NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 – Titik Tekan yang Dipilih

Perubahan itu tidak datang dalam bentuk perintah.

Tidak ada pengumuman di aula. Tidak ada penyesuaian jadwal latihan yang ditempel di papan batu. Namun Ren Tao merasakannya sejak pagi. Cara tatapan para pengawas bertahan lebih lama, cara aliran qi di area umum terasa lebih terfokus pada satu titik.

Padanya.

Unit Ketujuh berkumpul di lapangan sekunder, tempat latihan yang biasanya dipakai untuk penyempurnaan teknik dasar. Hari ini, medan itu terasa berbeda. Formasi penguat qi diaktifkan setengah, cukup untuk meningkatkan tekanan, namun tidak cukup untuk disebut latihan intensif.

“Ini bukan jadwal kita,” ujar Zhou Min pelan.

“Justru itu,” jawab Ren Tao singkat.

Seorang pengawas mendekat, membawa gulungan batu giok tipis. Ia tidak membuka gulungan itu, hanya menyampaikan instruksi dengan nada datar.

“Latihan berpasangan. Bebas memilih rekan. Fokus pada respons terhadap perubahan tempo.”

Tidak ada batas waktu disebutkan.

Itu sudah cukup untuk menjelaskan maksudnya.

Beberapa murid langsung membentuk pasangan tetap. Ada yang memilih rekan terkuat, ada yang memilih yang paling akrab. Pilihan-pilihan itu sendiri menjadi bahan penilaian.

Ren Tao tidak bergerak.

Li Shen menatapnya sekilas, lalu berdiri di depannya tanpa bicara. Tidak ada kesepakatan verbal. Keduanya sudah memahami ritme satu sama lain dari latihan sebelumnya.

Formasi aktif.

Tekanan qi turun perlahan, lalu berubah-ubah tanpa pola tetap. Ini bukan latihan adu kekuatan. Ini latihan membaca situasi.

Li Shen memulai dengan serangan sederhana dorongan qi lurus, tidak agresif. Ren Tao menangkis tanpa mengerahkan tenaga berlebih, membiarkan aliran qi bergeser dan kembali ke formasi.

Beberapa pasang murid lain mulai mempercepat tempo. Ada yang terlalu memaksa, ada yang terlalu menahan diri. Kesalahan kecil muncul satu per satu, tercatat oleh formasi pengamat.

Ren Tao menjaga ritmenya tetap datar.

Namun di tengah latihan, tekanan berubah.

Formasi di sisi lapangan berdenyut lebih kuat. Bukan secara merata hanya di area tempat Ren Tao berdiri. Tekanan itu halus, hampir tidak terasa, tapi cukup untuk mengganggu keseimbangan jika tidak disadari.

Li Shen merasakannya lebih dulu. Aliran qi-nya sempat goyah setengah napas.

Ren Tao langsung menyesuaikan jarak, mempersempit ruang gerak mereka berdua. Keputusan itu membatasi pilihan serangan, tapi meningkatkan kestabilan.

“Tekanan terfokus,” ucap Li Shen pelan.

“Abaikan sumbernya. Jaga respons,” jawab Ren Tao singkat.

Di platform pengawas, Wei Kang berdiri tanpa ekspresi. Tangannya tidak bergerak, tapi formasi jelas merespons keberadaannya.

Ini bukan pengujian unit.

Ini pengujian individu dibungkus dalam latihan bersama.

Tekanan meningkat satu tingkat lagi.

Beberapa murid di sekitar mereka mulai terdampak meski tidak menjadi target utama. Ritme latihan terganggu. Ada yang mundur, ada yang memaksa maju.

Ren Tao tetap berada di tempatnya.

Ia tidak melawan tekanan itu. Ia membiarkannya melewati tubuhnya, menyesuaikan aliran qi internal agar tidak berbenturan. Pilihan ini memperlambat reaksinya namun menjaga kestabilan jangka panjang.

Li Shen mengikuti tanpa bertanya.

Beberapa menit berlalu.

Formasi mencatat sesuatu.

Bukan kekuatan. Bukan kecepatan. Melainkan konsistensi respons di bawah tekanan terfokus.

Wei Kang akhirnya mengangkat tangan.

Tekanan menghilang seketika.

Latihan dihentikan tanpa penjelasan tambahan. Para pengawas pergi satu per satu, seolah tidak ada yang istimewa terjadi.

Namun dampaknya tertinggal.

Di perjalanan kembali, beberapa murid melirik ke arah Ren Tao dengan ekspresi berbeda. Bukan permusuhan terbuka melainkan kewaspadaan.

Malam itu, laporan tambahan kembali muncul di paviliun pengawas.

Latihan berpasangan tekanan terfokus diterapkan.

Target utama Ren Tao.

Hasil tidak terjadi fluktuasi signifikan.

Unit pendamping stabil mengikuti ritme.

Wei Kang membaca perlahan.

“Dia tidak menghindar,” gumamnya. “Dan tidak menantang.”

Ia menutup laporan.

“Kalau begitu, tekanan berikutnya tidak akan datang dari formasi.”

Di kamarnya, Ren Tao membuka mata dari meditasi malam. Aliran qi-nya stabil, namun pikirannya bekerja lebih cepat dari biasanya.

Tekanan hari ini bukan untuk menjatuhkannya.

Itu adalah penandaan.

Dan mulai saat ini, setiap langkahnya di lapangan, di lorong, bahkan di luar latihan akan menjadi bagian dari evaluasi yang tidak tertulis.

Ren Tao menarik napas dalam.

Jika permainan telah berubah menjadi pengamatan terus-menerus, maka satu-satunya cara bertahan adalah tidak memberi celah.

Dan ia sudah bersiap untuk itu.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!