Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 26
Di Istana Chiangnang, aroma dupa cendana yang biasanya menenangkan kini terasa mencekam. Zao Yun melangkah dengan tungkai gemetar. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang kegagalan sabotase bibit kentang kemarin. Ketika seorang pelayan menyampaikan titah bahwa Maharani menunggunya dalam audiensi pribadi, dunianya seolah runtuh.
"Hamba... Zao Yun, menghadap Yang Mulia. Hidup Yang Mulia seribu tahun!" Zao Yun bersujud di depan tirai sutra yang berkibar tertiup angin malam.
Tirai tersingkap perlahan. Shen Yuhan muncul dengan penampilan yang tak biasa. Ia hanya mengenakan jubah sutra tipis yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka, menampilkan jenjang kaki putih mulusnya dan garis leher yang menggoda. Zao Yun, yang dasar wataknya adalah seorang pesolek pemuja wanita, tak bisa menahan diri. Jakunnya naik turun, matanya menatap liar.
Wanita ini... meskipun sekarang galak, dia tetaplah wanita kesepian. Dia pasti merindukan sentuhanku, batin Zao Yun dengan kepercayaan diri yang bodoh.
Yuhan mendekat, membawa ceret porselen berisi anggur apel minuman yang sama dengan yang dikirimkan Zao Yun sebelumnya. Jemari lentik Yuhan mencubit dagu Zao Yun, mengangkat wajah gundik itu agar menatap matanya.
"Yang Mulia..." bisik Zao Yun, suaranya serak karena nafsu.
Yuhan tidak menjawab. Ia menuangkan anggur itu langsung ke mulut Zao Yun. Cairan asam-manis itu tumpah, membasahi baju Zao Yun hingga tembus pandang. "Suka?" bisik Yuhan di telinganya.
"Yang Mulia... hamba patuh..." Zao Yun mulai merasa kepalanya berputar. Anggur itu terasa berkali-kali lipat lebih kuat dari biasanya.
Tiba-tiba, gerakan Yuhan berubah kasar. Ia menarik kerah baju Zao Yun dan mendorongnya ke arah tiang penyangga istana. Sebelum Zao Yun sadar, Yuhan telah mengikat kedua tangan pria itu pada tiang dengan tali sutra yang kuat.
"Hahaha!" Yuhan tertawa nyaring, suaranya berubah menjadi dingin dan tajam. "Pelayan! Berikan jubahku. Cukup sudah sandiwara memuakkan ini."
Yuhan mengenakan jubah Phoenix-nya kembali dengan rapi. Sementara itu, wajah Zao Yun yang tadinya memerah karena nafsu kini berubah pucat. Tubuhnya mendadak terasa terbakar, seperti disengat ribuan lebah dari dalam pembuluh darahnya.
"Yang Mulia... Ah! Panas... Ampun..." Zao Yun meronta, namun otot-ototnya justru terasa lumpuh.
Yuhan mendekat, mencubit dagu Zao Yun hingga kuku-kukunya menusuk kulit. "Kau pikir aku tidak tahu ada racun pelumpuh dalam kue yang kau kirim kemarin? Ini adalah hadiah dariku. Bubur pelumpuh otot yang dicampur dengan bubuk seratus bunga. Nikmati sensasinya, Tuan Yun."
"A-ampun Yang Mulia... hamba—"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Zao Yun. "Berisik! Kau seharusnya bersyukur aku tidak memisahkan kepalamu malam ini. Tetaplah di sini sampai aku kembali dari festival. Jika kau masih hidup, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak membuangmu ke kandang babi."
Di Gerbang Timur, Shen Lan sudah menunggu dengan tidak sabar. Ia mengenakan pakaian rakyat jelata berwarna biru tua yang sederhana namun tetap menonjolkan tubuh tegapnya. Begitu melihat Yuhan muncul dengan gaun rakyat berwarna pastel tanpa perhiasan mewah, senyumnya mengembang.
"Kakak! Kau terlihat sangat cantik jika tidak memakai mahkota berat itu," puji Shen Lan. Namun matanya kemudian melirik ke sekeliling. "Mana si orang lumpuh itu? Jangan bilang dia mengikutimu?"
TAK!
Yuhan menyentil dahi adiknya. "Kau lupa? Bukankah kau sendiri yang tidak ingin repot membawa 'orang cacat' ke festival, hah?"
"Aduh! Hehe, aku hanya bercanda, Kak. Jadi Mu Lian tidak marah?"
Yuhan menggeleng sambil terkekeh. "Nanti aku belikan dia oleh-oleh paling bagus, dia akan luluh. Ayo berangkat!"
Ibu kota sedang bersolek. Ribuan lampion terbang menghiasi langit malam, sementara lampion air hanyut dengan tenang di sungai, membawa doa-doa rakyat. Yuhan dan Shen Lan berjalan di antara kerumunan, tertawa seperti dua orang bersaudara biasa. Mereka membeli Tanghulu (manisan buah), perhiasan rambut dari kayu, dan beberapa kudapan pasar.
Namun, indra keenam Yuhan sebagai mantan pembunuh bayaran mulai bergetar. Ia merasakan mata-mata yang memperhatikan mereka dari balik bayang-bayang kedai.
Saat perjalanan pulang menyusuri jalan setapak di pinggiran hutan untuk menghindari keramaian, tiba-tiba sepuluh sosok berpakaian hitam muncul dari balik pepohonan. Pedang mereka berkilau dingin di bawah cahaya bulan.
"Siapa kalian?" bentak Shen Lan, ia langsung menarik Yuhan ke belakang punggungnya.
Tanpa suara, para pembunuh itu menyerang. Shen Lan mengamuk dengan pedangnya, menebas dan menangkis serangan yang datang dari segala arah. Yuhan mencoba membantu, ia mengeluarkan jarum-jarum beracun dari Ruang Dimensi-nya secara sembunyi-sembunyi.
Namun, fisik Yuhan belum terlatih sepenuhnya untuk menopang tenaga dalam tingkat ketiganya secara terus-menerus.
JLEB!
Sebuah pisau kecil mengenai lengan Shen Lan.
"Lan!" pekik Yuhan.
Pada saat yang sama, seorang pembunuh tingkat tinggi melancarkan serangan telapak tangan ke arah dada Yuhan.
DUAK!
Yuhan terpental, darah segar menyembur dari mulutnya. "Ugh..."
"Kakak!" Shen Lan menebas dua orang di depannya dan segera merangkul Yuhan. "Sial, jumlah mereka terlalu banyak! Kita harus lari ke hutan!"
Mereka berlari menembus semak belukar dan pepohonan rimbun. Napas mereka memburu. Namun, di dalam hutan, jebakan sudah menunggu. Kelompok pembunuh kedua muncul, mengepung mereka hingga langkah mereka terhenti di bibir jurang yang sangat dalam. Di bawah sana, sungai yang deras mengalir di antara batu-batu tajam.
Ketua kelompok pembunuh melangkah maju. "Menyerahlah. Serahkan nyawa kalian, maka aku janji akan menjemput ajal kalian tanpa rasa sakit."
"Siapa yang memerintahkan kalian? Han Tan? Shen Bo?" teriak Shen Lan sambil menahan luka di lengannya.
"Orang mati tidak butuh jawaban," jawab sang ketua dingin.
Pertarungan hidup mati kembali terjadi. Yuhan mengerahkan sisa tenaga dalamnya, melemparkan jarum beracun yang melumpuhkan tiga orang seketika. Namun, karena kelelahan, ia luput menjaga sisi belakangnya.
BUGH!
Sebuah tendangan keras menghantam punggung Yuhan, membuatnya terjerembap ke arah jurang. Kaki Yuhan tergelincir di tanah yang rapuh.
"TIDAK!" teriak Shen Lan.
Tepat saat Yuhan akan jatuh, sesosok bayangan putih melesat dari balik kegelapan.