Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Fajar mulai menyelinap melalui celah-celah kecil di unit apartemen Menteng yang kedap suara itu. Di dalam ruang gelap yang dipenuhi ribuan foto obsesif, Arga merasa waktu seolah berhenti.
Ia telah menghabiskan malam yang paling mencekam dalam hidupnya, terjebak di ruangan yang sama dengan wanita yang memuja sekaligus menghancurkannya.
Siska, yang sempat tertidur sejenak di sofa kulit merah dengan kepala bersandar di bahu Arga yang kaku, terbangun saat alarm otomatis di ponselnya berbunyi. Ia berdiri, merapikan gaun malamnya yang kusut, dan menatap pantulan dirinya di antara foto-foto Arga.
Kegilaan di matanya kini berganti dengan ketenangan yang jauh lebih berbahaya, ketenangan seorang penguasa yang siap memberikan vonis.
"Kau tahu, Arga," Siska memulai, suaranya parau namun tegas. "Pak Roy baru saja menjalani pemeriksaan medis terakhir di Singapura. Hasilnya tidak bagus. Jantungnya tidak akan bertahan lama di bawah tekanan bisnis sebesar Airborne Group. Dia sudah memutuskan untuk pensiun bulan depan."
Arga hanya diam, matanya merah karena terjaga semalaman. Ia menatap pintu geser yang masih terkunci rapat.
Siska berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan, mengambil sebuah map kulit berwarna hitam yang sangat elegan. Ia membukanya di hadapan Arga. Di dalamnya terdapat surat pengangkatan resmi yang belum ditandatangani.
"Ini adalah kursi Direktur Utama. Posisi tertinggi yang pernah kau mimpikan saat kita masih makan di warung tenda sepuluh tahun lalu," Siska meletakkan map itu di pangkuan Arga. "Pak Roy sudah setuju. Dia percaya padamu. Dia pikir kau adalah putra yang tidak pernah dia miliki. Dengan tanda tanganku sebagai Direktur Eksekutif, kau akan memegang kendali penuh atas ribuan karyawan dan aset triliunan rupiah."
Arga menatap dokumen itu dengan getir. "Dan apa harga yang harus kubayar untuk kursi ini, Siska? Kau tidak pernah memberikan apa pun secara gratis."
Siska berjongkok di depan Arga, menyentuh lututnya dengan lembut. Kali ini tidak ada paksaan fisik, hanya tawaran yang terasa seperti bisikan iblis.
"Sederhana. Ceraikan Nabila. Akhiri sandiwara pernikahan membosankan itu. Aku ingin kau bebas, Arga. Aku ingin kau berdiri di sampingku sebagai pemimpin Airborne, tanpa beban seorang istri yang terus-menerus mencurigaimu dan mencoba memenjarakanku dengan hukumnya."
"Kau memintaku menjual jiwaku demi jabatan?" Arga tertawa pahit, sebuah tawa yang terdengar pecah di ruangan sunyi itu.
"Bukan menjual jiwa, tapi menukar masa lalu yang rusak dengan masa depan yang megah," Siska berdiri, suaranya meninggi. "Pikirkan ini, Arga! Jika kau menolak, Pak Roy akan tahu tentang perselingkuhan kita. Aku akan memutarbalikkan fakta. Aku akan bilang kau yang menggodaku, kau yang mengejarku ke apartemen ini semalam, dan kau yang memeras uang perusahaan. Siapa yang akan dia percaya? Istri yang mendampinginya selama lima tahun, atau manajer yang punya rekam jejak 'korupsi' yang meski sudah kuhapus dari sistem, masih bisa kuhidupkan kembali lewat log server cadangan?"
Siska melangkah ke dinding yang penuh foto. "Jika kau memilih Nabila, kau akan keluar dari sini sebagai pengangguran, tersangka korupsi, dan pria yang menghancurkan hati orang tua yang sudah menganggapnya anak. Tapi jika kau memilihku... kau akan menjadi raja."
~
Sementara itu, di apartemen Mandala, Nabila terbangun dengan sentakan jantung yang hebat. Ia melihat ke samping, tempat tidur itu kosong. Dingin.
"Mas Arga?" panggilnya, namun hanya gema suaranya sendiri yang menjawab.
Nabila segera bangkit. Ia menemukan ponsel Arga tertinggal di atas meja makan, sebuah tanda bahwa Arga pergi dalam keadaan terdesak atau dipaksa meninggalkan alat komunikasinya. Nabila segera membuka laptopnya. Ia mengakses sistem pelacakan cadangan yang ia pasang di jam tangan yang dipakai Arga.
Titik merah itu berhenti di sebuah kawasan tua di Menteng.
"Menteng? Siska punya tempat lain?" gumam Nabila.
Ia segera menelepon Anton, detektif swastanya. "Anton, lacak unit apartemen atas nama Siska Roy atau perusahaan cangkangnya di Menteng. Sekarang! Dan siapkan tim, aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan pada suamiku."
Nabila mengenakan jaketnya dengan tangan gemetar. Ia tidak lagi menangis. Rasa sedihnya telah terbakar habis oleh kemarahan yang dingin. Ia menyadari bahwa Siska sedang mencoba melakukan gerakan skakmat.
~
Di apartemen Menteng, Arga berdiri dan melemparkan map hitam itu ke atas meja. "Jabatan itu tidak ada artinya jika aku harus melihat wajahmu setiap hari sebagai pengingat bahwa aku mengkhianati wanita yang benar-benar mencintaiku."
Siska mendengus, matanya berkilat penuh kebencian. "Wanita itu? Dia mencintaimu karena kau adalah manajer sukses, Arga! Coba lihat jika kau dipenjara dan miskin, apakah dia masih akan berdiri di sampingmu?"
"Dia berdiri di sampingku saat kau meninggalkanku di bandara sepuluh tahun lalu!" Arga berteriak, suaranya serak. "Dia mencintaiku saat aku bukan siapa-siapa! Dan kau? Kau mencintaiku sebagai piala, Siska. Kau mencintaiku karena kau ingin membuktikan bahwa kau bisa mengambil apa pun yang kau mau!"
Siska menampar Arga dengan sangat keras.
Plak!
"Jangan berani-berani menceramahiku soal cinta!" Siska terengah-engah. "Aku memberikanmu ultimatum ini bukan karena aku butuh persetujuanmu. Aku memberikannya karena aku ingin melihatmu menyerah. Aku ingin kau sendiri yang mendatanginya dan mengatakan bahwa kau tidak lagi menginginkannya. Hanya dengan begitu, obsesiku akan tuntas."
Siska mengambil ponselnya dan menekan nomor pengacara pribadinya. "Siapkan draf surat cerai atas nama Arga Mandala dan Nabila. Kirim ke apartemen Menteng sekarang lewat kurir motor tercepat."
"Kau gila, Siska. Dia tidak akan menandatanganinya," ucap Arga.
"Bukan dia yang akan menandatanganinya pertama kali, Arga... tapi kau. Di bawah todongan bukti korupsi yang bisa kukirim ke kepolisian dalam satu klik," Siska tersenyum manis, senyum yang paling mengerikan yang pernah dilihat Arga.
Tiga puluh menit kemudian, bel pintu apartemen Menteng berbunyi berulang kali dengan brutal. Siska melihat ke layar monitor interkom. Nabila berdiri di sana, didampingi oleh dua pria tegap dan seorang pria paruh baya yang membuat jantung Siska berdegup kencang - Pak Roy.
Siska memucat. "Bagaimana bisa..."
Arga melihat ke layar monitor dan merasa sebuah harapan muncul. "Nabila tidak datang sendiri, Siska. Dia membawa kebenaran yang kau takuti."
Siska segera mematikan monitor. "Diam! Jangan bersuara!"
Namun, suara Pak Roy terdengar dari pengeras suara pintu. "Siska! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam bersama Arga! Nabila sudah menunjukkan semuanya padaku... tentang apartemen ini, tentang obsesimu, dan tentang manipulasi laporan itu!"
Siska tertawa histeris, sebuah tawa yang mulai terdengar pecah. Ia mengambil map kulit hitam tadi dan sebuah pulpen. "Tanda tangani surat ini, Arga! Sekarang! Sebelum mereka masuk! Jika kau tanda tangan, aku bisa bilang pada Roy bahwa kita sedang merencanakan kejutan untuknya, bahwa Nabila hanya cemburu buta!"
Arga menatap Siska dengan rasa kasihan yang mendalam. "Sudah berakhir, Siska. Kau tidak bisa lagi memanipulasi kenyataan."
Pintu apartemen terbuka paksa. Nabila menyerbu masuk, langsung memeluk Arga yang tampak sangat berantakan. Pak Roy melangkah masuk di belakangnya, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak sangat tua dan hancur.
Mata Pak Roy menyapu seisi ruang gelap tersebut. Ia melihat ribuan foto Arga. Ia melihat kegilaan yang selama ini disembunyikan oleh istrinya di balik gaun mahal dan senyum palsu.
"Jadi ini... ini alasan kau selalu memaksaku memberikan proyek pada Arga?" suara Pak Roy bergetar. "Bukan karena dia kompeten, meskipun dia memang kompeten, tapi karena kau ingin memilikinya?"
Siska berdiri tegak, mencoba mempertahankan sisa-sisa martabatnya. "Aku melakukan ini untuk kita, Roy! Arga adalah aset terbaik perusahaan! Aku hanya ingin memastikan dia tetap bersama kita!"
"Dengan cara memaksanya menceraikan istrinya?" Nabila maju, melempar draf surat cerai yang sempat ia lihat di atas meja saat masuk. "Dengan cara mengancam keluarganya dengan fitnah korupsi? Kau bukan hanya istri yang berselingkuh secara mental, Siska. Kau adalah kriminal."
Siska menatap Pak Roy, mencoba meraih tangannya. "Sayang, dengarkan aku... Nabila memfitnahku. Foto-foto ini... ini hanya riset untuk promosi Arga!"
Pak Roy menepis tangan Siska dengan jijik. "Cukup, Siska. Aku mungkin tua, tapi aku tidak buta. Ruangan ini... ini adalah bukti bahwa kau butuh bantuan medis, bukan posisi di perusahaan."
Pak Roy berbalik ke arah Arga. "Arga, maafkan aku. Aku telah membawa monster ke dalam hidupmu dan istrimu. Aku akan menyelesaikan ini secara hukum. Siska... kau akan segera menerima surat gugatan cerai dariku, dan aku akan memastikan kau tidak mendapatkan satu sen pun dari aset Airborne."
Siska jatuh terduduk di lantai, di kelilingi oleh foto-foto Arga yang kini tampak seperti hantu yang menertawakannya. Ultimatumnya telah berbalik menghancurkan dirinya sendiri. Kekuasaan yang ia gunakan sebagai senjata kini menguap dalam sekejap.
Nabila menuntun Arga keluar dari ruangan terkutuk itu. Di ambang pintu, Arga menoleh untuk terakhir kalinya pada Siska.
"Kau bilang aku tidak akan pernah sukses tanpamu, Siska," ucap Arga dengan suara tenang. "Tapi lihatlah dirimu sekarang. Kau memiliki segalanya, tapi kau tidak memiliki siapa-siapa. Aku pergi karena aku memiliki sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti, seseorang yang mencintaiku bahkan saat aku tidak memiliki apa-apa."
Mereka melangkah keluar menuju cahaya pagi yang sebenarnya. Di dalam ruangan, Siska mulai merobek foto-foto di dinding dengan histeris, berteriak memanggil nama Arga, namun suaranya hanya memantul di dinding kedap suara yang ia bangun sendiri.
Kini, Arga dan Nabila berdiri di lobi apartemen, menghirup udara segar Menteng. Perang fisik dan mental itu telah berakhir, meninggalkan luka namun juga kelegaan yang luar biasa.
Ultimatum Siska menjadi titik kehancurannya sendiri karena ia meremehkan kecerdasan Nabila dan integritas Pak Roy. Kemenangan ini bukan hanya milik Arga dan Nabila secara personal, tapi juga kemenangan moral atas obsesi yang menyimpang.
...----------------...
Next Episode.....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰