NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Akan Menikah

Bertanggung Jawab apanya?

Memangnya dirinya salah dimananya?

Bukankah di sini, Nina yang rugi?

Ammar menciumnya tiba-tiba, tanpa meminta izin darinya. Bukankah Ammar yang seharusnya bertanggung jawab?

Lelaki itu yang jelas-jelas memulai duluan, dan saat kejadian. Nina sama sekali tak memberikan balasan. Tubuhnya bahkan kaku, karena terkejut dengan kelakuan Ammar yang tiba-tiba.

Padahal dari pertama bertemu, Ammar terlihat tidak menyukainya. Bahkan cenderung ketus. Lalu tadi pagi di kantor, lelaki itu bahkan meninggikan suaranya dan mengatakan tak ingin melihat wajahnya lagi. Lalu kenapa sekarang Nina harus bertanggung jawab?

Lawak sekali ...

"Maksud Tuan itu apa? Kenapa saya harus bertanggung jawab?" Tanya Nina heran. Entah dapat kekuatan dari mana, keberaniannya meningkatkan drastis. Tatapan mata yang dia berikan pada pria di hadapannya seolah menantang. "Saya merasa tidak melakukan apapun yang membuat hari anda kacau, dan bukankah anda yang berbuat tidak pantas pada saya? Seharusnya saya yang meminta pertanggung jawaban pada anda."

Bukannya marah atau memang wajah dingin seperti biasa. Ammar justru meledakkan tawanya.

Tentu dia memiliki alasan kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini. Lebih tepatnya Ammar sedang menertawakan dirinya sendiri. Karena apa yang dikatakan Nina, itu benar. Tapi sebagai lelaki dengan ego tinggi, dia tak mungkin mengakui kesalahannya.

Nina mengernyitkan dahinya, dia merasa heran. Kenapa sikap pria timur tengah itu berubah total?

Padahal biasanya ketus dan tidak bersahabat sama sekali. Seolah Nina bagai kotoran yang tak layak untuk dilihat.

Puas tertawa, Ammar berdehem. Dia berusaha menahan agar tawanya tidak meledak lagi.

"Maaf tuan, saya hanya ingin memberikan uang ini sekaligus berpamitan." Nina menyodorkan kembali amplop berisi uang tunai. "Terima kasih sudah mengizinkan saya untuk tinggal di sini." Ujarnya.

Pertama kali dalam hidupnya selama tiga puluh dua tahun, Nina tinggal di kamar dengan pemandangan kota dari ketinggian. Tentu Nina tak akan pernah melupakannya. Apalagi kasur yang ditiduri tadi malam, sangat nyaman.

"Saya doakan anda selalu sehat dan berhasil menemukan perempuan yang mau mengandung pewaris anda." Nina menggoyangkan amplop yang dipegangnya, berharap agar Ammar segera mengambilnya. Tapi lagi-lagi Pria itu tak bereaksi apapun. Karena itulah terpaksa, Nina mengambil alih tangan besar Ammar. Dia menaruhnya di sana. "Tolong diterima, Tuan! Dan terima kasih untuk hari kemarin dan hari ini."

Setelahnya Nina berbalik sambil membawa serta tas miliknya, dan melangkah menuju private lift. Nina sudah tau cara kerjanya. Damian telah mengajarinya.

Melihat punggung perempuan yang membuat harinya kacau, hati Ammar terasa terbakar. Dia tak terima ditinggalkan begitu saja. Seumur hidupnya, ini pertama kali dia ditinggalkan oleh seorang perempuan.

Tangannya mengepal kuat, hingga buku jarinya memutih. Pun napasnya yang memburu menandakan, rasa amarah yang siap meledak saat ini juga.

"NINA KHAIRUNISA ... Berhenti di sana." Suaranya meninggi.

Sontak Nina terkejut, dia menghentikan langkahnya. Namun tak berbalik, dengan kata lain Nina membelakangi Ammar. Tangannya baru saja hendak meraih rak sepatu guna mengganti alas kaki.

Suara langkah Ammar terdengar, tergesa. Membuat napas Nina mulai tercekat. Alarm tanda bahaya seolah berbunyi.

Nina merasakan oksigen mulai menipis. Ingatan kejadian bertahun-tahun lalu, kembali.

Dia berusaha keras mengafirmasi diri, agar tidak tumbang saat ini. Tapi sebuah tarikan keras di lengannya, dan wajah yang menabrak sesuatu. Membuat kesadarannya mulai lenyap. Matanya tertutup.

***

Mata cokelatnya menatap langit-langit kamar, yang Nina ingat dia tempati semenjak kemarin. Tapi kenapa dia kembali ke sini? Bukankah seharusnya semalam dia sudah berpamitan pada si empunya Penthouse?

Nina mencoba bangkit, dia menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Dari balik gorden, Nina melihat langit sudah terang. Jadi berapa lama dia tertidur?

Kilasan teriakan Ammar terlintas, sepertinya suara keras itu membangkitkan luka lamanya. Kenapa harus datang saat dia akan enyah dari sini? Kenapa tidak nanti saja?

Tangannya mulai meraba kepala. Sebuah kebiasaan usai bangun tidur, Nina akan menguncir rambut hitamnya. Tapi ngomong-ngomong buka kah seharusnya, dia memakai kerudung?

Apa mungkin Ammar yang membukanya?

Astaga, kenapa pria itu lancang sekali?

Setelah mencuri ciumannya, kini Ammar juga melihat aurat yang seharusnya tak boleh dilihat.

Lalu ... Kenapa ada jarum infus di punggung tangannya?

Suara ketukan membuat Nina menoleh, dia mendapati si empunya Penthouse datang membawa nampan.

"Aku bawakan kamu sarapan." Ammar meletakkannya di atas kabinet samping ranjang. "Kata dokter, kamu mengalami kelelahan dan kekurangan nutrisi." Jelasnya. "Apa kemarin Dami tidak memberi kamu, makan?" Tanyanya. Ammar melirik kearah punggung tangan perempuan berambut hitam lurus itu.

Nina tersadar, dirinya kini tak mengenakan penutup kepala. Dia mendelik. Dengan cepat dia meraih selimut dan menutupi dirinya hingga kepala.

"Sudahlah Nina, tidak usah malu-malu begitu. Kita bahkan sudah berciuman." Ammar sedang menggoda wanita manis ini. Ingin saja melakukan. Padahal ini bukan gayanya sama sekali.

"Dimana Jilbab saya?" Tanya Nina, dia masih menutupi dirinya.

"Sudah aku buang." Ammar menyahut asal.

Dari balik selimut, mata Nina melebar. Sontak dia membukanya dan melotot kearah lelaki yang hanya mengenakan kaus tanpa lengan. Sepertinya pria ini habis berolahraga. "Kenapa dibuang?" Nina ingat, itu pemberian Darmi sebulan lalu. Katanya sedang ada diskon di mall beli satu gratis satu.

"Aku bisa belikan pabriknya, jadi tidak usah protes." Ujarnya. Ammar menurunkan selimut yang kenakan oleh Nina hingga sebatas perut. Lalu mengambil nampan berisi sarapan buatan tangannya sendiri. Pertanyaannya, kapan terakhir Ammar melakukan hal ini? Dia terbiasa dilayani. Tapi entah mengapa, pagi ini. Ammar ingin sekali melakukannya. "Makan dan minum obatnya." Perintahnya.

"Tapi Tuan ..."

"Makan Nina ..." Ammar mendekat dan kini dia meletakan dua tangannya pada dua sisi tubuh Nina, dengan kata lain Ammar mengurung perempuan ini. "Aku tidak mau ada orang dekat ku yang kelaparan."

Nina menahan napas, ketika jarak wajah mereka tak sampai setengah meter. Posisi keduanya terlalu dekat.

"Makan Nina ..." Ammar mengulangi perintahnya, tapi Nina hanya diam tak melakukan apapun. Dia mendengus kesal, "Apa kamu mau, aku suapi dengan mulutku?"

Mendengar hal itu, Nina langsung mengambil alih garpu yang ada di samping piring. Entah jenis makanan apa, ini pertama kali dia melihatnya. Isinya potongan aneka sayur segar, buah dan telur juga potongan daging ayam rebus. Rasanya tak istimewa menurutnya. Nina terbiasa menyantap makanan dengan bumbu yang kuat.

Meski rasanya sulit menelannya, karena sedari tadi Ammar terus menatapnya. Nina merasa grogi. Tapi dari pada dicium lagi, lebih baik menurut saja.

"Aku sudah memikirkan semalam." Ammar tak lagi mengurung Nina, kini dia bangkit dan melangkah menuju gorden. Lalu membukanya.

Ammar melipat tangan di depan dada, dia melihat pemandangan kota Jakarta. Posisinya membelakangi Nina.

"Aku ada perjalanan bisnis selama seminggu." Tadi pagi, salah satu asistennya yang berasal dari benua biru memintanya untuk datang. "Tapi sebelum itu, aku akan mengikuti saran Dami kali ini."

Nina sudah menyelesaikan makannya, dia meletakan nampan di atas kabinet setelah sebelumnya menghabiskan segelas susu hingga tandas. "Maksud Tuan, apa?" Tanyanya heran.

Ammar berbalik menatap perempuan yang kembali menutupi kepalanya dengan selimut. "Aku akan menjadikan kamu sebagai perempuan yang mengandung pewaris ku."

Nina mendelik, dia kembali membuka selimutnya. Nina memberikan tatapan keberatan. "Saya sudah memberikan uang pengganti pada tuan, semalam. Dan tuan sudah menerimanya."

Ammar melangkahkan kakinya, dia kembali duduk di sisi ranjang dekat dengan dimana Nina berada. Ammar membuka laci kabinet dan mengambil amplop cokelat yang diberikan Nina semalam. "Aku menolak."

"Tapi Tuan ..." Nina keberatan.

"Apa alasan kamu menolak?"

"Itu dosa, sama saja dengan berzina dan anak yang nanti saya kandung tidak akan bisa menjadi pewaris anda."

"Kita akan menikah."

"Apa ..." Nina meninggikan suaranya. Dia menatap Ammar tak percaya.

Menikah katanya, yang benar saja. Bukankah mereka baru hitungan hari, kenal. Kenapa semudah ini mengajak menikah? Mereka bahkan tak saling cinta.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!