak masakan khas Indonesia, karena memang bahan-bahan yang ada di dapurnya adalah bahan untuk makanan yang di sukainya.

Sempat menanyakan apa yang ingin di makan oleh Nathan, tapi Nathan justru berkata "Apa yang Kamu masak, Aku akan memakannya." kata Nathan.

Vania terkekeh mendengarnya, bagaimana jika dirinya berniat jahat dan memasak makanan beracun untuk Nathan.

"Kalau Aku masak racun buat Kamu gimana?"

"Aku rela mati demi makan makanan yang Kamu buat."

Vania semakin tergelak dengan bualan Nathan. Lagipula Vania tidak sejahat itu dengan meracuni seseorang dirumahnya sendiri.

"Nathan, ayo makan." seru Vania yang sibuk menata beberapa menu yang sudah di masaknya.

Ada ayam goreng, sambal, tumis kangkung juga kerupuk di meja makan. Nathan yang sibuk memerintah anak buahnya segera menghampiri Vania.

Wangi masakan Vania sudah menggelitik perutnya yang lapar. Nathan duduk berhadapan dengan Vania.

"Aku tidak tahu Kamu akan menyukainya atau tidak." ucap Vania sambil mengambilkan nasi juga lauk untuk Nathan.

"Terima kasih."

Vania menunggu tanggapan Nathan dari suapan pertamanya.

"Bagaimana?"

Nathan mengunyah makanan itu dengan ekspresi datar hingga membuat Vania penasaran apakah Nathan menyukai makanan yang dibuatnya.

"Not bad." jawab Nathan datar

Vania mencebik dengan ekspresi Nathan yang seperti biasa saja. Lagi pula apa yang diharapkan Vania, lidah orang bule tidak sama dengan lidahnya.

"Kamu makan juga." titah Nathan.

Vania mengangguk dan mengambil nasi di piringnya. Dalam sekejap makanan di meja makan ludes tak tersisa, Vania melongo juga dengan lahapnya Nathan yang menghabiskan makanannya.

"Teman-temanmu sampai tidak kebagian Nathan."

Vania fikir Nathan tidak akan menghabiskan makanannya. Ternyata ekpresi datar Nathan hanya kedok, padahal masakan Vania benar-benar membuat nafsu makannya meningkat.

"Mereka bukan temanku, Mereka anak buahku." koreksi Nathan dengan ucapan Vania.

"Nah apalagi begitu, Kamu harus memberi mereka makan."

Sudah dibantu merapikan barang-barang yang cukup banyak, Vania pun menyajikan beberapa kue buatannya juga minuman segar.

"Nikmatilah, terima kasih sudah membantu merapikan semuanya." ucap Vania pada tiga pria yang tetap berdiri tegak di depan teras rumahnya.

"Terima kasih Nyonya, tidak perlu merepotkan." ucap salah satu.

"Jangan panggil Aku Nyonya." Vania mengibaskan kedua tangan di depan dadanya sambil melirik Nathan agar mereka tidak memanggilnya seperti itu padanya.

"Kalian makanlah, Vania sudah menyiapkan ini." titah Nathan.

"Baik, terima kasih Tuan Nyonya."

Sekali perintah Nathan langsung mereka kerjakan. Vania hanya menggelengkan kepala melihat hal ini di depan matanya.

.

.

Rencananya hari ini sepulang sekolah Resa, Vania akan pergi melihat tempat yang Nathan rekomendasikan untuk toko kuenya.

"Jadi kemarin itu Kamu pergi di antar Nathan?" tanya Liliana.

Vania memang menceritakan kejadian itu pada Liliana selagi menunggu anak-anak di kelas. Tidak lupa Vania juga mengatakan Nathan merekomendasikan satu tempat padanya.

"Iya, beruntung Nathan banyak membantu meski Dia tidak mengerjakannya sendiri." tutur Vania sambil tersenyum melihat Nathan banyak sekali memerintah pada anak buahnya.

Liliana memicingkan kedua matanya karena melihat cara Vania bercerita tentang Nathan.

"Vania, Aku curiga."

"Curiga kenapa?" tanya Vania mengerutkan keningnya.

"Aku curiga, sepertinya Nathan itu menyukai Kamu."

Uhuk,uhuk.

Vania tersedak ludahnya sendiri.

"Kamu ini bicara apa Lili, tidak mungkin Nathan suka sama Aku." elak Vania menyangkal meski dirinya juga sempat memiliki pemikiran ke arah sana.

Liliana semakin penasaran karena ekspresi Vania sendiri tidak mengatakan sesuai dengan apa yang terucap oleh mulut Vania.

"Vania ayolah, Kita bukan lagi anak remaja yang tidak pernah tahu maksud dan tujuan pria mendekati Kita." seru Liliana.

Vania menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Liliana. Bahkan Nathan sendiri seringkali memberinya kode-kode jika Nathan memiliki rasa lebih untuknya.

"Tapi Aku rasa ini terlalu cepat Lili, Aku belum mengenal Nathan dengan baik." ucap Vania ragu.

Memang tidak Vania pungkiri kehadiran Nathan yang tepat di saat dirinya memiliki permasalahan rumah tangga hingga bercerai membuat Vania bisa dengan cepat pulih dan tidak merasakan kesedihan yang mendalam.

Liliana juga paham dengan keadaan Vania yang baru saja bercerai karena di khianati suaminya. Tapi Liliana juga tidak ingin Vania berlarut, dan mau membuka hati menerima orang yang berusaha mendekatinya.

"Tidak perlu cepat, Kamu bisa melihat dulu Nathan seperti apa. Nikmatilah waktumu saat ini. Aku akan selalu ada untuk Kamu Vania."

"Kamu memang terbaik." Vania memeluk Liliana yang selalu bisa menenangkannya.

.

.

"Uncle Nathan."

Resa berlari menghampiri Nathan yang sudah berdiri didepan mobilnya.

Hap.

Resa langsung berada di gendongan Nathan. Vania hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Resa yang sangat manja pada Nathan.

"Bagaimana sekolahmu Boy?" tanya Nathan.

"Menyenangkan Uncle, tadi Aku dan teman-teman berlatih menyanyi dan menari untuk acar pentas seni." jelas Resa dengan semangat.

"Good job Boy."

"Kita mau kemana Bunda, Uncle?" tanya Resa pada keduanya.

Nathan dan Vania saling menatap sebelum Vania menjawab "Kita akan melihat tempat untuk Toko Kue Bunda sayang." jawab Vania sambil mengelus kepala Resa yanh masih berada di gendongan Nathan.

"Kita berangkat sekarang saja?"

Vania mengagguk setuju pada Nathan. Seperti biasa Nathan akan mendudukan Resa di Car Seat yang selalu tersedia sekarang di mobilnya.

Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ditempat Nathan. Ternyata yanh di ucapkan Nathan benar jika lokasinya sangat strategis. Dari sekolah Resa saja tidak begitu jauh.

"Uncle, gedung itu tinggi dan besar sekali." tunjuk Resa pada gedung perkantoran di depan tempat mereka saat ini.

"Boy, itu perusahaan Uncle, tempat Uncle bekerja ada disana." jelas Nathan.

Vania tercengang melihat kemewahan perusahaan Nathan. Ternyata Nathan bukan orang sembarangan. Vania jadi insecure sendiri karena selalu merepotkan Bos besar seperti Nathan.

"Waah Uncle, boleh Resa datang kesana." pinta Resa.

"Resa sayang." tegur Vania yang merasa Resa terlalu banyak bicara.

"Maaf Bunda." Resa menunduk karena teguran Vania.

"Tidak apa-apa Vania." Nathan menggelengkan kepala di depan Vania. Kemudian berjongkok di depan Resa.

"Resa boleh main ke kantor Uncle, nanti biar Uncle yang izin pada Bunda." tutur Nathan lembut.

Resa melihat pada Vania terlebih dulu seolah meminta persetujuan Bundanya. Melihat itu Vania menghela nafas sejenak sebelum mengangguk tanda mengizinkan Resa.

Dengan senyum mengembang Resa menatap Nathan dan memeluk Nathan erat.

"Thank you Uncle." Nathan membalas pelukan Resa erat.

Vania juga tersenyum melihat Nathan yang selalu bisa membuat Resa tersenyum senang dan merasa di sayangi.

.

.

......................

Jangan lupa Like dan dukung terus cerita ini ya..

Terima kasih teman-teman 🙏😁😇

1
Indah Tuk Di Kenang
sakitya thorrr liat satria bahagia 😭😭semangat up therusss thorrr👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!