NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Di dalam kelas yang dipenuhi aroma krayon dan kertas baru, Azzalia berdiri mematung di depan papan tulis. Kapur di tangannya terasa berat, seberat napasnya yang masih memburu. Di baris kedua, tepat di hadapannya, seorang gadis kecil dengan mata bulat yang cerdas sedang menopang dagu, menatapnya dengan penuh antusiasme.

"Bu Lia? Kenapa diam saja? Katanya hari ini kita mau belajar menulis sajak pendek?" suara polos Ghea memecah lamunan Lia.

Lia tersentak. Ia memaksakan sebuah senyum profesional, meski hatinya masih tertinggal di koridor sekolah bersama Regas. "Ah, iya... maafkan Ibu, Ghea. Ibu tadi sedang... memikirkan kata pertama yang bagus."

Lia mencoba menuliskan kata 'PULANG' di papan tulis, namun tangannya bergetar. Huruf-huruf itu tampak miring dan tidak beraturan—sama seperti perasaannya saat ini.

Sepanjang jam pelajaran, fokus Lia benar-benar hancur. Ia yang biasanya bisa merangkai diksi dengan indah, kini gagap saat menjelaskan rima sederhana. Pikirannya terus melayang pada pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan: Kapan Regas menikah? Siapa wanita beruntung yang menjadi ibu Ghea? Apakah Regas benar-benar sudah bahagia sampai ia bisa menatapku dengan setenang itu tadi?

"Bu Guru, lihat!" Ghea tiba-tiba maju ke depan, menyodorkan buku tugasnya.

Lia menunduk, membaca tulisan tangan anak itu yang masih besar-besar.

Aku punya Papa yang hebat.

Papa bilang, Ibu Guru adalah puisi yang hidup.

Ghea ingin bisa menulis puisi supaya Papa tidak sedih lagi.

Jantung Lia seolah berhenti berdetak. Ia menatap Ghea dengan tatapan nanar. "Ghea... Papa bilang begitu?"

Ghea mengangguk antusias. "Iya! Di rumah ada foto Ibu Guru yang sedang membaca buku di perpustakaan. Papa bilang itu satu-satunya puisi paling indah yang pernah Papa temukan."

Lia harus berpegangan pada pinggiran meja guru agar tidak jatuh. Foto di perpustakaan. Itu adalah momen lima tahun lalu, saat ia masih menjadi mahasiswi sastra yang naif. Ternyata, selama lima tahun ini, ia tidak pernah benar-benar pergi dari hidup Regas.

Namun, kenyataan bahwa Ghea ada di sini tetap menjadi tamparan keras. Jika Regas masih menyimpannya dalam ingatan, lantas mengapa ada Ghea? Mengapa ada kehidupan lain yang tidak melibatkan dirinya?

Bel sekolah berbunyi, menandakan jam pulang. Lia merapikan bukunya dengan terburu-buru, ingin segera bersembunyi di ruang guru. Namun, saat ia melangkah keluar kelas, sosok itu kembali berdiri di sana.

Regas bersandar di pilar koridor, menunggunya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ghea bilang padaku, kamu tidak fokus mengajar hari ini," ujar Regas rendah saat Ghea sedang berlari mengambil tasnya di dalam kelas. "Apa kehadiranku seberpengaruh itu bagimu, Azzalia? Bahkan setelah lima tahun?"

Lia menarik napas panjang, mencoba mengembalikan martabatnya. "Anda terlalu percaya diri, Pak Regas. Saya hanya sedang tidak enak badan."

Regas melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Lia bisa merasakan kehangatan yang dulu pernah menjadi pelindungnya. "Jangan berbohong pada seorang insinyur, Lia. Kami ahli dalam membaca struktur yang retak. Dan aku bisa melihat, pertahananmu sedang hancur."

"Aku harus segera pergi. Ada banyak tugas yang perlu dikoreksi," potong Lia cepat sebelum Regas sempat bicara lebih jauh. Ia bahkan tidak berani menatap mata Regas lebih dari satu detik.

Tanpa menunggu balasan dari bibir Regas yang sudah sedikit terbuka, Lia melangkah seribu. Ia menggandeng tangan kecil Ghea yang baru saja keluar kelas, mengantarkannya ke depan gerbang dengan gerakan terburu-buru. Setelah memastikan Ghea aman bersama asisten rumah tangga yang menjemputnya (karena Regas masih tertinggal di lorong), Lia langsung memesan taksi.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen barunya yang terletak di pusat kota, tangan Lia tidak berhenti gemetar. Ia menatap ke luar jendela, membiarkan gedung-gedung tinggi Jakarta menjadi latar belakang kepanikannya.

"Kenapa harus sekarang? Kenapa di sekolah itu?" bisiknya pada diri sendiri.

Sesampainya di apartemen, Lia langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang dingin, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai. Apartemen ini jauh lebih luas dan mewah daripada apartemen kecilnya dulu di masa kuliah, namun terasa jauh lebih sepi.

Ia melempar tasnya ke atas sofa, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin. Namun, matanya tertuju pada sebuah kotak kayu kecil di atas meja belajar—kotak yang ia bawa jauh-jauh dari London.

Di dalamnya ada sebuah kliping koran lama tentang kesuksesan Regas Adhitama sebagai CEO muda, dan sebuah buku puisi tua yang halamannya sudah menguning.

Drrttt... Drrttt...

Ponselnya di dalam tas bergetar hebat. Lia ragu, namun rasa ingin tahunya lebih besar.

Regas Adhitama: Azzalia, aku tahu kamu menghindar. Aku tahu kamu masih punya ribuan pertanyaan. Lima tahun lalu kamu pergi meninggalkan titik, tapi aku tidak pernah menganggapnya selesai. Mari bicara. Bukan sebagai guru dan wali murid, tapi sebagai Regas dan Lia yang dulu.

Lia mematikan ponselnya dengan kasar. Ia tidak ingin kembali ke "dulu". Dulu adalah luka. Dulu adalah penolakan. Dan kehadiran Ghea adalah bukti paling nyata bahwa saat Lia berjuang sendirian di negeri orang, Regas telah membangun dunia yang tidak menyisakan ruang untuknya.

Malam itu, di balkon apartemennya yang tinggi, Lia menatap kerlap-kerlip lampu kota dengan air mata yang akhirnya tumpah. Ia mengira gelar dan kesuksesannya akan membuatnya kuat, namun ternyata, satu kata "Lia" dari mulut Regas sudah cukup untuk meruntuhkan segalanya.

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!