NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Bola Basket

Satu tahun lalu.

Koridor depan perpustakaan selalu jadi tempat paling sepi di sekolah. Cahaya matahari jatuh miring lewat jendela tinggi, membuat lantai marmer terlihat hangat. Alana duduk di ujung kursi panjang, punggung tegak, kaki disilangkan rapi. Rambut panjangnya jatuh ke bahu.

Di pangkuannya terdapat sebuah buku tebal yang penuh catatan dan stabilo. Hari ini Alana ada ulangan harian. Guru memberikan waktu satu jam untuk belajar sebelum ulangan.

Bukannya digunakan untuk belajar, kelas Alana justru ramai dan ribut sehingga membuatnya sulit untuk fokus. Jadi, Alana pergi ke depan perpustakaan.

Dia baru membuka halaman berikutnya ketika terdengar suara bola basket dipantulkan ke lantai. Berulang kali.

Dum! Dum! Dum!

Disertai siulan asal-asalan.

Alana menutup mata, menarik napas sangat pelan. “Bisa diem nggak?” ucapnya tanpa menoleh, nada datar tapi tajam.

Rayyan berhenti memantulkan bola. Dia menoleh kanan-kiri, pura-pura bingung, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Lo ngomong sama gue?”

Alana tidak menjawab. Dia hanya membalik halaman bukunya seperti biasa seperti Rayyan sama sekali tidak terlihat. 

Karena diabaikan, Rayyan kembali memantulkan bola. Lebih keras.

Dum! Dum! Dum!

Alana mengepalkan tangan di pangkuannya. Alana menarik napas panjang, berusaha agar tidak terpancing emosi.

“Boleh ya… sedikit beradab?”

Rayyan mengangkat alis. “Apaan sih? Lo ngomong sama siapa?”

“Sama orang yang nggak punya otak,” balas Alana, masih tanpa menoleh.

Rayyan tertawa pendek, seperti tidak peduli. “Yang pasti bukan gue.”

Alana menarik napas panjang, menoleh pada Rayyan dengan gerakan pelan. Alana dapat melihat cowok itu menggunakan baju olahraga yang basah terkena keringat. Rambutnya lepek dan berantakan.

“Lo itu bodoh atau bego?” ucap Alana sarkas. “Lo nggak lihat gue lagi belajar dan lo malah berisik sama bola jelek lo itu.” 

Rayyan mengerutkan kening, pura-pura berpikir keras. 

“Gue pikir bodoh sama bego itu sama,” celetuk Rayyan. 

Rayyan memantulkan bola basket ke dinding, lalu menangkapnya, berulang kali.

Sementara itu, Alana menutup bukunya perlahan. Jemarinya mengetuk sampul buku sekali sebelum dia akhirnya berdiri. Dia menatap Rayyan tajam.

“Setidaknya lo perlu punya sopan santun kalau nggak punya otak. Biar hidup lo nggak cuma jadi sampah.”

Rayyan tidak tersinggung dengan ucapan Alana. Dia sudah terlalu terbiasa dengan mulut Alana yang dingin dan pedas.

“Ups. Kasar banget mulutnya.” 

Justru itu membuka Alana semakin kesal. Alana mendekat satu langkah, berdiri tepat di depan Rayyan, menatapnya tanpa takut. Sorot matanya tajam dan menantang. Alana menaikkan dagu.

“Orang tua lo nggak pernah ajarin lo sopan santun?” 

Rayyan membeku sepersekian detik. Rahangnya mengeras.

Bola basket di tangannya berhenti memantul. Tatapannya berubah tajam, tapi hanya sebentar. Rayyan kembali bersikap santai.

“Na, hati-hati kalau ngomong,” ucap Rayyan pelan. Nada suaranya lebih rendah.

Alana tahu, itu menyinggung Rayyan. Alana tersenyum miring sambil mendekatkan wajahnya pada Rayyan.

“Gue cuma nanya. Dari sikap lo… kayaknya nggak ada yang ajarin lo apa-apa.”

Rayyan tertawa kecil. Tawa pendek yang lebih mirip helaan napas marah.

“Cewek kayak lo itu emang nggak tahu cara menghargai orang lain.”

“Emang gue perlu menghargai lo?” 

Alana tertawa sinis, kemudian menatapnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Oke oke, berapa harga diri lo? Gue akan bayar.”

Rayyan memandangnya tanpa ekspresi, tapi Alana bisa lihat rahangnya yang mengencang.

Satu sudut bibir Alana semakin tertarik ke atas, menciptakan senyum miring yang tampak seperti berada di atas awan. “Berapa? Sebut angka. Berapapun, gue mampu buat bayar. Tapi kayaknya… murah.”

Rayyan mendengus kasar. Tangannya menggenggam bola basket begitu kuat hingga otot-otot lengannya menegang.

“Lo bener-bener—”

Dum!

Bola itu terlepas karena genggamannya terlalu kuat. Jatuh ke lantai lalu bergulir menjauh dari mereka. 

Rayyan memejamkan mata sebentar. Bahunya naik turun halus, menarik napas dalam-dalam, menahan diri untuk tidak bicara sesuatu yang salah.

Ketika matanya terbuka, senyum remeh terukir di wajahnya. 

“Cewek kayak lo... gue penasaran gimana hidup lo tanpa adanya duit bokap lo.”

Alana mengedikkan bahu tidak acuh. “Nggak usah penasaran karena itu mustahil terjadi.”

Rayyan menahan tatapan, kemudian suaranya turun menjadi lebih berat dan dingin. 

“Nggak ada yang nggak mungkin. Karma itu nyata,” ucap Rayyan tajam yang terdengar seperti sebuah peringatan.

Rayyan berbalik tanpa menunggu reaksi Alana. Dia berjalan mengejar bola basket yang sudah menggelinding jauh ke ujung koridor.

Alana hanya tersenyum miring, senyum tipis yang penuh kepuasan.

Merasa gangguannya sudah sirna, Alana kembali duduk, merapikan rok, dan membuka halaman buku seperti tidak ada yang terjadi. Merasa tenggorokannya kering, Alana mengambil botol minum miliknya. Tapi, tutupnya mendadak macet. Dia memutar dengan keras. Tetap tidak bergerak.

Di sisi lain, Rayyan sudah mengambil bola basketnya. Dia ingin mengembalikan bola basket itu ke gudang penyimpanan alat olahraga. Sejak awal memang itu yang akan  dia lakukan. 

Sialnya, gedung itu ada di sebelah perpustakaan. Artinya dia harus melewati Alana lagi.

Langkah Rayyan melambat begitu dia melihat Alana. Rambut Alana sedikit berantakan karena kesal, wajahnya tetap datar, tapi tangannya jelas sedang berusaha membuka tutup botol dengan keras sampai buku yang ada di pangkuannya ikut bergeser.

Rayyan menghela napas pelan. Tanpa mengatakan apapun, Rayyan mengambil botol itu dari genggaman Alana.

Alana spontan menoleh, mata besarnya menatap dengan tajam, siap marah. Tapi belum sempat Alana mengatakan apapun, Rayyan sudah memutar botol itu. Lalu, klik, tutup botol itu terbuka dengan mudahnya.

Rayyan mengarahkan botol itu pada Alana, tapi Alana hanya menatap tajam.

Rayyan menghela napas kasar. Dia meletakkan botol itu di samping Alana.

“Nggak usah bilang makasih, gue tahu lo gengsi buat ngomong itu.”

...***...

Alana sudah kembali terbaring di ranjang. Wajahnya pucat. Bercak air mata masih menempel di pipinya, belum sempat benar-benar mengering. Napasnya kini kembali teratur. Naik turun pelan.

Rayyan duduk di kursi yang ada di sisi ranjang. Dia masih mengenakan kemeja tadi malam. Jasnya tersampir di sandaran kursi. Rambutnya tak lagi rapi. Wajahnya frustasi.

Tubuh Rayyan condong sedikit ke depan, kedua siku bertumpu di paha. Sorot matanya tertuju lurus pada Alana. 

Jantungnya mencelos. Dadanya terasa diremas dari dalam melihat Alana seperti ini. Dia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

Jika bukan karena dirinya, Alana tidak akan seperti ini. 

Rayyan mengangkat tangannya, ragu-ragu, lalu membiarkannya jatuh kembali ke pangkuan. Tatapannya turun ke jemari Alana yang terbaring lemas di atas seprai. Jemari itu biasanya tegas, penuh kontrol. Tidak seperti sekarang.

Rayyan menarik napas panjang, menahan perasaan yang mendesak dadanya

“Maaf, Na," gumam Rayyan pelan.

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Chillzilla: nanti kak🤗
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!