“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 34
Alisha terbangun sambil membuka matanya perlahan, dia bergerak gelisah saat merasakan seluruh tubuhnya amat sakit dan ngilu luar biasa. Alisha merasa perutnya sangat mual sekarang hingga dia mengulurkan kepala ke samping ranjang dan muntah berkali-kali. Seseorang mengusap lembut punggungnya, Alisha tak peduli, dia hanya merasa tidak enak badan dan tidak bisa melihat dengan jelas.
“Sayang, minum obat ini dulu.” Suara itu, suara yang sangat dikenali dan selalu dinanti oleh Alisha selama ini. Alisha memfokuskan pandangannya dan menangis ketika melihat wajah Albiru lagi.
“Albi. Ini kamu?” tangisnya sembari meraba wajah sang suami.
“Iya sayang, ini aku.” Albiru memeluk erat istrinya itu dan membiarkan Alisha menumpahkan tangis pilu di pelukannya.
Albiru berhasil menemukan Theo beberapa hari yang lalu, dia menculik dan mengancam Theo agar mau memberitahu mengenai keberadaan Alisha. Theo yang kala itu sedang menemui kekasihnya di Indonesia malah ditemukan oleh Albiru hingga dirinya diancam sedemikian rupa. Theo memberitahu keberadaan Alisha agar keluarganya aman dari Albiru.
Albiru segera melakukan penerbangan ke Moskow dan memantau situasi untuk bisa masuk membawa Alisha pulang, selama lima hari dia memantau Gavin hingga akhirnya dia tahu kalau Gavin hendak membuat Alisha kehilangan ingatan. Sebelum dokter pribadi itu menemui Gavin, Albiru lebih dulu mencegat dan mengancam sang dokter agar tidak memberikan obat apapun yang membahayakan Alisha. Dokter yang takut akan ancaman Albiru pun menurut, dia hanya memberikan obat yang bisa membuat Alisha pingsan beberapa jam dan saat Gavin keluar, Albiru memasuki rumah itu untuk mengambil istrinya kembali.
Melihat kondisi Alisha yang cukup memprihatinkan, Albiru segera membawanya ke rumah sakit dan Alisha dirawat dengan intensif. Sedangkan Gavin sedang dikawal oleh beberapa anggota yang memang dia bawa dari Indonesia.
“Kenapa kamu bisa nemuin aku?” tanya Alisha pelan hingga Albiru menceritakan usahanya dalam mencari Alisha selama ini. Walaupun terlambat, paling tidak istrinya masih bernapas saat dia temui.
“Maaf ya sayang, aku terlambat nemuin kamu. Awalnya aku gak nyangka kalau Gavin di balik semua ini.”
“Aku bikin masalah terus ya buat kamu, Bi. Dan anak kita...” Alisha terhenti dalam ucapannya lalu kembali menangis.
“Aku udah tau dari riwayat kamu di rumah sakit ini, kamu keguguran dan mendapat tindak kekerasan. Maaf karena gagal menjaga kamu.” Alisha menggeleng dalam pelukan itu.
“Kamu gak gagal kok. Cuma takdir aja yang belum bisa memberikan kita ketenangan. Aku mau pulang, Bi. Aku gak mau di sini.” Albiru mencium puncak kepala Alisha.
“Kita akan pulang setelah kamu sembuh nanti, sekarang fokus sama kesehatan kamu ya.”
“Gavin gimana?” tanya Alisha penasaran, cukup takut dia jika nanti Gavin datang lagi dan mengancam keselamatannya.
“Dia aman dengan anggotaku, kamu tenang aja. Lagian dia udah gak bisa berkutik, jangan terlalu dipikirkan dia itu.”
“Aku takut aja kalau dia celakain kamu atau keluarga kita, Bi. Dia nekat orangnya, kalau semisal nanti dia bikin kerusuhan, aku gak bakalan bisa maafin diri aku sendiri.”
“Dia tidak akan bertindak jauh, bukan kapasitas dia lagi dalam mengusik dan mencelakai keluarga kita. Kamu istirahat saja yang tenang sampai nanti Gavin mendapatkan karma atas perbuatannya itu.” Alisha mengangguk patuh, Albiru kembali merebahkan tubuh Alisha dan menyelimutinya. Udara di luar yang cukup dingin membuat Alisha tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Alisha memeluk lengan suaminya, takut jika ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Albiru mengusap lembut kepala Alisha tanpa membuat perempuan itu terusik. Albiru datang bersama dengan Dafrina dan saat ini, Dafrina lah yang menjaga Gavin bersama dengan beberapa anggota lainnya.
Albiru melihat setiap luka, lebam, dan sisa darah di wajah Alisha saat ini. Dia belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Gavin pada istrinya itu tapi yang jelas, seluruh luka di tubuh Alisha sudah menjelaskan bagaimana dia diperlakukan. Albiru tidak sampai hati saat melihat istrinya terbaring lemah ketika dia jumpai tadi, hatinya terkoyak hingga ingin menghabisi Gavin saat itu juga. Tapi dia urungkan karena sudah menyiapkan rencana matang untuk memberi Gavin pelajaran berharga.
***
Alisha terbangun dengan kondisi yang cukup membaik, tubuhnya masih sakit tapi tidak terlalu seperti tadi. Dia mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan suaminya, namun sayang sekali, Albiru tidak ada di ruangan tersebut. Alisha berusaha bangkit dari tidurnya sambil memegangi kepala yang masih terasa pusing.
“Albi!” panggilnya berulang kali tapi tidak ada sahutan. “Apa tadi cuma mimpi? Atau cuma hayalan aku aja? Gak ... Gak mungkin mimpi, jelas kok tadi Albiru di sini.” Alisha terlihat panik lalu mencium aroma tubuhnya, benar saja, wangi parfum Albiru masih melekat di tubuh itu.
“Benar kok, Albiru di sini. Sekarang dia di mana?” Alisha beranjak dari tempat tidurnya, memegang botol infus yang masih berjalan sekarang. Dia melangkah perlahan keluar ruangan dan mencari suaminya itu, Alisha dihampiri oleh perawat yang menanyakan dia akan ke mana.
“Saya ingin mencari suami saya, apa anda melihatnya?” tanya Alisha dalam bahasa Inggris karena dia tidak bisa berbahasa Rusia.
“Oh dia tadi keluar, sudah cukup lama, mungkin akan segera kembali. Lebih baik Nyonya kembali ke ruangan karena pasien tidak boleh keluar sendirian.” Alisha mengangguk patuh, dia dibantu oleh perawat itu kembali ke dalam ruangannya dan kembali rebahan sambil menunggu Albiru datang.
Selang beberapa menit kemudian, Albiru memasuki ruangan yang mana membuat Alisha menoleh dengan cepat. Dia tersenyum saat meyakinkan dirinya kalau Albiru bukanlah mimpi.
“Kamu dari mana, Bi? Aku nyariin kamu loh.” Albiru berjalan mendekati Alisha dan mencium kening istrinya itu dengan lembut.
“Aku nyari pakaian sama makanan untuk kamu, soalnya makanan dari rumah sakit ini sudah dingin saat kamu tidur. Aku juga makan dulu di luar sebelum kembali ke sini, jadi bisa fokus jagain kamu.” Albiru memberikan alasan walau itu hanyalah sebagai alibi semata karena dia baru saja memastikan kondisi Gavin yang saat ini ditahan olehnya di sebuah apartemen. Albiru tidak ingin memberitahu Alisha mengenai semua itu, takut jika nanti Alisha kepikiran dan merasa iba pada Gavin.
“Iya banget lagi, aku laper Bi.”
“Aku suapin ya.”
“Ga usah deh, aku makan sendiri aja.”
“Oke. Bentar ya.” Albiru menata makanan di dalam piring agar Alisha bisa makan dengan tenang. Dia duduk di ujung kasur sembari memperhatikan Alisha yang makan dengan lahap.
Alisha menikmati suapan demi suapan makanan itu karena selama satu bulan ini, dirinya tidak pernah diperlakukan secara manusiawi oleh Gavin. Bahkan dia sering makan makanan yang sudah berserakan di lantai.
Andai Albiru tahu apa yang terjadi, mungkin dia tidak akan memaafkan Gavin. Tapi sayangnya, Alisha tidak akan pernah memberitahukan apa yang dia alami pada Albiru. Biarlah dia simpan seorang diri agar tidak menimbulkan dendam serta kebencian di hati suaminya itu.