Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Tekanan yang Tidak Bertanya
Tekanan tidak selalu datang dengan ancaman.
Kadang ia datang dengan kalimat rapi dan niat yang terdengar masuk akal.
Dan pagi itu, Selvina merasakannya bahkan sebelum toko bunga dibuka.
Ibunya baru saja selesai menyapu ketika ponsel toko berdering.
“Selamat pagi,” suara di seberang ramah. Terlalu ramah. “Saya dari yayasan pendidikan Imperion.”
Selvina yang sedang merapikan bunga di sudut mendongak.
Ibunya menjawab hati-hati. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Kami hanya ingin memastikan,” lanjut suara itu, “apakah Selvina Kirana masih berada di rumah selama masa skorsing.”
Ibunya menoleh ke arah Selvina. “Iya. Ada apa ya?”
“Tidak apa-apa,” jawabnya cepat. “Hanya prosedur. Kami juga ingin menyampaikan bahwa pihak sponsor lama keluarga Kirana melalui pak Joshua selaku ayah ananda Selvina menyatakan kesediaan membantu proses klarifikasi.”
Selvina membeku.
Ayahnya.
“Kami harap Selvina bisa bekerja sama,” lanjut suara itu. “Agar masalah ini tidak berlarut.”
Telepon ditutup dengan sopan.
Terlalu sopan.
Ibunya menatap Selvina pelan. “Ayahmu?”
Selvina mengangguk. “Sepertinya.”
Ibunya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya berkata, “Kalau dia mulai ikut campur, berarti situasinya tidak kecil.”
Selvina tahu itu. Ayahnya tidak pernah bergerak tanpa tujuan. Dan tujuan itu jarang melibatkan kebaikan tanpa imbalan.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
> Papa hanya ingin yang terbaik. Jangan mempersulit keadaan.
Selvina menatap layar lama.
Lalu mengetik balasan singkat.
> Saya tidak meminta bantuan anda.
Tidak ada jawaban.
Tapi ia tahu—diam bukan berarti mundur.
Itu tanda permainan baru dimulai.
Di tempat lain, di kamar asrama Imperion yang terlalu rapi untuk ditinggali lama, Varrendra duduk di tepi ranjang. Seragamnya tergantung rapi. Buku-buku tersusun seperti barisan.
Ponselnya berdering.
Nama di layar membuatnya menghela napas sebelum mengangkat.
“Iya, Ma.”
Suara ibunya terdengar tenang. Selalu begitu. “Kamu sibuk gak?”
“Sedikit.”
“Kami sudah bicara dengan keluarga Kirana,” lanjutnya tanpa basa-basi. “Anaknya seumuran kamu. Pendidikan setara. Latar belakangnya jelas.”
Varrendra memejamkan mata.
“Apa ini rapat keluarga atau pengumuman?” tanyanya datar.
“Ayahmu dan Mama sepakat,” kata ibunya. “Kamu akan dijodohkan.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
“Kapan?” tanya Varrendra.
“Setelah semester ini. Kami tidak ingin reputasimu tercoreng oleh konflik sekolah yang tidak perlu.”
Varrendra tertawa kecil. Tidak ada humor di sana. “Jadi ini soal reputasi.”
“Ini soal masa depan,” koreksi ibunya. “Kamu ketua fraksi. Namamu besar. Kami tidak ingin kamu terlibat dengan hal-hal… rumit.”
Bayangan wajah Selvina melintas begitu saja.
“Kalau aku menolak?” tanya Varrendra.
Ibunya terdiam sejenak. “Kamu anak yang pintar. Jangan buat pilihan emosional.”
Varrendra membuka mata. Menatap jendela.
“Ma,” katanya pelan, “sejak kapan hidup aku butuh izin untuk ditentukan?”
“Sejak kamu lahir dengan nama keluarga ini,” jawab ibunya.
Telepon ditutup setelah percakapan formal yang tidak membutuhkan persetujuan.
Varrendra meletakkan ponsel di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang pahit:
Ia dan Selvina berdiri di ujung yang sama.
Ditekan oleh orang tua.
Dipaksa tunduk atas nama masa depan.
Dan dijodohkan—bukan karena cinta, tapi karena kendali.
Ia mengambil jaketnya.
Di luar jendela, langit Imperion gelap lebih cepat dari biasanya.
Dan di dua tempat berbeda, dua orang yang selalu saling menantang itu kini menghadapi musuh yang sama—
keluarga mereka sendiri.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍