Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 34
Lima tahun kemudian seorang pria berdiri di hadapan wanita yang terbaring lemah dengan banyak alat medis di tubuhnya. Seperti mayat hidup wanita itu tak lagi membuka kedua matanya semenjak tragedi mengenaskan masa lalu itu terjadi. Suara teriakan yang menggema di gedung tua itu masih terlihat jelas diingatan pria yang lagi-lagi menangis melihat wanita yang kini terbaring keadaannya begitu sangat mengenaskan.
Dreet
Dreet
"Kau di mana? Jangan bilang masih di rumah sakit!" pekik wanita paru baya yang semakin hari semakin bertambah umur dengan keriput halus yang muncul di wajah nya
"Iya," hanya itu yang bisa ia katakan lalu telepon itu di matikan. Ia pun menyeka air matanya berbalik melangkah keluar dari ruang rawat itu.
Tanpa pria itu ketahui air mata keluar dari wanita itu setelah dirinya keluar meninggalkan wanita itu
Bugh
"Awww ... Mama, akit," rengek bocah yang tertabrak oleh pria yang baru berjalan dua langkah menuju parkiran.
"Maaf, om gak sengaja. Kamu gak papa?" Anak kecil itu hanya mengangguk tidak lama sang mama pun datang berteriak memanggil namanya.
"Ravendra ...," anak itu berbalik dan langsung menghampiri sang mama yang langsung menggendongnya.
"Sudah mama bilang jangan jauh-jauh Raven kamu nakal sekali," Raven turun dan menunjuk pria yang menabraknya tadi.
"Laven jatuh mama cama om itu," tunjuk Raven pada pria itu.
Deg
"Kenan?"
"Helen,"?
Mereka sambil memanggil namanya masing-masing hingga Kenan menghampiri Helen membuat Ravendra langsung memeluk sang mama.
"Mama Laven takut ayo kita pergi aja. Om itu pasti mau malah malah," panik Ravendra.
"Enggak sayang itu teman mama kamu jangan khawatir ya," tangis Ravendra berhenti ia sangat panik melihat orang asing karena selama ini dia tidak pernah bergaul dengan siapa pun. Bukan karena Ravendra susah bergaul itu karena Helen yang terlalu takut dan khawatir berlebihan terhadap putranya.
"Apa dia putra mu dan ...," ucapannya terpotong Kenan tidak ingin menyinggung masa lalu.
"Iya, kau benar," lirih Helen seraya mengusap rambut lurus sang putra dengan hati yang sangat sedih.
"Maaf aku tidak tau, saat itu aku sudah tidak memikirkan yang lain selain kesembuhan ku untuk putri ku. Terimakasih kau sudah mau menyelamatkan putriku dan menjaganya saat dia dan ibunya bersama suami mu," ujar Kenan yang sangat berhati-hati dalam berbicara.
"Putrimu tidak seharusnya mengalami kejadian seperti itu, aku mewakili Narendra meminta maaf padamu dan maaf juga pencabut Tan laporan mu aku tolak karena ... Kau pasti tau alasannya," terang Helen dan Kenan tentu terkejut ia berpikir jika saat tau Narendra di tahan Kenan langsung mencabut gugatan itu tapi nyatanya Narendra masih menjalani hukumannya.
"Mama, aku lapal," rengek Ravendra.
"Maaf aku pamit dulu putra ku sudah lapar," Kenan mengangguk kan kepalanya dan Helen pun melangkah pergi bersama putranya.
"Jadi, Jen membohongiku? Benar-benar dia yah," kesal Kenan.
***
Pintu terbuka Kenan masuk ke dalam dengan langkah santainya dari kejauhan putrinya sudah bertolak pinggang menatap tajam pada sang ayah dengan bibirnya yang maju sedikit.
Bukan nya takut Kenan ingin sekali tertawa, tetapi ia tahan dengan sekuat tenaga karena jika ia kelepasan hari ini akan menjadi hari terburuk karena sang putri akan bertambah merajuk.
"Coklat ...," Ayumi menggeleng seraya memalingkan wajahnya.
"Ayah mau membuat aku gendut?" ujar Ayumi tanpa melihat Kenan.
"Ice cream?" lagi-lagi menggeleng kepala Ayumi dan protes.
"Cudah lah Ayah jangan bujuk putli mu. Emang ya cemua plia ga ada yang peka cama pelacaan wanita," sindir Ayumi yang langsung pergi ke kamarnya ia menaiki anak tangga dan hampir menabrak Riana yang sedang melangkah turun.
Riana sedikit terkejut tapi ia tidak heran lagi dengan keponakannya yang selalu merajuk pada siapapun yang menganggu dirinya.
brak
"Ya ampun Ayumi!" pekik Tiara yang merasa pusing dengan cucunya yang selalu marah ia menghampiri Kenan yang hanya duduk santai di sofa melihat tingkah putrinya itu.
"Kau apa kan lagi Ayumi, Kenan? Apa kau tidak bosan memberikan harapan palsu pada Ayumi, hah. Kau bilang saja yang sejujurnya jika ibunya itu sudah tiada,"
"Mami ...," teriak Kenan mengepalkan Tangannya tidak terima.
"Kak," Riana menenangkan Kenan ia tidak ingin terjadi keributan lagi cukuplah keributan di dalam rumah nya Riana hanya ingin tenang.
"Arumi masih hidup mami jangan selalu mengatakan jika dia sudah tiada," lirih Kenan.
"Memang kenyataannya, jika alat medis sudah dilepas mana mungkin istrimu itu masih hidup. Lima tahun, Kenan ... Apa kau sadar dia koma sudah lima tahun apa yang sebenarnya kau tunggu! Ayumi membutuhkan seorang ibu yang tidak pernah ia dapatkan kasih sayang dari Arumi. Apalagi semenjak dalam kandungan Arumi tidak menginginkan dia. Apakah setelah dia sembuh Arumi akan menerima putrinya,"
Tiara benar-benar kesal kejadian lalu masih membekas ia hampir kehilangan Riana dan Kenan serta cucunya yang kala itu di bawa oleh Helen yang mana dalam keadaan menangis dan lapar.
"Kalau saja kau tidak menikahi wanita itu dan menikah dengan Helen semua ini tidak akan terjadi," sesal Tiara yang langsung pergi menuju kamar Ayumi. Walaupun ia kesal dengan menantunya tapi dengan Ayumi dia sangat menyayanginya.
"Sudah kak jangan dengarkan, mami. Sekarang kakak makan ya, keadaan kakak belum pulih sempurna aku akan menyiapkannya," bujuk Riana.
"Bawa saja ke kamarku aku ingin mandi dulu," ujar Kenan.
"Iya, kak," jawab Riana.
Dengan wajah sedih Kenan berlalu pergi menuju kamarnya. Sampainya di kamar ia meletakkan jam tangan dan membuka jas nya di atas kursi. Tangannya bertumpu di kursi tersebut ia memandangi Poto pernikahannya dengan Arumi yang mana tidak mengenakan gaun putih hanya dress biasa dan raut wajah tanpa kebahagiaan.
Tidak ingin larut dalam kesedihan ia langsung menuju kamar mandi dan merendam tubuhnya di dalam bathtub.
Sedangkan di kamar lain Tiara dan Arsyad sedang membujuk Ayumi yang masih menangis ingin bertemu Arumi. Bukan tidak ingin mengabulkan permintaannya Kenan melarang karena tidak ingin putrinya melihat keadaan sang ibu yang sangat mengenaskan. Ia akan bertanya dan Kenan tidak ingin mengarang cerita karena kalau ia mengatakan Arumi kecelakaan pasti Ayumi akan menanyakan nya apa penyebabnya dan terus saja bertanya.
"Nanti, Ayah pasti nemuin kamu dengan ibu, Ayumi tapi tidak sekarang," bujuk Arsyad.
"Tapi kapan, kakek. Temen temen Ayumi ibunya cuka jemput meleka. Ayumi juga pengen di jemput ibu cekolahnya," rengek Ayumi.
Tiara hanya bisa memeluk cucunya yang menangis sesenggukan. Dirinya bingung apa yang harus ia katakan jika nanti Arumi tidak benar-benar selamat.
Kedua orang tua itu terus saja membujuk Ayumi sampai ia kelelahan dan tertidur. Sedikit tenang walau hanya sementara tapi setidaknya Ayumi tidak menangis lagi.
***
"Kenan, kau tidak apa-apa?" Jen membantu Kenan berdiri terlihat banyak darah di bagian hampir dada Kenan. Ternyata Jen baru tau jika Kenan tertembak dan ia menatap wanita yang masih menatap tajam pada Kenan.
Saat Jena ingin berdiri Kenan menahannya dan menyuruh nya pergi,"Pergi lah, ini urusanku dengan Arumi," ucap Kenan menahan sakit di luka nya.
Jena menggeleng ia akan tetapi membawa Kenan pergi tapi Kenan malah membentaknya Jena terdiam ia langsung berdiri dan meraih senjata yang berada di dekatnya.
Namun, belum sempat ia mengarahkan senjata itu pada Arumi suara tembakan terdengar Jena menoleh menatap Arumi yang mana suara tembakan itu dari senjata miliknya yang sengaja ia tembakkan di dirinya sendiri tepatnya mengenai kepalanya membuat Jena syok khususnya Kenan yang merangkak menghampiri Arumi yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
Kedua mata pria tampan yang sedang menikmati air hangat di bathtub itu pun terbuka ia mengingat kembali saat Arumi yang bunuh diri tepat di hadapannya.
"Aku yakin kau kuat, Arumi. Bangun lah aku tidak akan membenci mu aku sangat mencintaimu dan aku ingin kita hidup bersama walaupun di kehidupan mu masih ada rasa dendam padaku," tutur Kenan.
Definisi cinta buta Kenan yang sudah beribu kali di sakiti, di kecewakan tapi ia masih tetap ingin membangun rumah tangga yang indah bersama Arumi dan juga putrinya.
Akan kah mereka benar-benar bahagia jika Arumi bisa melewati masa kritisnya walaupun berulang kali dokter mengatakan ikhlaskan, jangan sakiti dia dengan menahan kepergiannya. Mungkin sampai kapan pun Kenan tidak akan sanggup untuk berpisah selamnya dengan Arumi menjadikan ia melawan takdir semesta yang seharusnya Arumi sudah pergi untuk selamanya menuju alam lain.
*
*
Bersambung.