Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.
Abiyan mengeluarkan kotak beludru, lalu membukanya. Tampak cincin bertahtakan berlian yang indah berkilauan membuat takjub yang melihatnya.
Naraya terpaku, netranya menatap benda berkilauan itu tak berkedip. Ia merasa de javu.
"Kenapa, Ra? Apa ini kurang?" tanya Abiyan, tatapannya sedikit kecewa.
Naraya beralih menatap Abiyan, lantas menggeleng pelan. "Ini...terlalu berlebihan, Bi. Aku...."
Abiyan segera memotong ucapannya. "Nggak ada yang berlebihan, Ra. Dan kamu pantas mendapatkannya."
Pemuda itu lantas mengambil cincin tersebut. Kemudian dengan gerakan lembut dan hati-hati dia menyematkan cincin itu ke jari manis Naraya, lalu mengecupnya penuh perasaan.
"Aku nggak memintamu mencintaiku sekarang, tapi ijinkan aku menghujanimu cinta dengan caraku."
Naraya tak tahu harus bagaimana menyikapinya. Airmatanya jatuh menetes di pipi. Baru saja Abiyan akan menyeka pipinya, pramusaji datang membawa makanan yang dipesannya.
Buru-buru, Naraya mengusap airmatanya dengan tissu yang tersedia di meja.
"Selamat menikmati, Kak," ucap pramusaji itu kemudian berlalu.
"Terima kasih."
"Ayo, makan dulu. Aku nggak mau anak kita kelaparan nanti," ucap Abiyan sambil tersenyum menggoda.
Naraya tersedak minuman yang diminumnya, kala mendengar Abiyan menyebut anak dalam kandungannya dengan anak kita.
"Ck...sudah besar bentar lagi mau jadi ibu, tapi masih ceroboh." Abiyan mengambil tissu lalu mengelap mulut Naraya dengan lembut.
Makin meleleh lah rasanya hati Naraya. Namun, kebimbangan hadir mencengkeram lebih kuat.
Selanjutnya mereka makan dalam diam. Hanya denting sendok yang beradu pelan dengan piring yang menemani keduanya.
Selesai makan Abiyan mengajak Naraya ke sebuah butik mewah. Namun, Naraya menahan tangannya. "Untuk apa kita ke sini, Bi?"
"Tentu saja untuk membeli kebaya pengantin," kata Abiyan.
"Ingat ya, Ra. Dengan atau tanpa persetujuanmu, aku akan tetap menikahimu. Aku ingin anak ini lahir dan memiliki ayah."
Airmata Naraya jatuh tak terkendali. "Tapi, aku mau ke butik yang biasa saja, Bi. Aku tidak ingin membebanimu."
"Siapa bilang kamu membebaniku? Aku justru sangat bahagia, apabila kamu menjadikan aku satu-satunya tempatmu untuk bersandar."
Naraya tak bisa berkata-kata lagi, selain menurut ke mana Abiyan membawanya.
Setelah mendapatkan kebaya dan setelan jas yang cocok, mereka pun keluar dari butik.
"Kamu pengin ke mana lagi? Ada kah yang kamu inginkan?" tanya Abiyan selanjutnya.
"Aku ingin kita pulang aja, Bi," sahut Naraya merasa tidak enak hati.
"Kamu nggak ingin membeli daster atau sesuatu gitu?"
Naraya menggeleng. "Aku bisa beli online," katanya sembari tersenyum canggung.
"Ya sudah, terserah kamu." Abiyan menggandeng tangan Naraya dengan tangan kirinya seolah tak ingin terlepas. Sementara tangan kanannya memegang goodie bag.
.
Di kontrakan Naraya, Ranti dan Martin masih menunggu. Sesekali pemuda arogan itu melihat jam tangannya. Sedangkan Ranti, ia lebih tenang, setidaknya itu yang terlihat dari luar, tetapi di dalam hatinya ada kecemasan juga ketakutan. Takut kehadirannya kembali mendapatkan penolakan dari Naraya.
"Sampai kapan kita akan menunggu di sini, Mi? Ini sudah hampir malam dan mereka entah di mana." Martin berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Sabar ya, Sayang," bujuk Ranti. "Bentar lagi pasti mereka pulang, kok."
"Iya, tapi mau sampai kapan, Mi? Sampai kulit kita habis digigiti nyamuk?" protes Martin keras.
"Lebih baik aku pulang aja, deh. Mereka itu sepertinya sengaja menghindari kita. Buktinya dari tadi nggak pulang-pulang."
Baru selesai Martin ngomong, Abiyan dan Naraya muncul dari ujung gang. Naraya tampak menghentikan langkahnya. Wajah yang tadinya ceria seketika berubah masam, kala mendapati dua orang yang tak diharapkan kedatangannya berada di depan kontrakannya.
Abiyan menatap Naraya. "Ayo, kita hadapi mereka. Apa maunya datang ke mari."
Naraya mengangguk, ia mengeratkan genggaman tangannya lalu keduanya melangkah mendekat.
"Ara..." panggil Ranti, wajahnya tampak berbinar, menatap kedatangan putrinya.
Tanpa kata, Naraya membuka pintu kamarnya. "Silakan masuk. Jika ada yang penting katakan di dalam," ucapnya dengan nada datar.
Martin berdecak pelan lalu masuk tanpa menunggu lama, diikuti oleh Ranti. Sementara Abiyan duduk di teras, memastikan wanita yang dicintainya tidak terintimidasi.
"Aku minta maaf, soal kemarin," ucap Martin tanpa basa basi entah ditujukan pada siapa.
Naraya masih diam tak bereaksi. Ia tak tahu harus mengambil sikap seperti apa. Sebagian hatinya memaafkan tetapi sebagian lagi masih terasa berat.
Ia menatap Abiyan seolah meminta pendapat.
"Minta maaflah yang benar," kata Abiyan, suara terdengar tegas.
Ranti mengambil alih. "Nak Abiyan, atas nama keluarga kami mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucapnya seraya menangkupkan kedua tangannya.
"Mungkin putra saya memang melakukan kesalahan, tapi tolong maafkan kami. Setulus hati kami meminta maaf," lanjutnya tak segan berlutut.
Abiyan mengernyit heran merasakan keanehan yang terjadi. Batinnya bertanya-tanya. "Ada apa sebenarnya? Mengapa ibunya Nara sampai rela berlutut hanya untuk meminta maaf? Apa ada sesuatu?"
"Bangunlah, Nyonya. Tidak seharusnya Anda melakukan hal itu, sementara yang berbuat salah, tidak ada sedikitpun berniat meminta maaf dengan benar," sindirnya sembari menatap Martin, seakan mencemooh.
Martin mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Ranti memegang pundaknya, menggeleng pelan.
Hening merayap, hanya pikiran mereka yang berisik.
"Saya sudah memaafkan kalian, saya capek ingin beristirahat. Pulanglah." Naraya berkata membelah keheningan yang menyelimuti. Suaranya begitu dingin, wajahnya tak menampakkan ekspresi apapun.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, kekecewaan kembali menghantamnya.
Ranti tersentak, ia menatap Naraya dengan pandangan ambigu.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, jadi tunggu apalagi?" ucap Naraya seraya berdiri.
"Ah, iya. Sebaiknya Anda mendidik putra Anda dengan benar Nyonya. Agar pengorbanan Anda tidak sia-sia."
aku kok loading ya🏃♀️🏃♀️🏃♀️