AK 47, senjata laras panjang yang kini diarahkannya pada leher suaminya.
"Tambah satu wanita lagi, bangunlah Harem hingga kamu kenyang oleh darah." Sebuah sindiran dari wanita yang tersenyum menyeringai.
Dirinya bereinkarnasi sebagai istri jahat dalam novel pria bertema sistem dan kiamat. Dengan ending kematian tragis.
Sedangkan suaminya hidup bahagia dengan 9 wanita cantik di haremnya.
Berusaha bersikap baik, tidak seperti dalam alur cerita novel. Berharap suaminya tidak akan membangun harem seperti dalam cerita novel.
Tapi tetap saja susu besar membuat pria ini tertarik, paha mulus menggetarkan hatinya.
Daripada menunggu kematian, lebih baik, dirinya menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan suaminya.
Dalam dunia kiamat diantara hidup dan mati, dimana makanan adalah lebih berharga daripada emas. Hukum tidak berlaku lagi.
Dunia dimana dirinya dapat membantai pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Laba-laba yang menjerit, mengeluarkan suara pekikan yang membuat gendang telinga terasa sakit. Cairan berupa lendir keluar dari mulut sang laba-laba.
Apa ini adalah hewan yang berevolusi karena dampak nuklir? Bahkan sudah cukup pintar untuk memasang umpan hidup, memancing makhluk hidup lainnya untuk mendekat.
Mayat anak itu masih terlihat membiru, dipaksa untuk berdiri menggunakan jaring laba-laba semi transparan. Suara tangisan yang sebelumnya keluar, sudah pasti dari laba-laba itu.
Sarah menelan ludahnya, evolusi dan kelainan genetika akibat pengaruh radiasi nuklir bagaikan sudah tidak terkendali. Laba-laba dapat berubah menjadi makhluk si mengerikan ini.
Bukan laba-laba raksasa, tapi laba-laba seukuran telapak tangan manusia dewasa. Yang masalah, jumlahnya mencapai ribuan, Dan yang menyerang Ren tadi, hanya seekor laba-laba yang memiliki bagian tajam di salah satu kakinya.
Sarah mencoba untuk bangkit, mengeluarkan senjatanya, menembak ke arah laba-laba yang melompat ke arah mereka.
Dor!
Dor!
Dor!
Tapi begitu banyak, ribuan, bahkan ada yang telah merayap kearah kaki mereka.
Matanya menatap ke arah Ren, yang berusaha menginjak laba-laba. Sembari bergerak mundur.
Pada akhirnya, Sarah mengeluarkan katana. Menebas sebagian dari koloni yang mendekat. Tapi jujur, ini melelahkan, ada begitu banyak laba-laba seukuran telapak tangan manusia.
"Krakkkkstttt...." suara desisan para laba-laba tersebut.
"Ren mundur!" Perintah dari Sarah, menarik tangan Ren untuk melarikan diri. Mengingat semakin banyak laba-laba yang datang.
Ini sulit! Tadi hanya monster level D, tapi jika ada ribuan tetap saja bagaikan menghadapi monster level S.
Sarah berlari sembari memegang jemari tangan Ren, pemuda yang terlihat berlari lebih lambat darinya.
Napas pemuda itu tersengal-sengal."Sarah! tinggalkan aku sebagai umpan! Aku sudah tidak kuat berlari lagi! Hah ....hah.... Aku sama sekali tidak apa-apa, kamu adalah teman yang baik. A...aku benar-benar sudah tidak kuat berlari lagi."
Sial! Memang opsi termudah saat ini untuk melarikan diri, adalah menjadikan tubuh Ren sebagai umpan. Tapi dirinya tidak akan membiarkan Ren mati.
"Tutup mulutmu! Aku sudah berjanji akan melindungimu! Ya pasti aku akan melindungimu!" tegas Sarah pada orang ini, menatap ke arah sekitarnya. Otaknya berpikir, tentang bagaimana caranya agar bisa selamat dengan Ren. Benar-benar tidak ingin mengorbankan pemuda ini.
Sedangkan Ren tertegun, manusia lain sudah pasti akan memilih untuk meninggalkannya. Menjadikan dirinya sebagai umpan hidup untuk mengalihkan perhatian monster. Tapi wanita ini tidak sama sekali, wajahnya diam-diam tersenyum. Benar-benar manusia yang menyenangkan.
Melirik ke arah belakang, koloni laba-laba semakin mendekat. Jika dirinya menunjukkan kemampuan, ini tidak akan menjadi sesuatu yang menyenangkan lagi.
Karena itu.
"Sarah kamu memiliki bahan peledak?" tanyanya.
"Ada! Aku memiliki beberapa granat. Tapi jika dilemparkan efek ledakannya dapat mencapai kita." Jawab Sarah, mengingat perlengkapan dalam tasnya.
"Di sekitar kita ada tebing, bisa gendong aku naik ke tebing?" pertanyaan aneh dari Ren.
"Tidak bisa! Kau gila ya!? Bagaimana caranya , aku memanjat sambil---" kalimat Sarah terhenti.
"Nona Sarah coba dulu, Jika belum dicoba tidak akan tahu." Benar-benar aneh kalimat dari pemuda ini.
Sudahlah! Lagi pula tidak ada pilihan lain. Pada akhirnya, Sarah mencoba menggendong Ren ala bridal style. Dan anehnya, tubuh pemuda ini terasa ringan bagaikan dirinya tidak menggendong apapun.
Apa ini hanya perasaannya saja? Begitu pula saat memanjat melompati tebing, dirinya dapat memanjat tanpa berpegangan? Ini hampir seperti melayang?
Hingga mereka pada akhirnya sampai di puncak tebing. Para monster laba-laba yang seukuran telapak tangan manusia dewasa, memanjat menaiki tebing.
"Ren bantu aku melempar granat!" perintah Sarah.
Dua orang yang membuka tas. Menarik pemicu granat, kemudian melemparkannya ke arah bawah tebing, di mana terdapat koloni laba-laba raksasa yang ingin memanjat.
Beberapa ledakan mengguncang sisi bawah tebing. Laba-laba terpental dan hancur, hingga tidak ada yang tersisa.
Barulah mereka dapat bernafas lega, duduk di sisi atas tebing.
Napas mereka masih tidak teratur, perlahan Sarah melirik ke arah pemuda di sampingnya.
"Bagaimana kamu tahu kemampuanku meningkat?" pertanyaan aneh dari Sarah.
"Kemarin Nona Sarah bercerita, pemuda itu memberikan sesuatu yang aneh dari mulutnya. Aku hanya berpikir, luka lecet di tangan Nona Sarah sudah sembuh tanpa bekas. Dan lagi, kita berjalan terlalu jauh Nona Sarah tidak terlihat kelelahan sedikitpun. Sesuatu yang dimasukkan ke dalam mulut Nona Sarah, kemungkinan besar memiliki efek peningkatan energi. Itu hanya asumsi ku, ternyata memang benar." Jawaban dari Ren, tersenyum tanpa dosa. Napasnya masih tidak teratur bagaikan orang kelelahan.
Sarah mengangkat sebelah alisnya. Bagaimana bisa villain malah memberikan kemampuan padanya. Seharusnya final boss itu adalah orang paling jahat, dia yang akan memusnahkan seluruh umat manusia.
"Aneh..." gumamnya tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Sarah kemudian bangkit, melangkah mendekati bebatuan yang besar. Kemudian memukulnya dengan satu hantaman, batu tersebut retak menjadi dua.
"Nona Sarah memang hebat!" teriak Ren mendekat, menempel padanya. Lebih tepatnya bermanja-manja pada lengannya.
Sarah menatap ke arah jemari tangannya sendiri."Serius! Kenapa orang jahat itu malah memberikan kemampuan padaku?" gumamnya yang baru menyadari sejak tadi pagi, luka di tangannya sudah sembuh.
Sedangkan Ren, hanya menyembunyikan segalanya dalam senyuman yang terlihat sedikit mengerikan? Tidak percuma dia menguji manusia ini, manusia ini sama sekali tidak meninggalkannya dan menjadikannya umpan, tidak seperti manusia-manusia sebelumnya.
"Sarah, boleh aku terus mengikutimu? Aku tahu aku cuma akan menyusahkan, Bahkan aku tidak sehebat Kelvin. Tapi---" kalimat Ren yang mengundang simpati disela.
"Kamu jangan berkata seperti itu, kamu itu lebih berguna daripada Kelvin. Kamu bisa memasak, setia kawan dan rela berkorban. Kita bisa saling melindungi---" kali ini kalimat Sarah yang terhenti.
Tiba-tiba saja, Ren berjinjit kemudian mengecup bibir Sarah tanpa permisi. Wajahnya tersenyum tanpa rasa bersalah, kemudian berucap."Terima kasih Sarah, benar-benar hanya Sarah yang baik padaku." kalimat dari sang pemuda bagaikan putus asa, memeluk tubuh Sarah erat.
Sedangkan Sarah sendiri, pada awalnya tertegun, terkejut, sedikit kesal. Tapi, sangat wajar bagi seseorang, untuk mencari perlindungan di dunia kiamat ini.
Namun, Ren sudah dua kali bersedia mengorbankan diri untuknya. Entah mengapa perasaan yang tersentuh, membalas pelukan orang ini.
Ren Shiro, pemuda yang terdiam dalam pelukan Sarah. Pupil matanya, yang pada awalnya hitam, sekelebat berubah warna menjadi merah. Lalu kembali berubah menjadi hitam lagi.
Wanita ini, tidak membuangnya, tidak mengecewakannya, tapi entah kenapa, dirinya belum ingin pengujian ini selesai. Dirinya ingin selalu dekat dengan orang ini.
Tidak ingin, orang ini dimiliki oleh orang lain lagi. Orang ini adalah miliknya. Tapi... kenapa?
Tanda tanya itulah yang berada dalam benaknya. Dirinya hanya dapat berpura-pura lemah saat ini. Seharusnya melakukan pengujian kepada manusia berikutnya.
Tapi, dirinya tidak ingin meninggalkan Sarah.
Menatap ke arah wanita ini, begitu cantik dengan aura kejamnya.
Cantik? Ren membulatkan matanya, apa dirinya sudah gila!?
"Miau..." kucing sialan itu tiba-tiba datang entah dari mana.
Hayu Miau...terus provokasi Ren biar panas
up nya udah ada aja nih,thor.
Kamu kalau menilai suka sesukamu aja sih,Miau
Lempar nih...