Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE LIMA BELAS
Setibanya dipelataran rumah sakit, Darian menghentikan mobilnya tepat didepan ruang instalasi gawat darurat.
Belum sempat mobil berhenti sempurna, Bastian sudah lebih dulu membuka pintunya lalu turun. Ia segera mengangkat tubuh Siena yang masih tak sadarkan diri dengan hati-hati.
"Dokter!!" teriak Bastian sembari melangkah masuk kedalam rumah sakit
Beberapa tenaga medis yang tengah berjaga seketika dengan sigap langsung berlari mendekat sambil menarik brankar.
"Apa yang terjadi dengan pasien?" tanya salah satu perawat seraya memeriksa denyut nadi Siena.
"Kecelakaan dan mengalami benturan dikepala. Dia pingsan". Jawab Bastian memberikan keterangan.
Perawat itu mengangguk lalu meminta Bastian untuk membaringkan Siena ke atas brankar. Dengan hati-hati Bastian membaringkan tubuh ramping yang terkulai lemas itu diatas brankar dan dengan cepat beberapa perawat tersebut segera mendorongnya masuk kedalam ruang gawat darurat.
Bastian bergegas menyusulnya dan dibelakangnya diikuti Darian yang baru saja datang setelah memarkirkan mobilnya ditempat parkir.
"Mohon maaf silahkan anda tunggu diluar". Kata perawat saat hendak menutup pintu ruangan tersebut
Bastian menghela nafas pelan tak banyak membantah. Ia membiarkan Siena ditangani oleh dokter.
"Tuan, saya akan mengurus administrasi nya". Ujar Darian dan hanya dibalas deheman oleh Bastian.
Bergegas Darian berbalik badan dan segera melangkahkan kakinya menuju ruang administrasi. Bertepatan dengan itu Rani dan Dena juga tiba di rumah sakit.
Kedua gadis itu segera berlari masuk mencari keberadaan Siena. Ketika ingin bertanya dibagian resepsionis mereka berpapasan dengan Darian.
Dena segera melangkahkan kakinya menghampiri pria itu.
"Dimana Siena?" tanya Dena tiba-tiba
Darian refleks menghentikan langkah kakinya, menatap Dena dengan dahi yang mengerut kebingungan.
"Anda siapa?" Darian balik bertanya
"Aku sahabat Siena". Jawab Dena
"Siena?" cicit Darian
Dena mengangguk," iya. Perempuan yang digendong oleh Bastian dari arena balapan tadi".
Mendengar itu, seketika Darian langsung menganggukkan kepalanya paham.
"Dia sedang dalam penanganan dokter diruang gawat darurat". Jawab Darian
Tanpa mengucapkan terimakasih, Dena segera menarik tangan Rani mengajak perempuan itu menuju instalasi gawat darurat.
Darian yang melihat Dena dan Rani yang melenggang pergi hanya bisa melotot tajam.
"Dasar gadis jaman sekarang tidak tau sopan santun". Umpat Darian lirih
Namun, ia tidak ingin ambil pusing dengan sikap Dena. Ia bergegas melanjutkan langkah kakinya menuju ruang administrasi.
.
.
Setibanya diruang gawat darurat. Rani dan Dena bisa melihat jika pintu masih tertutup rapat. Kemudian, mereka melirik kearah Bastian yang duduk bersandar dikursi besi panjang didepan ruangan tersebut sambil bersedekap dada. Mata tajam pria itu melirik sekilas kearah Dena dan Rani, setelah itu ia kembali menatap lurus kedepan kearah pintu.
Dena dan Rani yang melihat sikap acuh dan dingin Bastian hanya bisa saling lirik dan senggol lengan. Mereka seperti ragu-ragu untuk mendekat.
"Den, kesana tidak ?" tanya Rani berbisik seolah memberi kode pada sahabatnya itu untuk menghampiri Bastian atau tidak.
"Tapi aku takut Ran. Kamu coba lihat deh aura Bastian. Berbeda sekali dengan yang kita lihat siang tadi saat di cafe. Kali ini dia seperti mengerikan Ran". Sahut Dena juga berbisik
"Tapi Den-"
Belum sempat Rani menyelesaikan ucapannya suara bariton Bastian terdengar menyapa indera pendengaran mereka.
"Apa kalian hanya akan berdiam diri disana dan terus berbisik-bisik tak jelas". Ucap Bastian, suara nya terdengar rendah dan dingin.
Ia menoleh mengalihkan pandangannya menatap kearag Dena dan Rani yang sedari tadi hanya saling senggol.
Dengan ragu-ragu kedua gadis itu mencoba memberanikan diri menghampiri Bastian. Tapi, tepat saat itu pintu ruang gawat darurat terbuka juga dengan Darian yang sudah kembali dari mengurus administrasi.
Bastian langsung beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat sambil melepas masker medis nya. Begitu juga dengan Dena dan Rani, mereka ikut mendekat.
"Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Bastian
“Pasien tidak mengalami luka serius. Benturan di kepalanya tidak menyebabkan pendarahan internal,” jelas dokter tenang.
“Namun ada gegar otak ringan. Untuk sementara ia belum sadar, tapi itu wajar setelah benturan dan kelelahan.”Imbuhnya
Dena langsung menutup mulutnya menahan lega ketika mendengar keterangan dari dokter. Meskipun luka yang dialami Siena tidak serius tapi bagaimanapun juga ia tetap khawatir.
“Berapa lama dia akan sadar, Dok?” Kali ini bukan Bastian yang bertanya, melainkan Rani.
“Kami masih observasi. Kemungkinan beberapa jam lagi. Jika kondisinya stabil, tidak perlu rawat inap lama.” Jawab Dokter
Bastian mengangguk singkat. “Pastikan ia dipantau ketat.”
“Tentu.”
Dokter itu lalu menoleh pada perawat. “Pindahkan ke ruang observasi.”
"Baik dok".
Brankar kembali didorong keluar. Siena masih terbaring diam, wajahnya terlihat pucat, dan selang infus sudah terpasang dipunggung tangan kirinya.
Dena mendekat sedikit. “Na...” bisiknya lirih.
Bastian berdiri satu langkah lebih dekat dari yang lain. Tatapannya tidak lepas dari wajah pucat gadis itu.
Darian datang dan berdiri di sampingnya. “Tuan saya sudah selesaikan administrasinya".
“Bagus".
Kemudian, Bastian merogoh saku celananya mengambil ponsel. Tapi, nihil ponselnya tak ada.
"Dimana ponsel ku?" gumam Bastian lirih
Darian yang mendengar gumaman itu langsung mendekat, berdiri tepat dibelakang Bastian.
"Seperti nya ponsel anda tertinggal di mobil tuan. Saya akan ambilkan". Kata Darian
"Hmm..." sahut Bastian berdehem
Darian bergegas melangkahkan kakinya kembali ke mobil untuk mengambil ponsel milik Bastian. Dan perawat juga segera mendorong brankar Siena menuju ruang rawat inap.
"Pastikan dia mendapatkan perawatan khusus, aku ingin dia ditempatkan di kamar VIP". Pinta Bastian
"Baik tuan". Sahut salah satu perawat sambil menganggukkan kepala.
Dena menoleh ke arah Bastian, lalu mencoba mendekati pria itu. “Kami bisa menemaninya, kan?”
Bastian menatap Dena datar beberapa detik sebelum menjawab, “Satu orang saja.”
“Kenapa harus diatur olehmu?” gumam Dena pelan, tapi cukup terdengar.
Tatapan Bastian langsung menatap Dena dengan tajam.
“Karena mulai malam ini,” ucapnya dengan suara yang rendah namun penuh penekanan, “keamanannya adalah tanggung jawabku.”
.
.
.
Haii temen-temen jangan lupa dukungannya yaa... Like, vote dan komen... Terimakasih ♥️🫶🏻
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut