NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 04.

Ruangan praktik dokter Sp OG siang itu begitu tenang. Pendingin ruangan bekerja stabil, menyisakan dengung halus yang justru membuat suasana semakin kaku.

Dokter Raka Pradipta berdiri di dekat meja kerja, tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tenang seperti biasa, nyaris tanpa ekspresi. Hanya sorot matanya yang sesekali bergerak ke arah dokter Zulaika yang tengah fokus memeriksa Sagara.

Agam berdiri tak jauh di dekatnya. Memilih diam, di antara pikirannya yang riuh oleh sesuatu yang belum temukan jangkar.

Di sisi lain, dua dokter pendamping duduk berseberangan. Berkas hasil pemeriksaan terbuka di pangkuan mereka, lembar demi lembar menunjukkan hasil yang sama seperti sebelumnya.

Hanya sebentar, dokter Zulaika sudah menyelesaikan proses pemeriksaan, dan kini ia fokus memeriksa lembar demi lembar hasil pemeriksaan Sagara pada dokter-dokter spesialis sebelumnya.

"Berapa lama, saya bisa dengar hasilnya?"

Pertanyaan itu memecah hening. Bukan hening yang tenang. Tapi tegang.

Sejenak, Zulaika dan dua rekannya itu saling pandang. Sesaat, seolah mereka sedang bertukar informasi hanya dengan saling menatap.

Dokter Zulaika menyerahkan lembar pemeriksaan yang baru ia catat.

"Hasilnya, sama." Ia buka suara juga meski dengan ragu. "Normal," lanjutnya.

Raka sudah tahu hasilnya tidak akan berubah.

Sejak awal ia sudah membaca kemungkinan itu. Tubuh Sagara tidak bermasalah. Setidaknya, bukan dalam pengertian medis yang bisa ditunjukkan angka atau citra radiologi.

"Tak ada kata yang lain?"

Sagara bertanya datar, tapi kedengarannya seperti gemuruh kecil sebelum menggelegar.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan. Tak ada yang bersuara. Bahkan embus napas kecil pun tak terdengar.

"Jika tidak ada satu pun dokter di Adinata Medical Center yang mampu menjelaskan kondisi saya…”

Sagara berhenti sejenak, seolah memberi waktu semua orang untuk memahami kalimat berikutnya.

“…saya akan mempertimbangkan kembali kelayakan rumah sakit ini untuk tetap beroperasi di bawah nama Adinata.”

Udara terasa membeku.

Tak ada yang menjawab.

Hanya suara halus kertas pemeriksaan yang kembali dibuka oleh dokter Zulaika---kali ini dengan kesadaran penuh bahwa ini bukan lagi sekadar pemeriksaan medis.

"Keluhannya masih sama, Pak Sagara?"

Sagara hanya melihat sekilas. Ia enggan menjawab pertanyaan yang sudah diucapkan lebih dari sekali--dan sudah mendapatkan jawabannya tadi.

Zulaika paham reaksinya. Pertanyaannya juga tidak untuk mendapatkan jawaban kedua. Itu hanya untuk memastikan.

Mual. Gangguan tidur. Sensitif terhadap bau tertentu. Keterangan itu sudah jelas tertera di tiap lembar laporan pemeriksaan.

“Sudah berapa lama?” tanyanya lagi.

“Beberapa minggu.”

Zulaika mengangguk tipis.

Ia tak membantah hasil laboratorium. Tak menyentuh angka-angka itu lagi. Justru ia memperhatikan pasiennya.

“Dalam rentang waktu itu,” lanjutnya hati-hati, “apakah ada seseorang di sekitar Anda yang sedang mengalami kondisi fisik tertentu? Perubahan hormon, misalnya.”

Raka menegakkan tubuhnya hampir tak terlihat.

Sagara menatap dokter Zulaika lurus. Tatapannya tajam, seolah menguji arah pertanyaan itu.

“Apa maksud Anda?”

Pertanyaan itu, dan tatap mata Sagara hadirkan gentar dalam dada. Tapi Zulaika tidak mundur.

“Kadang tubuh bisa merespons lebih dari yang kita sadari. Terutama jika ada keterikatan emosional yang kuat.”

Hanya itu yang diucapkan Zulaika.

Tidak ada kata lebih lanjut.

Tidak ada istilah medis yang menjelaskan.

Namun udara di ruangan itu berubah.

Raka tahu maksudnya.

Agam juga mulai memahami arah.

Dan Sagara, rahangnya mengeras bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang lain.

“Pastikan analisis Anda berbasis medis, Dokter,” ucapnya pelan. “Bukan asumsi.”

Sagara berdiri.

“Karena jika tidak ada jawaban yang bisa dibuktikan secara ilmiah, saya tidak melihat alasan mempertahankan unit yang tidak mampu bekerja secara objektif.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman.

Tapi semua orang di ruangan tahu artinya.

Sagara berbalik tanpa menunggu jawaban. Langkahnya mantap menuju pintu, seolah keputusan telah selesai bahkan sebelum ruangan itu sempat bernapas kembali.

Raka dan Agam menyusul beberapa langkah di belakang. Tak ada yang langsung bicara. Bunyi sepatu di lantai marmer menjadi satu-satunya suara yang terdengar.

Sagara berjalan lurus ke depan, wajahnya kembali datar. Tepat di koridor yang menghubungkan ke lift khusus direksi ia berhenti. Menatap asistennya tanpa kata.

Dan bagi asisten yang sudah cukup lama mengikutinya, tatapan diam Sagara lebih dipahami dari pada kalimatnya yang irit.

Asisten itu pergi, menjauh, memberikan ruang untuk Sagara, yang saat ini menatap dokter Raka dan Agam bergantian.

"Pertemukan aku dengannnya!"

"Siapa?" Agam bertanya. Ekspresi menunjukkan ketidak pahaman.

"Ariana. Wisudawati cum laude Universitas Adinata Internasional."

Agam terhenyak.

Raka tersentak. Tapi keduanya--tak pantas disebut sahabat Sagara jika tak pandai menetralisir apa yang dirasa dengan cepat.

"Untuk apa?" Masih Agam yang bertanya, karena Raka memilih diam.

"Kau tahu maksudku." Sagara menatapnya tajam. Titik di mana Agam sadar, ia telah menanyakan hal yang tidak tepat.

"Peraturannya, tidak perlu ada pertemuan." Raka mengambil tempat. Berbicara tenang. "Kau masih ingat?"

Sagara mengangguk. "Aku yang membuat peraturan." Tatapan tajamnya kini berlabuh ke Raka. "Aku juga punya hak mengubahnya."

"Benar." Raka embuskan napas pelan. Sagara punya kuasa, dia bisa berbuat apa saja. Termasuk melanggar ucapannya sendiri---meski hal ini bukan kebiasaan seorang Sagara Deva Adinata.

"Tapi, kau harus menunggu." Raka melanjutkan ucapannya. "Dia belum hamil."

"Kau lebih tahu dari siapa pun, apa yang kualami saat ini, Raka." Sagara memangkas ucapan dokter Raka dengan tegas, cepat. "Dan jangan pikir aku bodoh, tak bisa membaca maksud dokter obgyn barusan."

Dan untuk pertama kalinya, Raka seperti kehilangan kata-kata di depan Sagara.

Terlebih saat Sagara kembali mengucapkan kalimat telak.

"Jika kalian memang menjaganya dengan baik, permintaanku ini seharusnya bukan hal yang bikin berkelit."

Raka dan Agam bahkan tak berani saling pandang. Meski gemuruh dalam hati mereka berada pada titik yang sama.

Sagara tak melepaskan tatapan menyelidik dari dua orang sahabat kepercayaannya itu.

"Bawa dia besok ke Adinata residence. Jam 11 siang." Sagara langsung berbalik, tanpa menunggu jawaban dari perintahnya. Karena baginya, setiap ucapannya adalah vonis.

"Sagara." Raka mengejar langkahnya.

"Kami akan membawanya."

Sagara mengangguk. Dan berlalu. Setelah kepergiannya, ruang seolah baru memberi mereka napas kembali.

"Raka, kau yakin mau menghadirkan Ariana?"

"Harus," jawab Raka tanpa menoleh.

"Kita bahkan tidak tau, dia dimana."

"Kita punya waktu 24 jam untuk mencarinya." Raka terlihat yakin dengan jawabannya.

Agam tersenyum pesimis.

"Sudah satu bulan kita nyari. Nihil." Senyuman itu langsung pudar berganti dengan ekspresi gelap. "Apa 24 jam bisa ngasih hasil?"

"Bisa. Jika kau mau."

Raka menatap sahabatnya itu penuh makna. "Selama ini kita nyari diam-diam, takut terendus Sagara. Sekarang situasi sudah kayak gini." Raka menahan napas sejenak. "Kerahkan yang kau bisa. Temukan Ariana, apa pun caranya."

"Baik." Agam mengangguk.

"Seperti biasa, tugasmu, rapikan di dalam."

Raka juga mengangguk.

"Aku tau bagianku."

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!