NovelToon NovelToon
Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Menjadi Pengusaha / Cinta Murni
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arias Binerkah

Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.

Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.

Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.

Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..

Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34.

Aurely terdiam sejenak.

""Nurul." gumamnya di dalam hati.

Ia segera menunduk kembali, menutup layar komputer kasir.

"Sama siapa dia?" gumamnya lagi dalam hati. Namun kali ini ia memilih tak menoleh lagi. Seolah tak ingin memberi ruang pada rasa penasaran yang tiba-tiba terasa menyesakkan.

Suara langkah sepatu berhak tinggi terdengar—cetok, cetok—beradu dengan lantai teras kios. Aroma parfum mahal menyeruak, menusuk hidung Aurely yang sejak sore hanya mencium bau minyak dan bumbu dapur.

“Wah, keren kamu, Riz. Kios baru buka pertama kali sudah langsung laris.”

Suara perempuan muda itu terdengar cerah dan penuh percaya diri. Jelas bukan suara Nurul, yang sudah ia kenal.

Aurely akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menoleh ke arah sumber suara.

Di bawah cahaya lampu putih kios, wajah gadis itu terlihat semakin menonjol. Riasannya sederhana tapi mahal, senyumnya lebar dan terlatih. Gestur tubuhnya menunjukkan satu hal: ia terbiasa menjadi pusat perhatian.

Aurely menelan ludah. Ia kembali ditarik ke masa lalu..

“Alhamdulillah, Nel. Berkat kerja tim,” jawab Rizky sambil tersenyum. Ia bangkit dari kursinya. “Kamu jadi juga datang ke kiosku. Kukira besok-besok.”

“Iya, sudah nggak sabar lihat langsung,” jawab Nelly. “Kebetulan aku habis main ke rumah Nurul.”

Nelly menoleh ke arah Nurul yang berdiri di sampingnya. Nurul tersenyum kecil, lalu melirik sekilas ke arah Aurely—tatapan cepat, datar, lalu beralih kembali ke Rizky.

“Silakan duduk,” ujar Rizky. “Tapi maaf, aku nggak bisa menjamu makan malam. Sudah habis. Minum dan snack saja, ya.”

“Boleh,” sahut Nelly ringan.

Ia langsung duduk di satu meja dengan Rizky, memilih kursi di sebelahnya. Nurul ikut duduk, sedikit condong ke arah Rizky, seakan ingin masuk dalam lingkar percakapan sedekat mungkin.

Rizky lalu menoleh ke arah Santi yang sudah siap pulang. Tanpa perlu kata-kata, Santi paham. Ia segera berjalan ke rak minuman dan etalase roti.

Saat melewati Aurely, Santi berbisik pelan, “Rel, catat di buku ya minuman dan roti untuk mereka. Aku pulang dulu, nebeng Mas Lutfi.”

Aurely mengangguk. Sebenarnya ada banyak pertanyaan di kepalanya, tapi semua tertahan di ujung lidah.

Ia kembali duduk di kursi kasir.

Dari sana, Aurely bisa melihat mereka bertiga bercakap-cakap. Rizky menjelaskan tentang kios, rencana usaha, dan kesibukannya di kampus.

Nelly mendengarkan dengan antusias, sesekali tertawa kecil—tawa yang sedikit dibuat-buat. Nurul menyela di waktu yang tepat, menambahkan cerita-cerita lama tentang Rizky, seolah ingin menunjukkan bahwa ia mengenalnya lebih dulu.

“Dulu Mas Rizky juga kayak gini,” ujar Nurul sambil tersenyum manis. “Kalau punya target, nggak kenal capek.”

Nelly mengangguk, matanya menatap Rizky penuh kekaguman. “Iya, kelihatan. Nggak banyak cowok yang bisa konsisten begini.”

Aurely menangkap semuanya.

Sesekali, Nurul dan Nelly melirik ke arahnya. Tatapan itu singkat, tapi jelas—menilai, meremehkan. Seolah keberadaan Aurely di balik meja kasir hanyalah bagian dari perabot kios.

“Capek ya kerja dari pagi sampai malam begini,” ujar Nelly tiba-tiba, suaranya cukup keras. “Aku sih nggak kuat. Harus fokus kuliah.”

Ucapannya diiringi senyum tipis yang diarahkan sekilas ke Aurely, sebelum kembali menatap Rizky.

Aurely menunduk, berpura-pura mencatat. Dadanya terasa sesak.

Waktu berjalan sangat pelan baginya. Tubuhnya sudah lelah, punggungnya pegal, matanya perih. Namun dua gadis itu belum juga beranjak pergi. Padahal Rizky sudah beberapa kali melirik jam tangannya.

Satu per satu karyawan lain pamit. Mbak Nisa pulang bersama Mas Yanto. Kios semakin sepi.

Tinggal Aurely, Rizky, dan dua gadis yang masih duduk terlalu nyaman—terlalu dekat.

Dan entah mengapa, malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Aurely sedang menutup buku catatan ketika suara Nelly terdengar lagi.

“Oh iya, Riz,” ucapnya santai, sambil memainkan sedotan minumannya. “Kamu masih jadi asisten dosen , kan?”

Rizky mengangguk. “Masih. Kenapa?”

“Pantes,” sahut Nelly cepat. “Aku ingat dulu kamu sering bantu aku sama Nurul ngerjain pe er. Kamu emang paling sabar.”

Nurul tersenyum kecil. “Iya, dulu hampir tiap malam, kan?”

Kalimat itu meluncur ringan, seolah tak bermakna apa-apa. Tapi dada Aurely mendadak terasa kosong.

Hampir tiap malam.

Tangannya yang memegang pulpen berhenti bergerak. Ia menunduk lebih dalam, berharap tak seorang pun menyadari jeda singkat itu.

Nelly lalu melirik ke arah kasir. Ke arah Aurely.

“Eh,” katanya, “mbaknya ini karyawan baru ya?”

Rizky menoleh. “Iya. Namanya Aurely.”

“Oh.” Nelly mengangguk pelan. Tatapannya menyapu Aurely dari kepala sampai kaki, cepat tapi jelas. “Kukira pacarmu.”

Ucapan itu disertai tawa kecil. Nurul ikut tersenyum, meski matanya tetap dingin.

Rizky terdiam sepersekian detik. Menatap Aurley sebentar, “Bukan,” jawabnya akhirnya, singkat.

Jawaban itu sederhana. Tapi bagi Aurely, rasanya seperti pintu yang ditutup perlahan—tanpa suara, tanpa amarah, hanya kepastian.

“Oh, ternyata ..,” lanjut Nelly, seolah lega. “Soalnya kelihatan akrab.”

Aurely menelan ludah. Kedua matanya memanas.. Ia memaksa jemarinya kembali bergerak, mencatat sesuatu yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi. Pandangannya mengabur sebentar.

Nurul menyandarkan punggung ke kursi, lalu berkata ringan, “Mas Rizky emang orangnya perhatian. Dari dulu begitu.”

Sekali lagi, kata dari dulu meluncur.

Aurely akhirnya berdiri. “Mas,” katanya pelan ke arah Rizky, “aku ke belakang sebentar.”

Rizky menoleh, mengangguk. “Iya Rel.” Ucapnya masih terdengar lembut dan ramah di telinga Aurely. Tak ada yang berubah.

Langkah Aurely sedikit goyah saat berjalan menjauh dari kasir. Di balik dinding sempit gudang, ia berhenti. Menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

Bukan cemburu yang membuatnya sesak.

Melainkan kesadaran bahwa di meja itu, di percakapan itu, ia sama sekali tidak punya tempat. Dan malam itu, Aurely merasa, ia mungkin hanya persinggahan lagi, bukan tujuan.

Aurely teringat akan pesan Ibunya.. “Jaga hati.”

Tanpa terasa air matanya mulai jatuh satu persatu.. Dari arah depan.. telinga Aurley mendengar suara tawa Nelly dan Nurul.

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
aduh aduh ada yg kebakaran tapi bukan hutan, ada yg membara tapi bukan arang 😋 bolehnya iri, bolehnya kesal, bolehnya marah, bolehnya ngancam /NosePick//NosePick/
Siti Naimah
tantangan hidup Aurel masih berlanjut.semangat pantang menyerah Aurel.. buktikan bahwa kamu mau maju
Siti Naimah
Aurel biar bertambah pengalaman hidup.bahwa tidak semua orang seperti Bu wiwid.yg well come sama dirinya.bu Retno ibunya Rizky pribadi yg berbeda..semoga engkau lulus Aurel
Siti Naimah
ibunya Rizky Bu Retno kelihatan nya galak ya? semoga saja Aurel aman.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
Siti Naimah
penasaran banget deh...kok ada aja yang tahu kehidupan keluarga Aurel..
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
Siti Naimah
itulah Aurel.. biarpun hidup di desa namanya peluang untuk maju tetep saja ada.makanya harus ikhtiar dan selalu optimis 💪
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
pokok e ttp smgt mbk yu
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
ahhhh tepat sasaran deh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hahahahha hayo mulai deh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
lha tetbawa juga hadeh rel knp suka kali gyu dikit2 mewek sih jd lebih kuat napa
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hahh saiapa itu
Ranti Calvin
👍
Siti Naimah
nha..Aurel sekarang kamu dapat ilmu kan?tentang kisah hidupnya Bu Wiwid.
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tuuh kan... ceu @Ai Emy Ningrum bener kan.. 🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
lha ada apa cari2 pemilik
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
ehh .. ngaku juga
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
hayao siala tuhh
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
wehh lucu ini orng dia di bantu mlh ngejek pula hadeh dasar org muna wis angel
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
healah sastro2 kok ya segituya
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
heheh mulut orang mah suka gtu rel
harus kuat dan tahan banting
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!